Perkenalkan namaku Fuduki Yuki, aku lahir di Prefektur Kyoto, Jepang, pada tanggal 23 Juni 2004, aku anak kedua dari 4 bersaudara, diantara saudara ku Fuduki Chitora, Fuduki Azura dan Fuduki Aito, hanya aku satu-satunya anak perempuan, kakak iparku Fuduki Fumiko serta keponakanku Fuduki Akihiko kami sekeluarga tinggal di Prefektur Kyoto, Jepang, karena memang menetap disana ayahku Fuduki Eren bekerja sebagai seorang anggota syahbandar selama masih hidup, ibuku Fuduki Minato seorang pensiunan PNS, sedangkan aku tinggal di Tokyo karna saat ini sedang berkuliah di sebuah universitas ternama University of Tokyo dan mengambil 2 jurusan sekaligus jurusan teknik informatika dan jurusan Sastra Prancis karena memang aku seorang agen rahasia disuatu instansi jadi aku harus bisa berbahasa asing saat aku disuruh mewakili negara Jepang dan pertemuan dari masing-masing negara, aku hanya mengambil bahasa Prancis karena aku kurang dalam pergaulan berbahasa Prancis saat pertemuan antar negara itu. Aku ingin menceritakan sebuah mimpi dimana mimpi itu aku dilamar oleh aktor yang aku cintai dalam diam Nakagawa Tatsuya dia aktor yang sangat terkenal dengan grupnya dengan nama CYBERS yang beranggotakan 5 orang, disitu pun aku sempat heran karena biasanya mimpinya itu aku dijodohin;
Jadi ceritanya dimimpi itu aku sedang berada di kampus, sedang duduk di tempat yang sepi, lamunanku dibuyarkan oleh suara dering telepon dan pas di cek ternyata ibu menelponku, aku pun mengangkatnya,
Ibu bertanya "Kakak lagi ngapain?”,
Aku jawab “Kakak lagi duduk bu, kenapa?”,
"Ngak kok kak, ibu cuman mau nanya bisa ngak kakak pulang ke rumah lusa nanti?” tanya ibu,
Aku bertanya dengan heran “Kenapa emang bu?”,
Ibu bilang “Ngak apa-apa kok kak ini ada dosen kakak ibu Maeda Mai dari jurusan teknik informatika dia nanya kapan kamu bisa pulang”,
“Aku tanyakan ke dosen mata kuliah di sastra Prancis untuk besok yah bu kalau kakak boleh pulang, soalnya kakak ketua kelompok apalagi lusa nanti ada presntasi masing-masing kelompok”, jawabku
“Oh iya kak nanti kabarin ya, ibu Maeda Mai tadi bilang ada yang nyariin kakak, kakak kenal kok pasti tapi ibu ngak mau bilang orangnya siapa”, kata ibu
Disitu aku sempat heran karena tidak biasanya aku dicari dan disuruh pulang, tapi aku iyakan saja dibandingkan berdebat tidak enak juga debat sama ibu didepan banyak orang apalagi depan dosen setelah berbincang panjang lebar aku memutuskan mengakhiri telepon itu karena memang sudah waktunya memasuki ke kelas berikutnya,
“Iya besok kakak telpon ibu yah, kebetulan dosen mata kuliah untuk besok dosen pembimbing kakak di jurusan sastra Prancis, jadi biar satu kali bertanya setelah pelajarannya udah selesai” kataku.
Ibu pun mengiyakan “Okay kak perhatikan dengan benar ya pelajarannya, bye kak”.
“Iya ibu, bye ibu”, jawabku sambil menutup telepon.
Setelah pelajaran selesai aku buru-buru pulang karena takutnya macet, setelah sampai di apartemen aku langsung mandi, selesai mandi aku langsung makan sambil nonton anime setelah itu belajar sebelum tidur, aku ke kamar mandi buat sikat gigi dan cuci muka, setelahnya aku tidur.
Keesokan harinya aku bangun dan langsung bersiap-siap untuk ke kampus dan aku ada kelas di pagi itu di jurusan sastra Prancis; setibanya di kampus aku langsung masuk ke ruangan kelas kebetulan yang lain belum pada masuk jadi aku langsung duduk dipojokan dekat jendela; setelah pelajaran selesai aku pun langsung berlari mengejar dosen tadi yang mengajar di dalam ruangan dan langsung menanyakan apakah aku boleh izin untuk pulang selama beberapa hari,
“Permisi pak Haru” pak Nakamura Haru pun menoleh dan menjawab.
“Ah Yuki-chan, ada apa? Apa ada masalah di pelajaran tadi?” Tanya pak Haru.
“Ngak kok pak ngak ada masalah apa-apa kok dalam pelajaran, itu pak saya mau izin selama beberapa hari, karena ada urusan keluarga pak, jadi saya harus pulang, apakah saya boleh pulang sebentar pak?" Kataku sambil bertanya.
"Boleh kok nak". Jawab pak Haru.
"Tapi pak, besok kan ada presentasi dari masing-masing kelompok saya ketua kelompoknya, ngak mungkin mereka presentasi sedangkan ketuanya tidak ada".
Pak Haru mengizinkan “Ah, silahkan pulang tidak masalah, sebagai gantinya nilai presentasimu akan bapak berikan tugas saja, dan asal nilainya jangan sampai turun karena urusan keluarga ya”.
Aku berterimakasih dan sekalian pamit, “Baik saya akan usahakan, terima kasih pak, saya permisi".
"Iya nak sama-sama”, jawab pak Haru
Setelah meminta izin kepada dosen pembimbing akupun langsung menelpon ibu untuk memberitahu kabar,
"Ibu, kakak boleh kok pulang kata pak Nakamura Haru dosen pembimbing di sastra Prancis", kataku.
Ibu pun menjawab, "Ah. Sungguh? Syukurlah, okay kak ibu tunggu di rumah yah".
"Iya, ibu kakak tutup ya, kakak udah mau pulang ke apartemen, bye ibu". Kataku
"Bye, kak". Jawab ibu sambil menutup telepon.
Aku pun langsung bergegas pulang membersihkan apartemen dan mandi setelahnya aku makan sambil menonton anime, bebersih dan tidur. Keesokan harinya aku pun bangun dan bergegas mandi dan sarapan, setelah makan aku langsung mencuci piring dan memasuki pakaian ke dalam koper karena siangnya aku akan berangkat ke Prefektur Kyoto untuk pulang, setelah semuanya beres aku memesan taxi menuju ke bandara;
Setibanya dibandara saat berjalan menuju ruangan tunggu aku tidak sengaja menabrak salah satu dari sekumpulan orang, aku perhatikan siapa orang yang aku tabrak itu, dan saat aku perhatikan orang itu membuatku hampir saja berteriak karena orang yang aku tabrak itu tidak lain dan tidak bukan adalah orang yang sangat aku cintai dalam diamku dia adalah Nakagawa Tatsuya, tapi aku hanya bisa menahan teriakanku dan meminta maaf padanya,
"Maaf aku tidak sengaja" kataku sambil membungkuk.
