Sudah tiga tahun lamanya aku meninggalkan desa tempatku dilahirkan, dan setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya aku sampai di gerbang desa kelahiranku. Di gerbang tidak ada seorang pun yang menantikan kehadiranku termasuk kedua orang tuaku, hal itu sudah wajar karena aku pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu kepada mereka.
Setelah melihat gerbang yang sepi, dengan perasaan yang campur aduk. Aku melangkah ke dalam desa, memikirkan bagaimana cara menyampaikan kedatanganku kepada orang tua dan sahabat masa kecilku yang mungkin merindukanku juga. Saat masuk ke dalam desa, warga desa yang melihat kedatanganku hanya tersenyum sebelum akhirnya melanjutkan akitvitas mereka masing-masing.
Aku memang tidak terlalu terkenal di desa yang terbilang besar ini, karena setelah lulus sekolah aku langsung merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. Dan selama tiga tahun, aku bekerja disebuah restoran sebagai assisten koki. Aku mendapatkan pekerjaan ini juga berkat bantuan dari teman-temanku di kota yang memperkenalkan owner dari restoran tempatku bekerja sekarang.
Dengan langkah hati-hati, aku melanjutkan perjalanan di desa yang sudah lama tak tinggalkan walau jalanan di desa tidak terlalu banyak berubah. Sesekali, kenangan masa kecil melintas di pikiranku saat melihat sudut-sudut yang dulu sering kunjungi bersama sahabat masa kecilku. Aku pun menuju kediaman orang tuaku, siap menyampaikan penyesalan atas keputusanku tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
Cukup lama berjalan, akhirnya aku sampai di depan rumah orang tuaku yang dulunya hanya berdinding kayu dan beratapkan jerami. Namun berkat uang yang aku kirimkan setiap bulannya, dan rumah itu sudah berdinding bata serta beratapkan genting, tak hanya itu saja ibuku sepertinya membuka warung kecil-kecilan untuk menambah pundi-pundi rezeki.
"Eh, Rizki kapan kamu pulang nak?" Ucap Ibuku yang baru saja membuka warung yang terkejut dengan kehadiranku di depannya.
"Ibu, barusn aku sampai dan maaf, ya bu. Aku karena tiba-tiba datang tanpa memberi kabar." Balasku sambil meninggalkan koper dan memeluk ibuku yang seperti akan menangis.
"Tak apa, nak. Ibu senang melihatmu kembali. Mari kita masuk dulu, nanti kita bisa bicara lebih banyak setelah ini." Ucap Ibu sambil melepaskan pelukan kami dan memintaku untuk masuk ke dalam rumah.
Aku hanya menganggukan kepala saja menurut, lagipula hari ini aku sangat lelah setelah perjalanan jauh dari kota. Saat di dalam, ibu kembali ke warung dan aku berniat membantu namun dilarang oleh ibuku sehingga aku hanya menurut saja. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk ke kamar yang sudah ditunjukan oleh ibu, dan sudah disiapkan jauh-jauh hari jika suatu saat aku pulang.
Di dalam kamar, aroma kenangan masa kecil masih terasa. Sudut-sudut yang familiar dan barang-barangku yang terawat dengan baik. Aku duduk sejenak di pinggir ranjang, sebelum akhirnya membaringkan tubuhku yang lelah dan tak berselang lama aku pun tertidur.
Beberapa saat kemudian, setelah cukup lama tertidur di kamar. Aku pun keluar dari kamar dan mendapati Ayah yang sepertinya baru saja pulang dari ladang milik kepala desa, tempat dimana Ayahku bekerja untuk memenuhi kebutuhan selain dari uang yang aku kirimkan. Ayah bekerja di ladang hanya sampai tengah hari saja disana, dan semua itu berkat saran ibu agar ayah menjaga kesehatannya.
"Oh, baru ingat rumah, kamu." Ucapan Ayah memang terbilang tajam nan menusuk, namun dari ucapannya terselip kerinduan akan kehadiranku sebagai anaknya.
"Maaf, ayah. Rizki baru bisa pulang sekarang, ngomong-ngomong Ayah sehatkan?" Tanyaku sambil menanyakan kabar tentang ayahku dan berjalan mendekat ke arahnya yang duduk di kursi ruang tamu.
"Sehat, bahkan jauh lebih sehat daripada saat kamu pergi merantau." Seketika aku kembali teringat dengan momen saat meninggalkan desa ini, dimana saat itu Ayah sedang sakit-sakitan karena terlalu banyak bekerja.
"Maaf, Ayah. Aku seharusnya lebih sering pulang dan membantu. Selama ini, aku hanya fokus pada pekerjaan di kota." Perasaan bersalah mengantui hatiku, ketika mengingat perpisahaanku dengan keluargaku dan teman masa kecilku.
