Prang!
"Alana!"
Seorang gadis cantik dengan memegang bekal makanan di tangannya, terlihat diam menatap kosong kearah depan. Hatinya tiba-tiba saja sakit, ketika melihat seorang pria dengan pakaian kerjanya tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita, blasteran asia.
Bagaimana ia tidak akan marah, jika pria yang tengah di peluk oleh wanita lain itu adalah suaminya sendiri.
"Maafkan aku, jika menganggu waktu Pak Raka. Alana pamit pergi, selamat siang!" ucap Alana, terlihat bergetar ia benar-benar patah hati sekarang.
Alana mati-matian, bangun pagi-pagi buta berusaha keras menahan rasa kantuknya demi, memasakan makanan spesial untuk suaminya itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, tenaga Alana terkuras habis hanya karena hal itu. Ia yang tidak tahu memasak pun, harus berusaha keras untuk belajar memasak agar tidak memberatkan suaminya.
Namun bukannya mendukungnya untuk maju, dan menjadi gadis yang mandiri tanpa bergantung pada orang tuanya lagi. Suaminya itu malah, menghianatinya Alana benar-benar sakit hati dibuat seperti itu.
'Sudah aku duga, Pak Raka sebenarnya tidak menyukaiku. Dia hanya sedang bersandiwara saja! Seharusnya aku sadar! Bukannya, menambah penderitaan lagi, lagipula aku bukan tipe wanita idamannya. Tapi setidaknya, dia menghargai perjuanganku,' lirih Alana membatin.
Dengan langkah terburu-buru, ia segera meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kearah lain lagi lantaran kecewanya. Alana berharap suaminya mengejarnya, namun nyatanya Pak Raka tidak mengejarnya, pria itu hanya memanggil namanya saja.
"Hatiku hancur! Aaaa ... Aku kira, tidak akan sesakit ini." Lirihnya menahan tangis, memutuskan untuk kembali ke kelasnya saja.
Dibandingkan masuk ke kelasnya yang sunyi, ada baiknya ia berkumpul bersama teman-temannya di kantin belakang sekolah.
"Al! Sini kamu darimana?" tanya seorang gadis berambut ikal, sembari menarik lengan Alana untuk ikut duduk di sampingnya bersama teman-teman mereka yang lainnya.
"Mukamu sembab Al, apa yang telah terjadi? Mana tempat bekalmu tadi? Apa Pak Raka Terima? Jawab dong Al!" ucap Fira dengan diikuti, yang lainnya.
Menatap intens, wajah Alana saat ini yang terlihat murung.
"Tidak!"
"WHY? Kenapa lagi? Huh, tuh Guru gak ada syukur-syukurnya, udah dibuatin bekal enak sama istri malah gak di Terima." Sahut Sio terlihat kesal, mendengar jawaban singkat dari Alana barusan.
"Yap benar banget Sisi, gedek banget sama tuh guru gak ada syukur-syukurnya udah dapat istri cakep, pinter masak, bertalenta bisa nyanyi, pernah menang Olimpiade sama lomba dance. Tapi Pak Raka, malah lari ke perempuan lain yang gak ada bandingannya sama Al kita!" timpal Fira sembari menyeruput, jus apel miliknya.
"Kalau aku jadi Alana, udah ku buang ke laut aja laki-laki modelan kayak gitu."
"Al, kira-kira kalau kita lulus nanti kamu mau lanjut pendidikan di mana? Korea? Italia? Atau Paris?" tanya Sio, mengalihkan pembicaraan mereka ketika melihat wajah Alana yang tampak tak bersemangat dan hanya diam sedari tadi.
Padahal itu bukanlah sikap Alana, yang sebenarnya.
"Aku gak tahu Sisi, yang pastinya aku mau kuliah jauh-jauh aja sekalian mulai hidup baru!"
"Hidup baru? Maksudnya apa Al? Bukannya kamu dan Pak Raka, udah nikah Al."
"Iya Al, kalian kan udah nikah jadi kalau kamu pergi kuliah jauh-jauh bagaimana dong nasib tuh guru? Dia bakalan ngikut, kamu atau gak?" tanya Fira.
"Ya, gampang aja aku ceraikan lah. Ngapain juga ngejar yang gak pasti, mending ngejar yang gak bisa dimilikin yaitu aktor-aktor Korea. Walau gak sehati, tapi nggak nyakitin!' hardik Alana terlihat kesal walaupun dalam hati, ia bergetar membayangkan artis koreanya adalah suaminya sendiri.