"Ngak masalah, lain kali hati-hati" jawabnya.
Aku pergi ke tempat pengecekan tiket dan langsung pergi ke tempat dimana aku harus kesana menunggu penerbangan beberapa jam pun berlalu dan pesawat pun tiba setelah nya penumpang yang menuju ke Prefektur Kyoto bergegas ke pintu keberangkatan untuk check-in aku pun bergegas kesana dan naik pesawat. Setelah tiba di Prefektur Kyoto, aku langsung memesan taxi dan menuju ke rumah.
Saat tiba dirumah aku agak terkejut karena dirumah ada tamu dan terpaksa mau tidak mau aku harus lewat depan mengetok pintu dan pada saat masuk akupun kaget dengan orang yang sedang bertamu dia adalah ibu Maeda Mai dosen Teknik Informatika dan juga 5 orang yang aku kenal ya benar anggota grup idol CYBERS mereka Shimizu Tora, Nishimura Yamato, Sasaki Hoshi, Nakano Ryota dan salah satunya Nakagawa Tatsuya orang yang aku cintai dan aku tabrak tadi pas di bandara. Aku pun menyapa mereka semua dengan senyuman yang canggung sebelum aku ke kamar menyimpan koper dan barang-barang lain lalu kembali menuju ke ruang tamu.
Aku masih kurang percaya bahwa itu anggota CYBERS, aku menelpon Instagram, Twitter, dan Line mereka karena takutnya jika mereka itu orang lain yang sedang menyamar sebagai mereka.
"Aku tidak percaya bahwa ini kalian, aku akan menelepon sosmed kalian satu per satu" kataku sambil tersenyum kecut.
Mereka semua mengiyakan permintaanku, "Silahkan" kata salah satu mereka.
Akupun menelpon sosmed mereka dan tidak disangka semuanya berdering dan aku mendengar suara dari masing-masing nada dering telepon mereka aku hanya bisa terkejut karena itu memang mereka. Aku hanya bisa tersenyum pahit dan terpaku berdiri.
"Bagaimana, Yuki-chan ini benaran kami kan?". Kata Tatsuya mengejek
Tidak lama aku berdiri keponakanku Akihiko terbangun menangis dan langsung mencariku dia berlari dan berteriak mungkin karena samar-samar dia mendengar suaraku;
“Mommy” tangisnya.
Aku pun refleks menggendongnya dan secara bersamaan aku sempat lupa bahwa ada tamu, akupun berbalik badan dan mengatakan bahwa anak yang aku gendong adalah keponakananku bukan anakku dan aku pun terkejut saat ibu Maeda Mai mengatakan,
“Ngak apa-apa kok nak, kami tau mengapa kamu dipanggil Mommy olehnya” Kata ibu Mai.
Ya tidak heran dia memanggilku seperti itu karena sejak dia lahir aku yang menjaganya selama masa SMA ku dulu diwaktu luang ku, sedangkan kakak dan kakak iparku berkerja mereka pun selalu menitipkan Akihiko padaku dan seiring berjalannya waktu dia pun sangat dekat dengan ku jadi tidak mengherankan lagi jika dia memanggilku dengan sebutan itu, aku pun langsung menuju ke kursi dan langsung duduk di samping ibu sambil memangku Akihiko. Setelah berbincang panjang Tatsuya pun menjelaskan maksud kedatangannya ke rumah.
“Aku kesini bukan hanya ingin menemui Yuki, tapi juga kedua orang tua Yuki” kata Tatsuya
Aku langsung mengatakan bahwa ayahku sudah tidak ada “Hanya ada ibuku, aku, kakak, kakak ipar, kedua adikku, dan keponakanku, ayahku udah tiada”.
Dia jawab “Oh maaf saya benar-benar ngak tau”.
“Gak apa-apa” jawab ku.
Dia pun melanjutkan, “Saya ingin melamar anak anda apakah boleh?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuatku terkejut dengan mata melotot begitu pula dengan ibu dan ketiga saudaraku yang lain tidak kalah terkejut nya juga kakak iparku dan ibu Mai mereka semua tidak menyangka dengan permintaan Tatsuya si aktor itu. "Aku tau ibu pasti tidak mengizinkan nya jangankan ibu, kakak, kakak ipar dan saudaraku yang lain tidak akan memberikan ku kepada Tatsuya tenang saja" batinku, dan aku pun terkejut bahwa ibuku dan yang lainnya mengiyakan permintaan si aktor itu, ibu Maeda Mai hanya melongo mendengarnya, aku pun langsung memberikan Akihiko pada kakak dan mengajak ibu ke kamar untuk berdebat dalam kamar, ya tidak mungkin kan debat di depan tamu apalagi depan aktor.
Aku pun bertanya pada ibu dan berkata “Ibu kok setuju, ibu ngak sayang kakak lagi? Ibu ngak mau kakak lagi? Kakak kan udah bilang ke kalian semua bahwa kakak ngak akan pernah mau menikah, karena kakak takut ngak bisa mempertahankan pernikahan seperti yang ayah ibu lakukan”, dan ya aku sebenarnya takut untuk menikah.
Ibu menjawab “Kak bukan ibu ngak sayang kakak lagi, ibu sayang kok, hanya ibu takut kalau kakak sendirian kalau ibu nyusul ayah nak, ibu tau kakak takut akan pernikahan kakak harus ingat pesan ayah kakak harus kuat ngak boleh lemah dan ngak boleh takut menghadapi apapun nak”.
Aku pun menjawab “Kakak mau aja menerimanya, tapi kakak takut dia ninggalin kakak apalagi usia kami terpaut sangat jauh bu 11 tahun lebih, jangankan usia dia seorang aktor kakak cuman seorang calon sarjana dan seorang agen rahasia, dan pasti banyak wanita yang ingin mengejar dan mendekatinya” kataku, karena memang dia lahir pada 14 November 1993 sedangkan aku lahir pada tahun 2004.
"Kak, cinta tidak mengenal usia, seperti hal nya ayah dan ibu” kata ibu.
Aku pun menjawab “Tapi bu kakak tetap aja takut, jika nanti ada masalah gimana?".
"Kak, ingat pesan ayah jangan takut menghadapi masalah, ibu juga tau kakak jatuh cinta pada Nakagawa Tatsuya, kan?” Tanya ibu.
“Hah, baiklah aku memang mencintainya, tapi dalam diam karena takut aku dianggap sedang menghayal” jawabku dengan mata terbelalak, kaget dan terpaksa mengaku.
Disitu aku sempat mikir “Mungkin dalam hati ibu kapan lagi punya menantu laki-laki seorang aktor terkenal dan satu-satunya lagi, anak perempuannya kan hanya satu, makanya ibu menerimanya” batinku.
