"Benar kata orang. Mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya hanya akan menyebabkan luka"
-Camie-
***
Di malam hari yang cerah, aku memilih untuk duduk di gazebo depan rumahku. Tidak terlalu besar, tapi bagiku sangat nyaman.
Aku memandang langit yang begitu gelap. Entahlah, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Tring!
Notifikasi dari ponselku mengganggu diriku yang sedang melamun.
Ibu Rania
"Assalamu'alaikum. Besok acara perpisahan. Bisa kamu datang kesana? "
Pesan dari kepala sekolah ku itu membuat diriku bingung. Untuk apa? Bukannya aku masih kelas 11?
"Waalaikumussalam. Ada apa bu?" balasku seraya bertanya.
"Saya tidak tahu. Tanyakan saja dengan Gama, karena dia yang menyuruh saya untuk memberitahu kamu" jawab kepala sekolah yang bernama Rania kaniswara.
"Baik bu. Terimakasih 🙏" pesan yang kukirim itu menjadi penutupan chat itu.
Aku segera mencari kontak kak Arsyah.
Kak Arsyah batu
Assalamu'alaikum kak, ngapain nyuruh aku ke acara perpisahan angkatan kakel?
Waalaikumussalam. Tunggu aja besok kakak ada yang ingin ditunjukin.
Kenapa? Mau ngelamar aku ya? Besok kan kakak juga melakukan perpisahan.
Tunggu aja
Hm, kakak masih suka sama seseorang itu?
Gak tahu. Mungkin tidak
Kalau tidak, buka hati kakak untuk ku ya? Dikit aja.
Entahlah.
Usaha ya kak
Ya.
Chat ku dengan kak Arsyah berhenti sampai disitu. Kakak kelas 12 itu begitu sangat menyebalkan.
"Semoga perasaan ku pada mu tidak menyebabkan luka yang mendalam kak Arsyah." aku bergumam yang kemudian beranjak untuk masuk ke dalam.
Keesokan paginya. Aku berlari dari rumah ke acara perpisahan.
Memakai baju yang sedikit ketat itu membuat ku susah untuk berjalan.
Sekitar 20 menit lagi acara akan dimulai, sebenarnya untuk apa kak Arsyah menyuruhku untuk datang keacara itu.
Dipertengahan perjalanan, aku melihat seseorang yang seperti nya sangat kukenal.
"PAK ILY! " teriak ku pada guru yang hanya berbeda 4 tahun lebih tua dariku.
Kulihat pak Wily menghentikan motor ninja yang dipakainya. Walaupun seorang guru, tapi dia masih terlihat masih seperti anak muda.
"Ya? " tanyanya sambil menghentikan motornya.
"Boleh ikut ke acara perpisahan? Nebeng maksudnya hehe! " kalaupun bukan karena terpaksa, pasti aku gak mau.
Bukan karena gak mau naik angkutan umum, tapi aku tipe orang yang gak mau ngehamburin uang.
Dirinya menatap ku sekilas, lalu menatap ke depan dengan tatapan datarnya.
"Dasar tembok! " gumamku yang ternyata masih di dengar olehnya.
"Apa kamu bilang? " pak Wily memberikan tatapan tajam dari matanya.
"Gak ada pak" sebuah cengiran ku berikan untuknya.
"Naik" titahnya tak banyak bicara.
Aku tahu dia tipikal orang yang tak banyak bicara setelah beberapa tahun lalu kehilangan kekasih yang sangat dicintainya.
Aku menaiki motor itu dan kemudian pergi ke acara perpisahan.
***
Acara itu terlihat begitu ramai di penuhi dengan para murid beserta walinya.
Setelah turun dari motor pak Wily, aku memilih untuk menunggu di depan area masuk acara.
"Kenapa disini? " masih dengan ekspresi datar, pak Wily menanyakan hal yang sepertinya cukup mengganggu pikirannya.
"Gak tahu mau kemana! " sahut ku seraya nyengir kuda.
"Ikut saya" ujar pak Wily tak ingin dibantah.
Pak Wily mengajakku keatas panggung, banyak pasang mata yang menatap ku heran. Kenapa seorang siswa kelas 11 menaiki panggung?
Pak Wily beranjak ke tempat kursi para tamu penting, lalu duduk di salah satu kursinya.
"Duduk! " perintah pak Wily. Ada penekan dalam ucapannya.
Tapi kemudian ada seorang guru yang seumuran dengannya datang menghampiri. Raja Farel Suranto.
"Tapi pak, itu kursi pak Raja" Elakku. Rasanya tak nyaman jika menduduki kursi punya orang lain.
"Ck! Tolong ambilin kursi satu lagi" perintahnya pada salah satu panitia.
Panitia itu menurut, lalu kemudian memberikan kursi itu untukku. Pak Wily berada di kursi paling pinggir, jadi berdekatan dengan ku.
Senyuman canggung ku berikan untuk guru lain yang menatap ku dengan berbagai tatapan.
Aku mengedarkan pandanganku, dan aku menemukan seseorang yang sejak semalam mengganggu pikiran ku.
Acara pun dimulai, susunan acara itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun.
