Washington, USA.
Aku berterima kasih kepada siapa pun dia yang mungkin saja kita tidak saling kenal akan tetapi dia bersedia duduk di sampingku untuk menemani ku.
Kedua matanya melihat ke arah ku nyaris tidak berkedip sedikit pun. Sudah hampir 5 menit dia begitu, anehnya anak ini tidak pergi meskipun aku mengabaikan nya.
Apa mungkin saja dia bingung kenapa aku meringkuk sendirian di gang sempit dan kotor seperti ini atau mungkin dia segan untuk bertanya padaku, akan tetapi aku percaya anak ini adalah anak yang baik jadi tidak mustahil kalau dia akan tetap ada sejak awal melihat keberadaan ku.
"Pergilah" ucapku lalu menatap ke langit.
Bagiku pemandangan biru di atas sana paling indah setelah dip*rkosa oleh beberapa pria semalam.
"Kau pasti sedang ditunggu mama mu di rumah.lagi pula aku bukan siapa pun, jadi biarkan aku di sini sebentar"
Beberapa menit kemudian dia justru tetap tidak pergi dari sini, kedua mata bulatnya kini tenang menatapku yang tengah menghisap rokok.
Ahh, baik sekali salah satu pria pem*rkosaku,setidak nya walaupun brengsek aku masih diperbolehkan kabur mengenakan baju yang berisi nikotin miliknya.
"Aku tidak mau pergi" ucap anak itu tiba-tiba.
Aku yang mendengar itu pun langsung menoleh ke arah nya, lalu menjauhkan rokok nya dari ezra.
"Siapa namamu kak?" tanya anak itu.
Aku berkedip-kedip menatapke arahnya yang tampak lucu, dua mata bulatnya, pipi-pipi tembemnya, dan bibir kemerahan nya yang masih begitu suci.
Aku sangat yakin bagian itu tidak pernah disentuh oleh siapa pun selain orang tuanya. Aku berpikir dia pasti dari keluarga baik-baik yang berpendidikan dan juga kaya karena pakaiannya yang di pakai termasuk sangat lah trendy.
Aku pun jadi penasaran bagaimana rupa orang tuanya. Pasti tampak lembut karena bisa menghasilkan anak laki-laki yang setampan dirinya.
"Haura, kalau kau?" ucapku.
Di luar gang ini banyak orang berlalu lalang. Mereka datang dan pergi membeli barang dagangan di pasar yang tak jauh dari sini akan tetapi tidak satu pun orang yang memperhatikan keberadaanku yang dibuang di sini sejak semalam. Tentu saja kecuali anak kecil ini, walaupun tadinya dia berniat mengejar kucing kampung yang kakinya pincang.
"Aku Ezra kak" jawabnya.
Bulu matanya bergerak-gerak dan dia terlihat seperti mengeja saat melafalkan nama saat menyebut namanya.
Hmm, apa dia sedikit cacat?! Aku yakin aksen bicaranya normal saja saat buka mulut pertama kali.
"Nama yang bagus dek" pujiku.
Walaupun ada dorongan igin mengelus pucuk kepalanya, aku tetap menahan diri. Aku sadar akan nilaiku tidak bisa dibandingkan dengan nilai ezra.
Dia anak kecil suci tanpa dosa, umurnya juga mungkin saja baru 9 tahun. Sementara aku merupakan tukang antar koran yang baru dipermainkan sekelompok pria penagih hutang.
Kurasa kalau sampai ujung jariku menyentuh ezra, maka anak itu akan ikut ternodai olehku yang kotor ini.
"Ngomong-ngomong dek, kau tida lihat apa matahari pagi sudah mulai memanas? Kau akan dimarahi mama mu jika pulang telat" ucapku.
Bukannya pergi ezra justru menggeser duduknya semakin mendekat kepadaku. Dia sepertinya tidak peduli dengan kerikil atau debu yang akan menempeli celana dan bajunya.
"kakak mau pulang bersamaku untuk sarapan pagi?" tanya ezra sambil menyentuh pergelangan tanganku perlahan.
"Kau pasti belum makan beberapa hari ini, tubuhmu sangat lah kurus" timpalnya lagi.
Aku pun tertawa pelan "Ha ha, maksudmu aku kurus jelek seperti kucing yang tadi?" ucapku dengan nada bercanda.
"Kau pasti berpikiran membawaku seperti akan memungut binatang" timpalku.
Ezra terdiam sejenak sebelum membuka telapak tanganku yang dihiasi oleh bekas lelehan lilin.
Ahh, sial sekali pasti itu ulah seorang pria semalam, dia meninggalkan bekas disana Ha ha.
"Jangan" ucapku lalu menarik tanganku darinya.
Aku percaya anak ini pasti belum paham tentang kekerasan seksual. Mungkin baginya bekas remasan borgol di pergelangan tanganku pasti hanyalah bekas pukulan saja. Namun, semakin dia meliatku dengan penasaran, semakin aku tidak ingin dirinya tahu tentang hal ini.
