Part 2
Di perjalanan mereka saling diam. Tias yang memecahkan hening bersuara. "Rudi, kamu lihat apa sih tadi dan siapa orang itu?"
"Nanti saja kalau sampai akan ku ceritakan apa yang ku lihat tadi. Orang itu berbahaya!"
Sebenarnya apa sih yang dilihat Rudi?
.................................
Sebenarnya dia ingin menceritakan semua yang dia lihat di gubuk tua itu. Namun, dia tidak tega membuat Tias khawatir. Diliriknya Tias lewat kaca spionnya. Nampak gadis itu sibuk dengan kamera mininya. Rudi tersenyum. Di hatinya berkata, biarlah dia menjadi penasaran. Jangan sampai Tias tahu kalau aku melihat mayat. Dia akan panik dan merengek minta pulang.
Mereka sampai di sebuah warung makan yang sepi. Di situ hanya ada seorang ibu dengan rambut putih sampai ke tanah. Melihat itu Rudi segera berbelok ke arah lain. Tias juga ikut melihat wanita tua itu. "Rud, kau lihat. Perempuan yang sedang memandangi kita. tatapannya sungguh mengerikan," bisik Tias yang masih melihat wajah wanita tua itu.
Dia bergidik. "Rud, kenapa kamu diam saja dari tadi?" Tias menepuk pundak Rudi.
"Jangan diperhatiin. Anggap tidak ada," sahut Rudi. Dia mengabaikan pertanyaan temannya.
"Iya. Eh, kenapa, ya kita tiba-tiba terkunci di gubuk itu apa ada yang sengaja?"
Rudi menggeleng. "Mungkin hanya angin yang membanting pintunya, makanya tertutup dengan kencang," sahutnya. Rudi diam lagi. Tias juga ikut diam.
Satu jam mereka terus mengendarai motornya. tiba-tiba saja motor Rudi mogok.
"Sial!" umpatnya. Tias pun turun. Lalu Rudi membungkuk memeriksa motornya.
"Rudi, kenapa sih kita harus berhenti di hutan-hutan begini!" gerutu Tias. Dia tidak suka dengan pepohonan yang rindang dengan dahan hitam meliuk-liuk. Pohon-pohon itu seolah mengejeknya.
"Sabarlah. Ntar aku liat dulu bensin atau businya yang udah kalah." Rudi lalu membuka dasbor motor. Dia mulai mengambil alat sparepart motor, tapi sebelum itu dia memeriksa dengan senter kecil yang dia siapkan, bensin di tangki.
"Masih cukup sampai desa, tapi kok malah mogok," gumamnya. Rudi merasa dia belum perlu mengisi bensinnya.
Sementara dia sibuk sendiri, Tias menepuk-nepuk pundak Rudi.
"Rud! Rud!" panggilnya.
"Apa sih, ah! Jangan ganggu!" Rudi terus mengotak-atik motornya, Tias terus menepuk pundaknya berusaha memberitahu sesuatu.
Dari belakang Rudi, seseorang berjalan ke arah mereka. Wajahnya tertutup dengan bayang-bayang pohon hingga Tias tidak bisa melihat rupa orang itu. Tangannya menepuk pundak Rudi. Pemuda itu terkejut dan menoleh ke orang itu.
"Maaf, Dek saya mengangetkan kamu, ya? Motornya kenapa?"
Orang itu bertanya. Raut wajahnya sekarang nampak jelas—yang membuat Tias bergidik melihat bekas luka bakar yang memanjang dari dahi kiri sampai ke dagunya. Tias pun menunduk takut melihat orang itu.
"Sini saya coba starter motornya, Dek!" tawar orang itu. Suaranya serak dan berat. Dia kemudian mengambil alih dengan memegang stir motor Rudi lalu menstarter berkali-kali, tangannya menyetel kabel di bawah stir. Tiba-tiba saja motornya hidup lagi.
"Ini loh, Dek. Akinya harus diganti. Kabel listrik juga agak longgar," kata orang itu. Rudi bersyukur dia merasa lega karena ada bantuan tidak terduga.
Namun, orang itu memerhatikan muka mereka. Rudi dan Tias. "Kalian orang baru di sini, ya? Kok saya tidak pernah melihat kalian?" tanya orang itu dengan tatapan curiga.
"Eh, i-iya Pak. Kami memang bukan dari desa ini. Kami mau ke desa M—desa sebelah tapi motor sudah mogok," jelas Rudi. Orang itu manggut-manggut.
"Kalian tidak boleh meneruskan perjalanan karena hari sudah larut malam. Kalau tidak keberatan, saya bisa bantu kalian. Menginap saja di rumah ibu saya yang tidak jauh dari sini," tawarnya memberi tumpangan pada mereka.
Rudi dan Tias diam saling pandang. Rudi menatap Tias. "Yas, kita langsung saja tak usah menginap, ya," bisik Rudi.
Dia sebenarnya tidak percaya dengan orang asing itu meskipun orang itu sudah menolong mereka, tetapi Tias tiba-tiba bilang merasa lapar dan lelah.
"Aku lapar Rud..."
"Kalau begitu, baiklah. Kita mengikuti orang ini saja,tapi aku tidak percaya padanya," bisik Rudi lagi. "Kita harus hati-hati, ya. Kamu jangan jauh-jauh dariku." Sambung Rudi.
Tias pun mengangguk. Orang itu bertanya lagi," bagaimana kalian mau ikut saya?"
"Ya, kami mau istirahat dulu, Pak."
"Bagus! Besok pagi baru melanjutkan perjalanan kalian. Saya Jakir...," kata pak Jakir mengajak berkenalan dengan Tias dan Rudi.
"Rudi, Pak dan ini Tias, teman saya," kata Rudi.
Mereka pun terpaksa menginap di rumah orang asing yang bernama Jakir.
Sepanjang perjalanan ke rumah Jakir tak ada yang berbicara. Suasana terasa aneh, sepi sekali. Jakir berjalan kaki di depan, dan mereka di belakang. Rudi mendorong motornya disertai Tias di sampingnya. Tak lama mereka sudah sampai di sebuah warung makan yang sudah tutup.
Mereka berdua memandangi warung itu. "Bukannya tadi kita sudah melewati warung itu, ya?" tanya Tias. Rudi melihat lalu mengangguk membenarkan. Dalam hatinya bicara, sepertinya mereka cuma berputar-putar saja di tempat itu. Apakah benar inilah desa yang mereka cari, kalau benar begitu. Mata Rudi terbelalak. Dia ingat dengan pesan Yani. Gadis itu memberikan nasihat padanya sebelum mereka berangkat.
"Ingat, ya Rud. Jangan pernah menegur mereka. Orang di desa itu tidak suka ditegur oleh orang asing! Pokoknya jangan pernah!"
Dia lupa apa alasan Yani berkata seperti itu. Kenapa dia tidak bisa menyapa orang di desa itu?
"Nah, ayo masuk. Ini rumahku. Itu ibuku," kata orang itu. Suaranya tidak ramah sama sekali. Berbeda sekali dengan tadi. Matanya terus menatap Tias dengan tajam. Rudi memegang lengan Tias.Ia bersiap-siap untuk lari bersama Tias.
"Kita harus pergi!" bisiknya.
"Tapi kenapa!Aku lapar, Rud," keluh Tias. Ia merasa cacing di perutnya berbunyi terus mereka minta makan.
"Ssst. Kau lihat, ada yang aneh dengan tatapan mereka. Aku ngeri!"
"Ya, aku lihat, tapi aku lapar Rud!" jawab Tias masih berbisik.
"Kalian tidak boleh meneruskan perjalanan, karena...!" Tiba-tiba dia orang datang dari belakang badan wanita tua itu. Rudi dan Tias mematung, wajah mereka menjadi pucat.
Dia orang dengan topi jerami dan karung di tangan mereka. Rudi kenal salah satu suara orang itu.
Mereka adalah !!
..............................
Part 3
Sementara di rumah Yani... nenek Yani bernama Nek Ira. Dia berbicara dengan Yani.
