Rumah Susun
"Mak, sejak pindah ke mari, kenapa Mamak gak pernah masak daging lagi? Bosen lah, Mak! Masa tiap hari kita cuma makan tempe, tahu dan ikan asin," protesku pada Mamak.
"Sabarlah, Tong! Daging susah didapat di sini. Kalau pun ada, harganya mahal," kata mamakku yang masih asyik menyetrika baju.
Kami baru tiga bulan pindah ke rumah susun ini. Sebelumnya kami tinggal di kolong tol yang dekat dengan bantaran kali.
Aku merasa lebih bahagia tinggal di sana. Di tempat itu aku mempunyai banyak sekali teman main, tidak kesepian seperti di tempat ini.
Teman-temanku sering sekali ada yang hilang. Para tetangga mengatakan mereka diculik untuk dijadikan tumbal. Banyak bangunan tinggi yang dibangun di ibukota ini, juga jembatan-jembatan yang gagah membentang. Semua itu memerlukan tumbal biji mata anak-anak seusiaku, begitu kata para tetanggaku dulu.
Sebagai seorang anak kecil yang berpikir polos, aku mempercayai begitu saja apa yang dikatakan para tetanggaku. Apalagi mamak dan bapakku membenarkan hal itu.
Setelah kolong tol tempat kami tinggal digusur dan kami semua 'ditertibkan' maka tinggallah kami sekarang di sini, di rumah susun sangat sederhana sekali.
"Aku bosan, Mak. Pengennya makan daging, bukan ikan asin mulu, ikan asin mulu." Aku membanting piring makanku yang terbuat dari bahan seng.
Piring kucing, aku menyebutnya seperti itu. Dulu aku mendapat piring itu dari hadiah lotre yang dijual di sekolah. Aku senang sekali waktu itu dan hingga kini piring kucing itu menjadi piring kesayanganku. Aku tidak mau makan jika tidak menggunakan piring itu.
Mamak hanya menghela napas melihat kelakuanku, kemudian melanjutkan pekerjaannya menyetrika baju.
Karena kesal, aku memutuskan untuk pergi bermain saja. Mandi di bantaran kali dekat tempat tinggal ku dulu pasti sangat menyenangkan. Kebetulan tempat itu tak begitu jauh letaknya dengan rumah susun yang kami tinggali sekarang ini.
Di bantaran kali, aku bertemu dengan Firman, teman mainku dulu. Firman berbadan tambun dan usianya beberapa tahun di atasku. Namun kami duduk di kelas yang sama, kelas tiga sekolah dasar.
Firman disayang guru-guru, karena itu sering tak naik kelas, begitu kata orang-orang yang menjadi tetanggaku dulu. Ada-ada saja. Tapi aku yakin Firman tidak naik kelas karena dia bodoh.
"Hay, Man! Ngapain kamu di sini?" teriakku menyapa Firman.
"Aku kangen tempat ini, Yan. Aku kangen mandi di kali kayak dulu. Lha kamu, ngapain kamu ke sini?" Firman balik bertanya.
"Aku juga kangen tempat ini. Dulu waktu tinggal di sini, mamakku sering masak enak. Rendang, rawon, soto, krengsengan daging, pokoknya yang enak-enak deh. Sekarang nih, sejak pindah ke rusun, tiap hati mamakku masak tempe, tahu dan ikan asin mulu. Bosen banget aku, Man."
“Harusnya kamu itu bersyukur masih ada lauk untuk dimakan, Tong! Aku saja lebih sering makan cuma sama garam, kecap atau kerupuk. Tapi karena aku selalu bersyukur badanku jadi subur seperti ini,” kata Firman sok bijak.
Aku mencibir. “Beda level kali, kamu sama aku. Kamu emang bakat jadi orang susah, beda sama aku yang berbakat jadi orang kaya.”
“Terserah kamu mau ngomong apa dah, Tong. Asal kamu bahagia aja.”
Aku mengambil sebutir kerikil, dan melemparnya ke tengah sungai. Firman mengikuti jejakku. Memang temanku satu ini tak pernah punya insiatif sendiri, bisanya cuma meniru.
“Tong, boleh gak aku main ke rumahmu?” tanya Firman.
“Mau ngapain?” tanyaku sambil terus asik melempar batu ke kali.
“Minta makan ke mamakmu. Sedari pagi aku belum makan nih, Tong. Mamakku gak punya beras untuk dimasak.”
Aku menghela napas. Benar kata Firman, aku kurang bersyukur. Makan dengan lauk ikan asin membuatku marah, padahal ada temanku yang malah gak bisa makan karena mamaknya tak punya beras.
“Hayuk dah! Mamakku masak ikan asin goreng, sayur asem dan sambal terasi,” ajakku pada Firman.
Sobat tambunku itu tampak menelan liur, pasti dia sedang membayangkan sedapnya masakan yang baru saja kusebutkan.
“Hayuk, Tong!”
Aku mengajak Firman pulang ke rumah. Tak kusangka mamakku menyambut kami dengan senyum lebar dan sikap yang ramah. Kelewat ramah malahan.
“Wah Firman, tambah ganteng saja kamu. Gitu dong main ke sini. Si Entong selalu uring-uringan karena gak ada teman,” sambut mamakku.
“Iya, mamak Entong. Firman sekarang juga jarang main sejak pindah ke rumah susun. Kebetulan saja kami tadi bertemu dan Entong ngajak saya main ke sini.” Firman mengambil hati Mamak, pasti supaya ditawari makan.
“Kamu sudah makan apa belum?”
Kulihat Firman tersenyum lebar, tujuannya tercapai sudah. Temanku itu menggeleng dengan cepat. Mamak mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan sayur, sambal dan lauk pauk untuk Firman. Temanku itu makan dengan lahap.
“Tong, tolongin Mamak dong! Antarkan setrikaan ke tempat Bu Endang! Nanti Mamak janji akan masakin bakso daging kesukaan kamu.”
Dengan senyum lebar dan wajah berbinar aku menuruti perintah mamakku. Sambil bersiul aku mengantarkan setrikaan ke rumah pelanggan setia Mamak. Kutinggalkan Firman yang masih asyik makan.
Pulang dari rumah Bu Endang, aku tak mendapati Firman lagi. Namun aku tak peduli karena kulihat Mamak sedang menggiling daging untuk dibuat bakso. Hmm, aromanya sangat menggoda indra penciumanku.
Beberapa hari berikutnya, Mamak selalu memasak menu daging. Semur, rawon, soto, kerengsengan juga dendeng daging yang sangat kusukai. Ada juga abon yang bisa kubawa sebagai bekal sekolah.
“Gini dong! Tiap hari masak daging, Mak. Jangan tempe, tahu dan ikan asin mulu,” kataku pagi itu sebelum berangkat ke sekolah.
“Mamak jadi semangat masak, lihat temanmu yang gendut itu makan. Lain kali ajak lagi teman yang gendut main ke sini ya, Tong! Biar kita bisa makan daging,” kata Mamak sambil mengelus kepalaku.
Aku mengangguk, sebelum mencium tangan Mamak dan pamit berangkat ke sekolah. Dalam hati aku berniat mengajak Dani, temanku yang juga gendut untuk bermain ke rumahku, karena aku sangat suka makan daging.
Tamat.