⚠️WARNING 21++⚠️
"Ayo cepat, pakai bajumu! Eyke tunggu you di luar, ya?" titah seorang pria kemayu sambil menggibas rambut dengan gayanya yang sok cantik, padahal rambutnya sangat pendek.
"Kenapa saya harus pake baju kurang bahan dan kelihatan ketiak seperti ini? Saya 'kan, cuma mau bekerja sebagai ART?" tanya seorang gadis manis dan berambut panjang yang berasal dari kampung.
"You jangan banyak tanya ini onoh kucrut! Pake saja itu baju and kita capcus, oke!" Pria kemayu itu bicara sambil mengipas wajah dan mengelus-ngelus sendiri.
Gadis tadi pun akhirnya menurut, meskipun tidak tahu akan dibawa ke mana oleh pria kemayu itu. "Baik, Om."
"Apa? Om?! Plis deh, Cyin, ya ampiyun masa gadis cantik, seksi, cetar dan menggelegar seperti eyke disebut om? Panggil eyke Momy Nanda!" jelas pria kemayu itu sambil berlenggak-lenggok dan menggunakan suara ala wanita. "Tapi, kalau siang panggil aku Nando!" Suaranya berubah menjadi seperti laki-laki.
Gadis itu menganga saat mendengarnya. "Iya, Mamih, siap!"
"Hus! Momy, bukan mamih! Ingat yah, mommmmyyyy ...." Pria kemayu itu memonyongkan bibirnya seperti ikan lohan.
***
Amira, gadis yang baru sebulan lalu lulus SMA itu pergi ke kota mencari pekerjaan karena ingin membantu perekonomian keluarga.
Ayahnya Amira sudah tidak bisa lagi bekerja karena penyakit sesak napas yang dideritanya sering kambuh dan umur sang ayah juga sudah tua.
Ibunya yang menggantikan sang ayah mencari nafkah. Beliau banting tulang bekerja serabutan demi membiayai sekolah Amira dan untuk makan sehari-hari.
Hampir semua pekerjaan dilakukan oleh ibunya Amira. Dari mulai dagang cireng isi, sampai menjadi tukang kredit panci keliling kampung.
Amira merasa tidak tega melihat sang ibu yang setiap hari harus bekerja demi kelangsungan hidupnya sekeluarga.
Ketiga kakak laki-laki Amira sudah menikah dan tinggal di luar pulau mengikuti istri mereka masing-masing. Mereka jarang sekali pulang.
Bukan mereka tidak peduli kepada orang tua atau kepada Amira, tetapi hidup mereka juga serba kekurangan. Makanya mereka jarang pulang.
Tidak mungkin mereka pulang ngesot dari luar pulau ke kampung halaman, mereka butuh ongkos. Boro-boro untuk ongkos pulang, untuk makan pun mereka selalu berhutang di warung tetangga yang bawelnya Masya Allah.
Setelah lulus SMA, Amira memutuskan untuk mencari pekerjaan. Padahal, gurunya bilang ia sangat pintar dan harus lanjut kuliah.
Amira memang ingin sekali kuliah untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter, tetapi keadaan ekonomi tidak memungkinkan.
Akhirnya, Amira terpaksa harus mengubur cita-citanya itu di dalam sumur. Ia ke sana ke mari mencari pekerjaan.
Amira tinggal di pedalaman kampung yang jauh dari kota dan akhirnya susah mencari pekerjaan. Ia ingin sekali mendapatkan pekerjaan yang gajinya lumayan.
Kemudian, ada seorang tetangga menawarkan pekerjaan kepadanya. Ada dua pekerjaan yang ditawarkan oleh si tetangga itu.
Pertama, menjadi babysister yang harus mengasuh anak kecil gemuk suka makan sejam tiga kali dan bandelnya tidak ketulungan, dengan gaji tiga juta sebulan.
Kedua, menjadi seorang buruh pabrik yang gajinya lumayan besar namun harus untuk sewa kost bersama ke tiga temannya, belum untuk makan pagi dan malam. Karena siang sudah mendapat nasi kotak dari Ia bekerja menjadi buruh pabrik. dengan gaji lima juta sebulan. Namun sayang kontraknya hanya satu tahun.
