"Kak Ai ... aku mengidap leukimia!"
Kata itulah yang dia ucapkan di dalam panggilannya dengan Aili. Rania umur 24 tahun harus menelan pahitnya kehidupan setelah ia di nyatakan positif mengidap leukimia stadium 3. Air matanya bercucuran tak terbendung, suaranya terisak-isak.
Aili mengingat kejadian itu sekitar tiga bulan yang lalu, saat itu dia yang tengah bekerja mendapat panggilan dari adik yang ia kenal dari Dumay, Aili begitu menyayangi gadis itu layaknya adiknya sendiri.
Empat bulan yang lalu Rania di perkenalkan dengan Aili oleh salah satu temannya yang mengatakan jika Rania kesepian tidak memiliki teman di Real lifenya, Aili pun menerima gadis itu dan berjanji akan menjadi teman yang baik untuk Rania.
Rania sering menghubungi Aili begitupun sebaliknya, bahkan di saat gadis itu tiba-tiba menangis dalam sebuah panggilan membuat Aili kebingungan.
"Apa, sayang?" tanya Aili yang memang memanggil Rania dengan panggilan sayang.
"Aku mengidap Leukimia kak!" suara Rania berat seakan menahan apa yang sedang dia ucapkan.
Aili yang mendengar kabar itu pun seperti di sambar petir di siang hari, airmatanya tampak menggenang di kelopak matanya.
"Kak Ai, Dokter bilang sel darah putihku memakan sel darah merah kak, aku takut," keluh gadis manis itu.
"Iya sayang, yang sabar ya," hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Aili.
"Aku takut kak," ucap Rania yang masih terdengar menangis.
Mencoba menahan airmatany, Aili pun tetap tersenyum meski gadis itu tidak melihat, ia mencoba menenangkan hati gadis itu.
"Ran sayang, kamu ga boleh takut, jika kamu takut maka kamu akan kalah dengan penyakitmu itu," hibur Aili.
"Lawan penyakitmu, buktikan kalau kau kuat, kak akan selalu ada disini untuk terus mensupport dan mendoakan kesembuhanmu," imbuh Aili.
Dari seberang panggilan Rania hanya menganggukkan kepalanya, tanda dia akan tetap berusaha melawan penyakit yang sedang dia derita.
Demi memberi dukungan moral untuk Rania, hampir tiap pagi Aili tidak pernah absen untuk menelfon gadis itu, entah menanyakan apa kabarnya pagi itu, menceritakan cerita lucu dan mendengar keluh kesah gadis itu.
"Kak Ai ...." suara Rania dari seberang panggilan terdengar begitu pilu.
Aili yang baru saja selesai bekerja begitu terkejut dengan suara Isak tangis gadis itu.
"Ada apa? Kenapa?" tanya Aili kebingungan.
"Aku sedih," suara Rania berat.
"Kenapa sedih?" tanya Aili mencoba santai.
"Aku tadi ketemu ibu dari mantan pacarku, dia kemari kasih aku undangan pernikahan putranya," kata Rania.
"Ilih, mantan aja, emaknya ngapain kesana? Mau manas-manasin?" tanya Aili yang jadi kesal.
"Udag abaikan saja, anaknya mau kawin juga biarin, ga usah datang," imbuh Aili.
"Bukan masalah itu kak!" ucap Rania yang kembali menangis.
"Terus karena apa, Sayang?" tanya Aili bingung.
"Dia kata gini kak 'Syukur ya, anakku ga jadi nikah ma kamu, masih muda kok penyakitan'," Rania menangis lagi sejadinya.
Mendengar ucapan wanita tua yang mengatai Rania, membuat emosi Aili tersulut, ia memgumpat mengeluarkan semua isi kebun binatang sampai mengatakan ingin menyantet mulut wanita tua yang ga ada akhlak.
Namun emosi Aili malah bisa membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak, mendengar suara Rania tertawa membuat Aili sedikit lega, ia tidak ingin Rania larut dalam kesedihan.
Aili setiap hari mengingatkan agar Rania tidak terlalu banyak pikiran, mengingatkan bahwa kesehatannya itu nomor satu.
"Kak Ai ...." suara Rania terengar sendu.
"Iya sayang, kak Ai disini, ada apa?" tanya Aili penuh kesabaran.
"Aku kesakitan," ungkap Rania.
Mendengar suara Rania yang begitu pilu menahan rasa sakit membuat Aili sekali lagi ingin menangis.
