Hai namaku Kania Shakira biasanya aku di panggil Nia. Aku anak pertama dari 4 bersaudara. Jarakku dan adikku terpaut 3 tahun, dan jarak adikku dengan adik kembarku juga sama. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Kisah ini di mulai sejak aku terlahir di dunia ini. Kata orang jadi anak pertama itu menyenangkan, bisa mendapat kasih sayang orang tua sepenuhnya karena belum adanya saudara, tetapi hal itu tidak berlaku untukku. karena aku bukan anak yang di inginkan oleh ayahku. Dia ingin sekali anak pertamanya adalah seorang laki-laki. Tapi takdir berkata lain, lahirlah aku seorang putri yang tidak dia sukai.
"Hanya seorang perempuan buat apa pintar kalo besok besarnya cuma di rumah", itulah kata yang pernah aku dengar ketika masih di kelas satu SD ketika aku mendapatkan juara 2 di kelas. Tetapi, jika aku tidak mendapatkan juara kelas maka pukulan dan amarah ayah yang akan menunggu ku sepulang penerimaan raport kelas. "Anak kurang ajar, nilai kenapa bisa segini, capek-capek kerja buat bayar sekolah tapi hasilnya seperti ini, jelek!", "seharusnya kamu jadi contoh yang baik untuk adik-adikmu", begitulah kalimat demi kalimat yang dia lontarkan dengan guyuran air dingin atau pukulan tangannya dan ibuku hanya diam seakan-akan dia tidak melihatnya.
Penderitaanku bukan hanya sampai situ saja, aku juga harus di tuntut mandiri semenjak umur 3 tahun, ketika adik pertamaku lahir. Aku dituntut agar mengalah untuk adikku, jika tidak ayah akan memarahiku, karena dia sangat menyayangi adikku ini, Putri "Kan Nia dah besar, ngalah ya mainan ini buat adiknya", kata ibuku sambil mengambil boneka Teddy bear cream pemberian kakak sepupuku itu untuk Zahra yang menangis sambil menunjuk Teddy bear tersebut. "Tapi ini punya Nia, mbak Lita yang beliin dari kota buat aku", belaku yang masih kelas satu SD. "Kania! Kamu dah gede, kasih ke adikmu sekarang!", seru ayah mendengar tangisan Zahra semakin kencang. Alhasil dengan berat hati, aku memberikan boneka Teddy bear tersebut untuk adikku.
Keseharian ku hanyalah membantu ibu untuk mengurusi ketiga adikku, dari dalam mandi aku sudah di ajarkan agar aku bisa mandi sendiri sejak kelas 2 SD. Dan membantu untuk masak, menyapu, dan mencuci piring. Sehingga waktu bermain ku berkurang, belum lagi kalau nilaiku turun dan aku di hukum oleh ayahku tidak boleh bermain selama seminggu. Kenapa ayahku kurang membantu dalam urusan bersih-bersih rumah? Karena dia menganut pemikiran semua pekerjaan rumah adalah tugas perempuan dan lelaki hanya bertugas berkerja untuk mencari nafkah.
Hingga hari itu tiba, hari yang membuatku semakin membenci mereka berdua. "Anak kurang ajar! Pikiranmu apa hanya main terus, hah!. Bisa-bisanya PR ga di kerjain, besok mau jadi apa!", maki ayah dengan berteriak sambil memukul dan menginjak-injak serta menendang tubuh kecilku yang masih kelas dua SD itu. Dia memukulku hingga aku tidak sadarkan diri. Ketika aku sadar, aku telah berada di rumah Bude Tina. "Kowe ga papa nduk?", ucap budeku khawatir. Aku cuma terdiam karena sekujur badanku sakit. "Iki maem sek ya, sesok rasah mlebu sekolah sek. Istirahat Nang omah e bude sek ya", aku pun hanya menganggukkan kepalaku. Entah apa yang terjadi di rumah aku tidak peduli yang hanya aku pedulikan kenapa hal ini tidak sampai menjadi kasus kekerasan anak. Selama kurang lebih 3 bulan aku dirawat oleh budeku, dan berangkat sekolah dari rumah bude Tina. "Hari itu kenapa nduk kok kamu bisa dipukuli ayahmu?", kata mbak Nuri anak sulun Bude Tina. Aku pun terdiam sejenak, lalu aku menceritakan tentang kejadiannya. Bahwa seperti hari-hari biasa, aku bangun subuh, shalat lalu mandi dan membantu pekerjaan rumah lainnya. Setelah selesai menyapu rumah aku bersiap berangkat sekolah. Rutinitas sehari-hari aku pasti akan datang kerumah Bude Sri untuk sarapan pagi, karena ibu hanya memasak hidangan yang disiapkan untuk bapak. Selesai sarapan dan berpamitan ke Bude, aku pun berangkat menuju sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh, kurang lebih 100m dari rumah. Pelajaran pertama pun di mulai, yaitu pelajaran penjaskes. "Yok anak-anak, PR nya di kumpulkan", ucap guruku. Aku pun hendak mengumpulkan buku PR yang telah ku selesaikan semalam, tapi buku itu tidak ada. Aku pun teringat kalo buku tersebut tertinggal dirumahnya Bude Sri. "Nia, mana pekerjaan rumah mu?", sambil menundukkan kepala aku menjawab "Maaf pak bukunya tertinggal", "Alesan, bilang aja kalo belum mengerjakan tugas dari bapak, kerjaanmu di rumah pasti cuma main terus kan. Tunggu nanti di rumah bapak bakal bilang ke orang tua kamu, biar kamu di nasehati. Baru hari pertama pelajaran di kelas dua udah berani ga ngerjain tugas ". Setelah pulang sekolah benar apa yang pak guru olahraga itu kata, dia datang kerumah saat jam istirahat dan memberitahu jika aku tidak mengerjakan tugas sekolah. Sesampainya di rumah ayah menunggu di depan rumah sambil menahan amarahnya sehingga muka dia memerah. Dan terjadilah peristiwa itu, cerita ku ke mbak Nuri.