Setelah itu kami pun berpelukan dan menangis karena ibu tidak menyangka putri satu-satunya ini akhirnya mau menikah padahal dia selalu lari dalam pertemuan antar keluarga, ya benar aku selalu kabur jika pulang ke rumah dan diajak ke pertemuan antar keluarga lain, entah itu teman ibu atau teman mendiang ayaku. Kami pun mengusap air mata dan kembali ke ruang tamu, Tatsuya tau aku dan ibu habis menangis.
“Aku tidak akan memaksamu menikah denganku kalau kau tidak mau” katanya
Pernyataan nya membuatku sedikit terkejut dan agak kecewa aku pun mengatakan padanya bahwa aku butuh waktu untuk berpikir,
"Berikan aku waktu untuk berpikir". Kataku
Dia pun mengiyakan “Baiklah terserah padamu, My darling".
Aku terkejut dengan panggilan itu padahal aku dan dia belum jadian tapi aku biarkan saja,
“Kau sungguh sangatlah menyebalkan” kataku sambil memalingkan wajah dengan malu. Dia dan semua orang tertawa karena tingkah ku barusan karena dirinya, mereka semua lanjut berbincang dan membahas hal random lainnya sedangkan aku memandikan Akihiko, tidak lama Tatsuya mengikuti kami. Dia terkejut saat mendengar kami bernyanyi dan mendengar suaraku yang sangat melodi.
"Kira kira...." Kami bernyanyi.
"Ternyata kamu pintar bernyanyi dengan suara itu". Kata Tatsuya sambil berdiri di belakangku dengan menyilangkan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya ke pintu.
"Suaraku memang seperti ini sejak remaja, karena aku suka bernyanyi dan membaca puisi", jawabku.
Akihiko yang melihat Tatsuya muncul seketika langsung memelukku dan bersembunyi aku hanya bisa membiarkan bajuku basah kuyup karenanya. Karena dia biasanya dimandikan olehku tanpa ada orang. Tatsuya yang melihat itupun tertawa karena tingkah Akihiko dan dia ikut duduk di sampingku dan berkata kepada Akihiko,
"Jangan malu kelak kau akan terbiasa dengan paman jika paman melihatmu dimandikan saat kecil, paman juga dulu seperti ini" kata Tatsuya.
"Sungguh?", katanya dengan malu sambil bersembunyi.
Tatsuya mengiyakan "Iya sungguh".
Akupun menyuruhnya menyikat gigi sendiri sedangkan aku dan Tatsuya berbincang dan berkata,
"Aku setuju untuk menikah denganmu, tapi dengan syarat biarkan aku menyelesaikan kedua program studi S1 dan jenjang S1 agen rahasiaku” kataku.
Dia pun bertanya dengan terkejut "Kamu seorang agen rahasia?!"
"Iya aku seorang agen rahasia dan juga ketua dari salah satu dapartemen instansi agen rahasia" jawabku dengan ragu.
Dia pun bertanya "Kenapa kau dan keluargamu tidak menceritakan tentangmu yang kuliah dengan 2 instansi yang berbeda?".
"Instansiku sangatlah rahasia dan aku ngak bisa menyebar luaskan pekerjaanku juga, dan aku minta padamu untuk tidak menyebarkannya". Jawabku
"Iya baiklah aku ngak akan menyebar luaskan nya dan terserah padamu yang ingin menyelesaikan pendidikan ketiga jenjang S1-mu, aku akan menunggu sampai kamu selesai dan aku hanya ingin dirimu bersamaku sepanjang hidupku", kata Tatsuya sambil mencium keningku.
"Tenang saja tinggal hitung beberapa bulan saja". Kataku sambil tersenyum. Tatsuya hanya mengiyakan sambil mengangguk.
Setelah memandikan Akihiko dan bersiap pergi aku membawanya untuk pergi makan es krim karena dia hanya bisa memakannya saat aku pulang dan hanya boleh makan dua kali sebulan dan sekalian mengajak para CYBERS itu.
Sebelum pergi kami bertiga kembali ke ruang tamu untuk memberitahu keluargaku, bahwa "aku setuju menikah dengan Tatsuya dengan syarat setelah menyelesaikan ketiga pendidikan jenjang S1-ku", kataku. Mereka semua pun setuju.
"Baiklah sebagai seorang kakak dan kepala keluarga aku menyejutuinya, dan dengan syarat setelah adikku menyelesaikan ketiga pendidikan jenjang S1-nya, kau mengertikan Nakagawa Tatsuya?". Kata kakak dan bertanya dengan tersenyum sinis.
Tatsuya hanya mengiyakannya "Ba... Baiklah..." Jawab Tetsuya dengan gugup.
Kami pun pamit untuk keluar makan es krim. Dan kakak mengizinkan; sesampainya di tempat es krim segera setelah para pegawai itu melihatku datang mereka langsung mengarahkan kami ke balkon atas karena memang di sana kami selalu duduk di tempat pribadi, ya tidak mengherankan mereka seperti itu karena pemilik tanah dan bangunan tokonya tidak lain adalah aku.
Kami pun memesan pesanan kami masing-masing; selesai memakannya kami pun ke hotel untuk memesan kamar. Keempat anggota CYBERS di hotel sedangkan Tatsuya ikut aku pulang ke rumah karena memang aku meminta nya tinggal bersamaku dan aku tidak mau dia diambil oleh wanita lain di hotel. Saat mendengar permintaanku itu dia mengiyakan dan tertawa kecil karena permintaanku yang konyol.
Setelahnya mereka manaruh barang-barang mereka di hotel kami lanjut untuk berkeliling, diperjalanan mobil kami hampir saja bertabrakan dengan segerombolan geng motor dan aku langsung berteriak,
"Apa kau sudah gila?!" teriakku.
"Maafkan kami" kata salah satu anggota geng motor.
Aku pun turun dari mobil dan seperti biasa, aku dan pengendara motor berkelahi tidak mengherankan lagi jika aku dihadang dan berkelahi dengan segerombolan geng motor karena memang mereka semua sangat mengincar nyawaku karena aku seorang ketua tim basket "Star Ice Cool" yang terkenal di Kyoto dengan kemenangan kami secara berturut-turut tanpa kalah.
"Hah, kalian lagi". Kataku dengan senyuman kecut.
"Yo ketua basket Star Ice Cool, ayo semuanya serang dia." Kata salah satu anggota geng motor sambil tersenyum sinis.
Satu lawan lima orang bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa. Mereka kalah kekuatan walaupun aku dan mereka kalah jumlah. Aku berbalik ke arah mobil dan mengatakan sesuatu pada segerombolan geng motor itu,
"Lain kali kalau ingin mencari masalah denganku berpikir lah sebelum bertindak" kataku sambil menyunggingkan senyum seringai dan tersenyum sinis.
Anggota CYBERS yang melihat itu hanya bisa terpaku kaget dengan mata melotot karena mereka semua tidak menyangka bahwa aku bisa melawan mereka sendirian, sedangkan keponakanku menggigil ketakutan.
