Lumina Aetheris, perempuan berambut keemasan yang kini memandang cahaya bulan begitu sendu. Di antara buku-buku kuno yang hampir semuanya pernah ia baca, matanya menerawang kehidupan makhluk-makluk kecil ajaib yang bermain di antara cahaya bulan.
"Lihat, betapa bahagianya mereka tertawa satu sama lain," Ungkapnya kelu.
Saat ungkapan itu terucap, entah dari mana asalnya, seekor burung raksasa menghampiri makhluk-makhluk kecil yang asyik bermain itu. Matanya merah menyala. Indra tajam Lumina otomatis merespon kejahatan yang menghampiri kedamaian cahaya para makhluk kecil itu. Diambilnya panah di belakang tubuhnya, lalu ia lajukan anak panah itu ke arah burung hitam besar yang hampir saja memasukkan makhluk-makhluk kecil itu ke dalam mulut busuknya. Meski jaraknya cukup jauh, cahaya yang Lumina lajukan bersama anak panah itu telak menghabisi sang burung besar. Makhluk-makhluk kecil yang tadinya riang bermain, kini ketakutan sembari berlarian pergi ke tempat asalnya.
Lumina menghembuskan napas kesal, "Ck, pasti setelah ini mereka semakin mewaspadaiku. Apa sebaiknya aku pergi saja dari negeri yang katanya penuh cahaya ini?"
Malam itu, Lumina makin merutuki keadaan. Dia tidak peduli pada apa yang akan terjadi. Selama ia mengikuti kata hatinya, ia akan baik-baik saja. Lumina berlalu dari jendela kamarnya, ia memilih pergi tidur bersama alunan lagu para peri. Ya, itulah Lumina. Perempuan dengan kekuatan cahaya, yang memiliki indra setajam belati, dan mampu berkomunikasi dengan para peri–makhluk yang dibenci penduduk negeri Luminar.
***
"Thena! Buka pintunya! Suruh keluar anak tak tahu diri itu!!"
Fajar pagi hari baru saja menyingkir dan berganti posisi dengan matahari. Burung-burung berkicau indah. Alam masih sangat teduh. Berbanding terbalik dengan kehadiran beberapa penduduk Luminar yang kini diliput amarah. Mereka baru saja menemukan seekor burung hitam raksasa yang tak berdaya. Pasalnya, itu burung yang dianggap sebagai penguasa langit. Mereka bahkan memanggil mereka sebagai burung penjaga kedamaian.
"Thena!! Keluar kau atau kami hancurkan rumahmu!!!"
Perempuan paruh baya yang rambut keemasannya digelung ke atas sudah cukup terbiasa dengan kondisi seperti ini. Lagi-lagi, pasti anaknya yang bermasalah. Meski kali ini ia tidak tahu keributan apa lagi yang dilakukan putrinya. Tapi dia mana pernah peduli? Athena selalu memihak anaknya karena ia tahu kebenaran sedang redup di negeri yang kini dipimpin penyihir dengan kekuatan gelap.
"Ibu, biar aku saja yang keluar," Ujar Lumina tenang.
"Tidak usah, mereka hanya akan makin menggonggong. Ibu akan keluar, oke?"
"Tapi kali ini... "
"Sudahlah, Lumi. Kau tunggu saja di perpustakaan."
Lumina memilih menyerah, ibunya benar-benar keras kepala. Ia hanya berharap, masalah yang ia timbulkan hanya akan berlalu, meski hatinya gentar untuk itu.
"Kalau masalah memburuk, kali ini aku akan turun tangan, Bu," Lirihnya. Lumina yakin hatinya tidak pernah berbohong. Jadi ia sudah merencanakan banyak hal jika masalah kian membesar. Tidak sulit untuk Lumina dengan kekuatan cahaya yang ia miliki untuk bisa pergi tanpa hambatan–meski harus menyakiti orang-orang berhati busuk itu.
Ibunya mengangguk, "Ingat, Lumi. Kalau kau percaya aku, jangan pernah keluar dari perpustakaan itu." Yang diajak bicara hanya diam, dan berlalu pergi. Itu sudah kali ke sekian ibunya memberi peringatan yang sama.
Lumina keliru jika ia mengira bisa menyelamatkan diri dengan mengorbankan orang-orang yang tak tahu apa-apa. Justru semua itu hanya akan memperumit arah kekuatannya. Dan ibunya tahu betul itu. Ibunya tidak akan pernah membiarkan hal buruk terjadi pada putri sulungnya.
"Ada apa?" Ujar Athena ketika membuka pintu.
"Mana anakmu yang kurang ajar itu, ha?!"
"Kali ini masalah apa lagi yang dia timbulkan?!"
Lalu seorang lelaki dengan tubuh tegap mendekati Athena, ia mencengkram lengannya erat, "Ikut kami sekarang agar kamu tahu betapa buruknya anakmu itu!"
