"Yang paling berat bagiku adalah saat aku harus mengakui bahwa bertemu denganmu hanyalah sebuah ilusi"
.
.
.
Cahaya matahari merombak masuk lewat celah jendela kamarnya. la mengeliat pelan dan mengucek matanya perlahan-berusaha mengumpulkan kesadaran. Melihat sekeliling, namun kamar ini tampak asing baginya.
la beranjak dari tempat tidurnya, dan melihat keluar jendela.
"Oke, ternyata aku sudah di Swiss" ucapnya pelan yang menyadari keberadaannya yang ternyata sudah berada di tanah kelahiran sang ayah.
"Apakah kepalaku terbentur saat di pesawat menuju kesini?" Tanyanya pada diri sendiri karena belum mengerti juga dengan keadaan yang menurutnya tidak masuk akal. Dan tanpa berpikir panjang, gadis bernama lengkap Calista Alexander itu menyimpulkan bahwa ia hilang ingatan karena terbentur di kursi pesawat saat menuju Swiss.
Hingga aroma masakan yang sangat menggoda selera berhasil membawanya menuju dapur dimana tempat banyak orang meracik rempah-rempah untuk menghasilkan suatu masakan yang istimewa.
"Pagi, Dad-" ucapannya terhenti kala mendapati seseorang yang hendak ia sapa dengan sebutan Daddy tersebut bukanlah ayahnya. la masih mematung dengan jarak sekitar dua meter dibelakang orang tersebut yang saat ini terlihat menyiapkan makanan.
'Apa Daddy menyewa pembantu baru?'Itu yang terpikir di benaknya saat ini. Karena orang yang tengah ia lihat sedang menyiapkan makanan itu bukanlah ayahnya.
'Kok ganteng-ganteng mau jadi pembantu?'
"Kau sudah bangun?" Tanya pria itu yang membuat Calista tersentak.
Tak mendapat jawaban apapun, pria itu hanya berbalik beralih menatap Calista yang tengah kebingungan menatapnya. Ia membawa nampan berisi makanan itu ke meja makan tanpa menghiraukan Calista yang diam tak berkutip.
Hingga selesai mempersiapkan sarapan, ia membuka celemek berwarna coklat tua itu lalu menggantungnya di samping lemari pendingin. Dan didetik berikutnya, ia segera beralih menuju Calista dan semakin menepis jarak diantara mereka berdua. Mulai menyudutkan gadis tersebut hingga punggunya berhasil menyentuh meja makan.
"Masih belum mau bicara?" Tanya pemuda itu seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Huh?" Tanya Calista kebingungan yang berhasil membuat pemuda itu menampilkan smirk andalannya.
Pemuda itu mundur selangkah dari tempatnya.
"Aku Leon Smith, calon suamimu" ucapnya seraya mengulurkan tangan kearah Calista.
Calista hanya berdiam mematung tanpa berniat menerima uluran tangan pemuda yang diketahui bernama Leon Smith itu.
"Huh?"
"Apa hanya kata itu yang bisa kau ucapkan?" Tanya Leon yang semakin membuat Calista kebingungan. Hingga suara handphone-nya berhasil membuat Lamunan Calista buyar. Notifikasi tersebut menunjukkan adanya pesan masuk ke benda pintar miliknya.
From Daddy:
'Sudah bertemu dengannya? Dia pria yang Daddy maksud. Bersenang-senanglah. Dad dan Mom memiliki urusan mendadak pagi ini.'
Calista hanya bisa ternganga lebar membaca pesan yang tertera di layar handphone-nya. Beralih menatap Leon bergantian, sementara pria itu hanya tersenyum dengan sumringahnya.