"Yani, kenapa kamu tidak pergi bersama temanmu?"
"Nek, bukannya nenek melarangku pergi, kemarin nenek bilang jangan ke sana berkali-kali," kata Yani dengan heran.
Kemarin siang di sungai ketika sedang memancar. Yani mendengar suara orang berkali-kali melarang dia pergi ke desa M.
"Heh, kapan nenek bilang begitu?"
Yani tertegun. Jadi siapa yang bicara padanya berkali-kali mengingatkan dia jangan ke sana kalau bukan neneknya?
"Sudahlah. Kamu tidak tidur siang?"
"Belum, Nek. Yani belum mengantuk," katanya.
Di tengah kekalutan pikiran. Dia terus khawatir dengan teman-temannya.
Semoga kalian aman. Ya Allah, lindungi mereka... Teman-temanku.
.............................
Mereka!!
"Lari, Rudi! Lari!" Tias panik bukan main. Dia langsung naik di belakang jok motor sambil menarik baju Rudi mendesak supaya Rudi cepat meninggalkan tempat itu. Sementara orang-orang itu tidak tertawa. Mereka diam mengawasi dengan tatapan tajam dan senyuman lebar.
"Mau lari ke mana di tengah malam buta ayo masuk saja ke dalam!" teriak wanita dengan rambut sampai ke tanah. Matanya memelototi mereka.
"Rudiii ngapain bengong. Ayo starter motornya cepat!" desak Tias. Dia meringis ketakutan. Rasanya dia sudah kencing di celana saking paniknya. Rudi dengan panik juga sibuk menstarter berkali-kali sambil mengumpat. "Aih, sialan! Kenapa tak mau hidup! Ayolah sialan!"
Mereka semakin dekat. Kali ini di muka bekas luka bakar ikut juga dengan memegang benda tajam yang melengkung. Sabit putih berkilau. Melihat itu Tias menangis. "Mamaa! Aku tidak mau matii!"
"Anj*Ng motor Bangs*t!" umpat Rudi memakai motornya.
BREEEEMMMMM!!!
Motornya langsung berbunyi ketika di gas kencang. Tanpa aba-aba Rudi memutar dan menancap gas kabur dari sana. Mereka tidak diam.
"Kejar!!" Mereka bertiga lari mengejar Rudi dan Tias.
Mereka naik motor butut milik si pembawa sabit putih.
"Tancap gas jangan sampai hilang makan malam kita!" teriak si topi jerami dengan karung goni di tangannya. Dia menggapai tubuh Rudi, hendak menariknya. Namun, Rudi yang hobi balapan dengan teman sekolahnya itu tidak kalah. Dia terus menghindari mereka. Terjadi kejar-kejaran di tengah malam buta. Hujan yang deras membuat ban selip berkali-kali. Mereka hampir kehilangan nyawa karena tergelincir dengan jalanan yang licin.
Part 4
Tengah malam buta... Nek Ira duduk bersila di depan sebuah dipan. Dipan dari bambu itu sudah sangat tua dan hitam. Nampak ada beberapa onggokan tulang-belulang di atas dipan. Lalu Nek Ira sujud menyembah tulang-belulang itu seraya berseru, "Wahai sang penunggu di tanah merah ini... terimalah sembah sujudku. Terimalah pemberianku...!"
Lalu Nek Ira memberikan sajen berisi telur, darah ayam dan beberapa potong kue di piring. Kemudian dia menari-nari di sana...
Di balik goa, seorang anak perempuan berusia 17 tahun mengintip dengan mata terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh orang tua itu.
"Apa yang dilakukan Nek Ira, kenapa menyembah tulang dan tulang apa itu?" gumamnya. Anak itu lari dari sana. Sampai di rumahnya dia bersembunyi di kamar dengan napas tersengal-sengal. Dia duduk di lantai dengan tangan memeluk kakinya.
"Ternyata ini yang dilakukan nenek setiap malam dia keluyuran di luar..."
