-Perhatian! Cerita hanya fiksi! Mohon maaf,jika ada kesamaan dalam nama,latar belakang ataupun tempat dll. Semuanya hanya ilusi yang diciptakan oleh penulis. -
●●●
"Demi Allah,aku sangat mencintainya. Yaa Allah satukanlah aku dan dia dalam ikatan suci dengan izin ridho-Mu."
■■■■■
Seorang pria dengan balutan jubah putih diatas mata kaki serta surban hitam yang melilit kepalanya itu mengangkat lengan guna menghalau panas yang semakin terik.
Fattah Husain Al-Aftar. Seorang pemuda asal Indonesia tepatnya dari Bandung. Ia memutuskan untuk melanjutkan S2nya di Ma'had Daarul Hadits di Khartoum Sudan.
"Fattah!" Panggil seorang pemuda yang masih seangkatannya membuat mata Fattah menyipit hingga membuat dahinya kian mengerut.
"Ada apa Shalih?"
"Syaikh Hasan mencarimu." Tutur Shalih memberi tahu.
"Baiklah,sebentar lagi aku akan kesana." Jawab Fattah.
"Ada apa Syaikh? Saya dengar anda mencari saya." Ucap Fattah bertanya setelah berada didepan lelaki paruh baya itu
"Ya Fattah. Silahkan duduk terlebih dahulu." Ucap Syaikh Hasan lembut seperti biasanya.
"Apakah kamu benar benar akan mengajukan cuti selama satu minggu kedepan?" Tanya Syaikh Hasan selaku guru yang mengajar di bidang fiqh tersebut.
"InsyaAllah Syaikh. Saya benar-benar sudah siap untuk menikah."
"Maa Syaa Allah. Semoga acaranya lancar ya nak."
"InsyaAllah akadnya akan diadakan di Masjidil harom-Makkah. Saya harap Syaikh akan hadir." Ucap nya penuh harap membuat lelaki paruh baya itu tersenyum teduh sebagai tanggapan.
***
Satu Minggu Kemudian
Vallea Liliana. Seorang gadis muallaf yang hijrah demi agamanya meninggalkan sanak keluarga yang sangat menentang apa yang ia putuskan.
Hidup penuh konflik didalamnya itulah yang selalu terjadi dalam hidup seorang Vallea. Hingga muncullah cahaya islam menerangi hatinya yang sudah lama menghitam dan membeku.
Bukankah Allah mengatakan bahwa setiap orang yang baru terlahir dari rahim ibunya adalah diatas fitrah? Semua urang itu muslim,hanya saja keyakinan mereka mengarah kepada yang sesat saat mereka dewasa,dan itu didikan dari para tetua sebelumnya.
Jika pengantin pada umumnya mengenakan kebaya berwarna putih atau warna yang lebih berwarna. Berbeda dengan Vallea yang mengenakan kebaya berwarna hitam serta kain cadar yang menutup wajah.
"Bagaimana akhy Fattah? Apakah anda sudah siap?" Tanya seorang Syaikh yang akan menikahkan keduanya. Keduanya memang akan mengadakan pernikahan secara sirih terlebih dahulu dan untuk sah secara negaranya akan dilakukan tiga bulan saat dirinya lulus.
"InsyaAllah saya siap Syaikh. Bismillah." Ucapnya dengan yakin.
"Bismillahirrohmaanirrohiim."
"Akhy Fattah Husain Al-Aftar bin Ilham dzakky Al-Aftar. Ankahtuka,wa zawwajtuka,makhtubataka Vallea Liliana binti Alvian Maheswara alal mahri suurotar Rohmaani,haalan."
"Qabiltu nikahaha,wa tazwijaha alal mahril madzkuur,haalan." Sampai akhirnya satu kalimat yang terucap dalam satu tarikan nafas itu terucap dengan fasih oleh Fattah.
Tak terasa helaan nafas lega terdengar dari Fattah. Ya,ia tentu merasa gugup namun dengan izin Allah akhirnya kalimat sakral itu terucap dengan begitu lancar.
"Bagaimana para saksi?" Tanya Syaikh dan juga seorang yang dijadikan wali untuk Vallea saat ini.
"SAH!!"
"Alhamdulillah."