"Mimpimu terlalu kejauhan Al, emang si aktor Korea mau sama kamu? Udah galak manja, plus-plus lagi." Sahut Sio tertawa kecil melihat kegigihan Alana, ia selalu membawa para pria kesukaannya ketika kesal kepada Pak Raka.
"Ck! Aku gak galak, cuman tegas aja! Aku juga gak manja, cuman ya begitulah sudah hak anak minta-minta ama orang tua," timpalnya tampak badmood, ketika melihat tempat bekal yang telah ia siapkan spesial untuk Pak Raka.
Kini harus ia makan sendiri, sebab tidak sampai ke pemiliknya.
"Al, kok di makan bekalnya? Katanya buat Husband tercintamu!" ejek Gina terkekeh pelan, melihat bagaimana Alana memasukkan secara paksa suapan makanannya.
"Ya sayang di buang, mending aku makan aja. Lagian dia punya uang bisa beli sendiri, makan-makanan buatanku bisa gila nanti dia selain rasa yang gak enak, tempat pun norak!" balas Alana membuat mereka berempat serentak tertawa.
The real Alana, selalu menjadi gadis random jika bersama teman-temannya. Walaupun sedang dalam keadaan patah hati, ia masih menyempatkan diri membuat teman-temannya tertawa.
'Sebenarnya aku ada dua,'
"Al, kira-kira jam kedua kamu mau ikut pelajaran Pak Raka? Katanya setiap ayang masuk, kamu gak bakalan bolos lagi 'kan? Udah janji loh." Sungut Fira mulai, memancing sahabatnya itu padahal ia tahu jelas jika suasana hati Alana saat ini, sedang tidak baik-baik saja.
"Em ... Aku bakalan masuk, tapi gak lama palingan cuman lima menit doang setelah itu, aku bolos aja soalnya siang ini, ada latihan dance di studio!" sahutnya lagi membuat Fira, Sio, Gina, Gigi terdiam mendengarnya.
Alana memang seperti itu, dia sangat suka mengcover dance-dance para idol Korea. Maka tak heran lagi, jika teman-temannya itu sering mengejeknya dengan sebutan si tukang halu.
"Semangat Al, aku yakin pasti kamu bisa debut jadi idol kelak nanti. Intinya syaratnya cuman satu, jangan durhaka sama suami sendiri entar kualit!"
"Ijin koreksi Gigi, Kualat! Kualit, kualit sejak kapan kualat berubah nama? Kalau bicara di pikir-pikir dulu!' ucap Gina mengkoreksi perkataan Gigi barusan.
"Ck! Tadi typo, kualat maksud aku. Jangan ngegas juga dong Gin, syukur-syukur kemarin aku gak teriak manggil Bu Fika jika kamu habis bolos kemarin, mata pelajaran Pak Guna Guru baru mata pelajaran matematika!"
Plak!
"Hei ... Bisa diam dulu kagak? Kalian berdua ini, kalau ketemu nggak pernah ada akur-akurnya. Liat tuh, Pak Guna yang kalian omongin datang sama Pak Raka," tukas Fira sembari mengarahkan jari telunjuknya tepat, kepada dua orang Guru tampan yang baru saja masuk, ke daerah kantin belakang sekolah.
Membuat mereka berlima serentak menatap kearah, jari telunjuk Fira mengarah. Membuat Alana yang menyadarinya pun cepat-cepat, menyembunyikan tempat bekalnya ketika menyadari dua orang guru tadi, berjalan menuju ke tempat mereka duduk.
Untung saja kantin belakang sekolah saat ini, sepi karena para siswa memilih istirahat di tempat lain, sekalian mengistirahatkan otak mereka karena minggu depan, mereka akan memasuki ujian tengah semester ganjil.
'Gawat! Apa aku kabur aja ya? Tapi kemana?' batin Alana tampak khawatir, ia bahkan sampai menutup wajahnya menggunakan buku berukuran tebal milik Sio.
"Selamat siang, Pak Raka dan Pak Guna." Sapa Sio tersenyum ramah kepada dua orang guru mereka, yang terkenal galak dan super arogan.
Jika menghukum orang, tiada ampunannya Sio pun pernah satu kali di hukum karena bolos saat mapel Pak Guna masuk.
"Bapak ada apa kemari? Apa ada masalah Pak?" tanya Fira, kini mulai berbicara setelah Sio selesai menyapa kedua guru tersebut, yang tidak mendapatkan jawaban apapun.
"Apa kalian, melihat siswi bernama Alana Anastasia?" kali ini bukan Pak Guna, yang bertanya melainkan Pak Raka.
Membuat mereka berempat pun serentak terdiam, menatap kearah Alana yang terlihat menutupi wajahnya menggunakan buku yang tidaklah lain, milik Sio.
***