Di dunia ini ada sesuatu yang tak bisa kita miliki,
keabadian!
apa pun itu, semua tak pernah abadi baik kebahagiaan ataupun kesedihan.
Jena, menjalani hidup layaknya gadis biasa.
usia 19 tahun harus bekerja mencari pengalaman serta mencukupi biaya hidup sehari-hari.
gadis yang sedari kecil di titipkan di sebuah panti asuhan, di asuh dan dididik bersama teman-teman seusianya.
Jena bekerja di sebuah hotel sebagai clening service, pekerjaan itu di dapatnya dari informasi beberapa temannya yang sudah meninggalkan panti.
sudah tiga bulan Jena menjalankan tugas, bekerja dan menghindari hal-hal yang menyusahkan hidupnya.
tak ada yang istimewa dan tak ada yang berkesan.
sampai pada suatu hari, karyawan di heboh kan dengan gosip hangat yang juga terdengar di telinga Jena.
kabarnya, hotel mereka akan di ambil ahli oleh anak dari pemilik hotel.
sebelumnya hotel di kelola oleh Pak Handoko, sebab usianya yang sudah mulai rentan dengan berbagai penyakit kronis akibat keseringan makan, makanan yang tidak sehat.
Jena hanya mendengarkan celotehan beberapa gadis, yang tak sabar melihat pemandangan yang bisa membuat mata mereka menjadi segar kembali, kabarnya Tuan Muda itu memiliki rupa yang tampan dan menjadi idaman para kaum hawa.
siang itu Jena sedang membersihkan lantai koridor yang berada di pintu masuk hotel, beberapa pemuda berjas hitam berdiri di samping kanan dan kiri seorang Pemuda yang tertutupi tubuh tegap pengawalnya.
seorang resepsionis mendekati dan mempersilahkan Pemuda itu memasuki ruangan khusus tamu.
Jena kembali melanjutkan pekerjaannya meski ada sedikit pertanyaan di dalam hatinya tentang sosok yang baru saja di lihat nya.
tiba-tiba karyawan di heboh kan dengan suara alarm yang menandakan ada kebakaran yang terjadi di salah satu ruangan.
semua berhamburan, berlari menyelamatkan hidup mereka masing-masing, satpam mengeluarkan beberapa tamu yang masih terjebak di dalam ruangan mereka.
karyawan yang lain mencoba menghubungi pemadam kebakaran,
saat sudah berada di luar hotel, tiba-tiba Jena teringat dengan tamu yang tadi di lihat nya sewaktu membersihkan lantai di koridor, dia sama sekali tak melihat sosok itu, sehingga Jena berpikir mungkin tamu itu masih terjebak di dalam, Jena berusaha memberi tahu keamanan, namun tak ada yang mendengar ucapannya karena mereka sibuk dengan para tamu yang lain.
akhirnya Jena mengambil inisiatif mencari tahu sendiri, dia berlari masuk kedalam ruangan yang tadi di lihat nya di masukin tamu itu.
dan benar saja, Pemuda itu sedang tertidur di sebuah sofa, Jena menguncang-guncang tubuh Pemuda itu berusaha membangunkan Pemuda itu.
"Tuan, bangunlah,"
Pemuda itu terbangun dan menatap Jena dengan heran.
Jena menarik tangan Pemuda itu dan berusaha memapah Pemuda itu.
pemuda itu diam dan mengikuti perintah Jena, saat mereka hampir sampai di pintu keluar Pemuda itu melepaskan pegangan Jena.
"maaf nona saya sudah merepotkan, saya akan jalan sendiri"
Jena yang mendapat perlakuan spontan tiba-tiba merasa tindakannya terlalu berlebihan.