"Sudah jelas kan? Sekarang duduklah, dan nikmati sarapannya" ucap Leon lalu menyiapkan kursi untuk Calista duduk. Calista hanya menuruti tanpa protes. la rasa otaknya bekerja lebih lamban dari biasanya. Ya, walaupun sebelumnya ia sudah diberi tahu kalau kedatangannya ke Swiss adalah untuk dijodohkan dengan anak dari rekan ayahnya. Namun secepat inikah? Bahkan Calista rasa baru semalam ia mendarat di tanah kelahiran ayahnya ini. Dan pagi ini, dengan gamblangnya seorang pria bernama Leon Smith mengaku sebagai calon suaminya.
Walaupun Calista mengakui pria bernama Leon itu tampan, tapi tetap saja ini terlalu cepat, bukan? Dan juga, kedua orang tuanya dengan mudahnya meninggalkannya bersama Leon di rumah besar ini. Kan bisa saja Leon-
'Calista, hilangkan pikiran negatifmu'
"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Leon saat melihat makanan di depan calon istrinya tidak tersentuh sama sekali.
"Huh?" Calista masih saja berucap dengan kata yang sama yang membuat Leon hanya bisa merotasikan matanya malas.
Pria itu kemudian mengambil alih makanan Calista dan mulai menyuapi gadis tersebut.
"Aaaaa.. buka mulutnyaa.." Leon menginstruksi Calista seperti seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya. Dan dengan bodohnya, gadis berambut panjang itu hanya menurutinya dan menerima suapan demi suapan nasi yang disodorkan Leon.
Hingga mereka selesai dengan kegiatan makannya, Leon segera membereskan piring kotor tersebut. Calista yang melihat itu hanya bisa terdiam seraya menatap kagum. Bagaimana mungkin seorang pria tampan bernama Leon Smith tak menolak sama sekali per jodohan dengan orang yang tidak ia kenal? Ditambah lagi dengan hal kecil yang pagi ini dilakukan Leon semakin membuat gadis itu terkesan.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Leon yang menyadari tatapan Calista yang tidak beralih darinya.
"Tak apa, aku terkesan dengan sikapmu padaku. Padahal kita baru saja bertemu" ucap Calista tanpa canggung yang dibalas dengan senyuman oleh pria itu.
"Mari ikut denganku" ajaknya seraya mengulurkan tangan kekar tersebut. Calista hanya tersenyum lalu menerima uluran tangan Leon, tak ada rasa canggung sama sekali. Calista merasa hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan baginya.
Leon..
Pria itu sempurna. Mulai dari parasnya, hingga sikap manis yang ia tunjukkan pada Calista. Dan sekarang, mereka tengah berada di sebuah kursi taman tak jauh dari kediaman gadis itu. Duduk berdua sambil bergandeng tangan, seolah dunia hanya milik mereka.
"Kau tau, kebanyakan orang hanya menatapku karena harta. Namun saat bertemu denganmu, aku merasa kau memang orang yang telah Tuhan ciptakan untukku" ucap Leon seraya menatap Calista yang memandang lurus ke depan. Calista tak menjawab, namun hanya tersenyum tipis disana.
"Calista.."
"Ya.."
"Mau kulamar untuk tahap lamaran yang pertama?"
"Maksudmu?"
"Aku hanya akan menyatakan cinta. Untuk tahap lamaran yang kedua, tentu saja bersama keluarga besar kita" ucap Leon lembut yang berhasil membuat Calista terkekeh.
"Bisa gitu, ya?" Balasnya dengan tawa yang belum terhenti.
"Tentu saja. Bagaimana?"
"Baiklah.." ucap Calista singkat. Leon segera beranjak dari duduknya. Menekuk kedua lututnya dan bersimpuh di hadapan Calista. Memegang kedua tangan lembut itu dan menatap dalam manik sang pujaan hati.
Sementara Calista benar-benar tak dapat membendung kebahagiaannya. Ingin sekali menangis haru melihat perlakuan Leon padanya. la rasa baru kali ini ia diperlakukan seistimewa ini oleh seorang pria. Namun jenaka karena ucapan Leon tadi justru membuatnya ingin kembali tertawa. Bahkan ia bingung harus berekspresi seperti apa untuk saat ini.