"Iya sayang sabar, Allah sayang kamu, karena itu dia kasih kamu penyakit untuk melebur dosa kamu, orang bilang dengan sakit dapat menghapu dosa," nasehat Aili pada Rania.
"Ini sakit kak Ai, punggungku di tusuk buat di ambil sampel, aku mimisan terus, rambutku rontok, kalau aku botak aku ga akan cantik lagi," keluh Rania sambil menangis.
"Masya Allah, siapa yang bilang kamu ga cantik? Kamu selalu cantik mau botak mau ada rambut kamu tetap cantik," puji Aili.
"Tapi aku merasa ga cantik," lagi lagi Rania menangis, ia hanya belum bisa menerima keadaan tubuhnya.
"Sayang, kamu cantik kok bahkan kamu lebih cantik berpuluh-puluh kali lipat dari kak," rayu Aili agar gadis itu tidak bersedih.
"Kalau aku cantik kenapa tidak ada yang mau sama aku kak,"
Keluh Rania sekali lagi.
"Ya Allah sayang, bukannnya ga ada yang mau, tapi jodoh Ran belum datang, Allah menciptakan makhluk itu berpasangan, insyaallah jika tiba saatnya nanti kamu pasti akan di pertemukan dengannya," nasehat Aili pada Rania.
Sekali lagi gadis itu menuruti kata Aili, ia senang bisa berbicara dengan Aili, mencurahkan isi hati dan keluh kesahnya selama ini.
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, sepertinya Rania mulai sedikit melupakan kesedihan dalam dirinya semenjak dia memiliki banyak teman Dumay yang selalu bisa menghiburnya.
Hingga suatu sore Rania menghubungi Aili, Aili yang memang beberapa hari tampak sibuk pun lupa untuk berkomunikasi dengan Rania.
"Iya sayang ada apa? Gimana kabarnya? Maaf kak sibuk sampai tidak menghubungi kamu," kata Aili begitu dia menjawab panggilan dari Rania.
"Kak Ai, aku sayang kamu," ucap Rania sambil menangis.
"Iya, kak Ai tahu kok, kak kan juga sayang kamu," balas Aili.
"Kak Ai, aku takut," ucap Rania.
Ucapan takut dari Rania membuat Aili merasa takut juga.
"Takut kenapa?" tanya Aili yang masih berusaha tetap tenang.
"Aku takut, aku nanti malam akan melakukan operasi kak," jawab Rania yang di barengi dengan suara tangis.
"Jangan nangis, kamu harus kuat, berdoa agar operasinya lancar, kak juga akan berdoa dari sini buat kamu, ingat kamu masih punya cita-cita dan keinginan, jadikan itu motivasi untukmu agar terus bisa bertahan," kata Aili memberi semangat.
"Iya kak, aku sayang kakak," ucap gadis itu manja.
"Aku juga sayang kamu, kamu adik kesayangan aku ga ada duanya," hibur Aili.
Malam menjelang hingga pagi hari lagi, Aili mendapatkan kabar dari kakak kandung Rania jika adiknya sekarang koma, lemas, gemetar menjalar keseluruh tubuhnya bahkan untuk berdiri pun Aili tidak sanggup.
Terus berdoa, itu saja yang bisa dilakukan Aili, ia berdoa agar gadis itu bisa sadar dan sembuh agar bisa berkumpul lagi dengan temannya yang lain.
Tiga hari berlalu tepat hari ini, Aili mendapat kabar jika Rania telah menghembuskan napas terakhirnya, bak tersambar petir Aili terduduk lemas tak berdaya, tangannya gemetar bahkan untuk memegang ponselnya pun ia tak sanggup, bulir-bulir airmata mengalir deras membasahi pipinya, tidak menyangka gadis yang penuh keceriaan dan selalu baik pada semua orang itu telah berpulang.
"Jika ini adalah jalan yang terbaik, maka aku akan selalu mendoakanmu, Allah terlalu menyayangi mu hingga Allah mengajakmu pulang agar bisa terlepas dari semua beban penderitaan yang kau hadapi, kau adalah gadis tegar di mataku, semangatmu di atas keputus-asaanmu membuatmu menjadi gadis paling kuat yang aku kenal, aku akan akan dan akan selalu menyayangimu,"
In Memoriam, my beloved Rania. 21-11-2020
kamu akan selalu ada di hatiku dan aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun.