Gedung sekolah berlantai tiga itu kutatap dengan perasaan berkecamuk.
Ini baru tahun ajaran baru, tapi rasanya begitu tak nyaman.
Itu semua karena kelas 12 tahun kemarin sudah lulus.
Dan crush ku juga akan melanjutkan kuliahnya ke kota lain.
Baru ingin melangkahkan satu langkah lagi dari tangga yang lumayan tinggi, aku kepleset dan kehilangan keseimbangan ku.
Disana aku berpikir kalau aku akan segera mat*.
Bagaikan mendapat sebuah pukul*n yang sangat kencang. Kepala ku berbentur*n dengan lantai keramik sekolah ku.
Dar*h bercucuran di kepala ku.
Cukup lama orang-orang tak ada yang menolong karena keadaan sekolah masih sangat sepi.
Sampai akhirnya orang-orang berdatangan dan berusaha untuk menolong ku. Sesaat aku mendengar suara orang-orang yang berteriak dan membawa ku. Sebelum pada akhirnya kesadaran ku menghilang sepenuhnya.
***
Aku terbangun di kasur rumah sakit, terlihat tak ada siapapun disana. Mungkin lagi keluar?
Aku memerhatikan sekitaran ku. Tak ada hal yang menarik.
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka membuat aku menoleh ke sumber suara.
Dia ibuku, berlari kearah ku dan langsung memelukku.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak. " ibuku berucap dengan air mata yang menetes di pipinya.
Aku hanya tersenyum, karena saat ini aku masih merasa sedikit lemah.
"Aku tertidur berapa hari bu? " Aku mengucapkan kalimat itu dengan penasaran yang luar biasa. Mungkin dua hari kan?
"Kamu koma nak. Udah setengah bulan" sahut ibuku, dia beranjak untuk memberitahu keluarga ku yang lainnya.
***
Satu minggu kemudian, aku kembali ke sekolah. Sial, aku ketinggalan pelajaran sebanyak apa?
Saat menjejakkan kaki di sekolah, pandangan orang-orang langsung mengarah padaku.
"VIONA! " Tiara-sahabat ku berlari dengan cepat kearahku dan segera memelukku.
"Kamu sekarang udah sehat kan? " raut wajah Tiara terlihat begitu khawatir.
Aku mengangguk. "Alhamdulillah iya. " jawabku seraya mengelus punggunggnya.
"Kangen Viona. " ucap Tiara lagi.
"Aku juga kangen Tiara kok" jawabku seraya menggenggam tangan Tiara. Dan kami kemudian pergi ke kelas.
Saat akan pulang, aku di suruh untuk mengembalikan buku paket ke ruangan pak Tamir. Dan aku menurutinya.
Saat sampai, aku langsung meletakkan buku itu disana. Saat ingin keluar, aku melihat ada sebuah ruang guru yang berada disamping ruang pak Tamir.
Aku mendekati ruang itu, ku buka pintunya. Dan aku melihat ada seorang laki-laki berambut hitam dengan hoodie yang dia letakkan di kursinya. Dia membelakangi diriku.
"Maaf pak. Apa belum mau pulang? " Aku sedikit takut, tapi segera ku ingatkan kalau tak akan terjadi hal yang tak diinginkan.
Dirinya membalikkan badan, tersenyum begitu manis sekali. Wajahnya pucat, tapi itu tak membuat wajah tampannya jadi terlihat jelek.
"Iya nanti saya pulang" jawabnya kemudian menjatuhkan pandangannya pada name tag ku.
"Kamu Viona yang terjatuh di tangga setengah bulan lalu kan? " Guru yang berkisar umur 21 tahun itu menatap diriku dengan tatapan iba.
Aku mengangguk, tak ada sorot kejahat*n dalam dirinya.
Sebelum berpamitan, aku melihat name tag yang berada di bajunya.
'Wily Hardiman'
***
Keesokan harinya, aku bertanya Tiara.
"Tiara. Lo kenal sama pak Wily Hardiman kan? Dia ngajarin apa ya? " aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.
Ekspresi Tiara langsung berubah. "Heh, kamu jangan bicarain orang yang udah meninggal ya! " ucapan dari Tiara itu sukses membuat ku terkejut.
"Apasih, orang dianya kemarin ada di ruangannya. Bicara sama aku juga" sungutku.
"Keknya kepala Kamu itu belum seutuhnya sembuh. Jadi bicaranya suka ngelantur" seloroh Tiara terkekeh di akhir ucapannya.
"Dia beneran udah meninggal? " Aku membatin dengan beribu pertanyaan dibenakku.
Di saat waktu pulang, aku bertemu lagi dengan guru yang memiliki nama pak Wily Hardiman itu.
Tapi kali ini bukan di ruangannya, kali ini di halte bus sekolah ku.
"Viona, kamu belum pulang? " pak Wily yang dikatakan sudah meninggal itu mendekat ke arah ku.
Aku memundurkan langkahku dengan sedikit takut.
"Kenapa menjauh? Saya tidak berniat jahat" ujarnya menghentikan langkahku.
"Bapak udah meninggal? " aku melontarkan pertanyaan itu dengan keberanian yang begitu kecil.
Pak Wily tersenyum dengan sedikit tawa di bibirnya.
Aku terpesona, sungguh terpesona. Eh tunggu, kan katanya dia sudah meninggal? Gak boleh terpesona.
"Kamu sudah mengetahui nya ya? Iya saya sudah meninggal beberapa tahun lalu. " Jawab pak Wily tanpa ragu sedikitpun.
"Tapi kenapa saya bisa lihat bapak? " aku bertanya sambil beranjak duduk di kursi halte bus.
Waktu pulang sudah berlalu sekitar setengah jam lalu, jadi orang-orang pastinya sudah pulang kerumah masing-masing.
"Mungkin karena kecelakaan itu. Bapak meninggal tepat dimana kamu terjatuh, saat itu bapak dib*nuh" jawabnya yang kemudian menunduk.
Aku merasa iba. Dan aku ikut terdiam.
"Boleh saya ikut kamu Viona? " pak Wily bertanya masih tetap berada di posisi awal.
Aku menatap dirinya, ikut dengan ku? Aku harus menolaknya!
"Gak bi-"
Belum selesai aku berucap. Pak Wily langsung memotong ucap ku.
"Saya mohon, hanya kamu yang bisa melihat saya. Saya tak ingin kesepian" pak Wily membuat ku akhirnya mengangguk.
Dan semenjak saat itu, pak Wily selalu ikut bersamaku. Kemanapun aku pergi dia pasti mengikuti. Tapi tidak saat aku ke kamar mandi atau berganti pakaian, dia pasti pergi sebentar.
***
Tak terasa setengah tahun pak Wily hadir dihidupku. Selama setengah tahun itu, dirinya begitu banyak membantuku. Mengajari materi, mengingatkan untuk makan dan masih banyak lagi.
Pernah suatu hari, dia menenangkan ku saat aku kehilangan kucing kesayangan ku.
"Pak ily, kochi mati" tangisku.
Dirinya menarikku dalam dekapannya, lalu mengelus kepalaku berniat menenangkan.
"Kamu yang sabar ya, nanti kita cari yang mirip sama Kochi ya" ucap pak Wily menenangkan ku.
Hingga suatu saat dia menyatakan perasaannya padaku.
"Viona. Sebenarnya saya sudah mencintaimu sejak lama. Apakah kamu mencintai saya juga? Saya tak mengajak kamu pacaran,saya hanya ingin tahu apakah kkamu mencintai saya juga atau tidak." tanyanya saat kami sedang jalan-jalan di jembatan saat sore hari.
Aku diam. Jujur saja aku masih ada perasaan untuk crush ku yang dulu, tapi aku akui aku mulai merasa nyaman bersama dengan pak Wily.
"Entahlah pak. Saya merasa nyaman sama bapak. Tapi kalau soal cinta, saya tidak tahu apakah saya juga mencintai bapak juga atau tidak. " jelasku.
Pak Wily tersenyum, senyum yang begitu indah. Seindah senja saat ini.
"Iya saya paham. Kamu masih punya perasaan untuknya kan? " terasa begitu sakit pak Wily mengucapkan kalimat itu.
Dan aku hanya mengangguk membenarkan.
***
Semester awal telah usai, sekarang ini sudah memasuki semester 2. Dan selama satu semester itu, pak Wily masih selalu menemaniku.
Suatu saat, waktu istirahat aku melihat lapangan begitu ramai dipenuhi banyak orang.
Aku ikut melihat apa yang terjadi.
"Saya Gama Arkarsyah. Ingin mengatakan suatu hal kepada Alsyirah Viona. " ucapan dari seseorang yang sangat kukenal itu membuat ku tertegun.
Dia kak Arsyah, seseorang yang kukagumi. Yang sudah berpisah selama setengah tahun.
Semua perhatian tertuju padaku.
"Alsyirah Viona. Kakak selama ini sudah menyukaimu. Bahkan sebelum kakak lulus dari sekolah ini. Kakak tahu kamu menyukai kakak, jadi kakak datang kesini karena kakak ingin mengungkapkan tujuan kakak. Maukah kamu menerima kakak untuk jadi pendamping hidupku. Jadi bintang yang paling bersinar untukku? Maukah kamu bersamaku setelah kamu lulus dari sekolah ini? " Kak Arsyah berkata begitu sangat tulus.
Dirinya mengeluarkan sebuah cincin dan sekuntum mawar putih.
Aku bahagia, sangat bahagia disana. Baru ingin mengangguk, aku tak melihat pak Wily lagi di hadapanku. Aku terkejut. Kemana dia?
"Jadi bagaimana mau diterima? " kak Arsyah bertanya lagi.
"Beri aku waktu kak" jawabku seadanya.
Aku melihat kak Arsyah mengangguk. Dan aku bergegas pergi tanpa memperdulikan teriakan para teman-teman dan kakak kelas yang menyuruhku untuk kembali.
Aku pulang ke rumah ku, ibuku yang melihat ku pulang cepat terheran.
"Kamu kenapa pulang cepat Viona? "
"Viona sakit bu"
Aku segera berlari ke kamarku. Tanpa memperdulikan lagi nasehat ibuku yang menyuruh untuk istirahat.
Aku memasuki kamarku. Berharap ada pak Wily disana.
"Pak Ily, pak Ily dimana? " aku khawatir. Sangat khawatir dia terluka.
"Pak Ily saya ingin bicara. Pak Ily temui saya. Saya mohon" kataku frustasi.
Dan akhirnya pak Ily memunculkan dirinya. Dan aku segera berhambur ke pelukan nya.
"Ada apa? Setelah ini saya mau pergi dan tidak akan menganggu kamu lagi " sangat dingin ucapan yang terlontar dari pak Wily.
"Jangan pergi pak. Saya sudah merasa nyaman sama bapak" cegahku sambil terus memeluknya.
"Jadi ini alasan kamu meminta waktu ya? Ternyata kamu punya seseorang yang membuat mu nyaman. " seseorang yang begitu kukenal berada di pintu kamarku.
"Kak Arsyah? " aku heran kenapa kak Arsyah bisa melihat pak Wily.
"Iya. Kakak bisa melihatnya" Jawab kak Arsyah datar.
"Maaf, kak. " hanya itu yang bisa kuucapkan.
"Sekarang kamu pilih, Kakak atau dia yang kamu pilih? Ikuti kata hatimu Viona" pinta kak Arsyah.
Aku terdiam sejenak. "Aku tak bisa memilih. " jawabku.
"Cih. Kamu egois Viona. Kamu mencintainya tapi kamu mencintai saya kan? " pak Wily menatapku begitu dingin.
"Kenapa kita tidak bisa bersama terus? Aku menikah dengan kak Arsyah dan pak Ily masih bisa terus bersama saya? Ini adil bukan? " Aku mengeluarkan kata-kata yang langsung membuat mereka terkekeh.
"Viona, Viona. Kami juga punya perasaan. Bagaimana jika kamu sedang bersedih dan kamu menghampiri saya? Atau jika kamu merasa senang kamu akan bersama dia. Kami pasti akan cemburu Viona. Mengertilah perasaan seseorang. " jelas pak Wily.
"Pilihlah. Mau tetap nyaman bersama saya. Atau kembali bersama dengan seseorang yang kamu tunggu selama ini? " lanjut pak Wily lagi.
"Aku tak bisa memilih." sahut ku.
Aku menundukkan kepala, tak berani menatap mereka.
"Kalau gitu. Kakak milih untuk mundur. Salah kakak yang tak mengungkapkan perasaan kakak lebih awal." ucap kak Arsyah sebelum benar benar pergi.
"Saya juga tetap akan pergi. Seharusnya saya tidak meminta kamu untuk membawa saya saat itu. Saya pamit. Jaga diri baik-baik. Dan satu lagi. Pilihlah seseorang yang benar-benar kamu cintai, jangan kamu simpan dua nama orang didalam hati mungilmu. Karena kamu tidak akan sanggup." nasehat pak Wily sebelum benar-benar menghilang dari hadapan ku
Aku tak menahan mereka, karena aku tahu ini salahku.
Aku terdiam. Aku sangat menyesal disana. Hanya karena goyah aku kehilangan mereka berdua.
Maaf kak, maaf pak. Aku harap kalian bahagia.
-FINISH-