Vallea memejamkan matanya penuh rasa haru dan syukur. Lantas ia bersujud syukur didepan ka'bah sama hal yang dilakukan oleh Fattah.
Semua perjuangan dan penantian yang ia jalani selama ini tak sia sia. Semua pujian ia haturkan untuk yang maha Mulia dan Bijaksana. Semuanya terbalas sesuai kadar sabar dan tekad yang kuat.
Syaikh Hasan yang saat itu menjadi wali untuk Vallea serta keluarga Fattah tersenyum penuh haru.
Di Ka'bah. Segala sesuatunya dimudahkan dan doa doa yang terkabul. Vallea Liliana mengucapkan serangkaian doa untuk kebaikan rumah tangganya dan keteguhannya didalam menjalani ketaatan kepada Rabbnya dan Rosulnya.
***
"Assalaamu'alaikum." Ucap Fattah memberi salam setelah mengetuk pintu kamar hotel dan membukanya.
Ya,Fattah memang sengaja menyewa hotel yang dekat dengan Masjidil harom. Karna sebelumnya mereka pun sudah melakukan kesepakatan untuk melakukan umroh sekaligus sebelum kembali ke Indonesia.
"Wa'alaikumussalaam." Jawab Vallea dengan menunduk seraya menatap kebayanya yang menjuntai diatas lantai.
Sebelum duduk disisi wanita yang beberapa jam lalu menjadi istrinya,ia berdehem sebentar untuk menghalau rasa gugup yang hadir.
"Afwan,apa aku boleh duduk disini?" Sebelum duduk Fattah memilih untuk bertanya terlebih dahulu lantaran ia tak mau membuat istrinya merasa tak nyaman saat ia melakukan hal tersebut.
"Boleh. Silahkan." Cicitnya pelan dan mengangguk mengizinkan.
"Bagaimana kabarmu?" Karna bingung untuk bertanya apa pada akhirnya ia menanyakan kabar saja. Biarlah Vallea menertawakannya karna ia benar-benar merasa gugup.
"Bikhoyr Wa Alhamdulillah. Kabar mu juga gimana?"
"Bikhoyr aidhon walhamdulillah."
"Apakah kita perlu untuk memperkenalkan diri lagi?" Tanya Vallea lantas menatap mata Fattah sejenak.
"Boleh. Bukankah sekarang dalam keadaan yang berbeda?" Vallea tersenyum manis mendengar ucapan lelaki yang skarang sudah menjadi suaminya itu.
"Nama ku Fattah Husain Al-Aftar. Putra pertama Abi Ilham dan Ummah Zara. Asal dari Bandung dan berumur 23 tahun. Lalu bagaimana dengan mu?" Ucap Fattah lantas bertanya balik pada gadis itu dengan senyuman yang terus terpatri.
"Nama ku Vallea Liliana. Putri dari Papa Alvian Maheswara dan Mama Gia. Asal Bali dan berumur 21 tahun." Senyum murni dan tulus itu membuat bibirnya ikut tersenyum.
"Aku rasa masih ada yang kurang dari ucapan mu." Celetuk Fattah membuat Vallea menatap pria itu dengan tanya.
"Apa itu? Tapi kurasa aku sudah mengatakan seperti yang kamu katakan." Ucap Vallea membuat Fattah terkekeh.
"Istri dari Fattah Husain Al-Aftar." Kata Fattah membuat gadis itu terkesiap.
"Hah-?"
"Bukankah begitu yaa Habibati?" Fattah mengerlingkan sebelah matanya dengan senyum menggoda,membuat wajah Vallea terasa panas dan memerah malu.
Kata Habibati itu membuat Vallea merasa senang sekaligus malu. Ah,sepertinya iapun harus mencari panggilan apa yang cocok untuk suaminya nanti.
"Kenapa? Apa kau tak menyukai panggilan itu?" Tanya Fattah saat melihat Vallea mengalihkan pandangannya kearah lain.
"T-tidak,bukan begitu! Hanya saja aku ingin segera mandi."
Fattah mengernyit,ia bingung kenapa Vallea seperti menghindarinya? Namun,tiba-tiba saja seulas senyum kecil tercetak diwajah pria tampan itu.
"Apakah dia malu?" Lirih Fattah terkekeh gemas mengingat yang terjadi tadi.