Amira pun memilih pekerjaan menjadi seorang ART karena gajinya menggiurkan. Ia belum pernah sama sekali pergi ke kota besar (Jakarta), tetapi demi kesejahteraan keluarga ia berani pergi ke kota tanpa berpikir akan mengalami nasib tragis.
Gadis itu pergi ke kota bersama orang yang menawarkan pekerjaan kepadanya. Amira katanya akan dibawa ke sebuah agen penyalur ART. Namun, ternyata itu bukan agen ART, melainkan rumah orang yang akan membeli Amira.
Si tetangga itu menjual Amira kepada Momy Nanda untuk membayar hutang-hutangnya di kampung yang sudah menumpuk.
Entah dari mana tetangga Amira kenal dengan Momy Nanda? Sudah sebulan terakhir, tetangganya itu baik kepada keluarga Amira.
Dia sering memberi bantuan dalam bentuk uang untuk biaya pengobatan ayahnya Amira. Ternyata ada udang di balik batu.
Momy Nanda memperhatikan tubuh Amira dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki bahkan setiap lekuk dan detail bagian tubuh gadis itu pun diperhatikan.
Seperti gigi, lubang hidung, dan lubang telinga. Amira hanya diam tidak mengerti apa yang sedang makhluk aneh itu lakukan.
"Dia masih perawan, 'kan, Cyin?" bisik Momy Nanda ke telinga tetangga Amira, yang sudah menjualnya dengan harga fantastis karena gadis itu memang benar-benar cantik dan belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun.
Tetangga Amira itu menjawab dengan suara yang pelan. "Saya yakin, dia masih perawan, Mom."
'Dia pasti akan laku keras karena dia sangat cantik dan tentunya masih perawan,' batin Momy Nanda sambil tetap memperhatikan Amira.
Tetangga Amira yang tidak punya hati itu pamit pergi. Momy Nanda pun membawa Amira ke kamar. Di sana ada seorang gadis sedang duduk.
Amira masih berpikir ia akan bekerja sebagai ART. Gadis yang ada di kamar itu juga pasti menjadi korban perd*gang*n ma*usia sama seperti Amira.
Bukan hanya mereka berdua, tetapi banyak gadis-gadis lain yang dibel1 oleh Momy Nanda, untuk dijadikan sebagai pemu*s n4fsu lelaki h*dung belang.
***
"Haduh ... lama banget sih, Cyin, ganti bajunya." Momy Nanda berjalan mondar-mandir di depan kamar Amira sambil mengipas wajah dan berlenggak-lenggok seperti cacing tanah kepanasan karena tidak sabar menunggu gadis itu keluar kamar "Haduuuh... Cepetan dong, Ne!"
Orang yang akan memb*king Amira sudah menunggu di hotel Mewah. Gadis itu dit*war dengan sangat mahal.
Selang beberapa menit Amira akhirnya keluar dari kamar sambil menarik-narik rok/dress yang menurutnya kependekan. Momy Nanda lalu seketika menganga melihat penampilan gadis itu.
"Aduh, Cyin! You cantik banget kayak eyke. Ya udah, yuk, kita capcus!" ajak si makhluk aneh itu seraya menarik pergelangan tangan Amira.
"Pergi ke mana?" tanya Amira dengan raut wajah polosnya.
Momy Nanda menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kamu ke sindang itu 'kan, mau kerja, Ne! Jadi pergi kerjalah, gimandang sih!"
"Tapi, Om..."
"Am.. om.. am.. om!" potong Momy Nanda. "Eyke 'kan, udah bilang jangan panggil om! Sekali lagi panggil om, eyke sentil gigi you!" Momy Nanda murka.
"Iya, maaf. Momy!" Amira menunduk sambil terus menarik roknya ke bawah.
Gadis tersebut terlihat sangat tidak nyaman memakai baju seperti itu. Ia kemudian disuruh masuk ke mobil oleh Momy Nanda dan mereka berdua pun pergi.
***
"Ini rumah majikan tempat saya kerja, ya? Rumahnya tinggi banget," tanya Amira seraya membuka pintu mobil, lalu ke luar.
"Ini hotel, Cyin, bukan rumah!" tukas si Momy dengan nada suara yang campur aduk. Suara wanita dan suara pria.