Meski sudah paruh baya, kekuatan magis yang Athena miliki tidak pernah bertambah lemah. Ia masih bisa dengan mudah mengontrol beragam elemen bumi. Maka ketika tangan itu mencengkram tangan Thena begitu erat, ia gunakan kekuatannya untuk hendak menghujam lelaki itu dengan kayu di sekitar rumahnya. Kayu itu berterbangan, lalu satu persatu hampir berjatuhan di atas kepalanya.
"SIAL!!!!" Teriak lelaki itu sembari melindungi kepalanya dengan kedua tangan kekarnya.
"Berhenti," Setelah ucapan itu keluar dari mulut Thena, kayu-kayu yang berterbangan berhenti tepat di atas kepala lelaki itu.
"Jika sekali lagi kamu menyentuhku, bahkan besi-besi pun bisa aku hujamkan padamu. Paham?" Ujar Thena bengis. Lelaki itu lalu menurut demi keselamatan dirinya. Penduduk lain pun hanya bungkam sembari menahan benci.
Semua penduduk negeri Luminar tahu bahwa Thena adalah bangsawan yang jatuh karena adanya rumor tentang kekuatannya yang membuat beribu makhluk jahat memporak porandakan negeri Luminar.
Saat itu suaminya yang ditugaskan berperang mempertahankan kedamaian negeri malah dituduh berkhianat karena membocorkan rahasia pertahanan negeri Luminar pada musuh.
Awalnya raja tak percaya dengan tuduhan itu karena tahu betul bagaimana setianya suami Athena–yang tidak lain adalah putranya sendiri. Tapi anak tirinya, Forcas, menggunakan kekuatan hitam dengan bantuan musuh untuk mempengaruhi mental raja dan para penduduk Luminar.
Sejak saat itu, Athena yang saat itu mengandung putrinya, Lumina, diasingkan. Sedangkan suaminya dieksekusi karena dianggap pengkhianat kerajaan.
Maka negeri Luminar berubah sejak kepemimpinan Forcas. Burung besar yang sejak dulu menjadi musuh, kini malah menjadi hewan yang dipuja-puja. Peri yang dulunya menjadi makhluk yang mengindahkan negeri dengan cahayanya, kini menjadi makhluk yang dibenci karena dianggap bersekutu dengan suami Athena yang bisa berkomunikasi dengan peri. Maka sejak itu, tidak ada yang mau mengobrol dengan keluarga Athena. Bahkan ketika melahirkan pun, dukun anak yang tak tega hati melihat kesusahannya, langsung menerima hukuman penjara sebab dianggap bersekutu dengan penjahat. Meski begitu, tak ada satu pun penduduk yang berani menyakiti Athena dan keluarganya, karena mereka mengakui kekuatan besar yang dimiliki mereka.
"Dasar perempuan tak tahu diri!! Sekarang kau pergilah lihat kelakuan anakmu itu. Lihat perbuatan busuk apa yang dia lakukan pada binatang suci kami!" Ujar seorang penduduk dengan amarah menggebu.
Mendengar itu membuat hati Athena mulai merasa takut. Ia berlari ke arah yang ditunjuk penduduk. Hatinya cemas, "Lumina... Kenapa kamu tidak pernah mau menurut?" Keluh Athena.
Lumina bukannya lupa, ia sering diwanti-wanti agar tidak mencari masalah pada burung besar itu. Tapi semalam ia tidak bisa menahan diri lagi. Sudah cukup baginya melihat peri-peri itu mati. Ia hanya ingin menyelamatkan makhluk-makhluk kecil yang tertawa di antara cahaya bulan itu.
Ketika Athena tiba di tempat yang dimaksud, matanya terbelalak ketika melihat panah bertuliskan nama Lumina menancap tepat di jantung burung itu. Tubuh burung yang hitam langsung membeku biru. Di sampingnya Forcas melihat panah itu sembari tertawa.
Penduduk yang baru tiba menyusul Thena langsung duduk menunduk sebagai tanda penghormatan pada Raja Luminar. Sedangkan Thena dibuat sangat khawatir. kekuatan Lumina belum cukup kuat, Thena masih harus melatihnya. Ia belum bisa lapang jika Lumina harus melawan Forcas sekarang.
"Hahaha, ternyata tebakanku benar. Dia memiliki kekuatan nenek moyangnya kan?"
"Jangan sok tahu, Forcas. Urus saja urusanmu," ujar Thena sembari berlalu pulang. Namun sialnya, langkah Thena dihadang oleh para pengawal kerajaan.
"Mau kemana, Thena? Panggil anakmu, baru aku akan melepaskanmu," Ujar Forcas.
"Cih, tidak sudi aku mengenalkan anakku padamu!"
