Setiap insan, diberikan rasa cinta dari Sang Maha Penciptanya. Tak kenal bagaimana pun kondisinya, ia Maha Adil memberikan hak yang sepadan. Allah mencurahkan kasih sayang dan cinta pada makhluknya, agar mereka saling mengasihi dan dikasihi. Saling mengagumi lawan jenis, supaya mereka saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing, dalam ikatan janji suci di hadapan Allah.
Membahas soal cinta, mengingatkan diriku tentang memori kasih di masa lalu. Jalinan kasih yang romantis, penuh harmonis, tapi pada akhirnya tragis. Rasa cintaku yang berlabuh pada sosok pria baik, tampan, nan pintar ilmu agama.
Awal mengenalnya, jujur aku tak tertarik sama sekali, terkesan lebih cuek saat ia mengajak komunikasi. Iya, aku dan dia berada saling berjauhan, ribuan kilometer jarak memisahkan, mengenal dari dunia maya yang diperkenalkan oleh kakak onlineku. Kala itu, dia yang akan balik ke pondok untuk menuntut ilmu, tak ingin aku merasa sendiri, hingga diperkenalkan lah dengan teman yang dulu juga pernah menjadi santri di tempatnya mondok.
[Dek, Kakak pamit, ya. Kakak harus kembali ke pondok pesantren. Nanti, akan ada temen kakak yang bakal nemenin kamu.] Begitulah isi pesan di messengerku.
Cukup lama aku tak membalas karena masih pelajaran sekolah. Saat ada kesempatan istirahat barulah kubalas pesannya. [Yah ... Kakak, nanti aku kesepian dong.] Balasku diiringi emoji nangis.
Tak butuh waktu lama, ia pun kembali membalas pesan dariku. [Gak dong, Dek. Ada orang yang akan nemenin kamu. Namanya Irwan. Coba deh, minta pertemanan sama dia.]
"Irwan," bisikku pelan.
[Dia laki-laki ya, Kak?] Sungguh aku sedang muak jika harus dekat dengan lelaki. Kejadian beberapa bulan lalu, membuatku enggan dengan lelaki. Sebuah penghianatan yang amat menyayat kalbu.
[Kan Irwan, Dek. Ya jelas cowok, dong.] Begitulah balasan yang membuatku bergidik.
Apa harus, aku lakukan untuk meminta pertemanan padanya. Sedangkan diriku, tak ingin berkomunikasi dengan lelaki mana pun untuk saat ini. Namun, Kak Silvi mendesak untuk segera meminta pertemanan, dengan sedikit ragu kuklik tombol permintaan pertemanan.
Hampir setengah jam tak ada konfirmasi darinya, padahal kata Kak Silvi dia aktif. Sedangkan Kak Silvi menyuruhku untuk langsung mengirim chat padanya. Tapi, kucoba menolak dan menyuruh untuk dia yang menghubungiku duluan. "Gengsilah, masa cewek nge-chat duluan. Apa kata dunia?" cerocosku dan melangkah kembali ke kelas.
Tepat pukul lima sore, aku baru menginjak kaki di teras rumah. Melepas sepatu sembari membuka media Facebook lite, terdapat notifikasi satu pesan. Kubuka pesan tersebut dari Kak Silvi, ia menyuruhku seperti tadi dan disuruh screenshot jika sudah melaksanakan. Fiuh! Ini sungguh tidak mengenakkan.
Dengan sedikit berat hati, kukirim satu pesan berisi salam, lalu menscreens pesan tersebut dan mengirimnya ke Kak Silvi. Miris, kayak gak ada harga dirinya aku ini. Ah, masa bodo, aku tak berharap dia membalasnya.
Selesai salat Maghrib, aku kembali membuka gawai. Terdapat notifikasi satu pesan terpampang di layar kunci. Dalam pikirku, mungkin Kak Silvi atau teman online yang lain. Tertuju pada Facebook lite, ada beberapa pesan yang masuk. Tapi, ada sesuatu yang membuat diriku menjadi kikuk. Laki-laki itu, membalas pesan tadi sore.
[Waalaikum salam. Iya, dek, ini temanya Silvi, ya?]