"Yuki-chan" panggil Tatsuya karena dia kaget melihat Akihiko yang sangat ketakutan di pangkuannya.
Aku pun mengambil ahli dari tangan Tatsuya, memeluk dan menenangkan Akihiko sambil menyetir mobil menuju ke tempat yang sepi dan sunyi untuk menenangkan nya aku pun turun sambil menggendong nya, melihatku menenangkan Akihiko, Tatsuya ikut turun dari mobil dan ikut menenangkannya dia pun bertanya padaku.
"Apa kau selalu seperti ini jika sedang berada di luar rumah?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk dan berkata "Ya, aku selalu seperti ini jika keluar dan selalu dihadang oleh segerombolan geng motor". Jawabku dan akupun menceritakan mengapa aku selalu diincar karena para tim lawan itu menggira kami mempunyai pelatih yang sangat hebat sampai mereka selalu kalah dan tidak mengatakan bahwa aku adalah seorang ketua tim basket terkenal di kotaku, ya hanya terkenal di Prefektur Kyoto dan menyuruh para wartawan dan berita acara televisi untuk tidak menyebarkannya ke Prefektur lain sambil mengancam mereka, dan dengan sangat terpaksa mereka hanya bisa setuju.
Setelah nya aku pun membawa mereka semua kerumah, malam pun tiba aku pergi untuk pertandingan, melihat pakaianku yang bagaikan anak pembalap jalanan dengan membawa sebuah tas ransel berisi pakaian basket dan sepatu basket, Tatsuya beserta anggotanya itu kaget melihatku dengan gaya itu sambil melotot.
Dia pun bertanya dengan heran “Kau mau kemana dengan gaya seperti itu?” tanya Tatsuya.
“Aku ada pertandingan sebentar lagi jadi aku dan anggotaku pergi latihan sedikit” jawabku dengan terbata-bata.
Kakakku pun ikut menjelaskan “Adikku selain menjadi seorang agen rahasia dan informatikawan dia juga seorang ketua tim basket terkenal dikota ini”.
Tatsuya dan anggota CYBERS yang mendengar semua itu pun kaget, karena saat sebelum kami bertanding itu kami sempat latihan, tapi latihan kami berbeda dari tim lawan, kekuatan kami bermain kami dapat dari sebuah nyanyian dari lagu-lagu yang kami dengar dan nyayikan, itu sebabnya kami santai-santai saja melawan para tim lawan.
“Kalian menyusul lah nanti saat aku bertanding” kataku sambil pergi.
Mereka semua mengiyakan, aku pun bergegas pergi dan membawa mobil karena semua orang dirumah sedari aku masih remaja melarangku menggunakan motor, setibanya disana kami pun bernyanyi dan seusai bernyanyi kami semua menuju ketempat pertandingan, tim musuh yang sering menantang kami untuk bertanding itu mereka tetap saja kalah dan selalu kalah saat melawan kami, kami berkumpul untuk menjabat tangan satu sama lain dan mereka mengatakan,
"Selanjutnya kami pasti akan menang” kata ketua tim lawan.
"Yah kita lihat saja nanti” kataku yang sebagai ketua tim sambil tersenyum sinis.
Seusai jabat tangan dan aku langsung menuju ke ruangan ganti baju, sebelum bubar tim kami berkumpul ditengah lapangan untuk kemenangan malam itu, tanpa ku sadari keluargaku dan juga Tatsuya beserta anggotanya sudah turun dari kursi para penonton, Tatsuya terkejut melihat cara bermain ku dan tim tadi yang sangat berbeda dari anggota tim basket yang pernah ia lihat.
"Calon tunanganku memang sangat hebat dalam segala hal” kata Tatsuya.
Dan benar saja anggotaku yang mendengar perkataan aktor terkenal itu terkejut karena aku memang belum memberitahu mereka akan hal ini dan mereka semua tau bahwa aku sangat anti untuk menikah,
“Ketua kami ini kerasukan apa sudah punya calon saja dan tidak memberitahu kami bahwa dia sudah punya calon tunangan padahal kami tau bahwa dia anti menikah!” kata salah satu anggotaku sambil berteriak.
Aku pun bilang “Buat apa aku memberitahu kalian semua, cuman keluarga saja yang tau, khusus untuk yang lain nanti saja saat pesta pertunangan dan pernikahan, dan kau wakil ketua kayaknya kamu cocok tuh sama si playboy itu” kataku sambil menunjuk Sasaki Hoshi dengan tersenyum kecut dan menyindir wakilku Izumi Benika.
“Ketua, jangan mengganggu dan memancing emosiku, aku sedang bad mood dengan gangguan mu itu dan aku tidak sedang memperhatikan si playboy itu!” bantahnya.
“Oh ya? Dan kalian bertiga sepertinya dari tadi kalian memperhatikan ketiga anggota calonku”, gangguku kepada yang lainnya Yoshida Chizu, Matsuda Ima, dan Satoo Jun sambil melirikkan ketiga anggota CYBERS lainnya.
“Ketua, kenapa kau sangat suka menjahili dan menganggu kami semua!”, kata mereka semua dengan tersipu malu.
Aku pun tertawa sambil pergi bersama Tatsuya beserta keluargaku dan meninggalkan mereka berserta anggota CYBERS lainnya yang sedang mematung karena ku.
“Kau ternyata suka menganggu dan menjahili mereka ya?”, tanya Tatsuya sambil tertawa kecil.
"Ya kalau moodku sedang bagus aku memang suka seperti itu pada anggotaku” jawabku.
"Hm, ya tidak masalah aku juga sering seperti itu dengan yang lainnya” katanya.
Aku hanya tertawa karena tidak menyangka kalau dia juga seperti itu; aku dan Tatsuya pun bertunangan setelah sebulan berlalu. Dan selama sebulan itu aku selalu diajak Tatsuya ke Prefektur Ehime karena disana mereka akan melatih perekaman lagu mereka yang akan diliris berikutnya, dan selalu memintaku untuk ikut dengannya kesana padahal aku malas untuk bolak-balik, tapi aku hanya bisa pasrah dan ikut-ikut saja karena malas untuk membuat keributan di rumah, sekalian aku mengunjungi keluarganya. Dia selalu memamerkan kepada anggota CYBERS itu bahwa dia sudah bertunangan. Aku sering ketiduran saat menunggunya selesai latihan, karena sering melihatku seperti itu disitu lah dia memamerkan kemesraan kami kepada anggotanya itu dan membuat mereka cemburu.
Aku terbangun karena merasakan kehangatan selimut kebetulan di Jepang sedang memasuki musim dingin. "Tidurlah lagi, My Darling, nanti aku bangunkan saat semuanya sudah selesai". Katanya sambil mencium keningku, saking mengantuknya aku hanya mengangguk dan malas menjawab.