Setelah kejadian itu aku pun menjadi pendiam dan terkena bullying di sekolah. Aku tidak menceritakan hal itu ke keluarga ku, 'toh percuma kalo aku cerita ', pikirku saat itu. Hari demi hari berlalu dan sampai aku di masa SMP. Aku minta untuk di asrama kan. Dan aku bersyukur sekali orang tuaku menyetujuinya. Karena aku sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah, sehingga di asrama tidak terlalu berat bagiku. Sampai saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP semester 2, aku menemukan seseorang yang membuatku jatuh hati, tapi sayang nya peraturan di sekolah tersebut dilarang keras berpacaran, sehingga kamipun diam-diam menjalani hubungan. Tetapi baru 3 bulan kita pacaran, kita ketahuan dan harus putus, dan salah satu dari kami harus di keluarkan. Setelah rapat dan akhirnya aku yang di pertahankan oleh kepala sekolah dikarenakan dalam pertimbangan beliau, aku sudah memberikan beberapa prestasi kepada sekolah, alhasil 'pacarku' yang notabene 'anak pindahan yang bermasalah', karena dia baru pindah di Semester genap dikarenakan di sekolah sebelumnya dia di keluarkan atas dasar kasus pencurian dan tawuran.
Tidak sampai situ, aku juga mendapat surat peringatan terakhir, yang di dalamnya tertulis jika aku mengulangi hal yang sama akan tidak ada pertimbangan lagi untuk aku di keluarkan dari sekolah, dan yah, surat itu juga di sampaikan kepada orang tua ku, dan pada hari libur sekolah, atau perpulangan asrama aku dimarah i habis-habisan oleh ayahku. Semenjak itu aku semakin menjauh dari ayahku, dan aku lebih suka memendam semua masalahku sendirian.
Hari demi hari pun berlalu, Minggu demi Minggu dan bulan demi bulan. Tidak menyangka aku sudah duduk di bangku SMA kelas satu, dan aku masih di sekolah yang sama, masih di asrama. Hari-hari ku lalui dengan rutinitas yang sama, bangun jam 4 pagi untuk mandi, shalat, mengaji, dan membersihkan lingkungan asrama. Baru jam 6.45 kami bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah setelah sarapan.
Hari-hari pun berganti setelah selesai masa ospek untuk para murid baru. Pelajaran pun di mulai. Tidak ada yang spesial di kehidupan SMA, ritmenya masih sama dengan saat aku di SMP. Hingga aku baru menyadari ketika hari pertama kelas di mulai, datang lah satu makhluk yang membubarkan ketenangan di kehidupan ku, yaitu teman masa kecil ku. "Nia lagi apa?", tanya Angga kepada ku, "Punya matakan? Bisa liatkan?", jawabku pada Angga. "ANGGA!!", teriakku ketika ia mengambil novel yang sedang ku baca. "Kalo ada orang ngajak bicara di perhatiin ", ujarnya sambil mengambil kursi lalu duduk di depan mejaku. "Kenapa?", tanyaku ketus. "Kenapa setiap jam istirahat kamu ga suka berbaur dengan teman-teman cewekmu?", "Emang setiap saat aku harus berbaur?", "Ya enggak juga sih. Tapi setidaknya kamu sering-seringlah main bersama mereka."' Ujarnya sambil mengembalikan novel yang dia ambil. "Nih gorengan mau ga?", ujarnya sambil mengeluarkan sebungkus kresek yang berisi gorengan yang masih hangat, "Jangan terlalu terbawa saat di masa lalu", lanjutnya sambil memandang wajah ku. "Iyyaa, udah balik sana nanti aku kena kasus lagi. Dah sana balik ke bangkumu", "Iyya Iyya, jadi cewek jangan terlalu judes, ntar ga ada yang mau loh", "Biar". Itu lah Angga teman masa kecil ku, kita terpisah saat kita duduk di bangku kelas 3 SD, dirinya harus ikut ayahnya karena setelah cerai kedua orang tua mereka, gak asuh dia di menangkan oleh ayahnya, sebab perselingkuhan yang ibunya lakukan.