***
"Allaahu Akbar."
Fattah mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan telinga lalu menurunkan dengan melipat tangan kanan berada diatas tangan kiri tepat didada.
Vallea melakukan gerakan yang sama dilakukan suaminya dari belakang. Hingga terus demikian sampai pada gerakan terakhir yaitu gerakan akhir dalam sholat yaitu mengucapkan salam sebanyak dua kali.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh."Ucap Fattah menolehkan kepalanya kesampaian kanan lalu ke kiri diikuti oleh Vallea.
Setelah berdoa dan berdzikir,Fattah berbalik lalu mengulurkan tangannya dan disambut ciuman dipunggung tangan suaminya secara takzim oleh Vallea. Kemudian Fattah melabuhkan ciuman sedikit lama dikening istrinya yang beralasan mukena.
Vallea menunduk malu setengah mati dipandang sebegitu intensnya oleh Fattah. Apalagi senyuman yang terpatri dibibirnya terlampau manis. Wkwk
"Habibati? Kenapa terus menunduk?" Tanya Fattah tanpa dosanya membuat Vallea mengutuk pria itu.
'Dih,dia sengaja atau gimana? Apa memang dia sengaja ya bikin aku tambah malu? Hisshhh'
Terdengar deheman kecil membuat Vallea menatap pria itu sekilas,tapi ada yang membuat Vallea gagal fokus. Yaitu wajah suaminya hingga ke telinga tampak memerah. Apakah suaminya itu lagi malu dan salting tapi karna apa ya? Kira-kira begitulah gumaman Vallea dalam hati.
"Vallea istriku. Apakah kamu sudah siap?"
DEGH
Vallea tentu saja paham apa maksud pria itu. Dan tentu sebelum dimulai pernikahan ini ia sudah mempersiapkan diri matang matang dan dia benar-benar sudah siap lahir dan batin. Tapi ini tampak berbeda lagi. Bagaimana bisa Fattah bertanya seperti itu padanya? Namun bukankah jika begitu berarti Fattah begitu menghargainya sebagian seorang istri? Tapi tetap saja ia malu jika harus menjawab bahwa dirinya sudah siap.
"Maaf. Tidak apa jika kamu belum siap. Aku akan menunggunya sampai kamu benar-benar mengizinkan ku." Ucap Fattah dengan tulus dan ikhlas dari lubuk hatinya terdalam.
Vallea hanya tersenyum kaku. Ingin mengatakan yang sebenarnya namun kalau dipikir pikir tidak apalah untung Fattah mikirnya begitu. Secara dia ingin lebih siap lagi kedepannya untuk bisa leluasa berbicara dengan suaminya ini.
"Tapi ngomong ngomong nih ya,kamu belum punya nama buat aku?" Fattah berucap bertanya sambil menatap kagum pada sosok ciptaan Allah yang satu itu.
Mata bulat,Hidung mancung,alis yang tebal dan bulu mata lentik serta garis wajah yang sempurna. Ditambah kulit sepuluh susu yang menambah kesan cantik alami pada Vallea.
Vallea mengerjap pelan,ia menatap Fattah dengan ekspresi bertanya. "Panggilan seperti apa?"
"Ya,panggilan yang nyaman. Seperti contohnya panggilan sayang aku buat kamu 'Habibati'." Kata Fattah
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai nama itu ? Kalau tidak mau makan aku akan menggantinya meskipun aku sangat ingin memanggil mu dengan seperti itu." Ucap Fattah berusaha mengalah tatkala menangkap ekspresi Vallea yang tampak mengernyit.
"A-b-bukan begitu." Sela Vallea dengan cepat membuat Fattah kembali menatap mata gadis itu setelah tadi menunduk.
"M-maksud aku,kamu boleh memanggilku seperti itu. Hanya saja--" Vallea memalingkan wajahnya kesamping. Ia mengutuk dirinya yang bisa bisanya malu dan tersipu dalam keadaan seperti ini. Sudah jelas pasti Fattah dapat melihat raut wajahnya yang memerah.
"Hanya saja apa?"
"A-aku belum tau nama untuk kamu."
Fattah manggut manggut saja lantas berucap.
