Alunan musik gamelan mengiringi hari bahagia kakak pertamaku. Mas Alan dengan baju pengantin hitam ala adat jawa yang dia kenakan. Sambil bercengkrama dengan Mbak Helmi wanita yang kini resmi menjadi istrinya sekaligus menjadi kakak iparku. Kini mereka duduk di kursi pelaminan yang telah lama dinantikan. Mbak Helmi dengan baju pengantin hitam dilengkapi dengan hijab krem dan untaian bunga melati serta bunga kantil yang dironce panjang menjuntai. Juga riasan wajah yang membuatnya menjadi wanita tercantik di hari ini.
Kulihat senyum dan tawa bahagia yang terpancar dari wajah mereka. Begitu pula dengan orang-orang yang hadir. Yah memang sudah sewajarnya begitu. Tetapi kenapa aku tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka?
Justru ingin rasanya aku menangis. Kurasakan rasa sesak di dada karena menahan tetesan butir air yang akan keluar dari pelupuk mataku, dan aku tak tahu kenapa itu terjadi. Apakah itu wajar? Ini kan hari bahagia kakakku. Sebagai adik harusnya aku juga ikut senang kan? Kakakku sudah menemukan tambatan hati. Lagi pula Mbak Helmi adalah wanita yang cantik dan sholehah, lulusan sarjana ekonomi pula, dia juga begitu perhatian dengan adik-adik iparnya ini dan sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Tak butuh waktu lama agar kami bisa akrab dengannya.
Aku yang masih berusia 14 tahun ini tidak bisa mengerti perasaanku sendiri. Ya, aku memang orangnya bisa dibilang tertutup dan tidak bisa mengungkapkan emosiku sendiri. Dan jujur saja itu sangat menyulitkan diriku dalam bergaul. Tentunya temanku tidak banyak karena karakterku yang seperti itu.
Sebelumnya kuperkenalkan diri dulu. Namaku Nilam, siswi kelas 1 SMP anak ketiga dari 4 bersaudara. Kakak pertamaku Mas Alan, kakak keduaku Mbak Lita yang sedang kuliah di jurusan sastra jawa, dan Reyhan adalah sibungsu adikku yang masih duduk di kelas 3 SD. Kami berempat tidak selalu berkumpul bersama. Itu karena Sejak SMA Mas Alan sudah kos sendiri sebab jarak dari rumah ke sekolahnya yang terlalu jauh. Begitu pula dengan mbak Lita. Libur sekolah adalah momen yang paling kutunggu karena kami berempat bisa bercengkrama bersama. Melepaskan rindu dan rasa penat dengan rutinitas sehari-hari yang telah dilalui. Selalu ada tawa yang bergema saat kita bersama. Dan entah mengapa momen-momen seperti itu terasa sangat singkat dan selalu kurang ketika dilalui.
"Dek kenapa diem?" Tanya mbak Helmi seketika membuyarkan pikiranku yang sedang bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah yang kami rajut bersama.
"Nggak papa kok mbak"
"Jangan kebanyakan ngalamun. Nggak baik tau."
"Iya mbak." Jawabku sambil tersenyum.
Waktu cepat berlalu. Dari pagi, siang, sore dan kini berganti malam. Resepsi pernikahan kakakku sudah selesai. Tapi acara masih berlanjut dengan adanya pertunjukan wayang kulit. Rumah kami masih dipenuhi banyak tamu undangan yang antuasias menyaksikan pertunjukan tersebut. Mas Alan dan anggota keluargaku lainnya masih sibuk menyambut tamu undangan. Dan adikku sibungsu dengan antusias ikut menyaksikan pertunjukan wayang favoritnya sambil duduk di panggung bersebelahan dengan pemain gamelan. Sedangkan Mbak Helmi sudah terlalu lelah dengan resepsi dari pagi sampai sore tadi. Diapun mengajakku untuk beristirahat di kamar pengantinnya sambil banyak mengobrol.
"Mbak Helmi. Habis acaranya selesai Mbak Helmi sama Mas Alan di sininya masih lama nggak?" Tanyaku sambil duduk di atas kasur dan bersandar di dinding kayu.
