Lisa Milona adlah seorang siswi SMA Valhalla internasional, sekolah elit yang berisikan para siswa dan siswi cerdas dan berprestasi dengan latar belakang keluarga superior, sekolah yang telah memenangkan banyak sekali prestasi.
Dan siapa itu Lisa Milona? Dia adalah murid kebangaan dari sekolah ini, kelas tingakat pertama yang berasal dari keluarga yang sangat kaya raya dan prestasi yang di dapatkannya tidaklah sedikit, mulai dari kejuaraan sains bahkan olahraga pun ia jagonya, basket, voly, karate, renang dan lainya. Berparas sangat cantik membuatnya memiliki nilai plus menjadikanya idola bagi sekolah tersebut.
Tapi apa yang membuatnya berusaha keras untuk mendapatkan semua hal tersebut? Mungkin karna keluarganya, dia memang berasal dari keluarga terpandang tapi yang membuatnya bertindak seperti itu, karna dirinya ingin di akui oleh ayahnya, ayahnya yang selalu dan selalu sibuk membuat dirinya tak memiliki waktu untuk putrinya, ibu Lisa telah meninggal sejak ia di lahirkan, jadinya dia tak pernah merasakan bagaimana dirinya mempunyai seorang ibu. Dia kesepian walaupun banyak orang yang menyanjungnya tapi ia tak merasa senang.
orang yang berada di dekatnya hanya ingin mendapatkan perhatianya, ia merasa hampa.
....
Malam hari di taman kota, seorang pemuda denga jaket hitamnya sedang berjalan-jalan santai di taman ia hanya ingin menghabiskan waktunya setelah membeli beberapa minuman soda di kini market.
Karna rumahnya dekat dengan taman jadi dia bisa bersantai ketika pulang, udara dingin yang sejuk membuatnya ingin berlama-lama di taman tersebut, terlebih taman terlihat tak banyak orang membuat susana tenang.
"Gggrrrttt.... Gggrrrttt"
Getaran handphone di sakunya membuatnya teralihkan dan mencoba mengambil handphone dari saku jaketnya. Ketika dilihat ternyata itu adalah telfon dari seseorang.
"Hei ka... Belanjanya udah belum? Lama sekali.. " Suara gadis terdengar dari telpon tersebut.
"Iya iya udah, bersabarlah ini juga mau pulang" Balas pemuda tersebut.
"Cepatlah!! "
"Iya.. Aku tutup telpon ya lalu pulangg"
"Baiklah kalo gitu,.. Tuut" Telpon terputus
"Hadeh... Punya adik ga sabaran begini nih.. "
Pemuda itu menghembuskan nafas pasrah lalu duduk di dekat kursi panjang di dekatnya.
"Haah.... " Pasrah pemuda tersebut
Tanpa ia sadari ternyata ada seorang yang duduk di sampingnya sedikit jauh tapi pemuda itu menyadari nya, ketika ia melihat siapa yang duduk di sampingnya dia terkejut sedikit bahwa di sampingnya akan duduk seorang gadis yang amat cantik, dia berambut panjang dengang seragam sekolah yang masih ia kenakan, mata satu yang indah dan bulu matanya yang panjang terlihat sangat cantik. Tapi..
'Ni cewe cantik bukan main sih, artis kah? Tapi... Apa dia ga ngerasa dingin? Padahal malam ini cukup dingin loh.. 'Pikir pemuda tersebut heran.
"Gggrrrrddd"
'Suara apaan itu? 'Bingung pemuda itu dengan melihat sekeliling nya. Memastikan suara apa itu.
"Anu... Maaf itu... Suara perut saya" Terang siswa itu tiba-tiba.malu
Pemuda itu masih tak percaya suara perut kelaparan bisa sekeras itu.
'Beneran?? 'Pikir pemuda itu.
"Ggggrrrrddd" Terdengar lagi suara yang sama
"Maaf... "Ucap siswi itu.
'Loh beneran ternyata'
Ingin rasanya pemuda itu tertawa tapi ia tak ingin karna takut menyinggung siswi tersebut. Karna merasa kasihan pemuda tersebut mengeluarkan roti yang ia beli tadi lalu mencoba menyerahkan ya ke siswi itu.
" Ini ambilah" Tawar pemuda itu
Melihat roti itu terasa enak bagi siswi tersebut tapi ia harus menahanya harus.
"Tidak terimakasih... Aku tidak terlalu la-"
"Ggggrrrrddd" Suaranya kembali
Siswi itu malu, pipinya memerah karna malu tersebut, betapa tak sopan nya dirinya dengan seorang yang baru ia temui ini.
"PFFTT...HAHAHAHAHA" akhirnya pemuda tersebut tak bisa menahanya lagi.
Hali itu malah membuat siswi itu bertambah malunya, mukanya pun makin memerah.
"MAAF maaf... Aku tidak bisa menahanya lagi.. " Ucapa pemuda tersebut "tak apa ambilah ini walau tak seberapa taoi setidaknya itu bisa menahan lapar dikit.. Ini.. "
Karna tak bisa menahan lapar lagi terpaksalah dia mengambil roti itu.