Dengan sedikit ragu kubalas pesannya yang dikirim pukul 17.30 tadi. [Iya, Kak. Salam kenal, aku Calya.] Ish, khilaf aku, kenapa coba ngasih tahu namaku. Padahal kan, dia gak tanya. Tapi, mau bagaimana lagi, pesan yang terkirim tak dapat dihapus.
[Iya, dek. Salam kenal, ya.]
[Iya, Kak.]
[Adek asli dari daerah mana?]
"Kepo banget nih orang," celetukku yang mungkin didengar Paman.
"Kumat ... ngomong sendiri!" sindirnya sembari menghisap rokok.
"Biarin! Wleek."
[Asli Pati, Jawa Tengah, Kak.]
Tak butuh waktu lama untuk dia membalasnya. [Ko, bisa kenal Silvi? Kan dia orang Sumatera.]
Iiih, aku sudah merasa jengkel dengan dia. Baru juga kenal, udah nanya-nanya kayak gini. Ku abaikan pesannya karena sudah memasuki salat Isya. Hati terasa lega mendengar suara azan, sebab aku bisa sejenak terlepas dari chattan dia.
*****
Ketika ayam berkokok, mataku terbuka perlahan, mengusapnya, lalu duduk dengan malas. Aku teringat semalam menonaktifkan data, jadi tak ada notifikasi yang terlihat, dan yah! Pesan dari lelaki itu belum terbalas. Aku memang terkenal jutek, tapi aku masih punya hati yang tidak tegaan.
Pada akhirnya kuraih gawai di bawah bantal mengaktifkan data, lalu membuka messenger di Facebook lite. Jemariku langsung tertuju pada nama akunnya dan membalas pesan semalam. [Iya, Kak, kami kenal dari Facebook dan sudah akrab seperti saudara.] Pesan tersebut sudah terkirim. Aku pun membalas pesan lain yang sudah mengantri.
Terdengar suara azan berkumandang, waktu menunjukkan pukul setengah empat, tandanya salat Subuh akan dimulai. Bergegas turun dari ranjang, berlari menuju kamar mandi. Jika tidak dengan segera, bisa-bisa akan ada ceramah di pagi hari.
Aku tinggal bersama Pamanku yang paling muda, setelah kakek pergi untuk selamanya. Mau bagaimana lagi, orangtuaku tak menginginkan diri ini. Ayah bilang, jika aku serumah dengan mereka, itu hanya membuat masalah dan malu. Apalah yang mereka katakan selalu menyayat kalbu. Seorang anak yang tak tahu di mana letak kesalahan, sehingga mereka sangat membenci diri ini.
Selepas mandi, aku bergegas menjalankan salat agar tidak terlambat waktu dan berangkat sekolah. Selesai salat, terlihat masih gelap di luar, masih ada kesempatan untuk bertadarus walau hanya beberapa ayat.
Dengan langkah yang antusias, 'ku telusuri setiap jalan menuju sekolah. Lalu-lalang kendaraan cukup ramai karena seiring dengan waktu berangkat kerja. Aku lebih suka berjalan kaki, sebab jarak yang tsk begitu jauh, hanya berkisar 500 M.
Sesampainya di sekolah, suasana cukup ramai dikarenakan sekolah kami, memiliki aturan untuk siswa sudah ada di sekolah sebelum pukul enam pagi. Aneh, jika siswa terlambat sedikit saja dari jam tersebut maka akan mendapat hukuman, sedangkan para guru pukul setengah tujuh baru sampai. Itupun masih beberapa.
Karena belum ada pelajaran, 'ku putuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku yang akan menambah wawasan. Alasa doang itu, ma. Hihihi. Lebih sering membaca novel ketimbang buku pelajaran. Di perpustakaan terlihat sepi, hanya tiga sampai lima orang yang ada di dalamnya. Bagi mereka, ini tempat horor untuk dipijaki. Karena, tak boleh ada kebisingan, hanya deretan buku yang bisa dipandang. Parahnya, mereka tidak ingin disebut kutu buku. Kalau aku sih, gak apa-apa, daripada kutu rambut? Itu baru memalukan.
Setelah selesai memilih buku, aku pun mencari meja yang nyaman untuk menikmati setiap aksara yang terangkai. Setelah menemukan tempat nyaman, mulailah aku larut dalam cerita. Namun, tiba-tiba ponselku bergetar, jika didengar dari suaranya ... ini pesan dari messenger. Yupz, ternyata benar. Terdapat beberapa deretan nama di layar kunciku.
