Mitha gak seperti biasanya, hari ini dan kemarin ia terlihat lebih banyak diam. Bahkan bukan cuma diam Mitha pun lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar kost-kostan. Padahal ujian semester masih jauh; Dibilang sakit gigi, iya gak mungkin banget, soalnya dari semua penghuni kost-kostan, yang paling konsern dengan yang namanya kesehatan mulut dan gigi, iya cuma dia ini. Dikata datang bulan, lah dia baru selesai dua hari yang lalu, kurang lebih begitu pengakuannya pada Lisa, teman sekamarnya.
Jadi, kalau bukan karena semua alasan itu terus yang menjadi penyebab diamnya Mitha ini kira-kira apa iya, teman-teman sekostan kadung dibuat penasaran. Soalnya, si Mitha ini bukan tipikal cewek pendiam. Selain kesan tomboi bin urakan dalam penampilan si Mitha ini lebih banyak dikenal sebagai cewek yang periang, dominan, aktif bahkan cenderung agak emosional bin agresif (--alias bar-bar.) Iya, Mitha ini sangat jauh dari kesan yang namanya model-model introvert begitu.
"Mit, loe kenapa sih!?" Seseorang bertanya, dari balik pintu kamar yang separuh dibuka. Di belakang si penanya, lebih tepatnya dari balik punggung si penanya dengan sedikit agak menyembunyikan wajahnya, tiga orang lainnya menunggu dengan harap-harap cemas. Yang ditanya sejenak melirikkan mata kemudian balik menundukkan kepala.
"Mit, loe sudah tiga hari ini loh mendekam di dalam kamar," ucap si penanya sementara mereka yang bersembunyi dibalik punggung bak burung pelatuk serentak menganggukan kepala. "Loe ada masalah sama kita-kita!?" Lanjut si penanya. Lagi-lagi yang lain serentak menganggukan kepala.
Bermalas-malasan, yang ditanya menggelengkan kepala. "Terus kenapa dong!?" Kini keempatnya serentak bertanya.
"Gue ditembak." Mitha buka suara, dengan sedikit agak malas. Spontan keempatnya saling lirik satu dan yang lain. "Si Timur nembak gue!" Dengus Mitha. Keempatnya serempak kaget. "Apa!? Timur nembak loe!?"
Mitha menganggukkan kepala, ragu-ragu.
"Timur! Timur mantannya si..." Seseorang dari mereka bersuara, Mitha buru-buru menyela dengan anggukan kepala. Keempatnya ikutan mengangguk. Mitha kemudian berujar. "Loe tahu kan kalau gue itu..."
"Lesbong!?" Seseorang balas menyela Mitha. Selaan yang berupa candaan tentunya. Mitha pun merespon. "Sialan loe!!!" Sebuah bantal yang tergeletak disamping kirinya dia lemparkan ke pintu.
Seseorang dari keempat itu menghambur masuk. "Terus masalahnya apa!?" Ketiga yang lainnya kemudian menguntit dari belakang.
"Apa loe lupa kalau gue pernah..." Mitha berkata, namun belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya, seseorang dari mereka kembali menyela. "Menggampar muka tuh cowok!"
"Bukan cuma digampar tapi dihajar!" Ucap yang satunya sambil menuding-nuding. Yang lain lagi mengingatkan. "Eh, bukan cuma digampar dan dihajar tapi...."
"Menelanjangi itu cowok!" Cewek terakhir berucap sambil terkikik. Mitha hanya bisa mengangguk kaku.
"Terus masalahnya apa!? Kenapa loe sampai harus... Apa jangan-jangan loe ada hati sama dia!? Sejak peristiwa itu, hah!?"
Sekonyong-konyong Mitha berlagak pengen muntah. "Terus kenapa loe sampai sebego ini!? Pake acara diam-diaman, mengunci didalam kamar, kenapa!?" Ucap salah seorang dari mereka dengan begitu berapi-api bin kebingungan.
"Tuh cowok ngancam gue!!" Seru Mitha kesal. Seseorang dari mereka sontak kebingungan. "Ngancam bagaimana maksud loe!?"
Mitha hendak menjawab tapi seorang yang lain buru-buru mendahului. "Barangkali Mitha pernah kegep kencing berdiri sama si Timur.Gue kan pernah!" Ketiga yang lain melirik dan mendengus aneh kearah Mitha. "Bukan! Tapi..."Seru Mitha kesal.
"Tapi apaan!?" Mereka pun merespon bingung.
"Surat cinta gue ke bang Thomas," Mitha menyahut lirih. Sontak yang lain pada main lirik-lirikan. "Surat cinta!? Masih loe main surat-suratan!? Ya, Allah udah jaman Metaverse kayak begini!? Dasar cewek sok antik loe!!!"
Mitha mengangguk bego. Yang lain ngakak bin cekikikan. "Terus masalahnya kenapa!?" Satu dari mereka balik penasaran.