"Tak apa, Nak. Ayah tahu kamu bekerja keras untuk masa depanmu. Hanya saja kami merindukan kehadiranmu di sini." Ayah tersenyum pahit, "Sekarang kamu sudah pulang, itu yang terpenting. Kita bisa menghabiskan waktu bersama, sebelum kamu ke kota lagi bukan." Tambah Ayah dengan senyum tulus.
"Iya, Ayah. Aku berjanji akan lebih sering pulang dan tidak mengabaikan keluarga lagi." Ucapku dengan tulus, setelah merasakan kehangatan keluarga setelah sekian lama. "Ngomong-ngomong, Ayah kabar Maya bagaimana ya?" Lanjutku sambil menanyakan kabar dari Maya teman masa kecilku.
"Maya, dia baik-baik saja kok dan kadang-kadang kesini cuma menanyakan kabar kamu, Nak." Balas Ayah sambil tersenyum padaku, seolah dia tau maksudku akan bertanya tentang Maya.
Kami pun melanjutkan percakapan, merencanakan momen-momen kebersamaan yang telah lama tertunda. Aku bersyukur bisa kembali ke desa, merajut kembali tali kasih dengan keluarga. Seperinya, keputusanku untuk pulang menjadi langkah pertama menuju penyatuan kembali hubungan yang selama ini terjalin erat di hatiku.
Setelah cukup lama mengobrol dengan Ayah, aku pun memutuskan untuk sekedar jalan-jalan saja dan siapa tau bisa bertemu dengan Maya teman masa kecilku yang paling aku rindukan selama tiga tahun terakhir. Aku dan Maya memang sering menghabiskan waktu bersama dikala kami sedang dilanda berbagai masalah, dan di saat itu aku dan Maya justru habiskan waktu kami di sebuah danau yang tidak jauh dari desa.
Kini langit sudah mulai memerah, menandakan kalau hari ini akan segera berakhir. Aku mulai bergegas menuju ke danau tempat biasanya aku dan Maya menghabiskan waktu disana. Cukup lama aku berjalan, hingga akhirnya aku sampai di danau yang aku maksud. Disana aku melihat seseorang yang sangat aku yakini itu Maya, teman masa kecilku yang selalu menemaniku disaat susah maupun sedih.
"MAYA!" Teriakku sambil berlari mendekat ke arah Maya yang terduduk di tepi danau.
"Rizki? Apa itu kamu?" Ucapnya yang terkejut dengan teriakkanku, dan mencoba berdiri untuk menyambut kedatanganku.
"Iya, ini aku Rizki dan aku selalu merindukanmu setiap saat." Ucapku lagi, sambil memeluk erat tubuh mungil gadis itu, dan Maya membalas pelukanku sehingga membuatku senang karenanya.
"Rizki, aku juga rindu padamu. Tidak pernah terbayangkan bahwa kamu akan kembali." Balasnnya dengan nada seperti ingin menangis. "Desa ini begitu sepi tanpa kehadiranmu disini, dan aku sangat merindukan dirimu." Lanjutnya dengan tersedu-sedu karena air matanya yang mulai keluar membasahi pipinya.
"Maafkan aku, Maya telah meninggalkanmu selama ini." Ucapku sambil menyeka air mata Maya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Rizki. Yang penting, kamu kembali." Ucap Maya sambil tersenyum di tengah isak tangisnya.
Kami berdua duduk di tepi danau, membagi cerita tentang tiga tahun perjalanan yang berbeda. Rasa canggung mulai hilang, dan suasana hangat persahabatan pun kembali terasa. Maya dan aku seperti kembali menemukan kecocokan kami, mengingatkan pada masa kecil yang penuh keceriaan. Cahaya bulan yang mulai bersinar di atas danau, membuat suasana diantara kami terkesan pas dan romantis.
"Aku rindu saat-saat kita bersama di sini, Maya. Dan aku berharap kamu mau ikut bersamaku ke kota, untuk membuat kenangan kita berdua lebih banyak daripada sebelumnya." Ucapku sambil menatap ke arahnya dengan harapan yang besar. "Maukah, kamu ikut denganku mengisi relung hati ini yang pernah kosong dan aku harap kamu mau mengisi relung hati ini." Kali ini, aku sangat berharap dengan Maya mau menerima ajakan atau bisa dibilang lamaranku barusan.
"Rizki, aku bersedia ikut bersamamu. Aku juga merindukanmu dan ingin membuat kenangan baru bersamamu di kota." Senyumannya membawa kelegaan dalam hatiku. Bersama Maya, aku merasakan kebahagian yang kembali kurasakan. Kami berdua pun bermimpi tentang masa depan di kota, merencanakan petualangan baru yang akan kami hadapi bersama. Dalam pelukan hangat dan janji untuk saling mendukung, kami menatap bulan bersinar di danau, mengakhiri hari dengan harapan baru yang penuh cinta dan kebahagiaan.