"Maaf" Sambil mengambil rotinya.
Siswi itupun membuka dan mulai memakan roti rasa coklat yang diberikan tersebut, entah karna memang enak atau dianya yang sangat lapar menjadikan rasa rotinya sangat enak dan nikmat.
Pemuda itupun juga mengeluarkan roti dari bungkusan belanjaannya dan 2 minuman kaleng soda ia keluarkan juga.
"Ini" Ucap pemuda itu, "satu untukmu..."
" Terimakasih" Ucap siswi itu pelan.
"Sudah lah nikmati saja"
Pemuda itu juga membuka bungkus rotinya lalu memakannya, mereka berdua menikmati makan roti di tengah malam yang sejuk dan tenang tersebut.
"Mmm omong-omong kenapa kau disini malam begini?" Tanya pemuda itu
Siswi itu diam memikirkan kenapa dirinya berada di sini, hingga akhirnya dia menjawab
"Aku...aku hanya ingin sendiri.. " Jawab siswi itu.
Sebentar suasana menjadi canggung dan siswi itu berhenti memakan rotinya dan hanya melihatnya.
"Kau pasti punya masalah kan? " Pertanyaan pemuda itu melepas kecanggungan, "aku tak tau apa masalahmu, tapi menurut ku kau bisa sedikit menceritakan hal tersebut pada orang lain, walaupun mereka mungkin tak bisa memberikan solusi tapi setidaknya menceritakan ya membuatmu sedikit agak lega dan tenang, jadi.. Cobalah.. "
Apa yang dikatakannya memang benar, tapi...untuk siapa dia akan bercerita dan siapa yang akan mendengarkanya, keluarganya? Teman sekolahnya? Siapa? Lalu siswi itu melirik pemuda itu
"Aku.." Siswi itu buka bicara,"aku hanya merasa hampa"
'Hmm?'
"Banyak hal yang telah aku capai dan raih, tapi.. Aku merasa tak puas dengan semua hal itu, sebenarnya apa yang aku mau ya? " Jelas siswi itu.
Tiba-tiba tanpa siswi itu sadari air matanya perlahan turun, dan mulai menetes sedikit demi sedikit
Pemuda itu menyadari bahwa gadis yang sekarang ini di samping hanya seorang yang kesepian, dan dari wajahnya ia berasa tak pernah merasakan kehangatan.
"Um maaf..aku-" Ucap siswi terpotong
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh kepalanya dan mengelusnya lembut. Siswi itu melihat asal tangan tersebut.
"Tak apa" Ucap pemuda tersebut sambil tersenyum,"kau pasti lelah, jadi..istirahatlah sebentar" Ucapanya lembut
"Deg.. Deg"
Tiba-tiba jantung siswi itu berdetak kencang, lalu dia merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya ini adalah kehangatan, kehangatan yang belum ia rasakan dari siapapun, membuatnya tenang.
"Oh maaf, aku merasa kau seperti adiku jadi aku tanpa sadar menyentuh kepalamu" Gugup pemuda itu
"Tidak apa"
"Eh"
"Aku menyukainya jadi...tak apa"
"Ya ee"
Suasana canggung menghampiri keduanya sedikit lma hingga si siswi memberanikan membuka pembicaraan.
"Mmm omong-omong nama, namamu siapa? " Tanya siswi itu penasaran.
"Oh namaku Alfa, kau bisa panggil aku Alfa" Jawab pemuda itu.
"Alfa ya" Dia tersenyum, "kalo aku Lisa"
"Oh Lisa, salam kenal...kau- "
"Ttrrrdd... Ttrrddd" Getaran Handphone milik Alfa membuatnya berhenti dan mencoba melihat siapa yang menelfonya
"Halo.. " Panggil Alfa.
"KAKAKKKKK KAU DIMANA....?? " suara keras yang tiba-tiba itu membuat Alfa kaget
"Oh adiku gimana? " Tanya Alfa tak berasa bersalah.
"Hei kau dimana lama sekali makan malam sudah siapa dan kau belum pulang pulang" Geram adiknya dari seberang telfon.
"Iya maaf, ini aku akan pulang"
"Kakak dah bilang tapi ga sampai sampai"
"Iya maaf, ini aku pulang dan... " Alfa melihat Lisa, "Kira-kira ibu masak banyak tidak? "
"Hah memang kenapa?" Bingung adiknya
"Ada temanku yang ingin datang kerumah dan aku ingin mengajaknya makan dirumah kita gimana? "
....
Saat ini Lisa hanya mengikuti seseorang yang baru ia temui Alfa, beberapa saat yang lalu ia mengajaknya untuk makan di rumahnya dekat sini, awalnya Lisa menolak tapi Alfa memaksanya dan juga perutnya kembali berbunyi keras menyebabkan Lisa tak bisa mengelak lagi, jadilah dia ikut saja dengan Alfa.
"Ini dia kita sampai" Ucap Alfa didepan pintu rumahnya, lalu membukanya,"aku pulang... "
"Akhirnya pulang... "
Di depanya sudah adiknya yang melipat tangannya dengan ekspresi kesal.