"Ada aja gangguannya!" dengusku pelan.
"Argh ... Dia lagi." Tiga pesan kuterima darinya. Siapa lagi kalau bukan lelaki itu.
[Oh, iya, ya.] Mungkin untuk jawaban tadi pagi.
[Adek, udah berangkat sekolah?]
[Udah sarapan, apa belum, Dek?]
Begitulah pesan darinya. Perhatian sekali dia. Apa gak ada rasa canggung karena baru kemarin kenal? Aku gak habis pikir semudah itu dia ingin akrab dengan seseorang, apalagi seorang cewek? Ish.
Okelah, karena tak enak hati akhirnya kubalas. [Iya, udah berangkat, Kak, dan belum sarapan. Lebih tepatnya ... gak biasa.] Biar cepat dua pertanyaan kujawab sekaligus.
Saat ingin membuka halaman pertama, gawaiku kembali bergetar. "Yah, dia lagi."
[Sarapan itu penting, loh, Dek. Sarapan dulu, gih, nanti Adek bisa sakit, loh.]
[Gak, Kak.]
[Adek, jangan bandel, kalau dibilangin.]
Setelah membaca pesannya, ada hal yang membuatku kesal. Diatur dan dipaksa. Emang dia siapa? Baru juga kenal sudah perhatian tingkat dewa.
[Iya, Kak.] Singkat saja.
[Kakak, mau berangkat sekolah dulu, ya. Assalamualaikum.]
[Waalaikum salam.]
Akhirnya, bisa baca dengan tenang. Namun, baru saja paragraf pertama, bunyi bel terdengar menandakan pelajaran segera dimulai. Dengan langkah gusar, aku mendekati petugas perpustakaan untuk meminjam buku ini.
Malam pun datang, suasana di rumah amatlah sepi karena paman pergi ke rumah mertua. Hanya desir angin dan indahnya kerlip bintang yang menemani. Entahlah, aku sangat suka melihat bintang dan duduk di jendela, ada keindahan dan ketenangan tersendiri rasanya. Tapi, ada yang aneh, saku celanaku bergetar akibat gawai yang berdering.
"Kak Silvi?" Senang sekali rasanya mendapat sebuah panggilan darinya.
"Assalamualaikum, Kak," sapaku terlebih dulu.
"Waalaikum salam, Dekku, yang cantik. Apa kabar?" Suara lembutnya teramat kurindu.
"Alhamdulillah, sehat ko, Kak. Kakak sendiri bagaimana kabar?" tanyaku balik.
"Alhamdulillah, sehat juga. Oh, iya, gimana temen Kakak? Asik, kan, orangnya?" Dengan terkekeh ia menggodaku.
"Apaan sih, Kak. Biasa aja."
"Baik-baik, ya ... Kakak gak bisa lama-lama. Assalamualaikum." Sambungan telepon terputus, sebelum kujawab salamnya.
Usai panggilan berakhir beberapa pesan sudah mengantri. Dari mulai nama khas orang India, Arab, teman online, dan si dia.
[Assalamualaikum, Dek, ko gak aktif? Adek kenapa?] Pesan pukul empat sore tadi.
[Waalaikum salam, Kak. Baru sempat.]
[Udah makan, Dek?] Balasannya begitu cepat.
[Sudah. Kakak, sendiri sudah?] Okelah sesekali balas perhatiannya.
[Sudah, ko. Adek lagi apa?]
[Lagi lihat bintang.]
[Jangan dilihat terus, loh.]
Dahiku mengernyit, emang ada masalah jika aku melihatnya? Bintangnya saja, tidak masalah. Kenapa dia yang repot? Aneh! [Emang kenapa?]
[Nanti bintangnya minder. Karena, kilaunya tak secantik binar mata, Adek.] Begitulah balasan yang membuat ingin mual. Ternyata, semua cowok sama aja. Bisanya ngegombal, ngebucin, terus kalau ceweknya sudah tertarik, lagi sayang-sayangnya ... ditinggalin. Kan sakiiit.
Belum sempat kubalas, tangan terasa gemetar, kepalaku pusing sekali, dan cairan hangat kental berwarna merah, mengalir dari hidung. Tidak! Apa mungkin penyakitku kumat? Pandanganku mulai kabur, perlahan gelap.