"Hei kalian berdua, kalau mau mesra-mesraan dirumah saja sana jangan dihadapan kami", kata Ryota.
"Makanya cari pasangan sana", kata Tatsuya pada anggota-anggotanya itu sambil mengejek.
Aku hanya bisa diam dan malas membuka mata saat dia mengatakan ejekannya itu kepada anggota CYBERS karena memang aku sangatlah mengantuk.
Beberapa bulan pun berlalu aku pun menyelesaikan ketiga pendidikan jenjang S1-ku dan setelahnya kamipun menikah setelah seminggu kelulusan ku. Setelah acara pernikahan di malam hari semua berkumpul di ruang tamu setelah makan malam.
“Tatsuya!”, panggil kakakku kepada suamiku.
"Iya?”, jawabnya.
“Dengerin ya, aku sudah menyerahkan tanggung jawabku kepadamu, yaitu adik perempuanku satu-satunya, jika suatu hari kau membuatnya sakit hati aku tidak akan segang membuatmu terluka”, kata kakak dengan tersenyum kecut dan membuat Tatsuya ketakutan.
Tatsuya pun agak merinding ketakutan mendengar kakakku mengatakan itu padahal dia 1 setengah tahun lebih tua dari kakakku, tapi bagi dia wajar karena aku adik perempuan satu-satunya.
“A, a, aku ngak akan melakukannya” jawabnya sambil ketakutan.
Aku menahan tawaku, setelah berbincang-bincang dengan yang lainnya, aku dan Tatsuya pamit ke kamar, aku ke kamar mandi untuk mandi karena kebetulan udara dimalam itu sangat panas dan membuatku sangat kegerahan setelah mandi aku pun langsung ke tempat tidur kebetulan kamar ku tersedia kamar mandi jadi langsung ke tempat tidur, ya aku agak malu karena malam ini adalah malam pertamaku setelah pernikahan aku terpaksa memberikan keperawananku kepadanya padahal aku memang tidak ingin punya anak apa lagi kehilangan keperawananku tapi kedua belah pihak keluarga menentangnya, malam yang panjang dan bergairah aku hanya bisa menangis kesakitan dan tidak menyangka bahwa aku sudah tidak perawan lagi di hari itu, Tatsuya memang sempat untuk mengatakan padaku untuk berhenti saja sebab aku menangis kesakitan karenanya, tapi aku menolak dan dia hanya bisa mengiyakan permintaanku itu dengan pasrah kami pun melanjutkan nya; keesokan harinya aku terbangung dan merasa tubuhku sangat remuk karena menahan tekanan tubuhnya yang tidak ringan itu semalaman, aku melihat ke samping Tatsuya sedang menatapku dengan tatapannya yang menyebalkan itu,
“Pagi, my darling” sapanya
“Pagi, kau ini sungguh sangat berat sampai aku tidak bisa bangun” kataku karena kesal.
Dia hanya tertawa memelukku, aku beranjak turun dari tempat tidur dan bersiap-siap membantu ibu dan sarapan untuk yang terakhir kalinya, ya benar di hari ini Tatsuya membawaku untuk pergi ke Prefektur Ehime dan tinggal bersama karena dia dan keluarganya tinggal disana, aku sangat tidak menyangkanya bahwa aku akan meninggalkan ibu dan ketiga saudaraku, kakak ipar serta keponakan ku yang sudah aku anggap anak sendiri, setelah sarapan dan beres-beres aku memberikan kunci kamarku pada ibu untuk memperhatikan kamar ku, ya walaupun aku akan selalu pulang tapi tetap aja aku kasih karena aku sering menghilangkan kunci kamarku; kami semua pun hanyut dalam tangisan dan tidak percaya bahwa aku pergi meninggalkan keluargaku secepat ini, aku pun memeluk ibu dan yang lain, keponakan ku benar-benar sangat tidak ingin aku pergi dengan sangat terpaksa aku membuat janji,
“Nanti setelah Akihiko sudah memasuki sekolah menengah Mommy jemput ya nanti tinggal dengan Mommy dan Daddy jadi adil kan 6 tahun dengan papa mama, 6 tahun dengan Mommy dan Daddy, gimana?” kataku sambil bertanya.
Anak kecil itupun menjawab “Iya mau janji ya Mommy”.
“Iya sayang Mommy janji” kataku.
Aku pun memeluknya dan menyerahkan kepada kakak dan iparku itu, aku dan Tatsuya pun menaiki mobil menuju bandara dan meninggalkan kediaman Fuduki, diperjalanan aku mengatakan sesuatu padanya,
“Dengerin ya, jika suatu saat kamu ingin berkhianat jangan dihadapanku langsung karena aku akan langsung membuat keputusan dan kau tidak akan menyangka apa yang aku lakukan setelah membuat keputusan mutlak, keluargaku bahkan tau jika aku membuat keputusan itu mutlak dan tidak ada yang bisa menentang keputusanku kecuali mendiang ayahku, dan kau tidak akan sanggup menahan amarahku, apa kau mengerti, suamiku?” kataku sambil bertanya dengan tersenyum sinis.
Dia ketakutan pas aku mengatakan pernyataan itu sambil bertanya dan dia akhiranya bilang “Itu tidak akan pernah terjadi, aku sangat mencintaimu dan aku tidak akan pernah mencari wanita lain selain dirimu” katanya sambil takut.
Aku pun bilang “Oke, aku akan memegang perkataanmu ini, lihat saja apa yang akan terjadi jika kau melanggar kata-kata sumpahmu ini”.
Dia hanya bisa diam karena tidak mau aku emosi lebih jauh lagi; setibanya di sana kami dijemput dan disambut di bandara oleh keluarganya aku menyapa mereka dan kami bergegas naik ke mobil menuju rumah kediaman Nakagawa, setibanya di rumah kami pun masuk dan menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian dan bergegas ke meja makan untuk makan malam.
Selesai makan malam aku langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring seperti yang aku lakukan setiap hari dikediaman Fuduki, Tatsuya masih duduk menungguku untuk menyelesaikan semuanya padahal aku sudah menyuruhnya duluan saja ke kamar nanti aku menyusulnya, tapi dia tetap menolak, setelahnya kami menuju kekamar dan aku langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi karena gerah, seusai mandi aku langsung ke tempat tidur dan beristirahat ya walaupun Tatsuya memelukku padahal aku sedang malas untuk dipeluk dan dia ingin melakukan lebih dari itu, tapi aku biarkan saja karena ujung-ujungnya aku terbiasa akan perilakunya setiap hari.
Hari, bulan, tahun pun berganti tidak dirasa aku dan Tatsuya sudah hampir dua tahun bersama dan seperti biasanya aku bekerja serta mengurusi keluarga suamiku; di suatu hari menjelang siang aku dan kedua mertuaku sedang berada di rumah, tiba-tiba aku merasa mual dan tidak enak badan ibu mertuaku yang melihat ku seperti itu langsung bilang,
“Yuki-chan jangan-jangan kamu hamil coba tes dan pergilah kedokter untuk memeriksanya” kata ibu mertua.