"maafkan saya Tuan,"
Jena mempersilahkan Pemuda itu berjalan mendahuluinya.
untung kejadian itu segera di atasi dan tak ada korban jiwa, bangunan pun tak rusak parah, ternyata alarm itu hidup karena kebakaran di salah satu kamar hotel yang pengunjungnya lupa mematikan puntung rokoknya.
setelah tiga hari kejadian itu sudah mulai di lupakan, tapi tidak dengan Jena, dia masih mengingat kejadian itu, untuk pertama kalinya Jena merasa Dia bisa seberani itu, Dia merasa sedikit berguna dan bermanfaat.
ada sedikit rasa bahagia di dalam hatinya, sejak dulu Dia merasa selalu tak berguna, pemikiran itu timbul karena dia sendiri sebagai anak yang tak di inginkan.
"ternyata begini rasanya!"
Jena di panggil oleh atasannya yang ternyata pemuda yang merupakan anak dari Pak Handoko.
dia Pemuda yang tiga hari lalu berusaha Jena selamatkan.
Jena yang lugu, merasa gugup dan takut, seumur hidup dia selalu menghindari kekacauan yang merugikan hidupnya, kali ini saat dia merasa sudah melakukan hal yang benar tiba-tiba dia merasa apa yang di lakukannya mungkin salah di mata orang lain.
"nona Jena, perkenalkan nama saya Gio"
Pemuda itu mengulurkan tangan, dengan rasa takut Jena menyambut uluran tangan Pemuda itu
"saya Jena Tuan"
"maaf, baru hari ini saya bisa mengucapkan terimakasih secara langsung, silahkan duduk nona, ada yang ingin saya sampaikan pada nona"
Jena menuruti perintah bos nya itu dan berusaha mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Pemuda itu.
"mengapa nona menyelamatkan saya?"
"hmmm...saya cuma teringat dengan anda, sebab saya sempat melihat anda saat memasuki ruangan itu dan saat kejadian itu saya tidak melihat anda dan saya berpikir mungkin anda terjebak di dalam"
"sekali lagi terima kasih, seumur hidup saya, saya sangat ingin di ingat"
Jena hanya tersenyum dan masih tak mengerti dengan ucapan Pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Tuan dalam hidup ada yang ingin terus di kenang, namun ada sesuatu yang sengaja ingin di lupakan, semua itu hanya sebuah ungkapan yang bisa tergambar melalui ucapan, kesedihan itu ada di dalam hati yang kadang terpancar melalui ekspresi, semoga Tuan selalu merasa bahagia, meski semua tak selalu abadi"
Gio memandang Jena yang keluar dari ruangannya, kata-kata Jena begitu menusuk hatinya, Gio sendiri dapat melihat ekspresi wajah Jena saat memberinya kata-kata itu.
"nona Jena kamu sendiri seperti orang yang merasakan penderitaan, kamu kesepian dan hidup tanpa tujuan, apa yang terjadi padamu nona Jena?"
sejak saat itu Gio selalu memperhatikan Jena, wajahnya yang sendu tubuhnya yang terlihat lemah tak bersemangat, sesekali Jena juga terlihat berinteraksi dengan beberapa rekannya, namun tak ada gairah dalam hidupnya.
Gio kembali teringat, masa dimana hidupnya yang terpuruk saat sang Mama harus berjuang menghidupinya.
dulu Mamanya Gio bekerja di sebuah klub malam menjadi pelayan yang mengantarkan minuman kepada pengunjung klub, setiap saat Mamanya selalu mendapatkan perlakuan yang tak pantas oleh tamu-tamu, Gio sendiri merasa marah pada dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa.
kehidupan yang memaksa mereka harus bertahan dengan hinaan dan perlakuan kasar, sebab ayah Gio hanya meninggalkan hutang untuk di lunasi Mamanya.
bertahun-tahun menjalani hidup bagaikan seorang budak, bekerja hanya untuk melunasi hutang, akhirnya Mama menemukan seseorang yang ingin menemaninya di hari tua yaitu Pak Handoko seorang pemilik hotel yang tak sengaja bertemu dengan Mama di klub malam, Pak Handoko menikahi Mama, saat mereka merasa hidup mereka akan berubah, Mama malah mengalami kenyataan yang menyakitkan.
dia di diagnosa mengidap kanker stadium akhir yang mengakibatkan hidupnya berakhir saat Gio beranjak dewasa, setelah itu Gio pergi keluar negri untuk melanjutkan pendidikannya, Gio ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, karena menurutnya kebahagiaan bisa di beli dengan duit, namun beberapa tahun ini, dia justru merasa tambah kesepian dan menderita.