Kepalaku terasa sakit, dengan susah ku mengerjapkan mata agar dapat terbuka. Hanya terlihat dinding dan atap putih yang terpampang. Bau obat menyeruak di sini. Apakah aku di rumah sakit?
"Aahh ..." erangku kala mencoba duduk, tapi kaki tak dapat digerakkan. Terasa kaku dan nyeri.
Tak berapa lama, wanita paruh baya dengan jas putihnya memasuki ruangan. Dengan sigap membantuku duduk. "Pelan-pelan, saja. Fisikmu sangat lemah," tuturnya terkesan tegas.
"Saya kenapa, Dok? Kenapa kaki saya sakit sekali?" tanyaku dengan cemas.
Dokter itu bergumam sembari menyentuh kakiku. "Yang sabar, yah."
"Maksudnya, Dok?"
"Hmmm, akibat radang otak yang kamu derita semakin parah, kini menyebar hingga ke tulang belakang. Membuatnya berpengaruh pada syaraf kaki menyebabkan kelumpuhan," terangnya.
Aku pun menangis seketika, tak mungkin, tak mungkin ini terjadi. Jika aku lumpuh gimana dengan cita-citaku? Karier yang ingin aku bangun? Ya Allah ... cobaan apa lagi ini?
"Dok, apakah saya bisa sembuh? Apakah ini sementara?"
"Untuk diagnosa ... ini kelumpuhan permanen. Tidak bisa disembuhkan. Tapi, berdoalah! Allah maha pemberi kesembuhan."
Aku pun hanya menunduk dan menimpalinya dengan nada lemah.
Sudah tiga hari ini aku terpuruk, termenung di ranjang sembari menatap dunia luar dari jendela. Sungguh, ini bukan diriku! Aku memang pendiam, tapi bukan peminder seperti ini. Aku harus bangkit! Allah tidak memberi ujian dari batas kemampuan, jika ini adalah ujianku ... berarti aku bisa, aku kuat. Iya, aku harus bangkit!
Untuk menghibur diri, aku kembali berselancar di dunia maya. Kembali berkomunikasi dengan teman online yang bisa memberi semangat baru. Namun, tak ada satupun dari adek dan kakak onlineku yang menyepam. Apa mereka sudah tak peduli? Kecuali, dia, iya ... dia. Menempati tempat teratas dengan sekitar 75 pesan yang ia kirim.
Kubuka perlahan pesan tersebut masuk dari tiga hari yang lalu sampai tadi pagi.
[Dek, apa kabar?]
[Gimana keadaannya?]
[Dek, udah sembuh, kan?] Aku berhenti di bagian ini, dari mana ia tahu kalau aku sakit? Yah, ternyata ketika aku terbaring lemah ada yang mengotak-atik gawaiku.
[Dek.] Pesan ini masuk tak terhitung jumlahnya.
[Kakak khawatir, Dek, kamu di mana?]
"Uhuk!" Kalimat itu membuatku tersedak ludah. Benarkah, ia mengkhawatirkan diriku? Kenapa, kita baru saja kenal?
Sebuah pesan baru terkirim darinya. [Dek, Adek gimana keadaannya sekarang?]
[Dek.]
[Kakak ganggu, yah, Dek? Maaf, ya!]
Secepat kilat aku membalasnya, agar ia tidak merasa bersalah lagi. [Enggak, Kak. Calya udah sehat, ko.] Untung saja jempolku tidak keseleo.
[Syukurlah ... kemarin teman adek yang pegang akun adek. Katanya, adek sakit dan kritis di rumah sakit.]
[Iya, Kak.]
[Gimana ceritanya, sih, Dek?]
Ku ceritakan semua yang terjadi, tentang penyakit yang kuderita, berapa lama lagi sisa hidupku menurut diagnosa dokter, bahkan seperti apa keadaanku sekarang. Iya, semua keluh kesah akhirnya tercurah. Ntahlah, aku tak bisa lagi menahannya. Bercerita dengannya melalui voice not, membuatku sedikit lega. Tapi, mungkin setelah ini, setelah ia tahu aku lumpuh kemungkinan ia tidak mau berteman denganku lagi, seperti yang lain.
