🚫 WARNING 🚫
*Semua dunia yang ku lihat adalah palsu...* kata Rhelly dalam hati dengan wajah lesu.
Berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi, sekolah beraktivitas seperti biasa, tapi siapa yang tau Rhelly selalu di rundung di sekolah, teman sekelasnya selalu membully dia, anak yang terlihat lemah.
Rhelly memiliki seorang kakak laki-laki yang bernama Eriko ia sangat cerdas dan selalu menjadi juara satu di sekolahnya.
Rhelly hanya anak biasa, dia cukup pandai walau hanya di 10 besar. Tapi dia tidak mendapatkan beasiswa, hanya murid 5 besar yang mendapat beasiswa, itu mengapa kakaknya yang baik hati membagi beasiswa untuk adiknya.
Mereka berdua cukup hidup dengan sulit, lebih sulit lagi Rhelly, ayahnya tidak pernah menyukainya, ayahnya sangat kejam selalu memukul ibu juga Rhelly di rumah dan Eriko selalu di kunci di kamar oleh ayahnya saat ayahnya sedang menyiksa Rhelly dan ibunya.
Eriko sangat menyayangi Rhelly, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Di sekolah perbedaan sangat terlihat, Rhelly selalu di bully oleh temannya kadang di suruh mengerjakan tugas temannya Atau di kunci dalam toilet, kakaknya tidak tau kalau adiknya di rundung sebab Rhelly tidak ingin mengganggu kebahagiaan kakaknya di sekolah, dan saat di sekolah Eriko selalu mendapat perlakuan baik, juga populer, banyak yang mengaguminya.
Walau begitu saat di rumah, Rhelly dan dan ibunya selalu tersenyum lembut, ibu bilang pada Rhelly untuk selalu menyembunyikan masalahnya di sekolah pada Eriko.
Ibunya juga sangat mencintai Eriko, *aku selalu sendirian, semua luka di tubuhku oleh pukulan ayah dan juga bullyan teman-teman, sejujurnya aku sudah muak dengan semua ini...* Kata Rhelly dalam hati.
------
Musim semi yang indah bunga-bunga bermekaran, Rhelly memandangi langit, Rhelly yang sedang belajar di kelas, kakaknya datang membawa tas menjemput Rhelly untuk segera pulang, dengan raut wajah pucat.
*Kenapa?...* Rhelly yang bertanya-tanya.
Ada polisi yang menjemput mereka berdua, semua itu masih jadi pertanyaan, *kakak yang biasanya banyak bicara menjadi diam, suasana di mobil polisi terasa hening hanya suara mesin yang terdengar...*
🌸🌸🌸🌸
Pak polisi mengantarkan mereka pulang, memberitahukan kalau ibunya telah tiada dan ayahnya berada di kantor polisi.
Ibunya telah tewas di tangan ayahnya karena pukulan keras dari botol kaca.
* Kak Eriko menangis terisak-isak, tapi aku tidak tau harus berekspresi seperti apa, aku hanya diam dengan wajah datar, mungkin karena rasa sakit ku lebih parah, setelah bertahun-tahun aku tersiksa oleh hidup ini...*
* Di rumah hanya tinggal kami berdua, melihat wajah kakak yang masih berduka, aku hanya bisa membuatkan telur dadar untuk kita makan.*
* Saat di sekolah teman-teman di kelasnya, berbela sungkawa atas apa yang terjadi pada Eriko, mereka berlaku baik.*
*Tapi.... *
* Di kelas teman-teman mengejekku, mereka semakin menindasku atas apa yang terjadi di keluargaku, mereka terkadang memukul, menendang perutku, itu sangat menyakitkan, bahkan wali kelas pun tidak ingin ikut campur, ia melontarkan kata-kata kasar padaku saat aku mengadu karena di bully dan malah menyalahkanku...*
* Kakakku yang semakin baik keadaannya, dan keadaanku yang semakin memburuk, kakak sudah bisa bersikap normal, dia membuat sarapan untuk kita berdua.*
Di sekolah hari-hari semakin sulit. Malam hari Rhelly pergi ke kamar orang tuanya, ia ingat sebuah kota rahasia yang di simpan oleh ayahnya.
Rhelly membukanya ada sebuah pistol yang ayahnya sembunyikan sebenarnya dari awal Rhelly sudah tau isi kotak itu.