"Ada banyak sayang. Panggilan untuk suami mungkin tentu saja adalah panggilan sayang untuk aku,suami mu Vallea." Terang Fattah membuat gadis itu mengangguk dengan pipi bersemu merah mendengar kata 'sayang' yang lagi lagi terlontar dari bibir pria itu.
"Akan aku pikirkan lagi."
***
Seminggu berlalu dan hari ini adalah hari dimana Vallea akan ikut kembali ke Bandung bersama kedua orangtua Fattah. Karena ia juga tak ingin membuat studi suaminya melambat hanya karna ada dirinya disini. Hanya dua bulan lagi,itu tidak lah lama menurut Vallea.
Dan disinilah mereka berada. Di Bandar Udara Internasional Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz. Memang mereka akan terbang lewat madinah karna setelah melakukan akad,waktu seminggu mereka habiskan untuk mengelilingi beberapa tempat di mekkah terutama untuk melakukan umroh sekaligus. Dan tiga hari terakhir mereka memutuskan untuk mengunjungi madinah,tempat dimana Rosul hijrah untuk pertama kali.
Fattah terus menggenggam lengan istrinya. Bahkan matanya kini terlihat berkaca-kaca,Vallea rasanya terharu dan sangat bersyukur mendapat suami yang se sempurna Fattah. Bahkan suaminya itu mengatakan sudah lama mencintainya,oleh karna itu ia ingin segera menikahi Vallea karena takut rasa cinta yang ia rasakan akan menjadi sebuah maksiat dan dosa.
'Ya Allah,semoga cinta yang diberikan suamiku dan semuanya takkan pernah berubah.'
"Habibati,kenapa berat sekali untuk melepaskan mu?" Vallea terkekeh kecil menatap suaminya yang tampak merengek padanya.
"Aku takut akan terasa berat saat merindukan mu Habibati." Ujar pria itu lagi dengan mata berkabut.
"Mas lucu tau. Kan kita cuman pisah rumah sementara. Dua bulan lagi,tak lama bukan?" Fattah menggeleng
Ya,Vallea sudah memutuskan untuk memanggul suaminya dengan sebutan 'Mas' saja. Menurutnya itu lebih mending daripada babang ataupun habibiy. Ah,entah kenapa mendengarnya saja membuat Vallea geli sendiri.
Dan syukurlah,Fattah terserah terserah saja. Ia tak terlalu mempermasalahkan soal panggilan. Itu saja sudah bagus,yang terpenting masih dalam kadar sopan.
"Kata siapa? Dua bulan itu sangat lama bagiku." Kata Fattah dengan lemas.
"Makanya dua bulan itu mas harus benar-benar serius ujiannya. Jangan pikirkan aku okey? Agar semuanya akan cepat selesai dan kita akan cepat bertemu." Ucap Vallea mengusap wajah suaminya itu dengan lembut dan senyum yang terpatri di wajahnya terlihat dari matanya yang menyipit.
"Aku akan benar-benar serius Habibati. Namun untuk tidak memikirkan mu aku tidak bisa. Pokoknya kalau sudah sampai kamu harus mengabari ku terlebih dahulu. Dan jangan lupa kalau kamu sudah menikah dan sudah mempunyai suami yang sedang berjuang disini." Tutur Fattah dengan panjang membuat gadis itu tertawa kecil.
"Mana mungkin aku melupakan itu mas? Aku begitu ingat bahkan sangat. Kamu adalah lelaki yang pertama yang pernah aku kenal." Sahut Vallea membuat Fattah menatap gadis tak percaya.
"Masak?"
"Aku serius mas."
Sontak sebuah pelukan tiba-tiba membuat tubuh Vallea membeku. Perlahan ia pun membalas pelukan suaminya itu sembari mengusap bahu suaminya dengan lembut.
"Aku sangat mencintai mu."
"Jangan terlalu mencintaiku melebihi cintamu pada Allah. Jangan terlalu mencintaiku mas. Karena hal itu sangat membebani ku." Balas Vallea Lirih.
"Tidak sayang. Aku mencintai mu setelah Allah dan Rosul Nya. Kamu adalah wanita kedua yang sangat penting dihidup ku."
Setelah melepaskan semua rasa dan saling berpelukan,mereka segera berangkat lantaran sebentar lagi akan segera tiba waktu berangkat.