Aku kurang percaya dengan omongan mertuaku dan bergegas ke lantai atas mengambil test pack dan menuju kekamar mandi pas setelah mengeceknya disitu aku melihat dua garis saking tidak percayanya aku ke dokter kandungan untuk memastikan, sebelum ke dokter aku sekalian mengecek bahan masakan dan saat dicek ternyata bahan-bahan masakan sudah mulai menipis aku pun pamit menuju ke dokter dan sekalian membeli beberapa bahan masakan ke minimarket, setibanya dirumah sakit dan diperiksa oleh dokter kandungan, dokter mengatakan bahwa aku positif hamil dan dokter itu mengucapkan selamat padaku dan memberikan hasil USG, aku pun pamit dan menuju minimarket terdekat, setelah membeli semuanya aku bergegas pulang.
Dalam perjalanan pulang secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Tatsuya dan dia sedang memeluk wanita lain, sebelum kejadian ini beberapa hari sebelumnya ada surat yang dikirim ke rumah dan surat tersebut menyebutkan bahwa surat tersebut ditujukan untukku, dan tidak ada nama pengirim ataupun alamat dari pengirim surat, setelah menerima surat aku langsung menuju ke kamar, dan saat aku buka surat itu dikamar aku mendapati sebuah foto dimana Tatsuya bersama seorang wanita yang wajahnya di blur sedang berpelukan dibalik foto itu tertulis “Apakah aktor Nakagawa Tatsuya sudah gila?! Memeluk wanita lain selain istrinya!!".
Aku hanya bodoh amat saja dan berpikir “Hah, netizen ini ada-ada aja, suamiku seorang aktor wajar lah dia sedang berakting” batinku disitu aku masih berpikir positif karena memang dunia hiburan hampir semua seperti ini hampir saja aku membuangnya, dibandingkan membuangnya mendingan aku menyimpannya saja buat jaga-jaga.
Aku tidak menyangka bahwa foto dan cerita itu benar saja saat melihat suamiku itu memeluk wanita lain yang bukan aku istrinya, Tatsuya terkejut saat dia menoleh dan melihat ku mematung melihatnya, dia pun refleks melepaskan pelukan itu dan mengatakan,
“Darling, ini tidak seperti yang kamu lihat”, katanya dengan panik.
Aku hanya membisu terpaku dan tidak mendengar nya dan tidak menyangka bahwa itu semua ternyata benar adanya aku sekilas melihat taxi melintas dan menghentikannya dan meminta sopir nya untuk cepat meninggalkan tempat ini, Tatsuya tidak percaya bahwa aku sangat marah dengan diamku dia mengejarku hingga kerumah.
Setibanya di rumah aku mengucapkan salam dan kedua mertua ku kaget pas aku masuk dan menangis menaruh bahan belanjaan di dapur dan lari menuju ke kamar, Tatsuya tiba dirumah kedua orang tuanya menyadari bahwa kami bertengkar, ayahnya sangat marah begitu pun ibunya karena pasti Tatsuya anak mereka itu sudah melanggar sumpah dari keluargaku, dan dia pun menuju ke kamar untuk menemuiku.
Seperti biasanya dia memelukku dari belakang refleks aku langsung mendorongnya dan kami pun bertengkar hebat, aku langsung mengambil foto dari seseorang yang mengirim surat dan melemparkan foto-foto itu dia kaget dan tidak percaya bahwa dari mana aku mendapatkan foto-foto tersebut.
“Ini semua tidak seperti yang kamu kira” katanya sambil panik.
Aku hanya diam tidak mendengarkan perkataan suamiku itu karena aku sudah terlanjur sangat emosi, aku pun langsung mengambil koper dan berkemas sambil memesan tiket untuk pulang menuju ke Prefektur Kyoto hari itu juga, setelah semuanya beres, aku memberikan cincin pernikahan padanya dan melemparkan hasil tespack dan USG, ya aku sengaja agar dia tau bahwa aku sedang mengandung anaknya karena aku pikir cepat atau lambat dia akan mengetahuinya, aku langsung turun dan berpamitan pada kedua mertuaku, keduanya membiarkanku pergi karena mereka tau bahwa aku sudah sangat kecewa dengan anak mereka.
Sebelum keluar dari kamar dan turun untuk pamit kepada kedua mertuaku, aku sempat mengatakan sesuatu yang membuat nya tidak bisa lagi berkutik “Dalam beberapa jam kedepan surat cerai akan tiba di rumah, aku sudah tanda tangan pada surat itu sebelum aku menikah denganmu untuk jaga-jaga”, kataku mengancam.
Dia terkejut dan sangat ketakutan saat aku mengatakan itu, diperjalanan menuju bandara aku langsung menelpon pihak bandara dan travel, akses jalan beserta pihak pelabuhan dan pihak perkeretaapian untuk memblokir seluruh akses menuju ke Prefektur Kyoto selama aku berangkat menuju kesana dan tiba di Prefektur Kyoto.
Disisi lain Tatsuya mencoba untuk menyusulku, tapi percuma karena dirumah kediaman keluarga Nakagawa dijaga ketat dari kejauhan oleh anggota ku secara bersembunyi dan aku memang menelpon anggota-anggota ku untuk membantuku menahan Tatsuya sampai aku tiba di Prefektur Kyoto, saat dibandara ada segerombolan ibu-ibu beserta anak mereka, anak-anak kecil yang melihatku itu langsung menghampiriku dan menyapaku,
“Hai kak, Kak Yuki ya?” aku hanya mengganguk dan mengatakan,
“Iya” jawabku.
Mereka senang bahwa ada aku disana, salah satu anak-anak itupun bertanya “Kak Yuki, kak Tatsuya dimana? Kok kakak sendirian, kalian tidak bertengkarkan?”.
Aku kaget dengan pertanyaan itu dan menjawab “Iya kakak berangkat nya sendiri karena kakak mau pergi mengurus masalah pekerjaan, kakak dan kak Tetsuya ngak bertengkar kok”.
Mereka menjawab “Oh kirain kalian sedang bertengkar soalnya bingung kak Yuki perginya sendirian”.
Aku hanya bisa tersenyum saja, ya tidak mungkin kan memberitahu mereka bahwa kami memang bertengkar apa kata orang nanti, salah satu ibu dari segerombolan itu mengajak ku duduk dan mungkin tau aku sedang mengandung karena melihat perubahan tubuhku dia pun mengatakan, “Yuki, kamu hamil ya?” tanyanya
Aku hanya bisa menjawab dan mengatakan “Iya tante, aku sedang hamil”,
Ibu itu pun bertanya “Kalian berdua sedang bertengkar ya?” aku sempat kaget, aku sempat berpikir ya sudah aku jawab saja karena mereka lebih berpengalaman,
"Iya kami bertengkar aku menjawab tidak tadi kepada mereka, soalnya mereka masih kecil dan belum mengerti apa-apa” jawabku.