Yani semakin takut dan sedih. Dia merasa Nek Ira sesat dan pemuja sesat. Pemujaan yang dilakukan neneknya itu sudah terbongkar olehnya. Dia semakin takut kepada neneknya.
"Tulang siapa itu?" gumam Yani. Dia lihat tulang belulang itu masih lengkap. Dari bentuknya mirip dengan tulang seorang wanita...
"Aku harus cari tahu tulang siapa dan kenapa nenekku menyembah tulang itu..."
Part 5
Sementara di hutan. Mereka, Rudi dan Tias kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari motor! Tias luka-luka begitu juga dengan Rudi.
"Itu mereka, tangkap mereka!" teriak salah satu dari orang-orang jahat itu.
Rudi menyingkirkan motornya yang masih menindih tubuhnya dengan sisa tenaganya. "Tias, kau bisa lari sendiri, kan?" tanya Rudi. Tias menggeleng kepala. "Tidak. Kita lari sama-sama!"
Tias menarik lengan Rudi. Sepertinya kaki Rudi terkilir. Rudi berjalan agak pincang.
"Cepatlah Rud, mereka terus mengejar kita!" paniknya. Tias terus memapah Rudi dan memaksa berlari. Dia juga terluka, tetapi dia menguatkan hatinya dan terus berlari tanpa arah.
Mereka melihat cahaya terang di ujung hutan.
"Kita harus sembunyi!"
Tias pun membawa Rudi ke sebuah gubuk.
Gubuk tua itu.
"Kenapa kita ke sini lagi?" ucapnya dengan putus asa.
"Lantas, harus gimana ini?" Tias melihat ke sekeliling semua gelap dan menakutkan. Tidak ada tempat yang terang selain gubuk tua yang tadi.
"Apakah kita harus masuk lagi ke dalam?" tanya Rudi dengan napas ngos-ngosan. Rasanya hampir mati karena terus berlari dengan kaki pincang.
Tias membuka tali pengait gubuk itu.
KRETEEEKKKKK!
Mereka segera menutup gubuk itu. Tias mencari sesuatu yang bisa mengganjal pintunya. Dia melihat sebuah kursi lalu memakai benda itu untuk mengganjal pintunya.
"Kita terjebak di sini lagi!"
Rudi mendengus kesal. Dia masih kesakitan dengan kakinya.
"Ini seperti simalakama. Kita tidak bisa lari ke mana-mana," kesalnya.
"Tenanglah!" bisik Tias. Dia mengintip di celah-celah. Matanya terus melihat tiga orang yang sudah datang. Mereka tidak langsung masuk ke gubuk.
"Aneh..."
"Apa yang aneh, Yas?" tanya Rudi. Dia ikut mengintip.
"Apa yang mereka rencanakan, kenapa mereka cuma berputar-putar seperti orang gila?" Mereka berdua melihat para penjahat itu cuma tertawa-tawa dan berjalan mengitari gubuk itu.
.................
Part 6
Sementara di rumah, Yani makin gelisah. Dia tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan neneknya. Tepat jam dua dinihari, Yani pun keluar dari rumah berjalan ke goa seorang diri.
Dia membawa lentera. Di desanya, listrik sudah dipadamkan jam dua belas malam. Jadi Desa A begitu gelap. Penerangan di depan rumah-rumah penduduk yang jarang-jarang itu hanya menggunakan lampu lentera saja.
Yani pun berjalan menuju ke goa. Ketika sampai di goa, dia langsung masuk dan melihat dipan bambu yang kosong.
"Heh, kebmana tulang-belulang yang aku lihat tadi kok tidak ada?"
Yani terperanjat. Tulang-belulang yang dia lihat tidak ada lagi di sana. Seseorang sudah memindahkan benda itu.
Apakah nenek yang sudah memindahkan tulangnya, tapi di mana?
Tiba-tiba dia merasa hal yang aneh. Aura yang dingin di kulit tengkuknya.
Seperti ada orang yang meniup tengkuknya. Yani merinding.
"Jangan ganggu...," bisiknya. Dia cepat-cepat berbalik dan hendak keluar.