Amira menggaruk-garuk kepala kebingungan. Ia lalu diajak masuk. Seorang resepsionis pun langsung memberikan sebuah kunci kamar hotel kepada Momy Nanda.
Gadis itu planga-plongo melihat ke setiap sudut ruangan di gedung tersebut. Maklum saja, ini baru pertama kalinya ia masuk ke hotel. Selama di kampung, boro-boro pergi ke hotel, pergi ke pasar pun jarang karena tidak punya uang.
Amira berjalan mengikuti Momy Nanda dari belakang, sambil terus planga-plongo memperhatikan sekitar. Gadis itu masih belum sadar juga, kalau ia akan dijual kepada laki-laki hidung belang dan hidung bengkak.
Mereka berdua akhirnya berhenti di depan pintu salah satu kamar hotel. Momy Nanda kemudian menyuruh Amira untuk masuk ke kamar itu.
"Ayo, capcus, Bo, masuk cepet!" titah Momy Nanda dengan berlagak seperti wanita paling seksi di muka bumi.
"Untuk apa saya masuk?" Amira terlihat kebingungan.
"Haduh, pusing pala eyke! Masih tanya juga, kerja cyin ... kerja!" Momy Nanda mendorong Amira masuk ke kamar itu.
"Saya kerja jadi ART, 'kan?" Amira masih bertanya sebelum masuk.
"Iye-iye udah sonoh!" Pintu kamar pun tertutup.
Di dalam sana ada seorang laki-laki yang tinggi dan bermata tajam sedang duduk di dalam kamar, menunggu kedatangan Amira. Gadis itu tersenyum ramah karena ia mengira, akan bekerja sebagai ART di rumah laki-laki tersebut.
"Akhirnya, setelah hampir satu jam saya menunggu, kamu datang juga." Laki-laki itu berjalan perlahan mendekati Amira.
"Iya, Pak. Maaf, sudah lama menunggu, saya siap bekerja menjadi ART di rumah Bapak!" Amira masih belum sadar juga.
Laki-laki itu pun tersenyum simpul. "ART?" Lelaki Tampan dengan kemeja Hitam sambil memegangi Jasnya. Lelaki berperawakan tinggi nan gagah tersebut terus berjalan pelan seakan memangkas jarak diantara mereka.
"Baiklah ne-- You sudah bertemu majikan you ye? Menurut lah, You akan mendapat banyak Cuan. Bye-- bye! Amira cantik." Ucap Momy Nanda sembari melambaikan jari lentiknya. Mommy Nanda telah beranjak pergi karena telah mendapatkan imbalan dari Lelaki tersebut. Tinggalah Amira dan lelaki itu.
Amira memandang lelaki tersebut begitu gugup, tubuhnya mendadak dingin, nafasnya memburu bagai terjangan ombak tsunami. Apalagi lelaki tersebut terus memandanginya dari wajah hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Amira bukan namamu? Perkenalkan, Saya Attar" tanpa ragu Lelaki tersebut menjulurkan tangannya kepada Amira.
"A--ami-ra Tuan Attar" gadis tersebut begitu takut dan gugup sembari menjulurkan tangannya kepada Attar. Ya-- lelaki tersebut adalah Attar, yang Amira kira adalah calon majikanya. Kini mereka saling berjabat tangan.
"Kamu cantik Amira" Lelaki Tampan tersebut Tiba - tiba menarik tangan Amira, lalu memeluk pinggang Amira dengan satu tangannya. Dan tangan satunya tengah menyentuh bibir ranum Amira, hingga membuat Amira tersentak hingga membulatkan kedua bola matanya.
Arghhh..
"Ma--af tuan Attar, jangan seperti ini. Apakah saya bisa langsung bekerja di rumah tuan?" Elak Amira yang tidak nyaman dengan tangan genitnya Attar yang langsung melingkari pinggangnya.
"Dengan senang hati Nona, jadi kamu menginginkan kita bermain lebih? Hingga kau mengajakku keapartemen. hahaha ini sangat menarik baiklah, tetapi kita selesaikan dulu tugasmu yang sekarang".
"Apa maksud tuan?" Amira semakin memahaminya bahwa dirinya kini telah di perjual belikan oleh tetangga dan Mommy Nanda.