Gio membeli beberapa hotel yang hampir bangkrut, usahanya semakin besar, sebagai CEO dari beberapa hotel Dia tak pernah menetap urusannya sangat banyak dan dia menempatkan orang-orang kepercayaanya untuk menjalankan beberapa hotelnya, tapi kali ini Gio merasa betah menetap di satu hotel, Gio seperti merasakan sesuatu yang berbeda saat berada di hotel yang satu ini, sejak terakhir kali berintraksi dengan Jena, kini Gio hanya memperhatikan Jena seorang gadis yang menurutnya memiliki rasa sakit yang sama dengannya dari balik jendela kantornya Gio berucap lirih
"kenapa saya ingin melindunginya?"
***
Jena, dia sedang membersihkan ruangan Gio, tanpa sengaja melihat sebuah kertas yang keluar dari map, dengan cepat Jena merapikan meja yang tak begitu kotor, hanya beberapa tumpukan kertas yang terlihat berserakan.
Pandangan Jena tiba-tiba tertuju pada lembaran kertas yang di ujungnya tertulis sebuah nama yang tak asing baginya "Jena Arumiyah"
tiba-tiba Gio memasuki ruangan sehingga membuat Jena sedikit kikuk, seolah dia sudah tertangkap basah, namun Jena dengan cepat membereskan meja dan langsung pamit meninggalkan ruangan itu.
sedangkan Gio, terus memperhatikan gerak gerik Jena, seolah dia tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak melihat gadis itu.
kini pikirannya hanya di penuhi dengan Jena.
entah sejak kapan dia mulai senang mengawasi dan memperhatikan gerak gerik Jena.
akhir pekan Gio akan pergi ke Singapura, namun hatinya di selimut kegelisahan, biasanya dia tak pernah seperti itu, bukan hal yang baru Gio tak pernah menetap di satu tempat, tapi sejak dia bertemu dengan Jena, dia selalu ingin berada di dekat gadis itu.
selama ini Gio tak pernah melirik seorang gadis, dia selalu bersikap dingin pada setiap gadis yang mencoba mendekatinya, sebab ada rasa trauma dalam dirinya, saat berdekatan dengan seorang gadis, akibat terlalu sering melihat sang Mama yang di lecehkan pria hidung belang.
ada perasaan takut dalam dirinya, sebagai seorang Pemuda dia tak bisa menyelamatkan Mamanya sendiri bagaimana dia bisa melindungi gadis lain, dia merasa gagal menjadi seorang anak dan dia tak berani untuk gagal menjadi seorang pria.
Gio mempersiapkan semua keperluan untuk kepergiannya ke Singapura, tapi dia berpikir bagaimana cara agar dia bisa mengajak Jena ikut pergi bersamanya, dengan alasan dia butuh seseorang untuk melayaninya saat berada di Singapura Gio memberi perintah kepada atasan Jena agar mengirimnya ikut bersamanya.
awalnya Jena menolak, namun akhirnya Jena menyetujui permintaan Gio.
untuk pertama kali Jena pergi ke tempat yang jauh, bahkan ini pengalaman yang sangat berharga baginya, karena bisa merasakan naik pesawat terbang, meski dia belum pernah naik pesawat dia selalu menunjukkan ekspresi biasa saja.
mereka sampai di sebuah hotel yang mewah, Jena dengan sigap mempersiapkan keperluan Gio saat di kamar hotel, kemudian dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat di kamar yang sudah di pesan khusus untuknya.
Jena merasa kebaikan Gio padanya sedikit berlebihan, sebab dia hanya karyawan biasa di hotel yang merupakan milik keluarga Gio.
keesokan harinya Jena di ajak Gio ke suatu tempat bersama karyawan lain, mereka akan melihat sebuah hotel yang katanya akan menjadi salah satu cabang hotel mereka di luar negeri.
