"Lita di panggil Bu Anis suruh menghadap ke kantor guru!" Suara Kiki menggelegar memanggilku.
Aku yang sedang tiduran dengan menaruh kepala di atas meja lantas melihat kearahnya."Ada apa? Perasaan aku sudah bayar SPP deh bulan ini." Jawabku sambil berdiri.
Maklum sekolahku bukan sekolah milik pemerintah yang gratis, tapi sekolah swasta. Bukan karena orang tuaku kaya aku sekolah di sini, tapi umurku yang terlalu muda. Disaat anak lain masuk SD umur antar 6 tahun lebih atau 7 tahun, aku 5 tahun sudah sekolah. Sekarang umurku sudah 17 tahun, duduk di bangku kelas 12.
"Permisi Bu! Ibu memanggil saya?" Tanyaku pada guru wali kelas ku. Yang sedang merapikan buku-buku di atas meja.
"Lita rapikan bukumu, pulang sekarang ya nak bersama ibu."
"Ada apa ya Bu?"
"Nanti ibu beritahu di jalan!"
Tapi kenyataannya selama mengantarkan aku pulang, Bu Anis hanya diam. Sampai di depan rumahku, rumahku tampak ramai banyak orang yang mengeluarkan meja dan kursi tamu dari dalam rumah.
"Kenapa kursi dan meja kok di keluarkan semua bu?" Tanyaku pada Bu Anis sambil melepaskan helm yang aku gunakan.
Bu Anis tidak menjawab hanya menarik aku untuk masuk ke dalam rumah." Lita dengerin ibi. Lita tidak sendiri ada ibu, yang bisa kamu jadikan sandaran. Ada suami ibu yang bisa kamu anggap ayah. Ada anak-anak ibu yang bisa kamu panggil adik.."
"Ada apa sih Bu. Ibu kok ngomongnya aneh?"
Bu Anis selain guru di sekolahku juga tetangga, rumahnya berada di depanku persis.
Bu Anis tiba-tiba meneteskan air matanya, disaat rasa penasaranku memuncak terdengar suara ambulans.
"Ada apa ini Bu?" Tanyaku dengan perasaan yang mulai tidak tenang.
"Tika ibumu mengalami kecelakaan saat.."
Aku sudah tidak bisa mendapatkan apa-apa lagi yang di katakan Bu Anis. Air mataku tidak mengalir tapi mataku terus menatap mobil ambulans yang mengeluarkan jenazah ibuku.
"Ini tidak benar ini mimipi.Bangun Lita!" Ucapku sambil memukul pipiku keras, tapi kondisi tidak berubah. Malah orang yang membawa jenazah ibu semakin mendekat.
"Bangun Lita! Ini hanya mimpi" Teriakku sambil memukul pipiku lebih keras.
Membuat bu Anis langsung memelukku dan memegang tanganku,supaya tidak memukul pipiku.
Aku berjalan mendekati ibu dan melihat wajah cantik ibu, yang terlihat tersenyum seolah berkata aku akan baik-baik saja.
"Ibu bangun! Jika ibu tidak bangun aku akan makan yang banyak biar gemuk. Aku akan makan coklat yang banyak biar gemuk dan bercerawat. Bangun ibu!"Teriakku lagi sambil memegang tangan ibu yang terasa dingin.
"Lita, sadar nak!" Ucap Bu Anis sambil memelukku.
"Ibu tahu kemarin sore. Ibu pulang bawa brownies coklat yang enak, katanya mau di kasih ke bu Anis tapi aku habiskan saat malam ibu tidur. Ibu hanya marah karena mengambil makanan buat Bu Anis, Bu Anis kan teman ibu. Tolong bangunkan ibu, Lita janji akan jadi anak penurut setelah ini.Lita akan menjaga pola makan Lita biar tidak gemuk. Kalau perlu Lita akan belajar semua bahasa asing ,biar jadi pramugari atau model."
Bu Anis tidak menjawab hanya mengagukan kepala, sampai aku merasakan gelap dan tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun,aku merasa lega karena hanya mimpi buruk bukan nyata. Aku pantas berlari ke dapur untuk mengambil air minum dan melihat jam dinding sudah jam 4 sore. Aku jalan keluar untuk mencari ibu, tapi di luar hanya ada Bu Anis dan beberapa tetangga yang sedang ngobrol.
"Bu Anis! Lihat ibuku nggak ,kok ibuku belum pulang jam segini?" Tanyaku membuatku Anis dan ibu-ibu saling pandang.
"Sabar Lita gadis kuat." Ucap Bu Anis seolah membenarkan kalau yang aku alami tadi siang bukan mimpi.
"Ibumu baru saja di makamkan,kami terpaksa langsung memakamkan jenazah ibu tanpa menugumu. Pamanmu masih di pemakaman mengantarkan jenazah ibumu ke peristirahatan terakhirnya. Jika kondisi mu sudah stabil kita akan ke sana ya."
Mendengar ucapan Bu Anis aku langsung terduduk di lantai dengan lemas.
Malam hari setelah acara tahlilan. Paman mengajakku untuk tinggal bersamanya, di rumahnya. Aku menolaknya karena aku tidak begitu dengan istri dan kedua anak paman.
Sejak hari itu seminggu sekali paman akan ke rumah, hanya sekedar memberi ku uang jajan atau menanyakan kabar.
Hari ini aku lulus dan menerima ijazah SMA, hari ini juga bertepatan dengan 40 hari meninggalnya ibu.
"Jika kamu mau melanjutkan pendidikan,ibu akan bantu mencari beasiswa buat mu?"