"Calista, menikahlah denganku.." ucap Leon tulus dengan masih menatap manik Calista dengan dalam.
Calista hanya dapat mengangguk mengiyakan. Tak tau dengan cara apa menggambarkan suasana hatinya yang sangat bahagia saat ini.
Dan di detik selanjutnya, Leon mulai menepis jarak diantara mereka. Mengecup dahi Calista dengan penuh sayang. Sementara gadis itu hanya memejamkan matanya diiringi liquid bening yang mengalir dari pelupuk matanya.
.
.
.
"Lis bangun napa!! Udah jam pulang nih!" Rossy berusaha membangunkan Calista seraya menggoyangkan tubuh gadis itu secara pelan. Hal itu berhasil membuat kelopak mata Calista terlihat secara perlahan mulai terangkat. Gadis itu mengucek kedua matanya lalu menatap sekeliling.
"Bukannya tadi gue di taman, ya? Kok di UKS?" Tanyanya bingung yang berhasil membuat Rossy mengernyit tak mengerti.
"Lo mimpi apaan sih? Udah jelas-jelas tadi lo pingsan karena kena Lemparan bola dari Jason"
"Huh? Jason? Leon mana?" Tanya Calista yang kembali membuat Rossy semakin bingung. Calista bahkan melihat sekelilingnya, namun tak menemukan pria berparas tampan yang ia panggil Leon itu.
"Leon siapa? Perasaan gak ada yang namanya Leon. Lo mimpi ya?"
"Ada elah, dia itu tunangan gue. Orangnya ganteng. Ganteng banget malah. Mana sih dia? Beliin gue kado, ya?" Ucap Calista semangat.
Rossy yang semakin tidak mengerti dengan sahabatnya itu hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Udah pulang duluan, ya? Mana tas gue, gue mau pulang biar ketemu Leon" ucap Calista lalu segera merebut tasnya yang berada di tangan Rossy.
la segera turun dari kasur lalu berjalan keluar UKS tanpa mempedulikan Rossy yang diam mematung tidak mengerti dengan sikap sahabatnya yang satu itu.
"Apa dia mendadak gila karena terkena lemparan bola?" Tanya Rossy pada dirinya sendiri.
.
.
.
Sepanjang koridor sekolah, Calista hanya terus menampilkan senyum terbaiknya. Para siswa dan siswi berlalu lalang saat bel pulang dibunyikan dengan nyaringnya.
Calista tidak peduli dengan tatapan orang yang bisa saja menganggapnya gila.
Sekarang yang ia ingin hanya segera pulang dan bertemu dengan Leon yang ia yakini tengah menuggunya di rumah. Namun akal sehatnya justru mendukung ucapan Rossy tadi yang mengatakan bahwa pria bernama Leon itu hanyalah bagian dari mimpinya. Entahlah, Calista juga bingung.
Hingga suara panggilan seseorang berhasil membuat langkahnya terhenti. Itu Jason-si pelempar bola yang berhasil membuat Calista pingsan. Pemuda itu berjalan mendekat ke arah Calista dengan memegang sebuket bunga cantik di tangan kanannya.
"Calista, maaf soal yang tadi ya.. Gue gak sengaja. Ini buat lo" ucap Jason meminta maaf seraya memberikan buket bunga tersebut kepada Calista. Calista menerimanya dengan perasaan yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa baginya. Namun bagi siswi lainnya, Calista sangat beruntung karena mendapat sebuket bunga dari primadona sekolah. Namun gadis itu bahkan tidak tertarik sama sekali dengan pemuda berparas tampan di depannya saat ini.
"Makasih. Cuma buat permintaan maaf, kan?" Tanya Calista memastikan.
"Kalau gue bilang sebagai bukti kalau gue suka sama lo gimana?"
Calista menghela napasnya berat.
"Kalau gitu, gue akan jawab kalau gue lebih suka pria yang ada di mimpi gue"
_End_