Jena juga tak paham apa yang harus di lakukannya, namun dia hanya menurut saja apa yang di perintahkan oleh atasannya yang merupakan meneger hotel yang juga ikut bersama rombongan mereka.
saat itu mereka menaiki mobil yang berbeda Jena dan karyawan hotel yang mewakili di mobil yang sama sedangkan Gio bersama dua ajudannya di mobil yang lain.
mereka berjalan beriringan, saat itu Gio memperhatikan Jena yang berada di mobil sebelah, Jena dengan sengaja membuka jendela mobil, terlihat Jena sedang menikmati pemandangan yang ada di jalanan.
Gio tanpa sadar menyimpulkan sebuah senyuman tipis di wajahnya, pemandangan yang sangat langkah bagi kedua ajudannya.
bahkan maneger hotel juga baru pertama kali melihat Gio tersenyum, dan menyadari siapa orang yang berhasil menciptakan senyuman itu di wajah bos mereka.
dia adalah Jena, seorang gadis biasa yang bekerja sebagai clening servis di hotel mereka.
mereka sempat saling menatap saat keadaan mobil masih melaju santai menyusuri jalanan yang tak begitu ramai.
Jena yang sungkan tersenyum ramah pada Gio dan Gio membalas senyuman Jena sekedar saja, namun hal itu dapat membuat manager menjadi heboh.
"Jena, sepertinya bos sangat menyukai kamu"
Jena sedikit bingung dengan ucapan manejer, dia merasa pernyataan itu terlalu mengada-Ngada.
Gio seorang CEO hotel, dia tampan dan juga kaya, menyukai gadis biasa sepertinya sungguh sesuatu yang mustahil.
"bos tak pernah mengajak karyawan ikut bersamanya, apalagi saat urusan bisnis, kenapa tiba-tiba dia membutuhkan pendapat kita tentang hotel yang akan di belinya, pasti ada sesuatu yang terjadi, kalau benar saya akan mendukung kamu, biar kita sering-sering di ajak keluar negeri."
Jena tak bisa berkata apa-apa saat mendengar penjelasan Bu maneger.
Jujur ada rasa takut menyelimuti hatinya, dia gadis yang belum pernah merasakan perhatian, bahkan bisa di bilang dia adalah gadis mandiri yang selalu mengabaikan perasaan ingin di sayangi, sebab perasaan itu sangat menyakitkan dan dia tak ingin hidupnya di selimut kesedihan.
bersikap baik agar dapat di terima, hanya itu senjata dalam dirinya agar dapat bertahan hidup.
tiba-tiba Jena teringat saat ada seorang gadis dari keluarga kaya yang mengadakan acara ulang tahun di panti asuhan mereka, acara yang meriah itu di penuhi dengan balon dan hadiah-hadiah, ada kue ulang tahun yang besar, membuat semua anak tanpak bahagia.
tanpa sengaja salah satu teman Jena membuat kesalahan, saat berlari tak sengaja menyenggol kue ulang tahun sehingga kue itu menjadi rusak, temannya habis-habisan di marahi ibu panti, sejak saat itu mereka selalu diberi nasehat jika ingin di perhatikan harus berbuat baik, agar orang-orang mau menyumbang ke panti asuhan mereka, jika tidak Jena dan teman-temannya akan di hukum tidak di beri makan satu hari penuh.
mereka sampai di sebuah hotel yang terlihat sederhana, berbeda dengan hotel tempat mereka bekerja, hotel ini terkesan terbengkalai.
Gio bertemu dengan pemilik hotel sepertinya mereka sedang mengadakan transaksi, dan akhirnya hotel itu menjadi milik Gio.
Gio akan merenovasi habis-habisan hotel itu, sehingga menjadi hotel yang lebih mewah.
"nona Jena, apa pendapat anda tentang hotel ini?"
"tempat yang sangat klasik, sepertinya banyak kenangan yang melekat pada setiap dinding bangunan ini"
"mengapa anda berpendapat seperti itu?"