Saat aku ingin menonaktifkan data, pesan darinya kembali masuk. [Yang sabar, ya, Dek.]
[Ada sesuatu yang ingin Kakak sampaikan. Boleh?]
[Apa, Kak?] tanyaku kembali.
[Jujur, Kakak kagum sama Kamu. Walau masih remaja, diuji begitu berat, Adek tetap sabar dan kuat. Kakak sayang sama adek.]
"Hah! Gak mungkin! Sayang gimana maksudnya?"
[Maksudnya, Kak?] Sungguh pesan itu membuatku salah tingkah.
[Maukah, Adek, menunggu Kakak datang ke sana? Untuk menjadikan adek ratu dan juga ibu dari anak-anak kita nanti?]
Lagi, lagi, dan lagi, pesannya membuatku terkejut. Ini serius atau hanya main-main? Aku sudah menceritakan semua, bahwa keadaanku sekarang ini lumpuh dan itu selamanya. Tak habis pikir dibuatnya.
[Tapi, Kak, Calya gak pantes untuk Kakak ... Calya gak sempurna ....]
[Kakak terima, Adek, apa adanya. Kakak tulus sama Adek. Berjanjilah akan menunggu kakak!]
Jawaban apa yang harus kuberi, di lain sisi hatiku mengatakan 'iya' tapi, di sisi lain gimana dengannya jika mendapatkan wanita lumpuh sepertiku?
Oke, aku coba menerima dia. [Iya, Kakak, aku janji.]
[Alhamdulillah ... terima kasih, ya, Dek.] Diiringi dengan emoji senyum pesan tersebut kuterima. Akankah dia benar-benar bahagia?
Sejak saat itu, kita jadi lebih akrab. Jika memiliki masalah saling berbagi, saling support, dan memberi solusi. Tapi, akulah yang sering mengeluh dengan masalah hidup. Namun, ia selalu menguatkan, tak jarang kadang menceritakan hal lucu yang mampu mengukir senyum di bibirku.
Hari, bulan, bahkan tahun silih berganti. Kehadirannya sungguh berarti sekarang, jika dulu aku membencinya kini terganti suburnya bunga cinta yang semakin bersemi. Mungkin inilah cinta jadi benci yang teramat indah.
Empat tahun sudah kita terhalang jarak, kadang ujian menerpa cinta kita, tapi alhamdulillah semua bisa dilewati bersama. Tepat bulan Oktober ia berjanji akan datang untuk menghalalkan cinta ini menuju jalan yang diridhoi Allah.
'Tok ... Tok ... Tok!'
"Iya sebentar ...." Teriakan bibi sembari berlari ke pintu depan.
"Assalamualaikum."
Suara itu ... aku mengenalnya. Benarkah? Benarkah ini? Atau hanya orang yang kebetulan sama dengan suaranya. Karena penasaran aku pun mendorong roda kursi ke ruang tamu. Senyumku terlukis, mataku tak dapat membendung tangis. Tidak! Ini bukan sedih, tapi bahagia. Dia ... datang bersama kedua orangtuanya. Ternyata bukan hanya janji, ia benar-benar lelaki baik.
"Silakan, masuk!" Mereka pun duduk dan bibi ke dapur untuk menjamu mereka.
"Calya," panggil Kak Irwan dan melangkah mendekatiku.
"Kakak," timpalku lirih.
Tepat di depanku ia berjongkok, memegang kedua tanganku, mengusap, dan menciumnya. Ia pun larut dalam pertemuan ini, bulir bening keluar dari netra sipitnya.
"Akhirnya kita bertemu, Dek," ucapnya sembari mengusap rambutku yang terurai. Aku hanya bisa mengangguk tak bisa lagi berkata.
"Apa dia yang bernama Calya, Wan?" tanya mamanya dengan sedikit penekanan.
"Iya, Ma, ini calon mantu Mama," jelas Kak Irwan sembari mendekatkan aku ke orangtuanya.
"Wanita lumpuh?" Pertanyaan itu seakan sinyal yang akan berakhir buruk. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Iya, Ma. Tapi dia wanita luar biasa, Ma. Dia wanita hebat dan kuat yang Irwan kenal selama ini."
"Gimana cara berpikirmu? Memilih wanita lumpuh seperti ini? Mama gak setuju!" pekiknya begitu tajam.
