Di pinggir hutan Cadeby adalah tempat dimana kami pertama kali bertemu. Aku melihatnya, berjalan dengan kaos oblong putih dan jeans kusam ditengah badai salju. Tanpa alas kaki, ia melangkah tenang seolah dingin bukanlah sesuatu yang berarti baginya.
Surainya senada dengan warna beludru putih yang menyelimuti kota di pertengahan bulan Desember. Matanya tajam, dengan bibir tipis merah merekah yang terkatup rapat.
Aku menjatuhkan ember bersisi air milikku sehingga tatapan kami bertemu untuk beberapa saat, kemudian ia menghilang bahkan sebelum aku sempat berkedip.
Siapa dia?
"Clara? Kau menjatuhkan embernya?"
Aku tersentak kaget ketika sosok Charlie datang dan menepuk pundakku, lantas aku meminta maaf dan kembali ke sungai dengan Charlie yang menawarkan diri untuk menemaniku.
Keesokan harinya, di waktu yang sama, aku kembali melihat sosok bersurai perak itu. Tampak berkilau sembari duduk tenang di dahan pohon yang kokoh. Ia mendongak, menatap bias dari langit sore yang tampak kelabu. Sehingga garis rahangnya terbentuk dan itu menawan bagi siapapun yang melihatnya, termasuk aku.
Aku bersembunyi dibalik pohon yang lain, emberku yang masih kosong kembali membuat onar dengan terlepas dari tanganku dan malah berguling mendekat ke arah pohon dimana ia duduk.
Tentu saja ia langsung menyadari kehadiranku, walaupun aku dengan susah payah bersembunyi dari balik pohon.
"Siapa kau?"
A-apa?! Aku tersentak kaget, sosok itu kini berdiri di hadapanku. Menunduk dan menatapku dengan simpul tipis dibibirnya. Apa aku sedang bermimpi atau ini hanya halusinasi? Aku mulai mengingat tentang kejadian beberapa saat lalu, dan seingatku, aku tidak mendengar suara salju terinjak atau derap langkah yang mendekat. Tetapi, sosok ini bahkan dengan nyata sudah berdiri tepat di hadapanku.
Kulihat, dia tersenyum miring. Kembali memberi jarak antara wajahku dan wajahnya, aku mengambil kesempatan dengan membuang napas legah dan hendak kabur sebelum rambutku di tarik olehnya dan aku jatuh terduduk diantara tumpukan salju yang dingin.
"Kau mau kabur? Apa kau tahu siapa aku?"
"A-apa? Ka-kau siapa?" Oh, tuhan. Bahkan aku tidak tahu harus berkata apa. Seperti inikah rasanya seseorang yang tertangkap memperhatikan ketampanan orang lain?
Kami bertatapan untuk beberapa saat sebelum dia memutusnya dengan sepihak, kemudian memalingkan wajah dan berdiri tegap. Tampak begitu menjulang tinggi dengan dada bidang yang tegap, aku baru menyadari dia juga punya pundak yang lebar.
"Pulanglah. Pria kecil itu mencarimu di pinggir sungai, dia berfikir kau tersesat."
Dan bahkan sebelum aku sempat berkedip, ia kembali hilang entah kemana. Kembali pergi tanpa meninggalkan satupun jejak.
---
"Namaku Clara!"
Aku tidak tahu apa yang selalu menarikku ke tempat ini, kemudian berteriak lantang menyebutkan namaku ketika sosok bersurai perak itu mengabaikanku walaupun tatapan kami saling bertemu tadi.
Langkahnya yang hendak menjauh terhenti sejenak, kemudian tanpa berbalik ia kembali melangkah. Aku juga masih kurang paham dengan sistem kerja otakku, yang membuat tungkaiku ikut melangkah seolah hendak mengejarnya.
"Namaku Clara! A-aku mau menjadi temanmu!"
Dan berhasil! Sosok itu berbalik dan menatapku. Masih dengan kaos oblong dan jeans yang sama, juga kaki tanpa alas apapun. Ia melangkah mendekat; surainya diterbangkan angin musim dingin yang berhembus pelan.
"Hai, Clara."
"Heeum?!"
Smirk terlukis dari sudut bibirnya yang tipis, wajahnya yang tenang seperti permukaan es yang menutup danau kini tampak lebih menawan saat sinar matahari menerpa kulitnya yang langsung berkilau. Berkilau seperti salju.
"Bagaimana bisa kau melihatku?"
Aku terdiam, sama sekali tidak sadar apa yang terjadi barusan. Saat dengan kecepatan yang tidak masuk akal sosok itu kini sudah berada di atas dahan pohon. Menatapku dengan senyum pongah.
Aku jatuh terduduk karena terkejut; "Ba-bagaimana bisa??"
"Kau benar bisa melihatku, kukira aku juga bisa berhalusinasi, kemarin."
Senyum pongah tadi berganti menjadi simpul tipis, sosok itu mendongak; menatap hamparan langit yang berwarna perak.
"Ma-maksudnya?"
