GADIS YANG GAGAP SAAT JATUH CINTA
“Bahkan Diantara Perbincangan Kita, Aku Tidak Pernah Menemukan Jawaban yang Kuiinginkan”.
Tahu tidak di dunia ini ada banyak hal yang membuat kita bisa tertawa terpingkal-pingkal. Walaupun bagi orang lain hal itu tidaklah lucu, tapi dimatamu itu sangat berbeda, sebab kau telah jatuh cinta. Kau bahkan sudah tertawa lebih dulu meski itu tidak lucu, sama sepertiku saat melihat betapa konyolnya tingkah seseorang yang sangat aku suka. Seseorang itu adalah gadis yang aku rindukan saat ini.
Aku selalu memerhatikannya, melihatnya duduk termangu di pojok kelas, menatap luar jendela yang penuh dengan pemandangan paling mengasyikkan. Dia bilang padaku di luar jendela ada banyak hal yang lebih menarik dibandingkan ruang kelas, yaitu kerumunan anak-anak yang sedang bermain-main di lapangan sembari dipenuhi dengan peluh keringat ditubuhnya. Dia jelas sedang memerhatikan seseorang yang dia suka. Tapi hari itu, tiba-tiba saja matanya terbelalak saat seorang guru mendatanginya. Menegur dengan sedikit geram dan sinis.
“Gendis bisa jelaskan lagi kenapa Prabu Brawijaya menjadikan Putri Anarawati sebagai Permaisurinya?” tanya sang guru sejarah padanya, dia geragapan menjawab, lalu mencoba menjawab dengan sebisanya sembari memberikan senyuman paling ramah yang bisa diberikan kepada sang guru.
“karena Prabu Barwijaya jatuh cinta bu dengan Putri Anarawati, saking cintanya Prabu Barawijaya pada Putri Champa, Prabu Brawijaya bahkan merelakan untuk memberikan segala kekuasaannya termasuk menjadikannya seorang Permaisuri” ujarnya
“apa yang membuat Putri Anarawati bisa meluluhkan hati sang raja?” tanya sang guru sejarah lagi
“karena Putri Anarawati sangat cantik bu, seperti saya” ujarnya asal hingga membuat semua anak di dalam kelas menyorakinya.
Dasar gadis konyol, kepedean sekali dia mengatakan dia cantik, walau kuakui dia memang sangat cantik. Tapi bukan sejak hari itu aku jatuh cinta kepadanya, bukan juga karena dia sangat cantik. Aku telah jatuh cinta padanya sejak lama. Saat aku bahkan tidak tahu mengapa aku bisa jatuh cinta kepada gadis sepertinya.
Aku telah berkawan lama dengannya, dia adalah sahabat baikku. Aku tahu banyak hal tentangnya, bahkan laki-laki yang sedang dia sukai saat ini. Laki-laki yang membuat hatinya berdegup kencang, yang dia bilang seperti dia tidak mampu menatap matanya dan selalu ingin pingsan saat laki-laki itu balik menatapnya. Aku hanya pendengar yang baik baginya, dan aku hanya akan melakukan itu jika dia memang menginginkannya. Sama seperti hari itu, dia mengatakan hal yang sangat mengejutkanku dan yang jelas membuatku harus mundur untuk tidak berfikir memilikinya.
“katakan tidak?, katakan saja ya?, ahhh aku tidak bisa terus begini” ujarnya padaku
“kamu yakin?, kalau ditolakpun masih yakin?” tanyaku
“ditolak? Tidak masalah daripada aku hanya memendemnya, itu malah tidak baik untuk kesehatanku” jawabnya ringan
“ahhh, baiklah jika itu keputusanmu, tidak ada yang bisa aku lakukan, sebab itu pilihanmu” ujarku
Aku ingat benar hari itu, itu hari sabtu tepat sepulang sekolah. Dengaan langkah gontai penuh keyakinan, dia bergegas pergi ke lapangan basket dengan membawa sepotong coklat yang dia beli kemarin sore bersamaku. Sepotong coklat yang setengahnya telah diberikan kepadaku sebagai tester.
“Glen, bisa bicara sebentar?” ajaknya
“boleh, ada perlu apa?” tanya laki-laki itu
“aku mau ngomong sesuatu ke kamu?” ujarnya
“ngomong apa?”