"Aku tidak menyangka jika dia memiliki kekuatan cahaya seperti nenek moyangmu dulu. Kekuatan indah yang bisa menguasai seluruh semesta. Tidaklah kau tertarik untuk menguasai seluruh semesta denganku, cantik?" Forcas mendekatkan wajahnya pada Thena.
PLAK!!
Tak sabar menghadapi Forcas, Athena mengeluarkan kekuatan yang seharusnya tidak boleh ia keluarkan. Kekuatan turun temurun dari ibunya, pengendalian mental. Ia tau kekuatan itu memiliki batas waktu jika digunakan hanya pada kebaikan, maka saat masih ada waktu itu, ia gunakan untuk membekukan pikiran penduduk sekejap, lalu mengendalikan pikiran Lumina dari jauh. Lumina harus membaca buku kuno itu sekarang. Ia harus pergi dari sini untuk sementara waktu.
Di balik jendela perpustakaan itu, Lumina tanpa sadar mencari sebuah buku di dalam lemari terkunci. Ia tiba-tiba saja mengetahui kunci untuk membuka lemari itu. Diambilnya sebuah buku, lalu ia baca. Tepat di halaman ke 10, ia berhenti membaca.
"Apa yang terjadi padaku?" Ujarnya.
Sementara di tempat lain sana, kekuatan Athena telah habis waktunya. Dan inilah bagian terburuknya, usai habis waktu pengendalian mental untuk kebaikan itu, maka secara otomatis Athena akan memanfaatkan kekuatan itu untuk sebuah kejahatan. Ya, Athena belum bisa memgontrol kekuatannya dengan baik.
Melihat kekuatan yang melingkupi Thena, Forcas yang sudah terasah kekuatammya bisa dengan mudah melumpuhkan Thena. Ya, mereka memiliki kekuatan yang sama karena Forcas memliki hubungan darah dengan Athena.
Sementara Lumina masih bingung dengan buku di hadapannya. Ia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya, tapi nihil. Ia sama sekali tak mengingat apapun.
"Buku apa ini?" Ujarnya.
Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah aksara dalam buku yang berterbangan. Huruf-huruf itu kemudian membentuk sebuah kalimat mantra penuh cahaya. Usai mengucapkan mantra itu, Lumina dilingkupi cahaya terang. Tubuhnya tiba-tiba memasuki portal magis yang membuat tubuhnya melewati beragam elemen yang belum pernah ia lihat. Ia berteriak ketakutan. Usai ia berguling di antara waktu, tubuh Lumina terjatuh di antara hutan-hutan yang wanginya semerbak.
"Huft! Astaga. Dimana aku?"
Lumina mencoba melihat sekitar, ia sungguh tak mengenali tempat itu. Pohon-pohon tinggi dengan wangi semerbak itu semakin membuatnya bingung. Wanginya begitu semerbak, tapi kenapa membuat penglihatannya berkunang? Hingga di satu titik tubuhnya tak lagi mampu menahan kunang-kunang yang menari di kepalanya dan ia tertidur lelap di antara pepohonan itu.
***
"Cari anak tak tahu diri itu! Kemana pun perginya tidak akan jauh dari sini!" Titah Forcas. Ia telah mengurung Athena, kekuatan mental yang dimiliki Athena sangat lemah. Jadi ia cukup mudah untuk melumpuhkannya dengan beberapa mantra hitam.
Setelah bangun dari pingsannya, Athena menyadari bahwa tubuhnya semakin lemah dengan mantra hitam Forcas yang diikatkan padanya. Tapi ia sungguh lega, sebab telah membuat Lumina membaca buku itu. Di halaman berapapun Lumina berhenti, ia akan tetap dibawa masuk ke dalam dunia buku.
"Setidaknya, dia akan belajar banyak hal dari mereka. Eldorin, ku titip dia. Semoga kau mengerti kode dariku," Lirih Athena lalu kembali terlelap.
***
3 tahun berlalu...
Seorang perempuan dengan rambut keemasan kini bersemedi di tengah-tengah sungai, di atas batu yang melayang sejak seminggu lalu. Sudah sebulan dia di sana, memperdalam teknik ilmu jiwanya untuk bisa kembali ke dunia yang selama ini ia rindukan.
Eldorin, lelaki paruh baya yang melatih perempuan itu hanya bisa menunggu Lumina menyelesaikan semedi. Ini sungguh langka, murid-muridnya yang lain tidak sampai membuat batu melayang saat sedang semedi. Tapi kalau dipikir ulang, dengan kekuatan Lumina tiga tahun lalu, kejadian unik ini kemungkinan besar pasti terjadi. Eldorin bahkan tidak sabar menunggu keajaiban lain yang akan dimunculkan Lumina.
