Percayakah kalian tentang keberadaan mahkluk mitologi seperti Elf? Awalnya aku tak percaya. Namun, pada akhirnya aku malah menjadi perebutan Elf bersaudara!
---
Semua bermula pada malam itu. Gadis mungil yang akrab di sapa Yuuki, tengah menelusuri jalan yang ntah apa namanya. Langkah kakinya begitu tenang, berharap mendapat jalan keluar dari hutan yang tak terbatas. Raut wajahnya begitu tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.
'Hutan tak terbatas' Begitulah orang menyebutnya. Area yang dikunci selama ratusan tahun. Dipercaya sebagai tempat tinggal para Elf dan mahkluk mitologi. Siapa saja yang nekat masuk kedalam sana, maka dia harus menjadi pengantin Elf Merah. Mahkluk yang terkenal kejam dan bejat. Pengantinnya tidak akan pernah kembali ke dunia nyata. Hidup di dalam Ilusi, lengkap dalam kekejaman Elf Merah.
Yuuki tak pernah yakin akan keberadaan mereka. Oleh karna itu, dia memberanikan dirinya untuk mengikuti kelinci kecil yang ditemuinya di pekarangan rumah. Anehnya, kenapa portal itu bisa terbuka? Dan membiarkan Yuuki masuk?
''Cahaya-cahaya ini muncul darimana?'' Yuuki memperhatikan Cahaya terang yang muncul dari permukaan tanah. semuanya terlihat begitu tenang. Walaupun tubuh Yuuki bergetar, ntah itu karna kedinginan atau juga ketakutan.
Cahaya lembut itu mengambang dalam kegelapan hutan. Suara Harpa merdu terdengar bergema di danau Bovilya. Semuanya seakan mimpi, suara-suara itu juga membawa harapan terdalam. Yuuki memberhentikan langkahnya sejenak. Terdiam dalam keheningan hutan.
Tap tap tap
Langkah kaki Yuuki bergema. Riak air danau merekam malam tenang ini. Semua seakan hanyut dalam ketenangan. Yuuki mencoba mencari tahu asal suara Harpa yang merdu itu. Dari sebalik dedaunan rimbun, matanya menangkap seorang Pria berambut putih panjang yang menutupi punggung.
Nada Harpa itu terhenti dan terputus, setelah Pria itu menyadari seseorang yang memantau nya dari Jauh. Ricikan daun yang dihasilkan Yuuki terdengar jelas ditelinga nya.
''Siapa kamu?'' Tanya pria itu datar, tanpa menoleh.
''Ah, anu!'' Yuuki terbata. Ia tersungkur pada rumput yang berembun.
Ia memberanikan dirinya untuk melangkah maju kehadapan pria misterius tersebut.
''Maaf. Aku tersesat,'' Yuuki menunduk dalam. Ia sudah menerka terlebih dahulu. Kalau Pria ini adalah salah satu mahkluk mitologi.
''Manusia?''
''Ehemm!''
''Tak seharusnya kamu masuk kedalam Area kami.''
STAAAP
Hembusan angin ganas membawa anak panah Merah. Tentu saja, itu adalah satu ancaman pertama yang diterima Yuuki.
''Menjauh dari sini!'' Seru Pria itu.
Semilir angin kencang membawa langkah mereka yang berburu. beberapa batang pohon juga sudah dipenuhi anak panah Merah. Pertanda Elf Merah sudah menemukan jejak pengantinnya.
''Ssst!''
Telunjuk Pria itu ditaruh tepat dibibir tipisnya. Ia menindih tubuh Yuuki, berharap bisa bersembunyi dari incaran Elf Merah. Sementara di pucuk kepala Yuuki sudah terdapat anak panah Merah yang menancap di sebatang pohon.
''Adik ku... Kenapa kamu melindungi pengantin ku?'' Suara halus samar-samar terdengar dari segala arah penjuru hutan.
''Pengantin? Apa maksudmu?'' Yuuki tersentak.
''Gadis kecil sepertinya tak layak menjadi pengantin mu!'' Pria misterius itu berteriak lancang. Burung-burung yang mengendap di pohon langsung berhamburan ntah kemana.
Cahaya merah berpadu hitam keluar dari permukaan tanah, tubuh Yuuki terangkat perlahan hingga melayang.