“gua suka ke elo” ujarnya oada Glen, sentak membuat Glen tak mampu berkutik
“tapi tenang aja, elo gak perlu jawab apa-apa dan elo gak perlu jadi pacar gue, soalnya gue udah punya pacar” ujar Gendis
“hah?, terus?” tanya Glen yang jelas amat bingung menanggapi gadis paling anehdi depannya
“sebenarnya gue suka ke dia (Gendis menunnjukkan tangannya ke arahku, tapi jelas aku tidak tahu obrolan mereka berdua, tapi kamu paham bukan jika suka ke sahabat kamu sendiri, dan aku selalu gagap di depannya jika berbicara soal cinta” jelasnya
“owh iya ini coklat buat kamu, aku kasih setengah, yang setengah sudah buat dia, dan terima kasih atas waktunya ya” ujarnya hari itu.
Setelah urusannya usai, dia segera menemuiku lagi. Sambil mengatakan jika dia sangat lega telah menyampaikan perasaanya.
“aku sudah sedikit lega” ujarnya
“hanya sedikit?, kenapa?” tanyaku saat itu
“karna aku masih menunggu perasaan orang lain” ujarnya
“maksud kamu apa?, ada yang masih kamu suka?” tanyaku, dan yang jelas aku adalah laki-laki paling bodoh yang tidak memahaminya.
“jangan difikirkan, lain kali kalau aku sudah tidak gagap aku sendiri yang akan mengatakannya” jelasnya padaku
Sejak hari itu, saat aku mendengar bahwa ada laki-laki yang sangat dia suka. Aku memutuskan untuk berhenti mencintai dan berharap. Aku tidak akan membicarakan perasaanku padanya. Dan aku akan menerima jika aku dengannya hanya ditakdirkan menjadi sepasang sahabat dan tidak lebih. Tapi yang jelas, aku sangat peduli dengannya, aku hanya ingin dia terus mengandalkanku.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa pernah menyadarkanku bahwa aku masih menyukainya. Masih sangat ingin terus bersamanya, bermain-main bersama, melihat hal baru bersama. Tapi di akhir semester, aku tahu waktuku tidak hanya untuk bermain-main saja.ibuku cukup posesif, suka mengatur dan memaksa kehendaknya padaku. Semester akhir adalah waktu yang cukup berat sebab keiinginan ibuku agar membuatku masuk ke salah satu perguruan tinggi di luar negeri. Hampir setiap hari aku berdebat dengan ibuku, mengatakan berkali-kali jika aku tidak ingin pergi ke luar, tapinyatanya aku kalah, aku tidak bisa setiap hari berdebat hanya untuk mengatkan tidak dengan ibuku.
Saat itu sejujurnya aku sangat menysali satu hal, dimana aku tidak bisa bersamanya saat melewati hari-harinya yang cukup kesulitan, dan aku menyadari bahwa apa yang aku katakan aku akan selalu peduli dengannya, nyatanya hal itu tidak pernah kubuktikan. Lagi-lagi aku hanyalah laki-laki bodoh yang tidak bisa diharapkan.
“benarkah tidak ada waktu untuk pergi denganku besok?” tanyanya saat dia menelphoneku sore itu
“maafkan aku Gendis, besok bukan hari yang tepat” ujarku
“bahkan setelah kamu pulang lespun kamu tetap tidak bisa?” tanyanya
“yakin?, kamu yakin?” tanyanya sekali lagi, dan itu kata-kata yang hampir meluluhkan diriku”
“Gendis maafkan aku, aku bukan selalu menolak ajakanmu, tapi kau sangat tahu bukan keadaanku?” ujarku mengelak, padahal jelas aku hanyalah pengecut.
“iya baiklah aku mengerti, jangan menjadi beban” ujarnya, terdengar suaranya mulai merendah aku tahu dia sangat kecewa.