"Guru, apakah Lumina belum selesai juga semedinya?" Sapa seorang lelaki bertubuh gagah, telinganya panjang, rambutnya coklat tua. Di kalangan elf, wajahnya terkenal mempesona.
"Dia sepertinya menemukan dunia magis lain dalam semedinya. Lihat, batu itu bahkan melayang sudah hampir seminggu. Itu pasti karena kekuatan besar yang ia dapat dari proses semedinya," Eldorin menanggapi pertanyaan pemuda itu.
"Baiklah, sepertinya aku harus menunggu lebih lama," lanjut pemuda itu.
"Hahahaha, pemuda zaman sekarang tidak bisa menahan rindu barang sebulan! Jangan lupa dunianya berbeda denganmu, Aldarian!"
"Eh, bukankah guru pernah bilang bahwa memungkinkan jika aku tinggal di dunianya?"
"Ya, jika dia merubah keadaan. Jika tidak, kamu bakal mati dibenci semua penduduk sana," ujar Eldorin terkekeh.
"Ah, hanya dibenci. Mati saja aku rela untuknya," Timpal Aldarian santai.
Mendengar ucapan sok pahlawan itu membuat Eldorin terbahak. Dia kenal betul dengan murid yang satu itu. Aldarian, pemuda yang menjadi muridnya sejak usianya masih tujuh tahun. Semua pelatihan Eldorin membuat pemuda bermata biru itu menjadi panglima paling kuat di kerajaan negerinya.
Ia mengenal Lumina saat menemukannya pertama kali di hutan. Wajah cantik Lumina membuat Aldarian jatuh hati. Ia membawa Lumina pada Eldorin saat itu. Ketika Lumina membuka mata, Eldorin langsung mengerti dari mana ia berasal. Mata hijau yang mirip dengan Athena, teman lamanya dulu, membuat Eldorin yakin bahwa ini kode yang pernah Athena ceritakan ketika ia masih mengandung Lumina.
Sementara di bawah alam sadar Lumina, ia mendengar suara ibu tercintanya. Ia mendengar doa-doa yang didapatkan sang ibu untuk keselamatannya. Lumina tidak yakin benar, tapi yang ia rasakan selama semedi, kekuatan cahayanya semakin meningkat. Ia hahkan bisa mengunjungi semesta lain dan mendengar suara yang ingin ia dengar.
"Lumina, jika kau sudah mendengar suaraku, maka patuhi yang aku katakan. Kembalilah jika kau sudah menaklukkan hati Pohon Kesedihan di selatan negeri tempatmu tinggal saat ini. Jika kau sudah bisa, maka kembalilah pada Ibu, Nak."
Suara itu menjadi suara terakhir yang akhirnya membuat cahaya Lumina semakin bersinar dan memecah batu yang ia duduki. Lumina membuka mata, ia melihat sang guru dan lelaki yang ia cintai terperangah ketika cahaya dalam tubuhnya meretakkan bebatuan.
"Lumina? Kau tidak papa?!" Tanya Aldarian.
Lumina langsung mengontrol dirinya dan melayang ke arah Aldarian. Dikecupnya pipi lelaki tampan itu, "Aku baik-baik saja, Al." Lelaki yang dikecup langsung memeluk Lumina. Semenjak bertemu dengannya, hal yang paling ia takutkan adalah kehilangan Lumina.
"Hormat saya, Guru," Ujar Lumina sembari membungkukkan badan.
Eldorin hanya tersenyum, lalu mengajaknya mencari makan di luar. Ia tahu Lumina pasti kelaparan. Perihal apa yang terjadi padanya, biarlah ia ceritakan nanti saja.
Sesampainya di tempat makan, Lumina memilih makanan favoritenya. Ia makan dengan lahap tanpa berkata-kata. Eldorin dan Aldarian hanya bisa menatapnya lucu, perempuan yang tiga tahun lalu laiknya orang linglung, kini lebih seperti anak kecil yang kekurangan makanan.
"Pelan-pelan, Lumi. Kau bisa tersedak," Ujar sang guru mengingatkan.
Lumina hanya tersenyum, "Maaf, Guru. Saya akan lebih pelan," Jawab Lumina sembari mulai memelankan tempo makannya. Tapi apa daya? Dia benar-benar lapar. Jadi dia hanya sedikit memelankan saja. Bahkan dari saking sedikitnya, Lumina masih tampak makan dengan cepat. Eldorin dan Aldarian hanya tertawa melihat Lumina.
Usai menghabiskan bermangkuk-mangkuk makanan, Lumina mulai menceritakan apa yang ia alami dalam semedinya. Ia juga menceritakan suara sang ibu yang ia dengar.
"Saya harus mencari pohon itu, Guru."
"Ah tega sekali dia. Ibumu yang membuat pohon itu bersedih, dan sekarang dia memintamu untuk membuatnya kembali tertawa?"