"Jangan pura pura bodoh Amira, kau paham betul imbalan ART itu bukan sebanyak yang kau kira, dan harusnya kau juga paham bahwa pergi ke Hotel itu untuk apa?" Attar terus meremehkan dan terus mengintimindasi Amira.
Sraaak...
Tak segan segan Attar menarik paksa pakaian yang di kenakan Amira, Lalu melumat habis bibir Amira. Attar terus menjamahnya dengan paksa, Amira tersentak dan terus meronta dan memohon untuk tidak di perko*a, namun apa daya dengan Amira yang hanya gadis kecil dengan tubuh yang mungil tentu akan kalah telak dengan Attar.
"Arghh.. sa--kit, Jangan tuan to-- long jangan lakukan ini kepada saya" tak hentinya Amira terus menangis kesakitan namun di hiraukan oleh Attar.
"Arghh.. ughh.. Amira, betapa nikmatnya dirimu. Arghh.. A--ku tidak kuat lagi Ami--ra". Attar terus mendesah dengan nafas yang memburu,ia terus meremas kedua gundukan mungil dan terus memompa pinggulnya dengan kasar. Amira hanya terdiam tak berdaya. Jika Berontak pun tak ada guna, toh sudah terenggut juga keperawanannya.
Kupu-kupu cantik berterbangan dengan keindahan sayapnya. Tebang penuh ceria dan bahagia. Namun harus sirna dalam sekejap di ranjang yang mewah. Amira hanya memandangi sudut ruangan, langit langit kamar Hotel mewah tersebut dengan mata yang sayu nan sembab.Ia meratapi dirinya telah direnggut pria yang dia kira adalah majikannya.
Hening..
Setelah Attar merudapaksa Amira, Attar tergulai lemah penuh dengan cucuran keringat. Betapa ia menikmati permainannya, Ia sangat bahagia,Ia terus menatap wajah gadis polos itu yang terus menangis dan berantakan. Tak lupa ia terus memandangi darah segar di sepray. Betapa bangganya telah menggagahi seorang gadis belia yang masih perawan. Namun tidak dengan Amira. Amira membenci lelaki tersebut, ia berencana akan membunuhnya.
"Maafkan saya Amira. saya tahu kau butuh uang, bisa saja saya menolongmu dengan cuma cuma. Tetapi saya sudah tidak tahan untuk menginginkan hal yang lebih darimu Amira. Aku sangat puas dan menikmati sekali" ucapnya sambil memainkan ujung rambut Amira.
"Dengar tuan!, sekarang saya tidak butuh uangmu. Kau telah merenggetku yang tak seharusnya bukan hak mu, tetapi untuk suamiku!. Kau tak lain hanya seorang perenggut".
Amira begitu marah dan tiba tiba mencengkram leher Attar lalu mencekiknya, namun Attar dengan cepat mencengkram kembali pergelangan tangan Amira.
"Cukup Amira!, kau jual dan saya pembelinya. Saya akan memberimu uang lebih untuk masa depanmu, jangan khawatir. Tetapi Jangan pernah ingat wajah saya, atau muncul di depan saya lagi di masa depan. Hubungan kita sebatas penjual dan pembeli,ingat itu!".
"Breng sek, Bi--adap kau Attar! Hig..hig.. hig.. Apa kau tau selama ini tak pernah di sentuh oleh lelaki manapun, aku menjaganya untuk suamiku! Mengapa kau tega bersekongkol dengan waria itu untuk membodohi gadis mis kin sepertiku!" kata kata umpatan pun Amira lontarkan kepada Attar sembari menangis sejadi jadinya.
"Saya breng sek karena saya sudah membelimu, Kau hanya seorang ja1ang yang membutuhkan banyak uang, jadi jangan lah merasa sok suci dan keras kepala Amira. Kami tidak bersekongkol, dan Mommy Nanda adalah bosmu. Camkan itu".
Amira hanya terdiam, karena pada kenyataanya Amira memang membutuhkan mommy Nanda untuk solusi cara mendapatkan banyak pundi pundi rupiah.
"terimakasih, kau memberiku yang spesial". Attar beranjak Sembari memungut pakaiannya yang berserakan.
-- BERSAMBUNG --
⚠️Jangan jadi pembaca gelap⚠️.
Jangan lupa, like ya guys?🙏☺️ supaya makin cmungut ngetiknya, Thankyou😘.