Jam di ponselku menunjukkan dua jam sebelum tengah malam. Belum terlalu larut untuk orang-orang yang terbiasa hidup di kota besar.
Jam tujuh sore aku sudah mulai berangkat dari Kota Pahlawan Surabaya, hendak menuju Kota Proklamator Blitar.
Entah bagaimana awalnya, aku memilih jalan bawah, sebutan untuk yang tidak menggunakan jalan tol.
Memasuki Kota Porong Sidoarjo, mobil yang kukendarai mulai batuk-batuk. "Sial banget nih mobil. Mana perjalanan masih jauh, eh berulah lagi. Lama-lama kujual lu."
Cukup lama aku berkutat memperbaiki mesin, sampai akhirnya mobil tuaku bisa berjalan lagi. Aku bersorak dalam hati dengan keberhasilanku kali ini.
Saat tiba di Kota Pandaan gerimis mulai turun. Namun aku tetap melaju dengan santai. Sampai di Kota Lawang, hujan turun sangat deras. Aku takut mobil tuaku akan ngambek lagi, karena itu aku memutuskan untuk bermalam saja di kota ini.
Sebuah hotel dengan cat berwarna pink dan putih yang berdiri menjulang di kanan jalan, menjadi tempat pilihanku untuk bermalan.
Hotel Niagara namanya. Hotel bergaya Belanda yang dibangun di awal abad ke-19, begitu informasi yang tadi kudapat dari resepsionis.
"Mas-nya dapat kamar di lantai empat ya. Mau dibantu dibawakan barang-barangnya, Mas?" tanya resepsionis cantik di bagian depan.
"Gak usah, Mbak. Aku cuma bawa ransel ini aja kok," jawabku.
"Oh baiklah. Ini kunci kamarnya ya, Mas. Mas bisa menggunakan lift di sebelah sana." Mbak resepsionis menunjuk ke arah lift.
Aku mengikuti arah yang dia tunjuk, tampak juga ada tangga di sebelah lift. "Aku lewat tangga aja deh, Mbak. Pengen lihat-lihat. Unik sekali hotel ini, pasti menarik untuk dijelajahi."
Mbak resepsionis tersenyum dan mengangguk, lalu mempersilahkan aku segera naik ke kamar.
Seperti dugaanku, hotel ini sangat menarik. Arsitektur dan perabotan 'tempoe doeloe' yang hanya kulihat di film-film, bisa kulihat secara nyata di hotel ini.
Badan penat dan cuaca yang dingin karena hujan, membuat aku ingin langsung menarik selimut. Explore hotel antik ini, bisa dilanjutkan besok-besok, batinku.
Aku bergegas naik ke atas melalui tangga. Sampai di lantai tiga aku bertemu tiga cewek ABG dengan dandanan noni-noni Belanda. Gaun panjang putih dan juga topi.
"Goede nacht, Meneer,"* sapa para gadis itu sambil cekikikan.
Aku yang tidak paham bahasa yang mereka gunakan, hanya mengangguk sambil tersenyum.
Sampai juga aku di kamarku. Dengan anak kunci yang tadi diberikan oleh Mbak Resepsionis, aku membuka pintu kayu berpelitur yang sepertinya sudah sangat tua. Bau harum bunga yang tak kuketahui mananya segera menyapa indra penciumanku.
"Ini aroma kembang apa, sih? Kok bikin merinding," gumamku sambi meraba tengkuk yang meremang.
Aku mengabaikan aroma itu dan melempar ranselku ke ranjang. Aku hendak melakukan ritual sebelum tidur ketika melihat sekelebat bayangan di luar jendela.
"Ah, paling juga kain gorden yang tertiup angin. Mending aku segera cuci muka, gosok gigi dan langsung tidur."
Belum selesai menggosok gigi, aku mendengar suara yang aneh. Seperti suara jendela yang diketuk-ketuk dari luar.
"Paling suara hujan yang membentur kaca jendela, parno banget kamu jadi orang, Josh." Aku melanjutkan ritual dan segera keluar dari kamar mandi.
Suara ketukan itu semakin keras, membuat aku yakin itu bukan bunyi air hujan. "Siapa sih yang iseng ketuk-ketuk jendela?"
Dengan kesal aku hendak membuka jendela, tapi ternyata jendela itu menggunakan kaca paten, tidak bisa dibuka tutup. Tiba-tiba muncul wajah wanita cantik dari balik jendela. Cantik sekali, persis seperti nyonya Belanda yang pernah kutonton di film-film. Wanita berkulit putih, berhidung mancung dan bersanggul.
