Hai, aku adalah Allie Samantha. Aku adalah anak terakhir dari lima bersaudara. Aku adalah anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga ku.
Awal hidup ku benar-benar bahagia dan ceria. Ayah ku memperlakukan ku layaknya seorang putri kecil nya yang berharga. Namun ibu ku meninggal saat hendak menjemput ku dari sekolah.
Dari sanalah sikap keluarga ku berubah. Daven Fugallur, dia adalah kakak laki-laki ku yang pertama. Satu-satunya orang yang tidak memfitnah ku. Dialah yang paling menyayangi ku, itulah yang aku pikirkan.
Namun, suatu hari saat aku baru saja pulang dari kampus, hujan deras turun.
"Uhmm, aku harus pulang dengan siapa? Bang Gion sudah pulang. Uhmm, mungkin bang Asa?"
Aku meraih ponsel ku dan menelpon pihak rumah ku dan senyum ku menghilang saat mendapat jawaban.
"Kamu bisa mandiri sedikit. Naik lah kendaraan umum."
Itu adalah jawaban dari ayah ku. Aku tersenyum pahit karena ayah ku lupa kalau aku memiliki trauma terhadap transportasi umum.
Hari mulai gelap dan hujan tak kunjung berhenti. Kulit ini sudah terasa sangat dingin. Aku hanya bisa meringkuk dan berharap seseorang menjemput ku.
Rasa dingin mulai merambat ke kepala ku yang membuat ku hampir kehilangan kesadaran. Namun aku mendengar ada seseorang yang memanggil ku.
"Allie, maaf, aku terlambat menjemput mu."
"Bang Daven?"
Bang Daven tampak khawatir pada ku. Dia dengan lembut menggendong ku di punggung nya dan membawa ku pulang.
Aku menutup mata ku dan perlahan semua gelap.
Saat aku bangun, yang aku lihat adalah ayah ku yang memandang ku dengan marah. Aku perlahan duduk dan sadar bahwa ada kain di kening ku.
Aku menoleh pada ayah ku. Saat aku hendak menanyakan sesuatu pada ayah ku, tiba-tiba satu tamparan mendarat keras di pipi ku membuat ujung bibir ini mengeluarkan darah segar.
"Dasar anak tidak berguna! Bagaimana kamu bisa membiarkan Abang mu sakit hingga pingsan!?"
Aku terkejut mendengar perkataan ayah ku dan hanya bisa terdiam shock. Aku memegang pipi ini yang terasa panas dan perih.
"T-tapi ayah, aku..-"
Belum sempat aku menyelesaikan perkataan ku, tiba-tiba satu tamparan keras diberikan lagi pada ku. Aku benar-benar shock hingga kehilangan keseimbangan ku.
"Jangan panggil saya dengan panggilan ayah. Saya tidak mau mempunyai anak pembunuh seperti mu."
Deretan kata-kata akhir yang keluar dari ayah ku benar-benar berhasil membuat air mata di mata ku mengalir di pipi ku. Aku menggigit bibir bawah ku mencoba untuk tidak menangis.
"Pergi dari rumah ini, saya tidak mau lagi merawat orang kejam dan tidak berguna seperti mu."
Suara keras terdengar saat pintu tertutup dengan ayah ku pergi begitu saja. Aku menangis dan memeluk kaki ku meringkuk.
"Ibu, aku lelah. Hidup berjalan sangat kejam. Allie ingin dipeluk ibu seperti dulu. Allie ingin dipeluk ibu saat Allie sedang hancur seperti ini.."
Aku menangis beberapa menit dan memilih untuk menuruti permintaan ayah ku. Aku mulai membereskan barang-barang ku sambil mencoba menahan tangis setelah mengingat banyaknya kenangan di rumah ini.
Aku keluar kamar sambil menarik koper ku. Aku bisa melihat keempat Abang ku sedang memandang ku dengan marah dan dingin. Aku menunduk dan segera berlari pergi dari sana sambil berusaha berhenti menangis.
Aku terus berlari tampak alas kaki. Berlari tanpa tujuan dan arah.
Napas ini sudah benar-benar sesak dan rasa sakit menjalar dari kaki membuat aku terduduk. Aku menoleh ke samping dan ternyata aku berada di tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelum nya.
Aku melihat sekeliling dengan kebingungan dan melihat disana ada sebuah pohon cemara cukup besar dan tinggi.
Aku mendekati pohon itu dan tersenyum lembut saat mengingat pohon Cemara ini adalah arti dari kebahagiaan dalam kekeluargaan.
Aku mendongak ke atas melihat betapa tinggi dan indah nya pohon Cemara itu.
Aku duduk di bawah nya dan bersandar. "Pohon ini benar-benar nyaman."
Tanpa sadar mata ini terasa berat hingga akhirnya otak ini beristirahat sekejap tanpa izin dari diri ini.
Tidur dalam nyaman nya bawah pohon Cemara ini hingga terdengar suara ayah ku dan empat Abang ku.
Aku membuka mata dan menetralkan cahaya yang masuk ke mata ini. Aku melihat samar-samar ayah ku menatap ku dengan marah sambil membawa pisau.
Aku menatap keempat Abang ku dengan heran dan menatap ayah ku dengan bingung.
"Apa yang kalian lakukan disini..-"
Belum sempat diri ini menyelesaikan kaliamat yang ingin aku tanyakan, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa datang dari arah dada ku.
Ayah ku menusukkan pisau nya hingga darah segar mengalir dan dengan kasar menusuk ku berkali-kali tanpa jeda.
Aku hanya bisa menbeku. Merasa sakit yang luar biasa datang dari dada ini dan dingin nya darah yang mengalir di tubuh hingga merembes menembus baju ini.
Salah satu Abang ku, bang Deril mengikat tubuh ku dengan tali dan tiga lain nya mulai mengikat tali ini di atas pohon Cemara ini.
Aku terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut ku. Aku melihat seringai dari keempat Abang ku dan ayah ku semakin melebar dari atas sini.
Aku tersenyum lembut dan berkata dengan lembut sebelum akhirnya semua gelap dan tidak terasa apapun lagi.
"Ayah, terima kasih sudah mau memberi ku akhir hidup yang menjadi pelajaran untuk ku di kehidupan selanjutnya.."
Yang terakhir aku lihat adalah perubahan ekspresi dari ayah dan keempat Abang ku.
Semua gelap, dingin... Dan hampa.