Aku dapat melihat seutas senyum lebar dari wajahnya yang tampak dari samping, dalam keadaan masih terduduk diatas tumpukan salju, aku bergeming. Tidak tahu harus berkata apa ketika sosok itu berbalik dan menatapku dengan senyum lebar yang membuat kedua matanya menyipit.
"Clara,"
"Ya?"
"Ayo, berteman?"
---
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan hari berganti minggu.
Dua minggu berlalu sejak hari itu. Aku tidak begitu paham mengapa aku selalu bersemangat untuk melintasi pinggir hutan Cadeby, dan bertemu dengan sosok pemuda bersurai perak yang kuketahui bernama; Wolfie.
Aku selalu datang setelah menaruh kayu bakar atau ember air ke gudang rumah dan berlari tanpa mempedulikan teriakan Charlie. Aku tersenyum geli ketika wajah Wolfie mendekat dan ia menggesek hidungnya ke pipiku.
"Kau wangi, seperti aroma kopi."
Wolfie menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, kemudian memberi satu kecupan ringan dipipi kananku. Aku kembali tersenyum, ah rasanya akhir-akhir ini otakku mulai tidak waras. Aku mengaku sejak pertama kali melihat sosok Wolfie, aku memang sudah jatuh hati. Tetapi, bukankah terlalu cepat untuk meresmikan hubungan baru kami?
"Clara,"
"Ya?" Jawabku, aku mengelus rahang Wolfie lembut. Terasa dingin, namun tidak ada tanda-tanda dari mimik wajah pemuda dihadapanku ini yang menunjukkan bahwa ia kedinginan.
"Ada yang ingin kukatakan terus terang padamu," Wolfie menyentuh punggung tanganku yang masih bertengger di pipinya saat ia berkata demikian.
Lantas, aku mengernyit dan melayangkan tatapan seolah 'apa yang ingin kau katakan?' Bisakah aku percaya diri bahwa ia hendak menyatakan cinta padaku? Oh, sepertinya aku harus merubah kebiasaan burukku agar tak mudah dicampakkan kedepannya.
"Mungkin besok,"
Wolfie tersenyum, sedangkan aku terdiam. Terlalu berharap memang hanya membawamu pada rasa kecewa.
"Perkiraan cuaca mengatakan bahwa besok akan ada badai salju,"
"Tidak akan ada badai salju besok."
"Kenapa kau berkata seolah yakin? Setidaknya kenakanlah jaket atau apapun yang bisa melindungimu dari dinginnya salju, Wolfie. Kau hanya mengenakan pakaian tipis,"
Pemuda dihadapanku hanya terkekeh saat aku berkata demikian, posisi kami yang semula nyaris saling menindih di balik pohon kini berubah saat Wolfie menarik diri untuk menjauh dan duduk bersila dihadapanku.
Ia melirikku yang menatapnya bingung. Dan senyuman Wolfie kian melebar seiring dengan kedua matanya yang perlahan berubah warna. Menjadi merah.
Aku bergeming, menatapnya dengan tatapan terkejut dan tubuh yang tiba-tiba bergetar. Apa maksud dari semua ini?
"Seperti yang kau lihat, Clara. Sejak awal aku memang bukan manusia, kau satu-satunya warga desa yang bisa melihat dan menyentuhku. Dan hal itu juga menjadi sebua tanda tanya besar dalam benakku selama dua minggu ini," ujar Wolfie, ia tidak berhenti menatapku.
Sedangkan aku, rasa takut justru kian menguasaiku ketika Wolfie dengan gesit menahan pergelangan tanganku dan menutup mataku dengan tangan yang satunya.
Aku tidak cukup berani membuka mata ketika aku merasa sesuatu yang berbulu justru mencekal pergelangan tangan dan menutup sebagian wajahku. Sampai keduanya terlepas, ketika aku membuka kelopakku, yang ku temukan bukanlah sosok Wolfie, ataupun sosoknya yang hilang tanpa jejak.
Melainkan sosok serigaka putih dengan tubuh manusia dan ia mengenakan pakaian yang seingatku adalah pakaian yang dikenakan Wolfie barusan.
Nafasku tercekal, namun detik berikutnya aku malah menghembuskan nafas. Sosok itu tersenyum, matanya yang berwarna merah tampak menyenduh menatapku.
"Seperti inilah aku, Clara. Seperti yang kau lihat, aku adalah sosok mahkluk mitos yang sering dibicarakan para tetua desa." jelas Wolfie, aku masih bergeming dengan bibir yang terkatup rapat.
"Tapi, kau nyata."
Wolfie terkekeh, ia beralih menghadap padaku. Tangannya yang kekar dan berbulu terangkat, berakhir dipipiku kemudian ia mengelusnya lembut. Namun, perlakuannya justru membuat sekujur tubuhku bergetar. Aku tidak takut sama sekali. Justru tubuhku bergetar karena Wolfie ada bersamaku.
"Clara, kau takut?"
Aku menggeleng.
"Tapi, kau gemetar."
"Itu karena kau ada bersamaku,"
Wolfie tersenyum, lalu perlahan wajahnya berubah menjadi sosok manusia seperti semula. Ia masih melukis senyum lebar.
"Clara, aku mencintaimu."