"Tida terima kasih. Aku mau cari kerja saja."
"Kenapa kamu tidak kuliah sambil mengurus salon ibumu?"
Ibu memiliki salon, yang terletak di depan sebuah pusat pembelanjaan. Hanya salon rias pengantin dan potong rambut. Tapi Alhamdulillah bisa buat menghidupi kami sekeluarga.
"Aku tidak bisa masak dan tidak ngerti manejemen takut bangkrut,Bu!" Ucapku bertepatan dengan suara motor yang berhenti di depan rumah.
Nampak bibi datang dengan muka marah," kamu bisa tidak jangan minta uang dari suamiku. Suamiku juga punya keluarga yang harus di urus,bukan kamu keponakannya terus yang di urus." Ucap bibi bertepatan dengan kedatangan paman. Paman berlari masuk ke dalam rumah.
"Santi aku sudah bilang padamu. Aku tidak pernah memberikan uang gajiku pada Lita."
"Tapi kamu mencari kerja tambahan dan kamu berikan pada dia,mas?"
"Dia sekarang anakku. Aku walinya jadi duda kewajiban aku memenuhi kebutuhannya!"
"Hidup kita sudah pas-pasan mas, jangan sok pahlawan lebih baik kamu kembalikan dia kepada bapak kandungnya. Yang penjabat itu!"
Deg bapak aku masih punya bapak? Di mana dia? Kenapa ibu tidak pernah cerita? Berbagi pertanyaan muncul di benakku.
"Jaga bicaramu, jangan ungkit lelaki brengsek itu di hadapan aku. Ayo pulang sekarang!" Ucap paman sambil menarik tangan bibi keluar dari rumahku.
"Bu Anis pasti tahu ayahku?"
Bu Anis terlihat menarik nafas dalam-dalam," aku sudah berjanji dengan ibumu untuk tidak membahas dia."
"Tolong lah Bu. Ibu cuma bilang ayahku sudah meninggal."
"Apa kamu tidak ingat siapa ayahmu?"
"Ingat. Ayahku seorang polisi, tapi meninggal karena kecelakaan lalulintas."
Mendengar jawabanku Bu Anis hanya mengangguk.
"Ayahmu tidak meninggal tapi menceraikan ibumu. Karena ingin menikah dengan wanita lain yang lebih muda dan seksi." Jawab Bu Anis penuh kebencian.
"Bu Anis bohong.."
"Apa kamu ingat di mana makam ayahmu? Apa kamu punya kenangan dengan Ayahmu? Apa kamu ingat ayahmu memanggilmu apa?" Semua pertanyaan Bu Anis hanya aku jawab dengan gelengan. Jujur aku tidak ingat apapun, bahkan aku lupa wajah ayahku.
Bu Anis lantas berjalan pulang ke rumahnya, 10 menit kemudian dia kembali lagi.
"Ini foto pernikahan ibu." Ucap Bu Anis menyodorkan album foto.
Aku mengerutkan keningnku heran, tapi tetap membukanya.
Aku melihat foto pernikahan Bu Anis ada lima orang,
dengan seorang wanita gemuk, tapi wajahnya mirip dengan ibu. "Apa wanita ini ibu?"
Bu Anis hanya mengangguk sambil meneteskan air matanya." Itu ibumu,ayahmu dan kamu masih berumur 3 tahun."
Apa mungkin ini segemuk itu? Karena ibuku yang meninggal 40 hari lalu. Badannya ideal, bahkan saat kami berdua jalan berdua banyak yang mengira dia kakakku.
"Tapi badan ibu?"
"Setelah melahirkanmu berat badan ibumu naik 20 kg, di tambah ibumu tidak pernah berdandan sejak melahirkan mu. Ibumu fokus mengurus rumah, kamu dan orang tuanya yaitu kakekmu. Hingga perubahan itu membuat ayahmu tergoda dengan wanita lain. Ibumu bersedia di ceraikan dengan alasan sudah tidak ada kecocokan, dengan syarat hak asuk ada di tangan ibumu."
"Jadi karena itu ibu selalu meminta aku menjaga berat badan. Menjaga tubuhku? Bukan karena ingin aku jadi pramugari atau model?" Tanyaku memotong ucapan Bu Anis.
"Bukan. Seminggu setelah perceraian Kakekmu meninggal. Karena itu dia menjual rumahnya dan pindah kesini. Saat itu umurmu baru genap 4 tahun."
Mendengar cerita Bu Anis membawaku pada kenangan selam ibu masih hidup.
"Anak gadis tidak boleh bangun siang. Habis sholat subuh jangan tidur,senam gerakkan badanmu!"
"Sudah pukul 9 malam sudah waktunya tidur, tidak boleh makan. Jika lapar minum air putih atau makan buah!"
"Tidak boleh makan coklat banyak nanti tumbuh cerawat, tidak cantik lagi. Tidak ada lelaki yang suka kamu!"
"Namanya cinta itu harus menerima apa adanya, mau gemuk,mau berjerawat pastinya menerimanya."
"Itu hanya di novel dan film romantis. Tapi tidak ada di kehidupan nyata."
Segala perdebatanku dengan ibu terbayang bagai kaset rusak di benakku. Aku remas foto itu sampai tidak terbentuk untuk menyalurkan emosi ku.
Maafkan aku ibu. Aku tidak pernah mendengarkanmu.
Maafkan aku ibu selalu membuatmu sedih.
Semua ucapan Bu Anis, di perkuat dengan aku menemukan ponsel ibu dan diary ibu. Nembuatku membenci ayah lelaki, yang selalu membuat ibu menangis.