"Itu sakit, paham?! Tapi pasti akan hilang beberapa hari lagi, cukup tinggalkan aku saja nak" ucapku.
"Aku bukan anakmu kak"
Deg
Untuk sesaat aku terkejut dengan ucapan tegas ezra. Padahal, barusan saja aku hanya keceplosan dan di mataku dia hanyalah anak polos yang mungil. Akan tetapi kalau melihat tatapan nya saat ini aku tahu dia pasti menyimpan sesuatu di dalam kepala kecilnya itu.
"Aku tahu maaf"
"Dan kau tidak terlihat setua itu di mataku"
"Apa?!" ucapku heran.
"Apa-apaan anak ini?" pikirku.
"Kenapa dia mendadak ingin marah-marah? Lagi pula siapa yang kau bilang muda? Aku ini sudah 25 tahun" batinku.
"Kak, mama bilang kalau ada orang cacat dan compang-camping tinggalkan saja karena bisa jadi diaitu orang jahat. Tapi, jika melihat seseorang yang terluka parah aku tidak boleh diam saja meninggalkan dia" ucapnya.
Sudut bibirku pun berkedut pelan "Aku tahu, mama nya memang seberkualitas itu" batinku.
"Haha, begitu?"
"Umm" ezra mengangguk pelan.
Anak itu dengan berani menyentuh leherku di sana memang ada bekas darah, Aku pun meringis karena bekas cengkraman di kulit sekitar sana masih memerah karena permainan sinting semalam.
"Di sini juga perlu diobati" gumamnya.
"Apa kakak sakit-sakit juga di bagian lainnya?! Aku bisa mengolesinya dengan obat merah kalau ada luka-luka, percayalah kak aku sangat pandai mengobati. Mama ku sudah mengajariku soal itu berkali-kali."
"Ha?! Apa mama nya seorang dokter?" kagetku.
Sampai tidak sadar dengan aksen bicara ezra kini sudah sangat lancar. Kemungkinan besar anak ini sempat ragu saat tadi memperkenalkan diri padaku.
"Kak" panggil ezra lagi.
Aku pun tersadar dari keterkagetanku dan memandang kepolosan yang ada di wajah itu.
"Iya, ah Maaf"
"Merokok juga tidak baik untuk kesehatan kak" ucap ezra.
Aku pun refleks menjatuhkan puntung rokok yang ada jariku, untung saja tidak sampai mengenai kaki ezra yang di sebelahnya.
"Jadi, kau tidak boleh melakukan itu lagi, setidaknya kalau nanti aku obati di rumah"
Aku pun tergugu sesaat dengan ucapannya "Ahh, ya"
"Ummm, begitu" ucap ezra senang.
Dia tidak tersenyum namun, kedua matanya tampak begitu bangga saat melihatku mematikan ujung puntung dengan menggesek nya ke tanah.
"kak, aku bisa menggandeng tanganmu kalau kau kesulitan jalan" ucap ezra.
Dia mengulurkan tangan seolah-olah berperan sebagai pahlawan di siang hari.
"Tidak perlu malu kak, aku malah takut kalau kaki kakak yang memar nanti tersandung" ucap ezra.
"Kakiku memar?! Aku sendiri tidak tahu itu" ucapku.
Percaya tidak percaya aku pun tertegun melihat bukti dari ucapan ezra. Dua pergelangan kakiku memar parah, kulitnya juga terkelupas karena goresan rantai, dan mungkin tubuh dan jiwaku ini terlalu sakit sehingga tidak bisa merasakan bagian mana saja yang luka.
"Oh ya, tapi tidak usah dek aku bisa jalan sendiri"
Awalnya niatku memang begitu akan tetapi sialnya baru dua langkah saja aku sudah nyaris ambruk lagi.
"Kak!"
Untung saja ezra langsung saja memeluk pinggangku, dia tampak takut, cemas, dan juga matanya berkaca-kaca saat menatap wajahku.
"Ha ha, aku baik-baik saja" ucapku lalu tanpa sadar mengelus pucuk kepalanya pelan.
"Sana dek badanku ini kotor sekali"
"Kakak tidak boleh jalan sendiri!" ucapnya tegas.
Lagi-lagi ezra dengan mode tegasnya sungguh membuatku langsung bungkam.
"Pokoknya harus aku pegang, mama ku bilang orang dewasa memang sering berbohong soal dirinya. Aku tidak percaya kakak!"
"Anak ini, memang sejenius apa mamanya? Kenapa bisa tahu hal-hal yang sedetail itu?" batinku.
"Aku hany umm, takut bajumu bisa kotor kalau dekat-dekat denganku"
Ezra yang mendengar itu kini tampak merengut "Kotor ya nanti dicuci" ucapnya.
"Ayo, pulang kak ini harusnya dipukul!"
Percayalah waktu itu aku hanya memandang nya sebagai anak kecil ajaib yang berisik. Apalagi saat melihat kedua dua matanya yang tergenang air mata.
Aku jadi merasa yang terluka sebegini banyak adalah dia yang mengobatiku.
