Akhir pekan biasanya digunakan oleh orang-orang untuk liburan dengan keluarga ataupun bersama pasangan mereka, dan itu termasuk dengan Rendra dan Siska yang memutuskan untuk liburan ke puncak. Rendra dan Siska sudah berpacaran sejak mereka masih kuliah dan hubungan mereka hingga sekarang berakhir ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Mereka sendiri baru menikah sekitar tiga bulan lalu dan masih terhitung pengantin baru dari pernikahan mereka, namun kebersamaan mereka selama empat tahun lebih tidak mungkin bisa mereka lupakan.
Saat ini mereka masih dalam perjalanan menuju daerah puncak, selama perjalanan mereka saling mengobrol merencakan hal apa saja yang akan mereka lakukan di puncak nanti serta rencana untuk masa depan mereka nantinya. Hingga tak terasa mereka sampai di depan villa yang mereka sewa untuk beberapa hari ke depan, Rendra memang berniat menghabiskan akhir pekannya disini dan akan kembali pada minggu sorenya. Namun karena Siska yang tiba-tiba merajuk entah karena apa hingga akhirnya Rendra menyewa villa untuk beberapa hari sekalian melakukan honeymoon yang sempat tertunda.
"Akhirnya, sampai juga." Gumam Siska sambil membaringkan tubuhnya ke atas ranjang empuk di depannya.
Rendra yang melihat tingkah laku istrinya yang masih belum berubah hanya tersenyum sambil menggelegkan kepalanya, sebelum akhrinya ikut berbaring di samping tubuh istrinya.
"Setelah ini mau kemana menurutmu, sayang." Ucap Rendra pada Siska yang telah menghadap ke arah suaminya tersebut.
"Hm, enaknya sih liat sunset tapi bakal telat kalau berangkat sekarang, jadi gimana menurutmu, sayang, berangkat liat sunset atau tidak?" Jawab Siska sambil berpikir bingung mau berangkat melihat sunset atau tidak.
"Kita masih punya waktu, sayang. Mengapa tidak kita berangkat saja melihat sunset? Momen keindahan itu akan menjadi pelengkap liburan kita." Rendra tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya sambil mengusap lembut punggung Siska.
Siska tersenyum sambil menganggukan kepalanya setuju, dan keduanya pun mulai bersiap-siap untuk menikmati momen romantis melihat sunset di puncak bersama-sama. Saat matahari mulai turun, mereka berdua membiarkan keajaiban alam itu mempererat hubungan mereka yang penuh cinta.
Mereka melangkah keluar dari villa, dengan tangan mereka yang bersautan, menuju puncak yang menawarkan panorama spektakuler. Saat matahari perlahan tenggelam, langit dipenuhi warna-warni yang memukau. Rendra dan Siska duduk bersama di tepi bukit, membiarkan keheningan malam menyatu dengan kebahagiaan mereka.
Disaat bersamaan pula, mereka kembali teringat akan pertemuan mereka untuk pertama kalinya. Dimana saat itu mereka tidak sengaja bertemu di bawah pohon rindang di halaman belakang kampus, saat itu Rendra sedang asik berbaring menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Hingga kesenangannya dirusak oleh Siska yang datang dengan suara yang berisik sehingga membuatnya terganggu oleh karenanya.
Disaat mereka saling mengingat pertemuan pertama mereka, hingga keduanya saling bertatapan dan tersenyum ketika meningat momen lucu pertemuan pertama mereka, dibawah pohon rindang halaman belakang kampus mereka dulu.
"Ingat, sayang, momen pertemuan kita. Kala itu kamu benar-benar mengacaukan kedamaianku di bawah pohon itu." Ujar Rendra sambil tertawa kecil saat mengingatnya.
"Aku ingat itu, dan berkat momen itulah yang membawa kita pada perjalanan indah ini, bukan?" Siska membalas dengan senyuman khasnya, yang membuat Rendra terpesona dengan senyuman khasnya itu.
Rendra mengangguk setuju, lalu mereka kembali merenung, menikmati keindahan matahari terbenam yang memercikkan warna emas di langit. Sambil bersama-sama menyaksikan pemandangan yang menakjubkan, mereka merasa bersyukur atas setiap momen yang membentuk perjalanan cinta mereka.
"Hm, setelah ini mau kemana lagi, Sayang?" Tanya Rendra sambil melihat ke arah wajah cantik istrinya.
"Bingung nih mau kemana, menurutmu enaknya kemana, Ren." Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Siska justru melontarkan pertanyaan balik sehingga membuat Rendra menghela nafas.
"Hah, gimana kalau kita cari kuliner untuk makan malam kita, Sayang?" Tanya Rendra sambil memberikan saran untuk mencari kulineran malam di daerah puncak ini.
"Sepertinya, itu ide bagus lagipula kita belum makan malam juga bukan." Jawab Siska sambil menganggukkan kepalanya setuju dengan saran dari suaminya tersebut.