Sakit! Kebahagiaan itu seakan sirna dengan kalimat yang dilontarkan mamanya. Ketakutan yang selama ini kurasa kini terjadi. Mungkin Kak Irwan menerima, tapi bagaimana dengan orangtuanya. Aku selalu menanyakan itu, tapi Kak Irwan bilang tidak apa-apa.
"Ma, apa yang salah? Kita saling mencintai. Irwan menerima Calya apa adanya, Ma. Ma ... Irwan mohon ... restui kami ...." Ia bersimpuh di kaki mamanya. Sungguh dia lelaki yang baik, tulus, dan tidak memandang fisik.
Aku hanya bisa menunduk, sesekali mengusap air mata. Aku ingin bersatu dengannya, tapi tak tega melihat dia seperti itu. Apa yang bisa kulakukan ya Rabb ....
"Enggak! Sekali Mama bilang enggak, ya, enggak!" bentaknya, "bangun! Mama punya calon yang lebih baik. Ayo kita pulang!" lanjutnya ingin beranjak dari kursi, tapi dipegang erat oleh Kak Irwan.
"Ma ... Irwan mohon ... Irwan hanya cinta sama dia. Irwan ingin menikah dengan Calya ...." Lelaki itu, sangat besarkah kasih sayangnya padaku? Tapi, aku tak tega melihatnya seperti itu, hanya karena ingin menikah dengan perempuan lumpuh sepertiku.
"Kamu melawan Mama? Mau jadi anak durhaka Kamu?"
"Tapi, Ma—" ucapannya terpotong karena kusergah
"Cukup! Cukup, Kak ... jangan seperti itu hanya demi aku ... hiks," ucapku berderai air mata. Kak Irwan pun mendekat, menggenggam tanganku.
"Aku mohon, Kak, turuti apa kata Mama kakak ... aku mohon ...."
"Enggak, Calya! Kakak udah janji sama kamu, bakal jagain kamu, lindungi kamu, dan menjadikan ratu di istana kita nantinya," jelasnya mencoba meyakinkan.
"Aku tahu Kakak sudah berjanji. Maka dari itu, aku bebaskan Kakak dari janji tersebut. Aku gak mau Kakak durhaka hanya karena ingin bersamaku."
"Enggak! Kakak sayang sama Kamu ...." tuturnya sembari menciumi tanganku.
"Kakak sayang kan sama aku? Kakak mau menuruti permintaanku?"
"Apa, Dek?"
"Turuti apa kata Mama kakak. Karena, orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi, pergilah! Menikahlah dengan wanita pilihannya! Aku mohon ...."
"Tapi ...."
"Pergi!"
"Ayo, Irwan, kita pergi?" Mamanya pun menarik tangan Kak Irwan.
"Ma, Irwan pengen di sini ...."
"Pergi ...!" teriakku sembari mendorongnya.
'Maaf, aku hanya tak ingin Kakak dicap anak durhaka.'
"Lya ...." Panggil bibi yang sedari tadi menyimak pembicaraan kami. "Sabar, ya, mungkin dia bukan jodohmu."
Aku pun hanya mengangguk dan menangis pilu dalam pelukan bibi. Hari ini, peristiwa terjadi dalam sekejap. Pertemuan berganti perpisahan, suka berganti duka, mimpi yang telah dirajut bersama lenyap dalam hitungan jam. Mungkin ini takdir dari Yang Maha Kuasa.
Seminggu sudah kejadian itu berlalu, tapi perihnya membiru beku. Hanya foto dalam gawai yang bisa kupandang, manisnya senyummu di bibir merah itu. Jujur ... aku rindu, rindu denganmu. Namun, rindu ini sudah terlarang, kau sudah ada yang memiliki.
Beberapa hari yang lalu, terlihat di akun Facebookmu sebuah foto resepsi yang mempelai prianya dirimu. Bersanding dengan wanita bercadar yang sangat cocok untukmu. Kau yang sholeh mendapatkan wanita sholehah.
Memang pestamu adalah dukaku, tapi itu yang terbaik untukmu. Bukan mendapat wanita lumpuh sepertiku, yang bisa membuatmu malu. Biarlah cintaku tersimpan sampai akhir hayat.
SELESAI ....