"Kenapa emangnya?" Tanya Mbak Helmi sambil tersenyum. Sepertinya ia tahu apa yang ada di pikiranku.
"Nggak papa. Cuma tanya aja."
"Sampai seminggu dek. Soalnya jatah cuti Mbak Helmi sama Mas Alan cuma segitu. Sebenarnya udah cukup panjang sih, tapi rasanya masih tetep kurang." Jawabnya sambil membersihkan sisa riasan wajah.
"Mbak Helmi sama Mas Alan nanti bakal sering-sering main ke sini nggak?"
"Pengennya gitu dek, tapi mestinya nggak bisa. Kan jauh dari sini ke Sukoharjo. Paling nanti pas libur panjang aja." Sahut Mbak Helmi dengan lembut.
"Oh iya juga Mbak." Jawabku sambil nyengir.
Mas Alan dan Mbak Helmi memang bekerja sebagai guru di sebuah SMP di Sukoharjo. Masih honorer memang, untuk menyambung kehidupan sehari-hari Mas Alan dan Mbak Helmi juga menjadi tutor di sebuah tempat les di kota tersebut. Jadi wajar saja kalau nantinya Mbak Helmi dan Mas Alan tidak bisa sering main ke sini. Seketika dadaku kembali sesak karena menahan butir-butir air yang memaksa keluar dari pelupuk mataku. Namun kami masih terus mengobrol karena Mbak Helmi tidak pernah kekurangan topik pembicaraan. Sampai tidak terasa aku tertidur di kamar pengantin kakakku. Keesokan harinya aku terbangun di antara himpitan Mbak Helmi dan Mas Alan. Tanpa rasa bersalah aku segera beranjak dari tempat tidur.
Mas Alan yang ikut terbangunpun bertanya "Udah bangun dek?"
"Iya mas." Jawabku dengan suara yang masih mengantuk.
"Apa mau berangkat sekolah?"
"Iya soalnya cuma ijin 1 hari."
"Ya udah buruan mandi terus siap-siap. Nanti Mas yang anter."
"Oke. Yes nggak perlu sesak-sesakan di bus." Sahutku dengan girang.
Mas Alan memang suka antar jemput aku kalau berangkat dan pulang sekolah selagi dia berada di rumah. Aku memang tinggal di desa yang aksesnya masih serba terbatas. Untuk menuju sekolahku yang ada di kecamatan membutuhkan waktu sekitar 30-40 menit menggunakan bus umum yang penuh sesak karena hanya ada 3 bus saja yang beroperasi. Bus pertama jam 5:30, bus kedua jam 06.00 dan bus ketiga jam 07.30.
Sebenarnya aku sudah dibelikan sepeda oleh ibuku untuk pulang pergi sekolah. Kata ibu biar adil, karena dulu kedua kakakku juga bersepeda kalau ke sekolah SMP. Tapi justru Mas Alan yang tidak setuju.
"Kasihan dek Nilam bu kalau harus bersepeda sendirian." Kata Mas Alan kala itu.
"Ya nggak papa, kan biar adil. Dulu kamu sama Lita juga sepedaan aja." Jawab Ibu.
"Ya kan dulu sama sekarang jamannya udah beda bu. Dulu belum ada bus, sepeda motor juga jarang yang punya. Jadi banyak temennya yang sepedaan. Kalau sekarangkan udah ada bus, malah banyak yang punya sepeda motor sendiri. Dari sini ke kecamatan jauh lho bu kalo cuma naik sepeda, apalagi kalau sendirian, kasihan Nilam." Jelas Mas Alan. Dia memang paling tidak tegaan kalau sama adik-adiknya. Dan itu salah satu yang membuatku merindukan kepulangannya dari kota rantau.
"Ya udah deh kalau gitu, ibu ngikut aja." Sahut ibu kala itu.
Akupun keluar dari kamar pengantin kakakku, diluar sudah banyak tetangga yang membantu beberes usai acara resepsi kemarin. Ketika aku mengambil handuk dan hendak masuk ke kamar mandi, ibuku melihatku dan bertanya, "Tadi malam kamu tidur di mana kok di kamarmu nggak kelihatan?"
"Aku tidur di kamar Mas Alan sama Mbak Helmi bu." Jawabku dengan polos."