Bukan aku yang duduk di bangku ruang tamunya waktu itu.
Ya pada waktu itu.
Aku memang sedang mengisahkan tentang masa laluku.
Momen dimana ketika aku dan ezra pertama kali bertemu.Agak aneh akan tapi itu nyata dan sekarang dia justru jadi suamiku yang sangat setia.
"Kak jangan lupa minum tonik herbalmu" ucap ezra.
Saat ini anak yang waktu itu ternyata anak kedua dari konglomerat itu sudah menjelma jadi pria yang sangat mapan.
Dia bekerja sebagai CEO agensi entertainment papan atas, hidup bersama denganku di Paris dan menikahiku sebulan lalu meski umurku sudah tidak muda lagi.
Katanya waktu umur 17 ezra berjanji akan mendampingiku seumur hidup jika memang hanya dirinya yang membuatku nyaman. Dia tidak akan membiarkanku sendiri merundung trauma setelah diperkosa ramai-ramai pada malam itu. Kataya dia juga akan bersamaku dan menyayangiku sebagai orang paling penting baginya.
Jarak 16 tahun dengan nya bukan hal kecil. Aku kerap kali merasa bersalah tidak bisa memberikan jam s*ks yang baik untuknya yang masih muda, akan tetapi dia berucap s*ks justru bukan segalanya.
Ezra berjanji tidak akan menyentuhku kalau hanya mengingatkan ku dengan masa lalu. Akan tetapi saat aku membiarkan dia menciumku untuk pertama kali di kelulusan sekolahnya, kedua mataku langsung meneteskan air mata sendiri.
Aku tidak ingin dia mengikutiku seperti ini karena aku pikir hari ketika kita bertemu untuk pertama kali aku akan dilepaskan dia pergi setelah proses pengobatan pertama selesai.
Siapa yang tahu anak yang waktu itu justru meminta izin orang tuanya agar aku diterima di rumah. Sebagai kasir di sebuah cafe dan juga sebagai sosok kakaknya setelah jam kerja selesai.
Pikiranku padanya juga tidak pernah tentang yang aneh-aneh. Aku murni murni menganggap nya adik akan tetapi tidak lagi setelah dia mengatakan sesuatu di hari kematian orangtuanya.
"Kakak tau, daddy dan mamaku kecelakaan. Mereka pergi jauh dan tidak akan pernah kembali lagi. Jadi, apa kau juga akan begitu padaku?"
Awalnya aku bingung akan tetapi setelah menyelami kedua matanya aku tahu bahwa sangat diinginkan oleh ezra untuk menetap di sisinya selamanya.
"Siapa bilang ezra? Aku takkan pernah meninggalkan mu" ucapku lalu memeluknya pelan.
Jujur saja saat itu aku kaget padahal ezra baru 17 tahun akan tetapi kenapa bahunya begitu lebar sekali?! Aku saja kalah besar setelah pertumbuhan nya sepesat itu.
"Jadi jangan sedih lagi Oke? kakak akan tetap mengawalmu sampai benar-benar dewasa nantinya" ucapku lembut.
Dia pun tersenyum lalu mengucapkan terima kasih padaku setelahnya yang aku tidak tahu adalah isi pikirannya padaku yang tidak pernah kepada "kakaknya" selama ini.
Jadi aku berpikir apakah ini salahku?! Aku berkali-kali mempertanyakan diriku sendiri. Bagianmana yang membuat ezra tertarik padaku?!.
Pantas saja anak itu tidak pernah menggandeng seorang gadis pun ke rumah hingga kelulusan nya tiba.
Untuk menghindar darinya juga terasa keliru. Aku pun mengikuti alur Sehingga dia meyakinkanku agar hubungan ini tetap dia wujudkan. Katanya umurku belum kelihatan seperti 41 tahun, dia malah akan memuji-mujiku setiap saat keluhan-keluhan keluar, dan mengajakku berkaca setiap harinya.
"Aku akan menghitung uban kakak mulai sekarang" ucapnya dengan nada bercanda.
"Jika muncul satu, pasti akan kusemir ulang dan jangan lupa minum tonik kesehatanmu. Ezra ini akan marah kalau kakak sampai melewatkannya"
"Hahaha menyemir katanya?!" batinku.
Ezra tidak tahu setiap kali dia berangkat kerja di luar aku tanpa sadar selalu bercermin sendiri.
Aku membayangkan di cermin itu ezra sendirian setelah kematianku suatu hari. Apa dirinya yang masih muda akan mencari pasangan lain?!
Jika iya, aku merelakannya dari lubuk hati yang paling dalam. Meski begitu, aku juga tidak mau berpikir terlalu jauh. Sebab aku hanyalah wanita tua sekarang.
Kalau usiaku lebih cepat habis, akan kugunakan setiap hari untuk mensyukuri hari ini. Hari-hari dimana ezra hadir
sebagai sosok paling penting di hidupku, dan membuatku bahagia hingga bayangan dalam cermin itu hilang dengan sendirinya.
TAMAT