"Tuan lihat lukisan itu!"
Jena menunjuk lukisan yang terpampang tepat di ruang resepsionis.
"setiap tamu yang datang pasti dapat melihat betapa indahnya lukisan itu, satu sisi yang penuh warna dan sisi lain begitu lembut dan ceria"
"bagaimana nona bisa mengartikan arti lukisan itu?"
"saya suka dengan seni dan saya hanya menyimpulkan apa yang saya lihat dan apa yang ada dalamalah pikiran saya"
Gio semakin terpesona mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya itu,
Jena si gadis bermata sendu dan berhati lembut.
"saya ingin mengontrak anda menjadi penasehat interior untuk desain hotel ini, saya suka dengan penjelasan anda"
"maaf Tuan saya tak sehebat itu"
"kejujuran adalah tema dari hotel ini dan saya ingin anda ikut serta dalam mendesain tempat ini"
"terimakasih Tuan sudah memberi kepercayaan pada saya, saya akan berusaha melakukan yang terbaik"
"saya juga berharap begitu, nona jangan merasa terbebani, dan ingat tema hotel ini adalah kejujuran"
beberapa hari berlalu Jena sibuk mencari beberapa barang untuk melengkapi desain yang membuat tampilan hotel semakin indah dan terlihat begitu elegan.
dari lukisan, bunga, perlengkapan untuk interior kamar.
Gio mendapat undangan untuk pertemuan di negara arab Saudi untuk menghadiri peresmian hotel baru yang merupakan milik rekan bisnisnya, perjalanan untuk beberapa minggu itu, membuat Gio sedikit gelisah, sejujurnya dia tak ingin berpisah dari Jena, beberapa hari ini dia dan Jena sudah sering berinteraksi, mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan dalih merenovasi hotel.
Gio selalu menunggu Jena yang menyiapkan teh saat dia sedang sibuk mengatur para karyawan yang bekerja.
tiba-tiba dia begitu menyukai teh buatan Jena.
malam itu adalah hari keberangkatan Gio, Jena dan karyawan lain mengantar kepergian Gio sampai di depan parkiran hotel.
Jena tiba-tiba teringat dengan kertas yang ada di ruangan Gio, beberapa hari yang lalu Jena membereskan berkas-berkas Gio di atas meja, untuk kedua kalinya Jena melihat namanya tertulis di kertas putih itu, ada perasaan yang aneh saat Jena membaca tulisan yang merupakan namanya itu.
sedikit rasa sakit dan rasa kecewa,
dia selalu mengingatkan dirinya, akan siapa dirinya dan betapa tak pantas nya dia menyimpan perasaan pada orang yang sangat baik seperti Gio.
tapi setiap Gio menatapnya hatinya selalu berdebar, dan semua itu hanya bisa terpendam di dalam sana.
Malam itu Jena sangat takut berpisah dengan Gio, tapi dia tak kuasa menghentikan Pemuda itu, tanpa terasa Jena merasakan kesedihan yang mendalam, dia takut merasakan rindu yang mendalam pada Gio.
Gio secara tiba-tiba mengajak Jena masuk ke dalam mobil, tindakan Gio dapat membuat semua karyawan terkejut, sehingga mereka pergi meninggalkan Jena dan Gio di dalam mobil.
"ada apa Tuan?"
Jena masih berusaha menahan air matanya agar tak jatuh di depan Pemuda itu.
"nona Jena tunggu saya kembali, ada yang ingin saya sampaikan pada nona"
"baik Tuan"
"satu hal lagi, ada sesuatu di meja kerja saya, nona lihat lah saat saya sudah pergi"
"baik Tuan"
Gio menggenggam tangan Jena dan menyentuh pipi Jena dengan lembut.
"saya pergi dulu, nona jaga diri baik-baik"
Jena mengangguk dan keluar dari dalam mobil sambil menatap kepergian Gio yang terlihat seperti titik yang tiba-tiba menghilang.