"Maksud guru bagaimana?" Aldarian kini ikut penasaran.
"Dulu, ibu Lumina pernah ke negeri ini. Ketika suaminya di eksekusi, dia menangis sembari mengelus perutnya di rumah kecil pengasingan. Lalu ia menemukan buku itu. Dulu, buku itu dijaga oleh pohon kebahagiaan. Pohon itu mendengar tangisan ibumu yang sangat pilu. Ia tak tega, dan pohon itu membuka buku itu sendiri. Ibumu terkejut bukan main, aksara dengan melodi kemudian berterbangan dan membentuk mantra. Saat itulah, penjaga buku ini memanggil ibumu untuk membuatnya bahagia."
"Lalu, kalau ibu bahagia, kenapa pohon itu bersedih karena ibu?"
Eldorin menggelengkan kepalanya, "Saat usia kandungannya menjelang tujuh bulan, pohon kebahagiaan itu melihat kesedihan dalam bayi yang dikandung ibumu. Dia meminta ibumu untuk menggugurkan kandungannya karena ia tidak ingin ibumu menderita. Tapi Athena mencintaimu lebih dari apapun. Maka ibumu memilih meninggalkan negeri dan membuat pohon kebahagiaan menjadi sedih berkepanjangan. Sebelum ibumu pergi, ia menyumpahi ibumu bahwa ibumu tidak akan pernah bisa pergi menemuinya lagi sampai ia memaafkannya."
Mendengar penjelasan panjang itu, Lumina menitikkan air mata. Ia sungguh merindukan ibunya.
"Kalau kau ingin ke sana, kau harus menguasai teknik 'Din Qolbu' terlebih dahulu, Lumi. Itu teknik yang tidak bisa ibumu pelajari karena dalam dirinya ada kecamuk dendam yang berpotensi membangkitkan kekuatan hitamnya. Tapi kamu, meski aku yakin ada kekuatan hitam yang juga diturunkan padamu, setidaknya kamu masih punya waktu untuk melatihnya."
"Saya mohon ajari saya, Guru. Saya tidak punya banyak waktu," Lumina memohon, ia benar-benar merasa harus cepat bertemu ibunya.
"Aku tidak bisa, Lumi. Hanya ada satu guru yang bisa mengajarimu. Pergilah ke utara negeri, di sana ada guru bernama Zang Xi. Dia hanya akan memilih murid yang dia sukai. Jadi, bersiaplah untuk berusaha keras."
***
"Ambil lagi airnya!"
Lelaki tua itu terus meminta Lumina mengambil air dari sungai dengan baskom yang berlubang. Sampai-sampai di rumah sang guru, air yang tersisa hanya sedikit. Ia bahkan harus menggenapi baskom besar di hadapannya. Kalau begini terus, kapan baskom besar itu akan terisi penuh?
"Guru, saya sudah melakukan hal ini selama tiga bulan. Apakah tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan?" tanya Lumina.
"Kenapa? Kamu menyerah?"
"Maafkan kelancaran saya, Guru. Tapi saya harus bergegas, saya harus segera belajar. Ada yang harus saya selamatkan. Ini sudah tiga bulan dan saya merasa tidak mendapatkan apa-apa."
Sang guru hanya diam melihat kegelisahan Lumina. Murid perempuan di depannya ini sungguh tidak tahu jika selama ini ia telah berlatih tahap pertama teknik Din Qolbu.
"Kalau begitu pergilah saja. Aku tidak murid yang tidak kompeten," Ujar sang guru. Ia menyukai Lumina karena mengingatkannya pada putrinya yang sudah meninggal. Kegigihan dan ketulusan dalam mata Lumina sungguh bercahaya. Jiwa murni Lumina juga ia sadari keberadaannya. Tapi seluruh kekuatan yang ia miliki akan luruh jika kekuatan hitam yang diturunkan dari leluhurnya tidak bisa ia kendalikan.
Mendengar ucapan sang guru, Lumina semakin kesal. Ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak ingin keluar dan menghabisi segala hal di dekatnya. Namun di antara pelik perasaannya itu, Lumina mendengar suara Athena. Suara yang memanggil namanya begitu penuh kasih. Maka seluruh keinginannya untuk marah lebur seketika. Ia mantapkan hati untuk lebih bersabar dalam persyaratan yang diberikan sang guru.
"Baik, guru. Saya akan kembali mengambil air."
Lumina bergegas mengambil air dari sungai. Kali ini ia menggunakan dedaunan untuk menutupi lubang-lubang kecil baskom itu. Usai itu, ia menggunakan beragam cara lainnya untuk bisa mempertahankan air dalam baskom. Ia gunakan barang-barang yang bisa ia temukan di sekitar jalan itu.
Setelah sebulan berlalu usai protes Lumina, baskom besar miliknya akhirnya terisi. Ia menghadap gurunya dengan hati senang karena hendak mendapat pembelajaran teknik Din Qolbu.