Pagi hari mereka berdua pergi ke sekolah dan menuju ke kelas masing-masing, di kelas seperti biasa Rhelly selalu saja di ganggu kali ini mereka menaruh permen Karet di kursinya dan itu membuat celana Rhelly terkena permen karet yang sulit di hilangkan.
Saat jam pelajaran, sekali lagi Rhelly memberanikan diri untuk mengadu pada wali kelas yang baru saja tiba.
" Pak dia menaruh permen karet di kursiku dan ini menempel di celanaku..." Kata Rhelly.
" Mana buktinya?..." Kata Febrian yang menaruh permen karet.
Rhelly berharap teman-teman sekelasnya menjadi saksi mata atas perilaku Febrian hanya sekali ini saja Rhelly memberikan kesempatan mereka memberikan saksi.
******
"Ah ya... Ternyata semua hewan di sini sudah membusuk..." Kata Rhelly dengan senyuman tertunduk, karena teman-teman di kelasnya tidak berkata apapun.
" APA-APAAN KATA-KATA MU ITU?... ATAU KAMU YANG MAKAN PERMEN KARET ITU..." kata wali kelas dengan nada meninggi.
*Semua teman-teman di kelasnya hanya tersenyum menyeringai, mereka suka melihatku seperti ini...*
"Yah baiklah..." Kata Rhelly yang mengambil sesuatu di kolong meja dengan wajah dingin.
(BUM)
Suara tembakan yang di lontarkan ke kepala wali kelasnya, * tepat sasaran *
Wali kelas tergeletak dengan bersimbah darah.
Semua murid di kelas berteriak.
Rhelly menembak teman-teman yang membullynya dangen membabi-buta, dan tepat sasaran, semua murid di kelas berhamburan keluar.
Saat peluru habis, Rhelly memasang peluru baru yang ia bawa di sakunya.
Kelas lain merasa heboh mendengar suara teriakan para siswa.
Guru di kelas lain bilang untuk tenang dan mengecek keluar. Melihat keadaan kelas sebelah yang kacau. Juga darah yang membasahi lantai putih.
Guru itu berteriak sangat keras, siswa lain keluar mengecek melihat dan terkejut, mereka semua panik.
Salah satu siswa dari kelas penembakan bilang kalau ini ulah Rhelly yang sudah gila, dia membawa pistol.
Rhelly melintas mencari teman-teman yang membullynya, guru dan siswa yang lain mencoba untuk menghentikan Rhelly tapi ia malah mengarahkan pistolnya ke mereka dan mengancam mereka jika bergerak sedikit saja peluru ini akan keluar.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa, salah satu siswa pergi ke kelas Eriko dan bilang adinya menembak guru juga siswa lain.
Eriko merasa tidak percaya tapi suara gemuruh di lantai 2 terdengar sangat heboh. Mereka pun berhamburan keluar kelas dengan panik.
Eriko berlari mencari adiknya, merasa panik karena hanya adiknya keluarga yang tersisa.
******
Rhelly menemukan 1 temannya lagi dan menembaknya, teman yang membullynya tewas.
*Hanya tinggal 1 di peluru terakhir...*
Rhelly yang sempat lihat satunya pergi ke atap sekolah, Rhelly pergi ke sana, wajahnya benar-benar dingin.
Eriko mencari adiknya dan siswa lain memberi tau kalau Rhelly menuju ke atab sekolah.
Eriko bergegas ke sana.
Eriko sudah sampai di atap sekolah, melihat adiknya membawa senjata, dan seorang siswa yang tewas di hadapannya.
"Rhelly?..." Kata Eriko dengan wajah sedih juga panik.
" Ah kakak, jaga diri kakak baik-baik, terimakasih kak, selamat tinggal..." Kata Rhelly dengan senyuman lembutnya, ia mengakhiri hidupnya dengan terjun dari gedung sekolah.
" TIDAK RHELLYYYYY...." Kata Eriko yang meraih tangan Rhelly tapi sudah terlambat, Rhelly pun tewas.
Berita tv meliput kejadian di sekolah, semua sudah terungkap ada seorang siswi yang mengatakan dengan jujur kalau Rhelly di rundung dan di siksa oleh teman-teman sekelasnya, Rhelly sudah mengadu tapi wali kelas tidak mendengar kannya, karena takut kelasnya menjadi buruk, karena tingkah laku murid-murid yang buruk.
Eriko merasa kalau selama ini dia tidak pernah tau apa-apa soal penderitaan adinya, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri seumur hidup.
TAMAT