'Ya Allah lindungilah istriku dimanapun ia berada. Lindungilah dari Marabahaya diluar sana.'
Tak ada yang tau takdir yang akan menanti. Manusia hanya mampu berharap dan berjuang lewat doa yang dilangitkan pada sang pencipta.
***
Dua bulan dihabiskan oleh Vallea dan Fattah dengan kesibukan sekaligus saling memperbaiki diri masing-masing. Untuk saling memantaskan satu sama lain.
Fattah yang sibuk dengan ujian kelulusan. Sedangkan Vallea sibuk dengan pendidikannya juga dengan usaha yang ia kelola selama ini,yaitu merancang pakaian muslim muslimah melanjutkan untuk membangun kembali butik mendiang sang ibu yang sudah lama berhenti.
Tanpa terasa dua bulan kini telah berlalu. Hari dimana yang sangat Vallea tunggu tunggu. Hari Minggu,dimana hari ini adalah kedatangan suami nya,Fattah Husain Al-Aftar. Pria yang sudah membuatnya mengenal apa tujuan hidup yang sebenarnya.
"Demi Allah,aku sangat merindukannya ya Allah. Dua bulan ternyata tak sesingkat itu. Semoga suami ku akan lekas sampai dengan selamat." Vallea duduk gelisah dikursi tungga menunggu kedatangan suaminya itu dengan harap harap cemas.
Matanya berkeliaran menyusuri satu persatu wajah yang datang dari tempat dan ke tujuan yang sama. Namun diantara mereka ia belum mendapati batang hidung suaminya sedari tadi.
Bagaimana ia tidak khawatir coba?
"Kenapa suamiku tidak ada?"
"Assalaamu'alaikum yaa Zaujati." Ucap seseorang yang tiba tiba memeluknya dari belakang dan seketika membuat wanita itu terkesiap.
"Apakah kamu tidak ingin menjawab salam ku yaa habibati?" Tanya pria itu dengan suara bass dan terkesan lembut dan berat di indra pendengarannya.
"W-wa'alaikumussalam." Jawab Vallea dengan cepat.
"Ada apa? Apa ku tidak merindukan ku hm?" Vallea menggeleng. Ia menghela nafasnya lalu berucap
"Bukan begitu. Hanya saja kau terlalu mengagetkan ku." Cicit Vallea membuat Fattah tertawa kecil.
"Benarkah?"
Vallea menatap suaminya itu tak percaya. Sungguh? Apakah suaminya tidak merasakan bersalah?
Fattah terkekeh lantas menunduk lalu mengusap usah pucuk kepala wanita itu dengan lembut.
"Maafkan aku. Apa kamu marah? Kalau begitu aku minta maaf. Tadi aku hanya ingin memberi mu kejutan,aku tidak tau kamu tidak menyukainya."
Vallea menggeleng tak ingin Fattah salah paham padanya akhirnya iapun menjelaskan.
"Bukan tidak menyukainya. Aku hanya terlalu terkejut sehingga tak menjawab ucapan mu."
"Namun,aku sangat senang bisa ketemu mas lagi. Tadi Aku pikir terjadi sesuatu yang menghambat kedatangan mu." Jelas Vallea sungguh sungguh membuat bibir pria itu melengkung tipis.
"Ana uhibbuka filah Zaujati."
"Ahabbakal ladziy ahbabtaniy lahu." Balas Vallea diiringi senyum manis.
"Kamu naik apa kesini?" Fattah menarik kopernya dengan sebelah tangannya lagi dipakai untuk menggenggam lengan istrinya. Takut istrinya hilang. Duh,posesif bang.
"Naik mobil. Maaf aku melanggar satu aturan mu. Aku menyetir mobil sendiri." Kata Vallea dengan rasa bersalah. Ia hanya melakukan itu karna tak ingin ada orang asing bersama keduanya nanti ketika di mobil bersama.
Fattah tersenyum tipis,"Tidak apa,terkecuali untuk hari ini saja. Tapi..." Vallea menyipit menatap suaminya yang meliriknya dengan seringai yang membuat Vallea bergidik dan curiga.
"T-tapi apa?"
"Aku tetap akan memberikan hukuman untuk mu sayang. Yang pastinya akan bernilai ibadah disini Nya."