"Ceritakan apa yang kau dapatkan!"
"Mohon izin menyampaikan, Guru. Sebelumnya, saya minta maaf karena tiga bulan pertama, saya bahkan tidak mengerti dengan apa yang saya lakukan. Tapi sebulan terakhir, saya cukup mengerti. Pertama, persyaratan yang guru ajukan sebenarnya melatih saya agar bisa berusaha lebih keras untuk menyelesaikan masalah. Mencari solusi dengan berpikir dan beraksi. Kedua, ternyata untuk menyelesaikan semua itu, saya perlu kesabaran. Tidak mudah bolak-balik sungai ke rumah Guru. Banyak sekali hambatannya. Tapi jika saya menyerah, maka saya tidak akan pernah ada di titik berhasil seperti saat ini. Ketiga, saya tidak boleh tergesa-gesa dalam tiap proses, karena ketergesaan hanya akan berujung pada kesalahan."
Guru Zang Xi mengangguk puas, "Kamu hampir menyelesaikan teknik Din Qolbu, Lumina."
Lumina mengernyitkan dahinya, "Bukankah ini masih persyaratan, Guru?"
"Hahaha, persyaratannya hanya dengan kau berhasil datang ke sini tanpa diterkam makhluk buas itu sudah cukup. Maka sebenarnya kamu telah berlatih teknik pertama Din Qolbu."
Lumina menahan senyum yang ia tampakkan lebar-lebar, ia sungguh senang sekali dengan pernyataan dari gurunya ini.
"Selanjutnya, bacalah kitab ini. Tamatkan dan pahami maknanya! Sangkut pautkan dengan beragam latihan yang kamu lakukan. Setelah selesai, aku akan menguji pemahamanmu dan kau akan melanjutkan ke tahap terakhir: Pematangan Keseimbangan."
Lumina mengangguk paham, hatinya semakin membara. Dibisikkan nya nama Athena berkali-kali. Berharap ia mendengar lirih suaranya.
***
5 bulan kemudian
"Ini latihan terakhir. Jika kau mampu mengontrol dirimu dengan segala latihan dan pengetahuanmu sebelumnya, maka portal itu akan cepat terbuka dan membawamu ke hadapan pohon kesedihan. Tapi jika kau lupa dengan semua latihan dan pengetahuanmu, maka portal itu tidak akan pernah terbuka untukmu. Hanya mereka yang tulus dan bersabar yang akan lolos menguasai teknik ini," Ujar sang guru.
"Mohon doakan saya, Guru," pinta Lumina.
"Sekarang bergegaslah."
Lumina langsung menunduk hormat pada Zang Xi. Ia akan pergi ke salah satu lautan yang ditunjukkan oleh sang guru. Ia akan melakukan latihan terakhir: bersemedi di dalam Goa tepi pantai. Lumina yakin, kali ini, semedi yang ia lakukan akan lebih sulit dari biasanya.
***
Dua minggu berlalu. Meski semedi kali ini Lumina dihadapkan dengan beragam makhluk magis kuat yang hendak menggoyahkan konsentrasinta, tapi semua itu berhasil ia hadapi. Selama dua minggu ini, Lumina memiliki ilmu mental yang lebih kuat. Aura ketenangan memancar dari seluruh tubuhnya.
Hari ini Lumina merasa berbeda dari hari-hari biasanya. Dalam semedinya ia melihat ribuan pohon terbakar. Aura panas mengelilingi sekitarnya.
"Kau akhirnya datang juga. Apa kau hadir untuk menambah lukaku?"
Sebuah suara menggema, memperdengarkan kepiluan mendalam. Lumina berusaha tetap tenang menghadapi kejadian di alam bawah sadarnya. Sementara raganya bercucuran keringat. Tangannya gemetar. Suara itu benar-benar berhasil sedikit membuat Lumina goyah.
"Aku datang hanya untuk menyapa teman lama ibuku, Athena."
Jawaban Lumina membuat aura di sekitar pepohonan itu semakin panas. Merekan seakan-akan marah ketika mendengar nama Athena.
"Jangan-jangan... Ini dunia ilusi pohon kesedihan itu?"
"Kau datang mewakili seorang pengkhianat?!"
"Aku hanya ingin menyampaikan pesan penting darinya."
"Pesan penting apa maksudmu?"
"Ah aku tidak bisa mengatakannya padamu. Aku harus mengatakan itu pada teman lama ibuku, pohon kesedihan."
"Hahahahaha!! Kau pikir dia mau menemui anak yang membuatnya celaka?!"
Lumina diam sebentar, ia berusaha menenangkan dirinya di antara hembusan panas yang kini menyelimuti tubuhnya.