“Ya sudah, dijaga kandungannya jangan sampai karena masalah kalian berdua bisa mempengaruhi kandunganmu” kata ibu itu.
Aku menjawab sekalian pamit kepada mereka semua, karena pesawatnya sudah tiba, “Iya tante, Yuki pamit ya pesawatnya udah tiba”.
"Iya, hati-hati ya diperjalanan” kata ibu itu dan yang lainnya.
Aku bergegas check-in dan menuju ke dalam pesawat, beberapa lama kemudian pesawat pun mendarat dan tiba di Prefektur Kyoto, aku pun turun dari pesawat dan memesan taxi menuju ke rumah. Setibanya di rumah seluruh anggota keluargaku kaget aku mendadak pulang tanpa memberitahu mereka dan mereka sangat terkejut aku pulang tanpa Tatsuya di sampingku, pas masuk dan duduk di ruang tamu aku pun menceritakan semuanya, setelah mendengar cerita tersebut benar saja kakakku sangat marah, emosinya meluap dan wajahnya merah, aku hanya diam karena baru kali ini kami semua melihat kakakku sangat marah, setelah meredakan emosinya dia menyuruh ku masuk ke kamar dan beristirahat, malam pun tiba kami makan malam dan menuju ke kamar masing-masing untuk tidur.
Keesokan harinya aku sedang diruang tamu duduk bersama keponakanku karena kebetulan semua orang dirumah karena hari itu sedang libur, saat sedang asik menemaninya bermain aku mendengar suara bel berbunyi pas aku buka ternyata itu adalah Tatsuya, dan benar saja aku melihat suamiku itu terpaku melihatku dengan mata yang bengkak karena menangis, sebelumnya aku memang sudah membuka blokiran seluruh akses menuju ke Prefektur Kyoto saat malam hari jadi tidak mengherankan Tatsuya muncul di keesokan harinya, melihat adik iparnya muncul dari kejauhan kakakku langsung menghajar adik iparnya itu, kami semua terkejut melihat kakak yang seperti itu, wajar dia dia marah karena Tatsuya melanggar sumpah keluargaku sebelum menikah denganku, Tatsuya hanya diam menerima pukulan kakak iparnya itu karena dia merasa bersalah, melihat Tatsuya berdarah dan hampir pingsan itu kakak hampir menghajarnya lagi karena melihatku berlari dan memeluk Tatsuya dan hampir mengenaiku, aku berkata pada kakak,
"Cukup kak, kakak boleh memarahi nya dan memukul nya, tapi jangan sampai seperti ini juga, kakak jangan lupa bahwa aku ngak suka ada pertengkaran antar saudara seperti ini apalagi ipar kalian!” kataku sambil mengangkat tubuh suamiku walaupun dia agak berat.
Setelah mendengarkan perkataanku kakak hanya diam terpaku saat aku mengatakan itu.
“Dan kau ikut aku kekamar kita selesaikan masalah ini di kamar” sesampainya dikamar benar saja kami bertengkar hebat lagi.
“Apa kau sudah gila menahan pukulan dan amarah kakak” kataku dengan marah.
Dan dia menjawab “Aku hanya bisa apa, aku sudah melanggar sumpah keluargamu dan hampir merusak hubungan antar kedua keluarga kita. My darling, aku sayang dan sangat mencintamu dan ngak akan pernah mengkhianati dirimu, maafkan aku, foto yang kamu lihat itu hanyalah sebuah salah paham anak perempuan itu adik sepupuku dari pihak ayah, dia menangis kehilangan sahabat nya karena kecelakaan lalu lintas” katanya.
Aku disitu berpikir dan mengingat bahwa di Jepang pernikahan sesama sepupu kandung itu legal bisa saja anak itu menaruh hati pada suamiku padahal dia sudah menikah denganku, aku takut dia benar-benar meninggalkanku dan mengkhianatiku nanti, aku hanya bisa menangis terpaku karena mendengar cerita dari suamiku itu, Tatsuya pun memelukku, aku pun membalas pelukannya, saat mendengar permohonan nya itu dan entah mengapa aku pun luluh dan memaafkan nya padahal tau bahwa hatiku sebenarnya masih sakit akan apa yang terjadi kemarin, tapi karena ketulusan dan takut kehilanganku itu aku memaafkan kesalahannya.
Dimalam hari setelah makan malam berakhir kami pun kembali ke kamar masing-masing, padahal aku mau melakukan apa yang mau aku lakukan sebelum aku menikah, mencuci semua piring dan membersihkan meja makan, tapi selama tinggal dirumah dan mengetahui aku hamil seluruh keluargaku melarangku kemana-mana seperti biasanya, mengurungku di dalam rumah sama saat aku masih remaja dulu dan tidak membiarkanku melakukan pekerjaan rumah apapun itu, dan dengan terpaksa aku hanya bisa ke kamar dan malas-malasan, aku menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih seperti sebelumnya aku lakukan sebelum tidur, seuasai semuanya aku pun ke tempat tidur untuk mengecek pekerjaan di laptop dan bermain game sebelum aku tidur. Tatsuya yang melihatku seperti itu dia seakan ingin melahap tubuhku yang kecil ini karena aku bermalas-malasan dan hanya memeriksa pekerjaan dan juga bermain game setelah selesai melihat pekerjaanku, dia pun memeluk dan menggangguku seperti biasanya dia lakukan di kediaman Nakagawa.
Dan berkata “Kau tidak tidur? Ini sudah malam tidak baik untuk kesehatanmu sekarang”.
“Jangan menggangguku, aku sedang fokus bermain” kataku.
Dia tersenyum dan membiarkanku bermain sepuasnya, sedangkan dia memelukku seperti yang dia lakukan setiap malam dan setiap hari seakan-akan aku pergi meninggalkannya saja, tapi aku membiarkannya.
Tidak lama aku mengatakan itu aku mendengar nada dering panggilan masuk dari telponnya dan yang menelpon ialah kedua mertuaku mereka pun bertanya dengan suara yang mengebut-gebut,
“Kalian tidak akan cerai dan berpisah kan? Dan Yuki-chan tidak akan menggugurkan kandungannya kan?”, tanya mereka dengan panik.
Tatsuya yang mendengar pertanyaan itu sedikit terkejut dan takut karena memang aku sempat mengancam suamiku itu di kediamannya “Aku akan menggugurkan anak ini walaupun dia memang tidak bersalah” ancamku. Ya aku hanya menakutinya, tapi tidak ada seorang ibu yang tega menggugurkan kandungannya, kecuali orang itu sangat benci dengan kehadiran anak-anaknya.
Aku menjawab pada kedua mertuaku “Ngak kok ma, pa, ngak akan, aku bukan seorang ibu yang sekejam itu, aku hanya menakuti anak kalian yang sangat menyebalkan ini!" kataku sambil menjewer telinganya hingga merah.