Bu maneger antusias bertanya apa yang terjadi antara Jena dan Gio, namun Jena juga tak paham apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka, Jena hanya merasa Gio hanya menitipkan untuk menjaga dirinya dengan baik, mungkin agar bisa mempercepat agar hotel segera bisa di resmikan.
Hari-hari Jena terasa sepi tanpa kehadiran Gio, semua tugas di lakukan dengan baik, sudah tiga hari Jena tak membersihkan ruangan Gio, pagi itu Jena bersiap membereskan ruangan Gio, Jena mendapati sebuah amplop berwarna putih, Jena jadi teringat pesan Gio, sebelum dia pergi.
"apa ini memang di tujukan untuk saya"
Jena sedikit ragu untuk membuka amplop itu, tapi akhirnya dia membuka amplop itu, ternyata isinya adalah sebuah surat yang di tujukan untuknya.
"Kepada Nona Jena,
saya ingin saat kepulangan saya, nona dan karyawan yang lain akan mengadakan pesta penyambutan untuk saya, sebab saya ingin menyampaikan pengumuman yang penting.
tolong nona urus semuanya, buatlah pesta seperti yang nona inginkan.
tiba-tiba Jena teringat dengan pesta ulang tahun yang pernah Jena buat bersama teman-teman saat ulang tahunnya, mereka menghias kamar mereka begitu sederhana dengan gambar yang mereka gambar sendiri dan kue yang mereka beli di warung.
hal itu mampu membuat Jena menjadi terharu, sepanjang acara Jena menangis malu sambil memeluk teman-temannya.
Jena jadi berpikir ingin membuat pesta yang ceria dan menyenangkan, di penuhi balon warna warni layaknya pesta ulang tahun anak-anak, kue yang besar dan berbagai hidangan yang lezat. tak lupa iringan musik yang lembut beserta beberapa penyanyi profesional untuk memeriahkan acara penyambutan kedatangan bos mereka yaitu Gio.
semua persiapan sudah selesai, rekan-rekan bisnis yang berada di Singapura juga tak lupa di undang, bahkan malam itu Jena berdandan sangat cantik, Bu maneger yang mempersiapkan Jena arahan dari Gio yang sudah menghubungi maneger beberapa hari yang lalu.
"wah Jena cantik sekali, tak salah bos tergila-gila padamu"
sepertinya Bu maneger sudah mengetahui perasaan yang di tutup rapat-rapat oleh kedua insan ini.
Jena hanya tersenyum simpul, mendengar pernyataan Bu maneger.
jujur Jena sangat merindukan sosok Gio, mungkin ini pertama kalinya Jena merasakan jatuh cinta, meski ada rasa sakit yang masih membekas di hatinya, rasa tak percaya diri yang selalu menghantui hidupnya.
tamu undangan sudah hadir, Jena menjadi bintang di acara tersebut, semua mata tertuju padanya, tak jarang dia juga mendengar pujian tentang penampilannya yang mempesona.
tiba-tiba sebuah mobil memasuki area parkiran, rombongan Gio dan beberapa rekan bisnisnya memasuki hotel yang sudah tertata indah.
mereka berdecak kagum dengan keindahan yang di tampilkan di hotel tersebut.
Gio mencari keberadaan Jena, ternyata Jena sedang menyendiri di balkon hotel di lantai dua, Jena sedang merasakan hembusan angin malam yang membelai wajahnya.
Gio menatap Jena yang sedang berdiri membelakanginya, ada perasan rindu yang mendalam pada gadis itu, Jena yang menyadari kehadiran Gio menoleh menatap Pemuda itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Sedangkan Gio tampak kagum melihat kecantikan Jena yang memakai gaun panjang berwarna hijau botol yang membalut tubuh langsing dan tinggi Jena.
"nona apa kabarmu?"
"saya baik Tuan, Tuan sendiri bagaimana?"
"saya tak baik nona, setiap hari merasa gelisah, merindukan nona"
Jena tertegun mendengar pernyataan Gio.