"Ternyata di sini banyak orang Belanda yang menginap. Tadi di bawah ada tiga noni-noni, sekarang di sini ada seorang nyonya Belanda yang uayuuu tenan," gumamku sambil tak melepas pandang dari si Nyonya.
Wajah Nyonya Belanda yang tadinya cantik memesona, tiba-tiba saja berubah menjadi mengerikan. Rambut yang tadinya tersanggul rapi, berubah menjadi awut-awutan. Bola mata sang Nyonya juga lepas dan mengelinding ke lantai. Belum lagi leher yang semula putih mulus, berubah menjadi bengkok sangat mengerikan.
Aku ingin lari dan berteriak, tapi kakiku terasa lentur bagai jelly dan tenggorokanku seperti tercekik hingga tidak ada suara yang muncul.
"Tuhan, tolong selamatkan hamba dari hantu terkutuk ini," doaku dalam gumam.
Tiba-tiba Nyonya Belanda itu berbalik, melayang ke arah balkon sebelum akhirnya melompat ke bawah. Aku merasa mempunyai sedikit tenaga saat hantu itu menghilang. Beruntung ranselku belum kubongkar seluruhnya. Cepat-cepat aku memasukkan barang yang tadi sempat kukeluarkan.
Aku berlari ke arah pintu dan membukanya dengan kasar. Tanpa menoleh ke belakang lagi, aku berjalan ke arah tangga dan berlari turun.
"wat is er ann de hand, Broer?"** tanya salah satu Noni Belanda yang tadi kutemui di lantai tiga.
"Ada apa?" tanya Noni lain dalam bahasa Indonesia yang tidak terlalu fasih.
"Aaaa-ada han-hantu, Non. Serem banget. Hantu Nyonya Belanda," jawabku yang masih gemetar ketakutan.
"Soortgelijk?"***
Tiga Noni Belanda yang semula cantik-cantik meski pun berwajah pucat, tiba-tiba berubah menjadi sangat menakutkan. Rambut mereka yang semula tertata rapi, juga berubah awut-awutan seperti rambut si hantu Nyonya. Dari sudut mata dan bibir mereka darah segar menetes.
"Hihihihi." Tawa nyaring yang menakutkan membuat ku sadar mereka itu hantu, bukan manusia sepertiku.
Tak membuang waktu, aku kembali berlari ke bawah. Aku merasa sudah melewati banyak anak tangga, tapi aku tak sampai-sampai juga ke lantai dasar. Aku berhenti di anak tangga terakhir, tapi tak kudapati meja resepsionis seperti saat aku check in. Di depanku malah ada pintu besar dari kayu berukir.
Tanpa pikir panjang, aku menarik handle pintu. Aku nyaris pingsan, saat pintu itu terbuka ternyata bukan jalan keluar yang kutemui. Potongan-potongan tubuh manusia berkulit putih, melayang keluar dari pintu besar itu.
Aku jatuh merosot ke lantai, tubuhku benar-benar tidak bisa kugerakkan. Lemas sekali rasanya, bagai jelly yang dimasak dengan air terlalu banyak. Ingin sekali aku pingsan dan ketika terbangun ternyata semua ini hanyalah sebuah mimpi, tapi sepertinya keinginaku tidak terkabul.
Suara Azan Subuh berkumandang keras dari Masjid yang kulihat berada tak jauh dari hotel ketika aku masuk. Tiba-tiba Mahluk-mahkluk menakutkan itu menghilang. Aku menghela napas dan mengucap syukur. Para hantu sudah pergi.
Sambil merangkak karena masih lemas, aku kembali menaiki tangga. Feeling-ku mengatakan, itu jalan keluar dari tempat ini. Benar saja, aku tiba di tempat pertama kali aku chek in.
"Lho, Mas? Ngapain Mas ke ruang bawah tanah? Tempat itu kotor, penghuninya hanya tikus." Resepsionis yang semalam menerimaku, bertanya heran.
"Cuma melihat-lihat kok, Mbak. Saya chek out sekarang, Mbak. Barusan mama saya telepon, saya harus cepat pulang karena hamster saya melahirkan."
Aku tidak peduli alasanku membuat Mbak Resepsionis melongo heran. Yang penting aku bisa cepat keluar dari hotel angker ini.
* selamat malam, Mas
** ada apa, Mas
*** seperti ini