Bel masuk pun berbunyi, "Okey teman-teman, sekarang kita akan melakukan pemilihan struktur kelas, ya", ujar Nizam, salah satu temanku yang melanjutkan SMA nya di sini. Setelah debat dan drama pemilihan untuk struktur kelas. Maka jadilah struktur, ketua kelas Nizam, wakilnya Angga, bendahara aku bersama Nana, kemudian sekertaris Puspa dengan Lea. "Okey terima kasih atas kerjasamanya teman-teman", ucap Nizam. Kemudian ia keluar untuk menuju ke ruang guru menyerahkan hasil voting tadi dan mengambil jadwal mata pelajaran.
Hari-hari ku yang semulanya damai dan tentram, berubah menjadi ramai semenjak ada Angga yang pindah ke sekolah asrama yang sama dengan ku. Banyak sekali tingkah yang ia lakukan. "Nia, Nia, tipe cewek yang di suka i oleh Angga yang kayak gimana?", "Iyya Nia, kan kalian temenan dari kecil", ujar para teman-teman perempuan ku. "Aku ga tahu, dan ga mau tahu", ujarku. "Alah Nia ga seru, pasti kamu boong kan, pasti kamu suka Angga kan", ujar Puspa yang salah satu 'pick me girl', menurut ku. "Ya udah kalo kalian ga Percaya, silakan tanya langsung ke dia", ujarku. Yah disini aku hanya memiliki sedikit teman perempuan, lebih tepatnya 2 orang teman, Yaitu Nana dan Salsa. Hari-hari ku pun yang awalnya tenang sekarang menjadi 'menyebalkan', karena Angga yang di cap murid baru yang pintar dan ganteng itu dekat dengan ku yang hanyalah murid biasa, yang jika di pandang dari segi kecantikan kalah jauh di bandingkan denga Puspa dan teman-temannya.
Oh ya, aku tidak lagi menceritakan tentang keluarga ku, karena aku sudah tidak mau mengingat apa yang mereka lakukan terhadap ku. Jadi saat ini aku lebih fokus ke masa depanku, karena aku ingin lepas dari mereka setelah masa SMA ini berakhir, aku ingin mengejar biasiswa untuk menempuh jenjang pendidikan berikutnya. Oleh karena itu, di masa SMA ini aku akan lebih banyak belajar dan mengikuti program khusus untuk para pengambil biasiswa. Di sekolah asrama ini, mereka memperbolehkan siswa-siswi SMA nya untuk membawa HP.
Aku melanjutkan sekolah di sini, dikarenakan sekolah ini semakin maju. Mereka sudah memiliki 2 kampus. Kampus pertama untuk anak-anak SMP full day saja. Sedangkan kampus kedua berisi anak-anak yang tinggal di asrama dari jenjang SMP hingga SMA. Dan juga, aku mendapatkan bantuan biasiswa tapi dengan menandatangani kontrak perjanjian. Apabila aku tidak bisa memenuhi target yang di berikan, maka aku akan membayar biaya sekolah sesuai dengan harga yang telah ditentukan. Biasiswa full seperti ini hanya berlaku untuk anak yang memiliki keterbatasan ekonomi dan mampu menandatangani kontrak perjanjian. Isi dari perjanjian itu salah satunya adalah aku harus bisa mempertahankan nilai ku di atas rata-rata, minimal 9,5. Dan aku harus mengikuti perlombaan dan harus bisa mendapatkan juara, minimal 5 penghargaan dalam satu tahun.
Bersyukur sekali aku dalam masa SMA ini, banyak sekali bantuan dan prestasi yang bisa aku berikan, walaupun hanya dalam tingkat antar sekolah. Di masa ini aku hanya fokus untuk belajar, belajar, belajar dan belajar. Karena aku memiliki pikiran, jika aku sekarang bersantai apa yang akan terjadi besok, padahal ada banyak ratusan bahkan jutaan musuhku sedang belajar. Kalian pasti bertanya-tanya apakah di masa SMA ini ada kisah cinta? Jawabnya, Iyya ada. Tapi untuk kisah cinta di masa ini akan aku lanjutkan di cerpen berikutnya.
Apakah aku masih membenci kedua orang tua ku? Sejujurnya aku masih membenci mereka, tetapi apa dayaku. Karena jika kita semakin membenci seseorang, maka kita akan semakin rusak. Oleh karena itu, semua amarah yang aku rasakan ku lampiaskan kepada tiap perlombaan yang aku jalani. Walaupun kerja keras ku ini ga pernah sekali pun di beri apresiasi oleh mereka. Tidak apa-apa, karena aku bisa bangkit sendiri dengan kekuatan ku dan kekuatan-Nya.
Terima kasih sudah mampir dan mau membaca karya kecil ini...