Gio memberanikan diri mendekati Jena dan kemudian memeluk tubuh gadis itu kedalam dekapannya.
untuk sejenak Jena mematung, dia hanya merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"nona saya sangat mencintai anda, saya ingin menikahi anda"
Gio membisikkan kata-kata itu di telinga Jena.
Jena sama sekali tak bisa berkata-kata, ada perasan senang dan juga sedih dari dalam dirinya.
"maaf Tuan, apa tak salah Tuan mencintai saya?"
"saya tak salah dan pasti tidak pernah salah, saya akan menjaga nona dan melindungi nona sampai ajal memisahkan kita"
"saya juga sangat menyayangi Tuan, saya akan mengabdikan diri saya pada Tuan sampai ajal memisahkan kita"
mereka saling menatap satu sama lain, secara perlahan mereka saling mendekatkan wajah, Gio membelai rambut Jena dan memberikan kecupan hangat di kening gadis itu.
malam itu menjadi malam yang menyatukan cinta mereka, Jena merasa hangat dalam pelukan Gio.
setelah beberapa bulan berlalu mereka melangsungkan pernikahan yang meriah, Jena akhirnya resmi menjadi istri Gio.
sore itu Jena dan Gio berada di kamar hotel, dari balik jendela mereka dapat menyaksikan pemandangan pantai yang indah, suara ombak bagaikan alunan musik memanjakan telinga mereka.
tiba-tiba gerimis turun menambah keromantisan suasana sore itu, Jena yang berdiri memandang ke arah laut, tiba-tiba mendapat pelukan hangat dari Gio.
"Saya bahagia bisa menjadi bagian dalam hidup kamu"
Jena menatap sendu wajah Gio yang kala itu terlihat sangat tampan, dengan lembut Jena membelai wajah Gio, Pemuda itu dengan cepat menggendong Jena dan mencium mesra bibir Jena yang mungil, mereka tenggelam dalam ciuman yang mendebarkan dada, Gio membaringkan Jena di atas kasur yang empuk, menatap dalam wajah gadis yang masih memejamkan matanya. Gio membelai wajah Jena, menelusuri setiap sudut tubuh gadis itu dengan jari-jemarinya.
"sayang saya sangat mencintai kamu, saya ingin menyatu denganmu hari ini"
Jena menatap wajah Gio dan mengajak Pemuda itu untuk mendekatinya agar berada dalam pelukannya.
"saya juga sangat menyayangi kamu sa...ya...ng..."
Gio kembali menciumi Jena, membuat gadis itu mendesah menahan hasrat dari dalam dirinya.
Gio menelusuri seluruh tubuh Jena dengan bibir lembutnya, merasakan aroma harum dari tubuh Jena, Jena sendiri tak kuasa menahan cinta yang dia ekspresi kan dengan tubuhnya, membelai lembut rambut Gio, memeluk erat tubuh putih itu dengan jemarinya yang lentik.
membisikkan kata-kata yang indah di telinga Gio.
"I love you "
dengan nafas yang menderu, sehingga membuat Gio merasakan puncak kenikmatan dalam bercinta bersama gadis yang paling dia sayangi. Jena Arumiyah.
Jena merasakan kebahagian yang sempurna sampai tak sadar air mata di sudut matanya.
Gio menciumi mata Jena, hatinya tak bisa menahan kesedihan saat melihat Jena yang menangis, Gio pikir Jena merasa menyesal melakukan itu bersamanya, Jena memberi tahu Gio bahwa itu adalah air mata kebahagiaan.
sore itu dua hati menjadi satu dalam balutan selimut cinta yang putih.
Gio tak pernah puas berada dalam pelukan Jena, mereka melakukannya sampai malam menjelang.
Jena
Bertemu dengannya adalah hal terbaik dalam hidupku, meski tak ada yang abadi tapi selalu ada hal baik yang terjadi.
Gio
Penyesalan dalam hidupku adalah
kenapa harus menunda begitu lama untuk mendapatkan kebahagian bersamanya,
meskipun tak ada yang abadi, tapi setidaknya pernah merasakan bahagia bersamanya.