"Daun-daun melambai, tawa-tawa berdendang. Duhai hati yang merana, lihatlah cinta di sini... "
Lumina menyanyikan sebuah lagu yang sering ia dengarkan dari ibunya ketika kecil. Ibunya suka sekali menyanyikan lagu itu ketika Lumina menangis. Dan ajaibnya, ia bisa langsung tenang.
"Teruntuk dirimu yang kini menahan luka. Kemarilah, biarkan akun memelukmu.."
Perlahan, aura panas itu mereda. Suara tangisan yang sedari tadi menggema kini melirih, "Athena.... "
"Tidak sekali pun ia ingin menyakitimu. Dia menyayangimu sebagaimana kamu selalu menyanyikan lagu untuknya.. "
"Bohong.. Dia tidak akan pergi jika menyayangiku..."
"Tidak, justru dia harus pergi agar bisa menyelamatkanmu dan buah hati yang dicintainya.. "
"Menyelamatkan aku?"
"Bisa aku bertemu denganmu?"
Hening.. Pertanyaan Lumina hanya mendapat jawaban kosong dari suara yang sedari tadi menggema. Perlahan pepohonan yang sedari tadi tampak marah hilang. Jiwa Lumina pun tiba-tiba tak kuasa bertahan dan membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia membuka mata, lalu ditemukannya sebuah daun emas. Tertulis nama Athena di atas daun itu. Ia tidak paham dari mana asalnya.. Namun ketka ia menggenggam daun itu, sebuah portal terbuka lebar. Lumina tak perlu berpikir panjang untuk masuk ke dalamnya.
Setelah memasuki portal, ia menemukan sebuah pohon besar yang daunnya kering kerontang. Tubuh besarnya mulai rapuh. Di sekitarnya hanya ada pepohonan kecil yang juga mulai layu. Suasana di sekitar pepohonan begitu gersang. Tak ada rerumputan hijau. Udara yang berhembus pun begitu sesak.
Melihat pemandangan pilu itu, Lumina menunjukkan sebuah cincin bulan yang dipakainya sejak usianya beranjak tujuh belas tahun.
"Kata Ibu, cincin ini harus kuberikan pada sebuah pohon di waktu yang tepat nanti... "
"Sebuah pohon yang telah Ibu buat menangis."
Pohon Kesedihan itu tetiba mengguncang tubuhnya pilu. Ia menangis. Suaranya menggema di seantero hutan.
"Kamu mirip sekali dengan Athena.." Ujarnya.
"Awalnya aku tidak mengerti jika pohon yang Ibu maksud adalah dirimu. Aku sungguh meminta maaf padamu atas nama ibuku," Ucap Lumina sembari menundukkan kepala.
"Apa maksudmu bahwa dia ingin menyelamatkan aku?"
"Aku ingat cerita Ibu sewaktu kecil dulu. Ibu bilang, dia terpaksa pergi meninggalkan sahabat baiknya karena Ibu mendapat firasat jika musuh bebuyutan keluarganya hampir menemukan dunia yang Ibu singgahi saat itu."
"Kenapa memang jika ia menemukan dunia ini?"
"Forcas, musuh Ibu, telah mengetahui adanya dunia magis yang memiliki ribuan kekuatan unik. Dunia magis yang akan membuat anak dalam kandungan Ibuku saat itu menjadi manusia paling kuat dengan kekuatan cahaya dalam dirinya. Forcas ingin menguasai itu.. Itu sebabnya Ibu segera meninggalkan dunia ini, dan bergegas pergi menyembunyikan kunci masuk dunia ini," Jelas Lumina.
"Maka benar firasatku bahwa kamu–anak yang dikandung Athena dulu–hanya akan membawa kesengsaraan untuknya!" Pohon Kesedihan itu kini mulai menunjukkan amarahnya dengan menjadikan aura sekelilingnya menjadi panas.
"Harusnya dia tidak usah mempertahankan kamu!" Lanjutnya lagi.
Mendengar itu, hati Lumina cukup pilu. Apa yang dikatakan Pohon Kesedihan itu memang ada benarnya. Tapi apakah benar ibunya akan bahagia jika ia tidak dilahirkan?
"Harusnya dia membuangmu dan tinggal di tempat ini lalu mengunci permanen pintu masuk dari dunia itu," Pohon itu kini histeris. Ia menganggap Lumina benar-benar sebagai biang kesalahan.
Mendengar semua cercahan itu membuat Lumina tenggelam dalam imajinya. Benarkah ia telah menjadi pusat penderitaan ibunya? Tanpa terasa, air matanya jatuh menyapa cincin bulan yang dipakainya. Sekejap kemudian, sebuah cahaya meredam seluruh hawa panas, paras cantik Athena tiba-tiba muncul di langit.