Setelah menikmati momen indah sunset, Rendra dan Siska memutuskan untuk mencari kuliner malam di daerah puncak. Mereka berjalan menyusuri jalanan yang diterangi lampu-lampu kecil, mencari tempat makan yang menarik. Disaat perjalanan Rendra kembali teringat dengan momen kencan pertama mereka yang bisa dibilang kacau.
Dimana saat itu, Rendra kira kencan mereka akan menghabiskan waktu di tempat perbelanjaan. Namun dugaannya salah besar, karena mereka justru ke taman kota yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Tak hanya itu saja, selama kencan berlangsung mereka banyak makan kuliner yang tersaji di taman kota, dan yang makan lebih banyak daripada dirinya kala itu adalah Siska yang masih terus makan, dan setelah kencan mereka berakhir. Siska tiba-tiba saja muntah dan mengeluarkan semua makanan yang tadinya masuk ke dalam perutnya.
"Sayang, kamu ingat enggak kencan pertama kita di taman kota? Itu mungkin salah satu kencan paling berkesan kita." Ucap Rendra sambil mengingatkan momen kencan pertama mereka yang mengesankan baginya, namun tidak dengan Siska yang justru malu saat mendengar ucapan Rendra barusan.
"Oh, itu kencan yang agak memalukan, bukan? Aku masih ingat betul. Maaf ya, sayang, waktu itu aku makan terlalu banyak." Balas Siska sambil tersenyum saat mengingat momen yang cukup memalukan baginya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu justru membuat kencan itu berkesan. Aku senang karena kita bisa tertawa bersama, meskipun terjadi sesuatu yang tidak terduga." Ujar Rendra setelah tertawa melihat reaksi istrinya yang begitu menggemaskan baginya.
"Benar juga ya, walau agak memalukan tapi setidaknya itu menjadi momen lucu bagi kita. Dan lihat sekarang, kita masih bersama dan bahagia." Ucap Siska sambil menepuk perutnya pelan lalu tertawa saat mengingat momen tersebut.
"Betul sekali, Sayang. Semua momen itu membangun kisah kita, tak terkecuali dari yang lucu hingga memalukan. Bagaimana kalau kita menciptakan lebih banyak kenangan malam ini dengan mencari kuliner yang lezat?" Saran Rendra sambil tersenyum dengan pandangan terkasih pada wanita yang telah menjadi istrinya.
"Kedengarannya bagus, Ren. Ayo kita cari tempat makan yang enak di sekitar sini." Balas Siska sambil menganggukkan kepalanya setuju dengan saran pria yang menjadi suaminya tersebut.
Mereka melanjutkan perjalanan malam mereka, mengeksplorasi beragam kuliner yang ditawarkan di puncak. Sambil berjalan-jalan, mereka berbagi cerita, tertawa, dan menikmati setiap momen bersama. Malam itu menjadi saksi kelanjutan kisah cinta mereka yang indah. Hingga akhirnya, di bawah cahaya bulan dan bintang-bintang, Rendra dan Siska menemukan sebuah restoran kecil yang terasa sempurna untuk melanjutkan malam mereka. Mereka duduk bersama, menikmati hidangan lezat, dan bercerita lebih banyak tentang mimpi dan rencana masa depan mereka.
Setelah selesai menikmati hidangan lezat, Rendra dan Siska meninggalkan restoran kecil itu sambil berjalan bersama di bawah gemerlap bintang. Udara malam yang sejuk dan langit yang penuh bintang menciptakan suasana romantis, selama perjalanan menuju villa kedua tangan mereka masih saling bertautan bahkan mereka tidak ada niatan untuk melepaskan tautan mereka.
"Sayang, malam ini sungguh indah. Kita sudah melalui begitu banyak hal bersama, dan aku merasa sangat bersyukur memilikimu." Ucap Rendra tiba-tiba dengan senyuman yang masih terpatri dengan jelas di bibirnya.
"Aku juga bersyukur memilikimu, Ren. Setiap momen bersamamu adalah keajaiban dalam hidupku." Balas Siska sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan suaminya itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke villa, berjalan berdua di bawah langit malam yang cerah. Suara langkah mereka bersatu dengan kerlap-kerlip bintang di langit, menciptakan melodi yang mengalun indah. Ketika sampai di depan pintu villa, Rendra berhenti sejenak dan menoleh pada Siska.
"Terima kasih untuk malam yang luar biasa ini, Sayang. Aku mencintaimu lebih dari apapun." Ungkap Rendra sambil menatap mata istrinya dengan menyiratkan emosinya pada istrinya tersebut.
"Aku juga mencintaimu, Ren. Dan Terima kasih untuk segalanya." Di bawah taburan bintang, merea saling berbagi ciuman dengan penuh kasih sebelum memasuki villa mereka. Malam itu, dalam ketenangan dan kehangatan, mereka merayakan cinta yang tak terhingga bagi mereka berdua.