Keduanya hanya tertawa karena baru kali ini seumur hidup mereka melihat putra mereka itu ketakutan setengah mati, suamiku yang mendengar itu langsung cemberut aku hanya bisa menahan tawaku karena dia sangat lucu saat cemberut seperti itu dan setelah berbicara panjang lebar kami menutup telepon masing-masing, tawaku pun pecah karenanya yang sudah aku tahan sejak tadi, Tatsuya pun langsung menghukumku karena menakutiya, setelahnya aku dan Tatsuya pun tidur dan seminggu tinggal disana kami pun pulang ke Prefektur Ehime di kediaman Nakagawa.
Yah, sama seperti kediaman ku, keluarga suamiku bahkan melarangku melakukan apapun karena mereka hanya memiliki dua anak dan keduanya laki-laki, satunya sudah menetap di Prefektur lain sedangkan Tatsuya menetap disini dan mereka tidak memiliki anak perempuan, dan hanya memiliki aku menantunya yang mereka sudah anggap anak perempuan mereka sendiri. Beberapa bulan pun berlalu dan aku melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan Tatsuya dan aku pun menamai mereka dengan nama Nakagawa Yutaka dan Nakagawa Tsuki, kami semua bahagia melihat kedua anak itu lahir dalam keadaan sehat.
Bertahun-tahun pun berlalu dan kedua anak itu sudah memasuki usia 3 tahun kami semua sangat bahagia melihat tumbuh kembang mereka, tapi saat sebelum mereka beranjak 5 tahun Tatsuya meninggal karena sakit yang diderita nya. Setelah seminggu kepergiannya aku merasa sangat hampa sebab dia orang kedua yang meninggalkanku sendirian lagi selain mendiang ayahku, aku dan ketiga anakku pun kembali menuju kediaman Fuduki di Prefektur Kyoto dan aku berjanji kepada mereka selama liburan kami akan kesini untuk menemani mereka, mereka pun mengiyakan dan kami pun pamit.
Setelah si kembar beranjak usia 6 tahun dan Akihiko menginjak usia dewasa aku membawa ketiga anak itu pergi ke Prefektur Ehime untuk berlibur bersama kakek neneknya seperti janjiku pada mereka sebelum pulang ke Prefektur Kyoto, setibanya di sana kedua nya sangat senang dan bahagia saat aku dan ketiga cucu mereka datang berlibur bersama, saat di rumah kediaman Nakagawa si kembar sedang bermain sedangkan Akihiko mengawasi kedua adiknya itu sambil bermain laptop didalam kamarnya, tidak lama kemudian nenek mereka masuk kekamar dan bermain bersama mereka berdua, saat sebelum aku masuk ke kamar mereka, aku mendengar mereka bertanya kepada mertuaku,
“Nenek, kami pernah tanya ke Mommy, kok Mommy tidak mau menikah lagi?” tanya mereka.
Aku pun terkejut begitu pun dengan mertuaku dan Akihiko yang tidak menyangka kedua cucu dan adiknya menanyakan itu. Ya kedua anak itu pernah bertanya padaku dihadapan keluarga Fuduki tentang mengapa aku tidak mau menikah lagi, aku dan keluargaku tidak menjawab sepatah kata pertanyaan itu dan hanya terdiam terpaku saat mereka menanyakan itu dan hanya bisa melarang mereka menanyakan hal itu lagi mereka hanya mengangguk dan mengiyakan.
“Pas kami bertanya pada Mommy dia hanya diam saja dan tidak memperbolehkan kami menanyakan hal itu lagi” kata mereka melanjutkan.
Dan mertuaku pun melirikku dan aku pun mengiyakan maksudnya dan tau bahwa aku sedang berada di balik tembok dan mengintip.
“Mommy dan Daddy kalian itu cinta nya sangat lah kuat, dan alasan Mommy tidak mau menikah untuk kedua kalinya itu karena tidak ada pria lain yang seperti Daddy kalian lagi, itu sebabnya Mommy tidak mau menikah lagi dan susah untuk menerima pria lain lagi. Iyakan Yuki-chan?". Jawab mertuaku dan menoleh ke pintu sambil bertanya padaku.
Kedua anak itu terkejut karena mereka tidak tau bahwa aku sedari tadi mendengarkan mereka di pintu masuk mereka sedikit ketakutan melihat Mommy mereka berdiri, masuk dan berjongkok memegang tangan mereka dan berkata,
“Iya benar, inilah alasan Mommy yang sebenarnya, Mommy tidak mau menikah lagi karena tidak ada lagi yang seperti Daddy kalian, walupun Daddy kalian memang meminta Mommy menikah lagi setelah kepergiannya, dan Mommy menolak karena Mommy sangat mencintai Daddy kalian” kataku.
Memang benar sebelum kematian Daddy mereka Tatsuya memintaku untuk menikah lagi setelah kepergian nya, tapi aku menolak nya dan mengatakan,
“Sekalipun kau pergi meninggalkanku selamanya aku tidak akan pernah menikah dengan pria lain selain dirimu, aku tidak mau, aku bukan seperti wanita lainnya yang setelah kepergian suaminya dia menikah lagi, aku takut tidak ada lagi yang seperti dirimu dan aku sangat mencintaimu seumur hidupku hingga akhir hayatku dan jangan lupa bahwa aku akan bisa merasakan keberadaanmu setelah kepergianmu nanti” kataku sambil menangis, benar aku memiliki indra keenam bedanya aku hanya bisa merasakan tapi tidak bisa melihat mereka secara langsung.
Tatsuya yang mendengar perkataan ku itu menangis karena dia tidak menyangka bahwa dia mendapatkan istri yang tulus mencintainya, bahkan tidak akan pernah menikah lagi setelah kepergiannya dia pun mencium keningku yang terakhir kalinya dan mengucapkan selamat tinggal padaku.
“Jadi kalian mengerti kan alasan Mommy yang sebenarnya”, kataku
“Kakak tau?”, tanya si kembar pada Akihiko
“Iya tau”, jawabnya.
Akupun memandang ketiganya dan memeluk mereka bertiga dengan tersenyum. Hari libur pun berakhir kami harus kembali ke Prefektur Kyoto dan melanjutkan kehidupan kami. Aku tidak menyangka bisa membesarkan mereka bertiga sendirian tanpa Tatsuya disampingku. Seketika aku pun terbangun dari mimpi dengan mata yang sembab karena ternyata aku tidur sambil menangis dan tidak menyangka mendapatkan mimpi itu, tapi bagiku, itu hanyalah sebuah mimpi walupun tidak semua mimpi itu menjadi kenyataan dan hanyalah sebagai bunga tidur. Aku bergegas bangun dan bersiap untuk ke instansi seperti biasanya.
~"Cinta tak harus memiliki, merelakan dia pergi mungkin adalah jalan yang terbaik untuk sekarang".