"Maksudmu kamu tidur bertiga sama Mbak Helmi dan Mas Alan?" Tanya ibuku tanda tak percaya. Akupun mengangguk mengiyakan.
"Emangnya kenapa bu? Kan kalau Mas Alan sama Mbak Lita pulang udah biasa tidur berempat sama dek Reyhan juga." Tanyaku dengan heran.
"Ampun, gimana jelasinnya ke ni anak. Masmu juga selalu nggak tegaan sama adik-adiknya. Emang Mbak Helmi ngijinin kamu?"
"Orang Mbak Helmi yang ngajak aku ngobrol di kamarnya sampai aku ketiduran."
"Lha dalah lanang wedok pada wae (lha dalah laki-laki sama perempuan sama saja)."
"Tauk lah bu mau mandi keburu telat."
Usai bersiap-siap dan sarapan, aku segera berangkat diantar Mas Alan dengan sepeda motornya. Di sepanjang perjalanan kami mengobrol.
"Ada yang mau kamu omongin nggak dek?" Tanya Mas Alan mengawali percakapan.
"Omongin apa Mas?"
"Hmmmmmm, kamu tu kebiasaan apa-apa dipendem sendiri."
"Maksudnya?" Tanyaku masih tak mengerti.
"Mas tahu kamu ada rasa sedihnya kan Mas Alan udah menikah?" Aku terkejut pertanyaan Mas Alan bisa tepat sasaran.
"Ya nggak lah. Masak Mas Alan nikah aku sedih, ya ikut senenglah. Apa lagi Mbak Helmi orangnya baik."
"Sedihnya waktu buat ngumpul keluarga jadi kurang. Sudah nggak bisa kayak dulu lagi." Tebak Mas Alan.
"Kok tahu?" Spontan aku bertanya sambil mengerutkan dahi.
"Mas Alan tu sebelum menikah juga galau mikirin itu. Nggak bisa sering-sering jenguk bapak sama ibu. Nggak bisa sering-sering ngumpul, bercanda bareng sama Mbak Lita, kamu dan dek Reyhan. Tapi Mas juga bahagia banget dapetin pendamping kaya Mbakyumu Helmi. Tapi biarpun begitu hidup harus terus perjalan. Nantinya akan banyak perubahan yang dialami. Tapi itu semua nggak merubah kalau kalian bertiga adik-adik kesayangan Mas Alan."
Mendengar ucapan Mas Alan akhirnya akupun meneteskan air mata. Benar ucapan Mas Alan. Kelak Mbak Lita, aku dan adikkupun akan menjalani kehidupan masing-masing. Tapi itu tidak akan merubah ikatan persaudaraan kami.
Mas Alan melihatku dari kaca spion. Dia tersenyum dan berkata, "Nah gitu dong. Kalau mau nangis ya nangis aja nggak usah ditahan, biar plong perasaannya. Yang penting kalau sedih nggak keterusan. Apa-apa jangan dipendem sendiri, nggak baik buat kesehatan mental. Sering-sering cerita. Bisa sama Mas Alan, Mbak Lita, bapak atau ibu, temen juga bisa.Paham?"
"Iya-iya paham."
"Habis ini jangan sedih-sedihan lagi ya. Jangan mendem-mendem lagi." Imbuh Mas Alan.
"Siap Pak Guru." Kamipun sudah bisa tertawa lepas lagi.
Tak terasa kami sudah sampai di depan gerbang SMP. Aku turun dari sepeda motor lalu berpamitan dengan mas Alan.
"Selamat belajar ya, semoga menyenangkan." Kata Mas Alan
"Siap Pak. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Mas Alan segera memutar balik sepeda motornya dan berlalu meninggalkan sekolahku. Aku membalikkan badan dan berjalan melewati gerbang. Terus melangkah menuju ruang kelas dengan hati yang lega. Kakakku benar, tak baik jika aku selalu memendam sesuatu. Perlahan aku harus memperbaiki sifatku yang tertutup ini. Aku tahu kami berempat saling menyayangi. Meskipun nantinya kami akan menjalani kehidupan masing-masing. Asalkan komunikasi selalu terjalin semua tidak masalah. Aku sayang keluargaku
TAMAT