DEGH
Vallea mematung,ia tentu paham apa maksud Fattah. Ada terselip rasa takut dalam hatinya namun sebisanya ia lawan.
"Baiklah zaujiy. Asalkan bukan suatu perkara yang menyimpang diluar syari'at." Tanggap Vallea
"Tentu tidak. Kau ini.." Vallea tertawa begitupun Fattah,lalu keduanya terus melanjutkan bercerita hal hal yang random membuat Fattah dan Vallea tertawa bersama. Contohnya seperti ini
"Ibu ku pernah cerita. Dulu waktu ia mengandung ku,ia sangat suka mengerjai ayah. Kau tahu? Ayah ku sampai menahan malu saat ibuku menyuruh ayah untuk berdiri tanpa memakai apapun hanya celana pendek cewe berwarna pink serta rambut yang dicukur habis. Ayahku berdiri ditengah jalan raya untuk menyapa setiap yang lewat dengan keadaan seperti itu. Semua orang menertawakannya juga ibu yang tampang tak dosanya ikut ikut menertawakan suaminya."
"Dan parahnya lagi,ibu menyuruh ayah untuk tetap tersenyum lebar hingga menampakkan gigi giginya. Padahal ayah terkenal dengan sifatnya yang datar dan cool. Namun kejadian itu sungguh menjatuhkan wibawanya sebagai pemimpin perusahaan."
Fattah tertawa mendengarnya. Ia ikut terhibur,kalau saja ia disana mungkin dia pun akan tertawa merasa lucu. Karna memang benar Alvian diluar begitu dingin terhadap orang lain. Tapi berbeda lagi jika bersama anak dan istrinya.
Bagaimana jika istrinya akan melakukan hal yang sama seperti ayah mertuanya nanti. Bagaimana nasibnya nanti?
Sontak tawa Fattah teredam saat tiba tiba dalam benaknya terjadi hal seperti itu. Tidak! Tidak mungkin istrinya melakukan hal yang demikian!
"Mas! Kamu kenapa?" Fattah mengerjap. Ia menatap istrinya lantas menelan ludahnya takut jika istrinya akan melakukan hal yang sama seperti ibu mertuanya dulu.
"A-aku tidak apa-apa."
"Tapi dari tadi loh aku panggil. Masa gak denger?" Tanya Vallea lagi.
"Tidak apa-apa sayang. Mas,cuman lagi mikir aja gimana rasanya kalau punya anak."
Jangan ditanyakan lagi bagaimana keadaan jantung Vallea. Tentu saja berdengung kencang. Sungguh ia tak menyangka Fattah malah membayangkan hal yang demikian.
Karena tidak ingin terus terjebak dalam suasana itu,Vallea bermaksud ingin mengalihkan pembicaraan. Dan sebelum itu terjadi ia berdehem terlebih dahulu.
"Mas,gimana kalau kita cari tempat makan dulu dari sini. Pasti kamu belum sarapan kan tadi?"
Fattah mengangguk angguk seraya berpikir. "T-tapi kan waktu sarapan sudah lewat Habibati."
Ah,iya Vallea sampai lupa! Memang sudah lewat sih,namun kan suaminya tetap saja tidak bisa kalau tidak sarapan.
"Tidak apa-apa mas. Mau udah lewat apa belum kamu tetap harus makan." Titah Vallea tegas tanpa mau dibantah.
Fattah tersenyum kecil lantas mengiyakan perintah istrinya saja. Ah,ternyata se-menyenangkan ini memiliki istri.
"Kenapa senyum senyum?"
Fattah berdehem lantas segera mengubah mimik wajahnya menjadi datar membuat gadis itu berdecak.
"Kamu gak lagi mikir yang nggak nggak kan?" Tudung Vallea terkesan menuduh.
"Astagfirullah Habibati. Dosa loh nuduh suami. Suami mu sudah pasti Tidak memikirkan hal hal yang tidak tidak."
Akhirnya mobil yang dikendarai oleh keduanya meluncur diarea restoran. Restoran nya memang tidak terlalu mewah sih,tapi sangat nyaman dan kulinernya terkenal enak enak dan tak mengecewakan. Kebetulan juga Vallea sudah pernah mampir di restoran tersebut.