Namun, dia terkejut sekali lagi melihat ada sosok hitam di situ. Bayangan Seorang perempuan berdiri di sana di ujung dipan dengan melayang. Yani terduduk lemas sambil terus melihat sosok gelap itu.
Tangan makhluk itu menggapainya. Seolah memanggilnya untuk mendekat.
"Si-Siapa kau? Jangan ganggu aku!" mulutnya bergetar ketika berbicara. Dia sebenarnya ingin bertanya lagi, tiba-tiba dia mendengar suara perempuan bernyanyi.
"Permisi, Mbak. Mbak ini siapa toh?" tanya Yani yang penasaran.
Sosok bayangan itu sudah menghilang, diganti dengan suara perempuan bernyanyi.
Dia mengitari seisi goa tidak ada siapapun di sana.
Lantas, siapa perempuan itu?
Yani tidak mau ambil pusing lagi. Dia lari dari sana meninggalkan lenteranya. Yani keluar goa dengan napas terengah-engah.
Hah ... Hah... Ha ...!
"Tolong! Tolong!" Yani lari ke rumah penduduk yang tidak jauh dari sana. Dia menggedor semua rumah di situ.
"Tolong aku! Buka pintunya!"
Part 7
"Hahahaha!"
"Hahahaha! Kalian tidak akan lolos lagi!"
Tawa yang membahana itu datangnya dari orang-orang yang mengejar Tias dan Rudi. Mereka menari-nari mengitari gubuk tua tempat mereka bersembunyi.
"Rud, lakukan sesuatu!" pinta Tias dengan ketakutan.
"Tenanglah, kau lihat kameraku, kan? Coba ambil di saku kiri celanaku," kata Rudi pelan.
"Bukannya kau punya tangan. Ambil sendiri!" sentak Tias dengan wajah merona. Dia lihat saku celana Rudi, tetapi matanya tidak ke arah situ.
"Baiklah. Kakiku makin berdenyut. Kemungkinan aku akan mati di sini, tapi kamu pasti selamat!"
Kemudian Rudi merogoh handycam mini miliknya lalu mulai merekam.
"Pemirsa New Misteri. Kami sudah sampai di desa M. Desa yang tidak ada di peta. ternyata desa ini penuh dengan orang-orang jahat yang keji. Mereka adalah kanibal pemakan manusia. Sekarang saya bersama temanku terjebak di gubuk tua bekas penjagalan dari orang-orang jahat itu. Saya tahu tentang itu, karena gubuk tua ini adalah tempat mereka menggeret leher orang-orang yang saya lihat di karung-karung hitam di belakang gubuk!"
Mendengar itu Tias terperanjat. Jadi, apa yang dilihat Rudi ada mayat-mayat orang yang dijaga!?
Juga tengkorak anak kecil, bayi,dan lainnya!?
Tias pucat pias. Rasanya ada cairan hangat yang keluar di bawah celana jeans-nya. Dia pipis di celana!
Kamera mininya masih terus merekam, mengitari seluruh gubuk tua yang berbau bangkai itu di tengah-tengah ada kursi kosong. Kata Rudi lagi, " pemirsa, kalian lihat kursi ini bukan? Ini adalah kursi bekas para korban yang digiring di sini. Satu-satu di duduki di sini. Tangan dan kakinya diikat lalu mereka pun mulai memotret korban!"
Tias ingin bertanya kenapa Rudi tahu akan hal ini. Rudi menyuruh Tias diam.
"Pemirsa, jika aku tidak selamat, tolong beritahukan kepada ayah dan ibuku. Katakan aku mencintai mereka. Jangan cari aku..."
Hanya sampai di situ saja rekaman Rudi karena kameranya sudah low baterai.
"Rud!" Tias panik karena Rudi tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Bersamaan dengan itu pintu ditendang keras. Tampak di depan Tias tiga orang memakai topeng di tangan mereka terdapat cambuk. Satu orang lainnya memegang sabit berkilau, dan satu temannya memegang karung hitam.
"Ketemu!" teriak salah satu dari mereka.
.............