Hari itu adalah percakapan terakhirku dengannya. Kalian tahu mengapa dia begitu memaksaku pergi?, aku baru ingat saat sudah terlambat, bahwa hari itu adalah hari ulang tahunnya. Padahal dia hanya ingin mengajakku pergi ke taman hiburan, menghabiskan waktu bersama sembari menikmati permen kapas kesukaannya. Bodoh sekali, padahal jelas aku pernah berjanji padanya soal itu, tapi aku sendiri yang telah mengingkari janjiku. Usai Ujian Nasional berakhir, aku semakin sibuk dan tidak memiliki waktu. Ibuku semakin terobsesi denganku. Dan yang sangat aku sesali sekali lagi adalah saat hari perpisahan di sekolah. Di hari perpisahan, aku sama seklai tidak melihatnya, tak ada kabar apapun darinya. Semua media sosial yang dia miliki tidak bisa dihubungi. Aku sangat mengkhawatirkannya saat itu, benar-benar aku merindukannya seperti dulu. Seperti saat aku bisa berdamai dengan diriku walau aku tidak pernah mampu memilikinya. Tapi semua yang aku harapkan di hari perpisahan itu sia-sia, dia hanya memberikanku selembar surat yang dititipkan lewat seorang kawan.
Hari ini, hari ini aku masih menyesali semuanya. Aku sudah memakai setelan jas terbaik yang bisa aku kenakan. Hari ini hari pernikahannya, aku datang seorang diri, melihatnya memakai gaun oengantin yang sangat indah berwarna coklat emas dengan balutan ragam aksesoris di tubuhnya. Aku melihat tawanya, senyumnya dan keramahan yang masih jelas terpancar di wajah yang sama. Aku merasa wajah itu tidak pernah berubah, selalu membuat hatiku tenang. Aku beruntung penah menyukai wanita sepertinya, walaupun aku tidak pernah berani mengatakannya. Dan aku jelas sangat beruntung bahwa gadis sepertinya pernah menyukai laki-laki sepertiku. Dan aku merasa bukan dia yang gagap saat bersamaku, tapi akulah yang selalu gagap saat bersamanya. Laki-laki bodoh yang tidak pernah paham dan mengerti yang membiarkan hatiku pergi begitu saja.
“selamat atas pernikahanmu” ujarku sembari menyambut tangan yang selalu hangat
“terima kasih Anjar, dan terima kasih juga atas kedatanganmu. Kau harus segera menyusul” ujarnya
“aminnn semoga saja Gendis, terima kasih pula untuk banyak hal, aku beruntung memiliki sahabat sepertimu” ujarku
“iya, akupun begitu aku juga beruntung bertemu seorang sahabat sepertimu, juga orang yang membuat keberanian dalam diriku semakin tumbuh”ujarnya
“semoga kau bahagia” ujarku sekali lagi mengucapkan kata yang indah bersama doa yang selalu ingin aku berikan kepadanya
“kau juga, kau juga harus bahagia” ujarnya.
Malam itu aku mengakhiri kisah klasikku bersamanya, bersama seorang gadis yang selalu berani menghadapi persoalan bahkan perasaaannya sendiri dengan keberanian yang tak pernah aku miliki. Aku bukanlah orang beruntung yang bisa memilikinya, tapi aku tetap merasa beruntung sebab dia pernah mencintaiku. Terima kasih untuk cinta yang tidak bisa aku utarakan dan aku balas.
“Surat untuk Anjar”
“menulis surat ini membuatku sangat gugup, aku telah memikirkannya berkali-kali mengapa sampai aku harus menulis surat kepadamu. Aku tidak tahu bagaimana reaksimu saat membaca surat ini, tapi aku tidak akan berfikir panjang lagi sebab mengatakannya kepadamu adalah hal penting bagiku. Aku tidak menginginkan balasan apapun, yang bisa aku katakan hanyalah tidak ada laki-laki di sekolah ini yang ingin membuatku pingsan selain sikapmu kepadaku, tidak ada laki-laki pula di sekolah ini yang bisa membuat jantungku berdegup kencang selain kepedulianmu, dan tidak ada laki-laki yang membuatku gagap selain dirimu yang selalu mendengarkanku setiap waktu. Aku beruntung dan aku berterima kasih, jangan katakan penyesalan, sebab tidak ada yang disesali. Kau harus menuruti dan mendengarkan ibumu. Bagaimanapun hanya ibumu yang tahu hal baik untuk anaknya, aku akan bahagia, kaupun juga harus bahagia. Maafkan aku jika aku belum mengatakan langsung kepadamu, ada sedikit masalah di rumah, jadi surat ini aku titipkan kepada Lula ya. Tidak perlu dibalas, sebab aku akan hibernasi untuk sejenak.”
“Narendra Gendis Azahra"
THE END
INUYHAW IRS INE, 01-03-2018