"Lumina... Kebanggaan Ibu, cintanya Ibu.. Tidakkah kau menyadari bahwa kehadiranmu adalah sebuah anugerah untukku?"
"Ibu..... "
"Hei, Arkan. Jika cincin ini sudah sampai padamu, itu tandanya... Luminaku telah menangis di hadapanmu. Arkan, dengarkan aku. Aku tidak ada niatan mengunci dunia ini secara permanen karena itu akan mempengaruhi kebahagiaan penduduk negeri magis. Mereka akan terkurung di dunia ini, tanpa bisa berjelajah kemana pun. Kau tahu itu kan? Sungguh, aku tidak bisa berbahagia dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain. Lagi pula, Arkan. Aku mencintai Lumina sejak ia pertama kali singgah di rahimku sebagai daging yang belum berbentuk. Aku mencintainya sebab dalam dirinya aku selalu merasakan kehadiran suamiku. Arkan.. Aku juga menyayangimu. Kau sahabatku. Tapi sungguh aku tidak bisa terus bersamamu sebab itu akan mengancam duniamu. Aku bahagia, Arkan. Tidak bisakah kau juga mulai berbahagia? Maafkan aku karena tak bisa menemuimu. Sumpah serapahmu yang menolak kehadiranku sungguh kuat. Bahkan berkali kali aku mencoba masuk ke duniamu, tak ada satu pun yang berhasil. Maka ini adalah satu-satunya cara untukku bisa berbicara denganmu. Kembalilah bahagia, Arkan. Izinkan aku kembali menemuimu."
Usai mengatakan penjelasan panjang lebar itu, Athena tersenyum lalu menghilang. Hati Arkan kembali menghangat. Selama ini, ia bersedih karena merasa begitu bersalah pada Athena. Ia merasa tak bisa menjaga Athena. Ia merasa keterlaluan karena meminta Athena mengubur apa yang ia cintai. Dan ia terlalu pengecut untuk mengakui itu semua. Ia terlalu pengecut untuk menerima kesalahannya sendiri.
Perlahan, retak pada kayu Arkan mulai pulih. Dedaunan keringnya mulai menghijau. Rerumputan di sekitarnya mulai tumbuh. Hujan mulai turun. Pohon besar itu perlahan berubah menjadi seorang lelaki tampan nan gagah. Wajahnya berseri, namun matanya begitu sendu, dengan kantung mata yang begitu kentara.
"Lumina. Katakan pada ibumu, aku kalah. Maka datanglah kapan pun ia mau. Dan berikan kalung ini untuknya. Kau bisa membebaskannya dengan kalung ini. Lalu untukmu, pakailah panah bulan ini. Kurasa.. Kekuatan cahaya yang kamu miliki, telah matang dengan teknik Din Qolbu."
"Tuan Arkan, kini aku menemukan jawaban atas pertanyaan yang menggangguku sejak tadi.."
".... Bahwa kehadiranku, tidak peduli akan membuatnya bersedih atau bahagia, kehadiranku selalu ia cintai," Ujar Lumina sembari meneteskan air mata.
Arkan menggangguk, "Sebab kehidupan cinta itu bukan hanya tentang bahagia, melainkan jua tentang penerimaan."
Lumina dan Arkan saling berpandangan, hati mereka sama-sama telah melepas penat. Mereka menemukan cinta dalam tiap perjuangan yang mereka alami. Setelah ini, Lumina akan membawa Ibunya bertemu Arkan.
***
Setahun berlalu..
Usai pertemuan dengan Arkan, Lumina kembali ke dunia nyata dengan segala kekuatannya yang semakin gigih. Ia berperang melawan Forcas yang kuat dengan ilmu hitamnya. Kekuatan cahaya yang dipadukan dengan teknik Din Qolbu membuat Lumina mampu memutarbalikkan keadaan. Kalung bersimbol dedaunan yang diberikan Arkan pada Athena juga membuat kekuatan Athena berkali lipat. Lumina dan Athena melepaskan semua ilmu Hitam yang selama ini mengendalikan otak para penduduk negeri. Hingga akhirnya mereka mampu kembali menguasai kota. Dan buku menuju dunia magis itu selalu tersimpan rapat, kecuali untuk Athena dan Lumina.
"Arkan, tidakkah kau ingin berubah wujud menjadi pohon? Ini sedang hujan, loh."
Arkan yang merasa dimanfaatkan berdecak kesal, "astaga.. Gini banget si jadi pohon. Tapi tak masalah lah, selama bisa melindungi dua tuan putri tercinta," Ujarnya lalu merubah dirinya menjadi pohon besar yang rindang. Dedaunan begitu lebar di tiap batang dan rantingnya. Negeri magis kini makin berwarna dengan kembalinya sang pohon kebahagiaan. Begitupun dengan hati Lumina dan Athena. Hati mereka jauh lebih berwarna dan penuh cinta
***