''Yuuki! Bertahanlah!'' Seru Pria itu sekali lagi. Sementara, tubuh Yuuki sudah terlihat lemas tak berdaya.
Beberapa jam kemudian, Yuuki perlahan membuka matanya. Menatap sekeliling yang penuh Aura hitam. Kedua tangannya terlilit pada akar tanaman. Tidak ada satupun orang yang terlihat. Sedangkan disana tidak ada cahaya yang masuk sama sekali.
''Sayang...'' Suara berat berdominan berbisik di telinga Yuuki. Tangan dingin itu mengangkat wajah Yuuki yang tertunduk.
''Siapa kamu!''
Sepersekian detik, seseorang membuka gerbang hitam yang sebelumnya tertutup rapat. Seorang pria bak prajurit berdiri tegap membelakangi remang matahari, membentuk bayangan besar. Lantas, Yuuki bertanya-tanya. Siapa pria itu? Mungkin bersekongkol dengan Elf Merah ini.
''Menjauh dari gadis ku!''
Yuuki tak menghiraukan kata-kata itu lagi. Matanya hanya berbinar penuh harapan. Berharap, pria itu membebaskannya dari sini.
''Adik ku... berani sekali kamu mengaku, kalau manusia ini adalah gadis mu,'' Seringai Elf Merah.
"Kakak beradik bejat,'' Lirih Yuuki. Ia tak dapat menahan cairan kristal yang membendung sejak tadi. Akar-akar tanaman itupun semakin mengerat di tangannya.
Cahaya merah keluar dari tangan Elf merah itu. Mengambil ancang-ancang untuk melemparkan serangannya. ''Bersiaplah!'' Teriak Elf Merah sebelum melemparkan cahaya merah itu.
''Cahaya suci! Keluarlah!'' Mendadak Cahaya terang keluar dari permukaan. Menutupi seluruh tubuh Elf Putih.
Yuuki melihat kejadian yang sebelumnya belum pernah terjadi di dunia nyata. Keduanya melawan tidak membawa pedang, ataupun senjata. Melainkan sihir.
''Menyerah lah!'' Ucap Elf merah gemas. Cahaya hitam menyegel seluruh energi dalam Elf Putih.
Elf putih hampir kehilangan kesadaran. Namun ia bangkit kembali, demi menyelamatkan gadis dalam mimpinya.
''HENTIKAAAAN!'' Suara melengking itu keluar dari mulut Yuuki. Cukup memekikkan telinga ketiganya.
''Jangan sakiti dia lagi! Bunuh aku! Bukan kah tujuan mu adalah aku?'' Yuuki menggertak. Ia menangis tanpa suara.
Elf Merah menoleh.
''Bagus lah. Memang itu tujuan ku. Baiklah, jika kamu memintanya,'' Elf Merah berkata dengan santainya.
Akar tanaman itu terlepas seluruhnya. Tubuh Yuuki terjatuh ke tanah lembab. Akar tanaman itu menjalar dipermukaan. Perlahan menarik kaki Elf Merah.
''Yuuki!'' Pria berambut putih itu berlari kearah Yuuki yang tersungkur.
Elf Merah menggerutu kesakitan. Ntah mengapa, akar tanaman itu merampas seluruh sihir dalam dirinya. Seluruh tubuhnya lemas, ia terjatuh.
''Yuuki!'' Teriak Pria berambut putih itu sekali lagi. Namun, tiba dihadapan Yuuki. Ia terjatuh, karna seluruh energinya habis terkuras.
Yuuki berjalan menghampiri Pria berambut putih itu. Tangannya tergelak dibawah. Wajahnya pucat seperti mayat, Yuuki mengira dia sudah pergi. Lagi-lagi Cahaya dari luar seperti membawa harapan terdalam.
''Bangun.. Seharusnya aku yang mati. Hiks.'' Ringis Yuuki. Air mata kristal terjatuh tepat di kelopak mata Pria itu.
''Tidak, kamu harus tetap hidup sebagai gadis ku," Lirih Pria itu. Yuuki tersenyum lebar, tangan hangatnya menyentuh pipi lebar Pria itu.
---
Malam sedu kembali di tepi danau Bolviya. Seluruh Elf hidup bebas semenjak Elf Merah pergi dari hutan tak terbatas. Begitu juga dengan Elf Putih.
''Terima kasih, telah menyelamatkan hidupku.''
Elf Putih itu hanya mengangguk.
''Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? kenapa kamu mengetahui nama ku?'' Tanya Yuuki penasaran.
''11 Tahun yang lalu. Kau adalah seorang gadis kecil yang nakal. Kau juga pernah masuk kedalam sini. Sekarang, kau memang gadis nakal,'' Elf Putih terkekeh.
''Benarkah? Aku kehilangan ingatan ku saat aku berumur 10 Tahun. Aku tak mengingat semuanya dengan jelas..'' Lirih Yuuki.
''Sayang sekali kau melupakannya. Kalau begitu, kita mulai dari pertama kembali.''
Elf Putih itu tersenyum hangat ditengah suasana malam yang dingin. Yuuki berdegup kencang saat Elf putih itu menyodorkan tangannya.
''Namaku Yiaoying,'' Ucap Elf Putih.
''Ahahah.''
Yuuki menarik tangan Yiaoying. Cahaya lembut itu kembali keluar dari permukaan. Riak air danau menambah sedu malam ini.
''Terima kasih. Sebagai gantinya, aku mau menjadi kekasih mu!''
Wajah Yiaoying merah padam mendengar ucapan Yuuki yang begitu polos.
''Bodoh, seharusnya aku yang mengucapkan itu. Kita bukan dari dunia yang sama. Lagipula, aku tak bisa menerima cinta seseorang hanya karna ucapan terimakasih,'' Jelas Yiaoying.
Yuuki merintikkan air mata, setelah cintanya ditolak mentah-mentah. Bagaikan disambar petir disiang bolong.
''Huaaa! Tuan, apakah kamu menolak ku? Aku jatuh pada pandangan pertama saat kamu memainkan Harpa ditepi danau ini!'' Yuuki berkata dengan jujur, apa yang dirasakannya.
''Benarkah? Apa kau menyukai Harpa ku? Selanjutnya, kamu bisa mendengarnya dalam mimpi mu,'' Yiaoying menepuk kepala Yuuki perlahan.
''Pulang lah. Keluarga mu menunggumu!''
Yiaoying membuka portal dengan tangan kosongnya. Tubuh Yuuki terangkat, dan terlempar kedalamnya.
''Untuk kedua kalinya. Aku melepaskan mu..'' Lirih Yiaoying. Iris matanya terlihat membendung cairan kristal. Ia tak sanggup menahan pedih lagi.
Ditepi danau Bolviya, Yiaoying kembali memetik Harpa perak miliknya. Setiap nada yang keluar melambangkan kerinduan yang terdalam.
Ada nebula yang tertutup pada mata seseorang. Tangan yang diulurkan tak bisa menyentuh rasa sakit yang mendalam. Untuk kedua kalinya, Yiaoying kehilangan seseorang.
------
Bulan-bulan berlalu. semua kejadian itu, Yuuki simpan sebagai pengalamannya. Tak banyak orang yang tahu. Yuuki juga menjalani kehidupannya seperti biasa. Layaknya anak remaja 17 Tahun pada biasanya.
''Eh Yuuki! kamu tau ga, ada penjaga perpus baru loh! Ganteng banget gila! Kamu kan kutu buku, coba kenalan sana!'' Salah seorang temannya yang rempong, menepuk bahu Yuuki. Cukup membuat Yuuki tersentak.
Yuuki hanya terdiam. Sebenarnya dia penasaran, siapa sosok penjaga perpus baru itu. Biasanya dia memang akrab pada penjaga perpus dari sebelumnya. Akhirnya, dia memutuskan untuk berjalan menelusuri perpus.
--
Beberapa menit dia menelusuri rak-rak buku yang ada di perpus. Barulah dia menemukan Pria tegap berbadan bidang, serta rambut putih panjang yang terurai. Cukup menutupi pinggangnya. Itu mengingatkan nya akan seseorang.
''Tuan Yiaoying?'' Yuuki menepuk bahu Pria itu.
''Saya?'' Jawab Pria itu. Ia menoleh dan menatap Yuuki.
DEG!
Tanpa berfikir panjang, Yuuki memeluk Yiaoying. Yiaoying mengulurkan tangannya, dan membalas pelukan itu.
''Tuan, aku mencintaimu... Jangan pergi lagi,'' Lirih Yuuki di dekapan Yiaoying.
''A-aku juga mencintaimu..'' Yiaoying terbata, wajahnya ikut tersipu.
**
TAMAT