"Masalahnya..." Mitha tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Jangan kata loe ngancam si Thomas!?" Yang penasaran keburu menyela.
"Si Timur ngatai gue kalau, kalau surat cinta gue ke bang Thomas itu lebih pas kalau dibilang sebagai surat lamaran kerja ketimbang surat pernyataan cinta." Ujar Mitha, garuk-garuk kepala.
"Surat lamaran kerja!?" Keempatnya balik kebingungan. Mitha mengangguk sembari mendekatkan sebuah laptop kepada mereka, laptop yang sedari tadi cuma menggeletak di ranjang tidur, itu laptop telah ia nyalakan lebih dulu. Keempatnya pun serentak melongok muka mereka ke layar laptop. "Beneran lamaran kerja ini," tuding salah seorang dari mereka sambil nyengir-nyengir kuda tentunya. "Gak sekalian daftar riwayat hidup loe kasihin," lanjut seorang itu. Yang lain balik cekikikan.
"Tuh benarkan," Mitha merajuk.
"Lah emang," Seru salah seorang dari mereka melengos. "Lagian udah jaman AI kayak begini loe masih aja main surat-suratan. Kenapa gak langsung loe tembak. Biasanya loe kan main gas aja..."
"Maksud gue biar spesial gitu. Gimana juga bang Thomas itu kan cinta pertama gue," ucap Mitha.
"Spesial, spesial, spesial pake telor! Lagian, sok-sok cinta pertama. Bukannya cinta pertama loe itu si Iwan Bokir!?" Seru salah seorang dari mereka.
"Iwan Bokir!? Duda gak jelas ntuh!?" Seorang yang lain merespon tak percaya. "Iya gue pernah gap mereka dua-duaan di kamar mandi pake basah-basahan lagi."
"Gila loe Mit segala duda prengosan kayak begitu... Muka asimetris kayak papan penggilesan jaman megalitikum kayak begitu... Ccck, ccck, ccck... Sehat loe, Neng!?" Yang seorang gak habis pikir. Yang lain lagi malah ngeledek. "Biasa bulan tua,"
"Biar pesong kayak begitu telunjuknya segede barang Afrika," celoteh Mitha.
"Mitha..." Kaget, keempatnya berteriak kencang. "Kan gue bilang telunjuknya." Tuding Mitha mendelik.
"Gak usah bahas-bahas si Pitecantropus erectus itu deh. Males gue. Balik ke persoalan yang utama, si Timur. Kenapa loe mesti takut kalau si Timur nyebarin surat cinta loe yang aneh bin ajaib itu. Bukannya loe tinggal hajar bleh aja, bukannya itu kebiasaan loe, hah!?" Ucap seorang dari mereka, yang lain mengangguk akur.
"Bang Thomas pernah nasehatin gue, kalau bisa gue itu kurang-kurangin deh main hajar-hajarnya. Kasihan anak keturunan gue ntar. Gitu kata Bang Thomas," ucap Mitha santai.
"Iya Allah diomogin gitu doang loe langsung klepek-klepek!? Dasar setan tuh cowok!!!" Umpat salah seorang dari mereka. Ketiganya mendelik bingung. "Kok setan sih!? Bukannya itu bagus!?" Seru Mitha.
"Eh, kalau loe tobat kayak begini, terus yang jadi centeng kita siapa,hah!? Si duda Pitecantropus erectus ntuh!!!" Ujar yang ngumpat barusan. Ketiganya buru-buru mengangguk akur.
"Terus gue harus gimana dong," Mitha malah merengek. "Iya gak gimana-gimana. Loe tinggal hajar aja tuh si Timur." Usul seorang yang lain. "Kalau bang Thomas tahu," ucap Mitha.
"Loe culik, loe karungi, terus loe buang deh ke samudera Hindia. Habis perkara." Usul yang lain sambil menepuk-nepukkan tangan.
"Loe kata si Timur sampah," ujar Mitha bingung. "Jangan-jangan loe naksir lagi sama si Timur," ucap si pengusul tadi. Mitha karuan berlagak muntah.
"Terus mau loe digimanain," seorang yang lain jadi gak habis pikir. Mitha menggeleng lesu. "Iya kalau begitu loe siap malu," ujar salah seorang dari mereka. "Itu juga kalau loe masih punya urat malu.
Yang ada Mitha jadi garuk-garuk kepala. "Ketombe loe melanglang buana tuh..." Tuding salah seorang dari mereka. Gak ada petir gak ada hujan, di tengah hari bolong, Mitha sekonyong-konyong berteriak kencang sekencang-kencangnya. "Timur kenapa loe sejahat itu sih sama gue..."
Keempatnya sontak kaget, takut, lari ngibirit keluar kamar. "Sialan! Kesurupan setan apa sih tuh anak...!!!"