Disaat Vallea akan siap siap keluar,Fattah menahan pergelangan tangan gadis itu yang hendak memegang handle pintu.
"Tunggu disini." Belum juga Vallea bertanya alasannya suaminya sudah keluar terlebih dahulu darinya.
Vallea menatap suaminya yang kini berada didepan pintu mobil tempat ia duduk lalu membukakan untuk Vallea.
Vallea tersenyum tatkala sadar akan makna dari ucapan Fattah tadi. Ternyata ini maksudnya,ia ingin membukakan pintu untuk sang istri.
"Syukron yaa Zaujiy."
"Afwan yaa Habibati." Balas Fattah sembari tersenyum menatap mata teduh milik sang istri.
***
Sembilan bulan kemudian...
Suara brankar rumah sakit berdecit bergesekan dengan lantai licin dia dalam rumah sakit milik Al-Aftar.
Seorang pria dengan wajah panik dan cemas tampak mendorong sebuah brankar serta para perawat yang sigap untuk segera membawa pasien wanita itu kedalam ruang operasi.
"Tolong istri saya dokter. Saya mohon selamatkan istri saya,berapapun biayanya akan saya bayar. Asal istri saya dan anak anak saya tetap selamat." Kata Fattah dengan memohon. Dahinya dipenuhi keringat dingin,bahkan terlihat begitu pucat membuat dokter itu sedikit khawatir.
"Baik. Kami akan melakukan sebisa kami. Tolong doa untuk pasien dari keluarganya. Dan saya minta tolong untuk tidak panik,mungkin masnya bisa tenangkan pikiran terlebih dahulu."
'Astaghfirullah'
Seketika ia beristighfar. Benar,ia ingat bahwa dirinya sampai sampai melupakan Allah,satu satunya tempat bersandar dan mengeluh segala keadaan.
"Semoga kamu dan anak anak kita tidak akan kenapa napa sayang. K-kamu harus kuat demi aku dan anak anak kita." Matanya berkabut genangan air mata yang akan siap tumpah. Memandangi ruangan operasi yang masih tertutup rapat.
Setelah lima menit duduk disana akhirnya Fattah memutuskan untuk menunaikan sholat terlebih dahulu lalu berdoa kepada Allah untuk keluarga kecilnya.
Tak ada satupun yang ia takutkan didunia ini setelah akhirat adalah keluarga kecilnya.
Anugerah yang tak pernah ia sangka sangka,istrinya,hamil anak kembar laki laki. Bagaimana rasa bahagia dan syukur Fattah yang tak bisa terukur.
Ia sangat dan amat mencintai Vallea,ibu dari anak anaknya mulai hari ini dan selamanya. Kedua putra yang terlahir dengan operasi caesar.
Semuanya berawal dari Vallea yang bersikeras ingin menyusul suaminya namun dilarang oleh Fattah agar dijemput saja. Namun si empunya menolak dan malah marah marah.
Dan yang,inilah yang terjadi,suatu kejadian yang mungkin akan menjadi trauma bagi pria itu atas kehamilan Vallea. Ia tak ingin istrinya hamil kembali,karna alasannya hanya satu.
Yaitu dirinya tidak ingin ambil resiko,dan juga menurutnya anak dua itu sudah cukup. Sungguh,Fattah benar-benar tidak ingin kehilangan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
***
"Bagaimana kondisi istri saya dokter?" Tanya Fattah lebih dulu membuat kedua orangtuanya yang ingin bertanya pun urung seketika.
"Alhamdulillah kedua bayi Ny. Vallea lahir dengan sehat dan kuat. Hanya saja,kami minta maaf sebesar besarnya karena Nyonya Vallea mengalami pendarahan hebat dan nyawanya tak bisa diselamatkan."
DEGH!!
Sontak ucapan sang dokter mampu meluluh lantakkan hati seorang Fattah. Tubuhnya jatuh merosot ke lantai.Kedua matanya mengalir cairan bening,tak mampu untuk berkata kata.
"K-kenapa kau meninggalkan ku Vallea?" Gumam nya terisak isak dengan kepala yang bersandar pintu. Kepalanya berulang kali menggeleng,mengenyangkan pikiran dan semua ucapan orang,yang mengatakan bahwa Vallea nya telah pergi untuk selamanya.