"Kakak dari mana saja sih aku sudah nungguin kamu apa lagi.. Eh? "
Ketika Alfa masih cengengesan tak merasa bersalah, adik nya tiba-tiba terlihat kaget ketika melihat seorang gadis cantik di belakang kakaknya.
"Ayolah Lia maaf kan -"
Perkataan Alfa tak selesai sebab Lia adiknya berlari
"IBUUU.. AYAHHH... KAKAK PUNYA PACARR.. " teriak adik nya ke arah dalam
"EEEHHH...!!!" Kaget Alfa
"Hah kakakmu punya pacar" Suara ibu Alfa kedengeran sampe depan oleh nya
"Hedehh," Alfa hanya bisa pasrah, "Lisa mari masuk makananya sepertinya sudah siap, mari.. " Ajak Alfa
Alfa melepas sepatunya juga dengan Lisa, lalu mereka berdua ke dapur dan tatapan keluarganya tertuju kepada mereka berdua, Lisa tanpa sadar ppergu kebelakang Alfa karna merasa sedikit takut. Menyadari itu Alfa langsung menghembuskan nafas atas sikap keluarganya.
"Ayah, ibu, dan kau juga Lia, bisakah kaian bersikap biasa? Kalin membuatnya takut tau.. " Jelas Alfa
"Nak benarkah dia pacarmu? " Ayah Alfa angkat suara penasaran.
"Bukan yah... Dia hanya temanku, kebetulan tadi ketemu di taman jadinya kuajak kerumah buat makan malam bareng"
Sebentar suasana diam dan tak ada yang bersuara, sepertinya keluarga Alfa sedang bingung dengan situasi yang membingungkan ini
"Baiklah" Ucap ayah Alfa membuka keheningan.
"Kalau begitu Lisa kau duduklah dulu, aku akan berganti pakaian dulu, lalu ini Lia pesanan mu"
"Terimakasih kak... "
Alfa lalu pergi untuk berganti pakaian, sedangkan Lisa dipersilahkan duduk oleh ibunya Alfa, makanan telah siap dan para keluarga Alfa dah siap untuk makan malam, Lisa diambilkan makanan oleh ibunya Alfa,
"Ini silahkan"
Alfa yang telah selesai berganti pakaian keluar lalu duduk di sebelahnya Lisa.
"Hei kak" Panggil adiknya
"Dari mana kau ketemu dengan kakak cantik ini? " Lia adiknya mencoba untuk menggoda Alfa
"Makan saja lah "
Adik cemberut karna tak puas dengan jawaban Alfa.
"Kakak... Ka-"
"Ggggrrrrddd" Suara perut Lisa tiba-tiba terdengar lagu membuat suasana diam seketika.
"Suara apa itu?? " Lisa adiknya kebingungan, pun juga dengan orang tua Alfa
"Udah lah kalian, mari makan saja Lisa dah lapar dari tadi.. " Ucap Alfa melepas kebingungan keluarganya.
Keluarga Alfa sudah tak membingungkan lagi suara apa itu dan kembali fokus untuk mulai makan.
Saat makan Lisa melihat suasana yang begitu hangat, canda tawa antar keluarga membuat nya iri terhadap Alfa, seandainya dia bisa punya keluarga yang seperti ini.. Alfa juga adiknya baik mereka tidak ingin asik sendiri dan selalu membuat Lisa ikut mengobrol dengan mereka suasana ini membuat Lisa terharu. Tanpa ia sadari kembali air matanya keluar
"Oh maaf, maaf kan saya" Ucap Lisa sambil mengusap air matanya,"maaf.. "
Keluarga Alfa terdiam mengerti denga Lisa yang menangis tersebut, Alfa yang tidak ingin diam mencoba mengambil lauk lagi lalu menaruhnya di piringnya Lisa.
"Makanlah, jika kau lapar maka mampirlah kesini sesekali tak apa kami akan menyambut dirimu selalu, aku jamin" Ucap Alfa tanpa melihat Lisa dan fokus makan
Lisa menatap Alfa yang sedang makan dalam dalam, jantungnya berdegup kencang saat mendengar perkataan Alfa.
"Itu benar, kesini aja kak kalo kakak lapar, Lia bisa memasak sesuatu kalo kakak lapar kok" Dengan senyuman Lia mengatakan hal yang sama seperti kakaknya.
"Itu benar mampirlah sesekali" Kai ibunya yang mengatakanya.
Seluruh keluarga Alfa sangat menyambut Lisa dengan hangat membuat Lisa semakin hangat dan terharu, air matanya semakin tak terbendung lalu ia membuat senyum diwajahnya.
"Terimakasih... " Lisa mengatakan hal itu dengan senyuman terukir di wajahnya.
"Ayo selesaikan makannya" Ucap Ibu Alfa.
'Pengalaman ini aku tak akan melupakanya, walaupun mungkin ini hanyalah mimpi tapi tetap aku ku ingat ketika bangun' pikir Lia
Ia lalu melihat Alfa lagi
'Alfa mungkin... Mungkin diriku menyukaimu...'