"Baik, sekarang akan ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh salah satu lulusan disini. Sekaligus pewaris pemilik sekolah Nusantara. Siapa lagi kalau bukan Gama Arkarsyah" ucap sang pembawa acara dengan disusul tepukan meriah dari para hadirin disini.
Kak Gama, atau ku panggil kak Arsyah itu menaiki panggung dengan begitu gagah dan berwibawa.
Aku terpesona, begitu tampan bagiku.
"Jangan terlalu terpesona. Nanti terluka" teguran pak Wily membuat ku mencebik kesal.
"Baik. Assalamu'alaikum. Saya Gama Arkarsyah disini ingin menyampaikan sebuah hal untuk salah seorang gadis yang ada disini" ucap kak Arsyah yang membuat semua orang penasaran siapa yang kak Arsyah maksud.
"Apa ini untukku? " batinku sedikit berharap. Sebuah lengkungan kecil tercipta di mulutku.
"Anggi Dahlia. Tolong untuk menaiki panggung sekarang! " seloroh kak Arsyah. Yang kemudian mengundang pekikan heboh banyak orang.
Kak Anggi yang merasa di panggil itu menaiki panggung. Kak Anggi yang ku ketahui menyukai kak Arsyah itu menaiki panggung dengan anggun.
Ada sedikit kekhawatiran di dalam hatiku.
"Kalau merasa gak enak. Lampiaskan ke saya" ujar pak Wily yang berada di sampingku.
Setelah kak Anggi sampai di hadapan kak Arsyah, seorang panitia memberikan bucket bunga dan juga sebuah kotak kecil kepada kak Arsyah. Aku hanya tersenyum getir menatap itu.
Kak Arsyah berlutut di hadapan gadis berjilbab putih yang memiliki lesung pipi yang begitu menawan hari ini.
"Anggi Dahlia. Sebenarnya saya sudah lama memiliki perasaan lebih padamu. Saya tak pernah merasakan ini sebelumnya, hanya padamu saya merasakan hal ini. Hanya kamu dan selamanya untukmu" ucapan dari kak Arsyah bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
Jadi ini alasan kak Arsyah menyuruhku datang keacara ini? Untuk membuktikan kalau dia masih mempunyai rasa untuk seseorang. Dan ternyata orang itu adalah kak Anggi? Kak Anggi yang dekat denganku. Yang tahu kalau aku menyukai kak Arsyah.
Dalam hati ku berharap, kak Anggi tidak menerimanya di depanku. Ku harap begitu.
Aku ingin beranjak pergi, tapi tanganku di tahan oleh pak Wily.
"Kalau pergi, berarti kamu kalah"
Entah apa yang dimaksud oleh pak Wily, tapi aku akhirnya menurut.
Kulihat kak Anggi menangguk dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Iya. Aku juga mencintai kamu Gama" ucap kak Anggi yang kemudian melihat diriku sekilas. Dari tatapannya, ada rasa kemenangan dari sana.
Sebuah ucapan selamat terlontar dari para tamu dan juga guru yang ada disana, kecuali aku. Dan pak Wily juga tak memberikan respon apapun? Guru yang satu ini susah ditebak.
Kak Arsyah menghampiri ku. Dengan sedikit senyuman dia tampilkan untukku.
"Maaf ya Camie. Kakak gak bisa balas perasaan kamu" ujarnya kemudian mengulurkan tangan untuk meminta maaf.
"Haha. Gpp, tapi kenapa menyuruhku datang? Kalau nyatanya hanya menunjukkan bahwa seseorang yang kakak cintai dari dulu adalah pemenangnya. Bahkan aku sudah kalah sebelum berjuang" jawabku masih menahan sesak yang begitu sakit.
"Kenapa? Kok sesedih itu? Gak usah terlalu sakit gitu ya! Gama udah milih aku, jadi aku pemenangnya kan? " celetuk kak Anggi dengan senyuman yang mengartikan meremehkan?
"Tak mengerti perasaan orang lain" bukan aku yang mengatakan itu, tapi pak Wily. Entah kenapa, guratan wajahnya seperti menahan amarah.
"Maksudnya? Bukan salah saya kan menolak dia? Saya menyukai Anggi dari lama. Saya hanya ingin membuat Camie tidak berharap lagi pada saya" cetus kak Arsyah penuh penekanan.
"Haha, kalau gitu. Gak perlu ngundang aku ke acara seperti ini kak. Sakit? Tentu saja. Untuk apa kakak mengatakan untuk berusaha menyukai ku. Jika akhirnya kakak melamar seseorang di depan ku? " ungkapan itu langsung membuat kak Arsyah dan kak Anggi terdiam.
"Jangan sakiti dia lagi, kalau tidak mau berurusan sama saya" tekan pak Wily. Dirinya mengepalkan tangan. Entah dirinya marah atau tidaknya.
"Pak? " tanyaku.
"Saya sudah menjaga kamu selama 2 tahun belakangan ini Camie. Itu semua saya lakukan karena saya mencintai kamu" jelas pak Wily langsung membuat semua orang terdiam. Termasuk aku yang sekarang mematung.
Guruku? Menyukai diriku?
Dan kemudian, pak Wily dengan beraninya langsung memegang tanganku dan mengajakku pergi dari panggung itu.
***