Vallea nya telah pergi,meninggalkan luka besar yang terus menganga.
Vallea Liliana Maheswara,adalah seorang gadis muallaf,yang berjuang untuk tetap bertahan ditengah badai menerpa. Ia rela meninggalkan keluarganya demi hijrah nya.
Seorang wanita yang begitu tegar dan seorang istri sholihah yang sangat dicintai dan akan terus dikenang...
Dan mungkin selamanya...
"Hiks--K-kenapa?K-kenapa kamu pergi Habibati? A-aku--hiks-" Kyai Ilham mengusap usap pundak sang putra untuk menguatkan.
Sama. Ia dan istrinya juga merasakan hal yang sama dirasakan oleh putranya. Ia sangat tahu,bahwa Fattah sangat mencintai istrinya.
"Sayang,sabar ya... Ummah gak mau kamu terus nangis begini. Kamu gak mungkin kan biarin orang lain yang memandikan istri mu?"
Fattah memejamkan matanya kuat. Ia sungguh tidak sanggup lagi,rasanya iapun ingin menyusul istrinya. Tapi itu jelas adalah tingkah bodohnya,tidak mungkin ia meninggalkan anak anak nya tanpa kedua orangtua yang mendampingi.
Fattah berjalan menghampiri brankar yang terdapat istrinya. Tangannya gemetar saat menyentuh kain putih yang menutup tubuh Vallea.
"Habibati..." Suara Fattah terdengar Lirih bersamaan dengan jatuhnya air mata.
Ia tak menyangka,istrinya akan meninggalkan dirinya secepat ini. Wajah yang biasanya ceria dan full dengan senyuman,kini berubah pucat dan kaku.
Wajah Vallea akan tetap terlihat cantik dimata Fattah. Menurutnya,Vallea nya akan selalu cantik walau wajahnya kucel sekalipun. Memang definisi cinta gila.
Ingatannya kembali berputar beberapa tahun lalu. Dimana pertama kalinya ia bertemu dengan Vallea.
Sudan.
Satu kata yang menunjukkan dimana tempat itu. Tempat dimana pertemuan pertama mereka dimulai. Tempat pertama yang mengawali cerita keduanya hingga mengarungi bahtera bersama dalam biduk rumah tangga...
Di Sudan lah,semuanya terjadi. Momen momen yang takkan pernah Fattah lupakan. Momen dimana pertemuan awal kali mereka,momen dimana mereka saling mengenal dan saling berbagi cerita. Dan momen dimana keduanya ber-komitmen untuk saling memantaskan kedepannya.
------
"Tak ada yang lebih aku harapkan yaa Allah melainkan untuk merawat putra putra ku hingga dewasa. Izinkan aku merasakan untuk menjadi seorang ibu. Berikan aku satu kesempatan."
■■■■■
Tak ada lagi suara isak tangis yang terdengar,yang ada hanyalah deraian air mata yang terus menerus keluar.
Sebuah lengan kekar dengan terus menerus mengusap nisan yang berdiri didepannya. Dibelakangnya terdapat beberapa anggota keluarganya yang sedang menunggu.
Si kembar digendong oleh nenek dan kakeknya. Untungnya tidak rewel,seolah mereka mengerti keadaan sang ayah yang tengah bersedih.
"Semoga kamu bahagia ya Habibati? Kamu tenang ya disana. Aku janji,tidak akan menikah lagi setelah kamu. Hanya kamu yang akan terus menjadi istri aku,Vallea."
Air matanya lagi-lagi menetes. Matanya terpejam,seiring angin berhembus sejuk menerpa wajahnya. Fattah tersenyum tipis sambil berderaian air mata.
"Maafkan aku Vallea. Aku harus segera pergi,insyaallah aku akan sering kesini. Kamu baik baik ya disana." Katanya kemudian lalu menyeka air matanya menggunakan sarung tangan.
Kedua matanya menatap dengan senyuman kearah sarung tangan berwarna putih. Sarung tangan milik Vallea. Dan mungkin akan menjadi barang favoritenya mulai hari ini.
"Selamat tinggal istriku."
•●•●●
Huaa... Alhamdulillah akhirnya cerpen ini selesai...
Sekian.. Terima kasih ...