Gue Nayara, seorang siswa kelas 12 ipa.
Malam hari, gue pergi ke supermarket untuk membeli cemilan untuk ngemil di malam minggu.
Di perjalanan pulang, gue gak sengaja liat seseorang yang lumayan familiar, walaupun gue tidak terlalu yakin.
Gue mendekatinya. "Assalamu'alaikum. Ini kak Gama? " Ucap gue saat bertemu dengannya.
Dirinya membalikkan badan, gue terkejut sekaligus sangat senang.
"Waalaikumsalam. Iya ini saya, kamu Nayara kan? Adek kelas saya dulu? " Jawabnya di akhiri senyuman. Dirinya terlihat sangat berbeda dari lima tahun lalu. Terlihat lebih ganteng dan mapan.
"Iya kak. Kak Gama apa kabar? " Seloroh gue senang. Sangat senang sekali karena bertemu dengannya setelah 5 tahun lamanya.
"Alhamdulillah baik." Sahutnya seadanya saja.
"Kak Ar-"
Baru ingin bertanya lagi, seorang perempuan datang menghampiri dirinya.
Perempuan berhijab biru dengan cadar senada tersenyum bahagia saat bertemu dengannya.
"Kak Arsyah" Sapanya pada Kak Gama yang berada di dekat gue.
Gue terkejut? Kak Arsyah? Bukannya yang hanya memanggilnya Arsyah hanya gue.
Gue menunduk. Beribu pertanyaan berkecamuk di benak gue
"Iya. Nayara, kenalin nih Syifa calon kakak" Perkenalan itu membuat gue tertegun.
Kak Arsyah ingin menikah? Sakit rasanya. Tapi gue mencoba untuk tidak menangis.
"Oh iya, Gue Nayara" Gue mengulurkan tangan kearah gadis dihadapan gue ini.
Cantik, shalehah, dan juga cocok sama kak Arsyah " Batin gue menatap Syifa.
Gue akhirnya balik ke rumah gue.
Di rumah, gue coba untuk mengalihkan perhatian gue dari kejadian tadi.
Gue coba telpon sahabat gue.
Tanpa melihat hp, gue telpon Dhifa. Pengen cerita sama dia.
Tut, tut, tut.
Lama gue nunggu, dan akhirnya telpon gue diangkat.
"Assalamu'alaikum. Gue mau cerita. Tahu gak, kak Gama udah mau nikah. Sedih banget tahu" Cerocos gue tanpa henti. Rasanya begitu kesal karena penantian gue selama ini sia-sia.
"Waalaikumsalam. Terus lanjutannya gimana hm? " Jawabnya dengan suara tenang. Tapi tunggu, suaranya kok laki-laki?
"Suara lo kok kayak laki-laki? Lo sakit? " Tanya gue penasaran.
"Coba lihat nomor yang di telpon" Instruksinya.
Cepat-cepat gue lihat nama yang gue telpon.
Gue yakin tadi gue telpon Dhifa.
"Pak Ily"
Terpampang jelas nama guru favorit gue disana.
Gue rasanya mau ngilang dari bumi.
"Makk tolong. Malu" Batin gue menjerit.
"Eh, ma-maaf pak. Saya salah orang. Yaudah kalau gitu saya matikan ya. Sekali lagi saya minta maaf" Dengan sedikit gugup gue ngucapin kata-kata itu.
"Gak usah minta maaf, lanjutin ceritanya. Karena kamu sudah membuat saya penasaran" Jawab laki-laki itu yang gue tahu adalah pak Ily.
"... " Gue diem, bisa dipercaya kah?
"Ayo lanjutkan" Ujarnya lagi.
"O-oke. Jadi gini pak, tadi saya ketemu sama kak Gama. Terus saya lihat ada perempuan sama dia. Katanya itu calonnya dia. Perempuan itu cocokkk banget sama dia. " Cerita gue.
"Ohh, terus kamu cemburu? Terluka juga ya? " Cetus nya
"Of course. Sakit pak. Perasaan saya selama 5 tahun ini sia-sia" Jawab gue dengan penuh rasa sakit.
"Hey, gaada yang sia-sia. Gini ya Nayara, setidaknya dengan kamu menyukai dia itu bikin kamu menjaga hati agar tidak menaruh perasaan pada orang yang salah kan? Dan walaupun kamu tidak berjodoh dengannya, tapi kamu jadi lebih dekat dengan Allah kan? Kamu mendoakan yang terbaik untuknya kan? " Jelas guru yang berumur 21 tahun.
"Iya, tapi rasanya gimana ya" Gue ngucapin kata itu sambil mengingat ucapan kak Arsyah.
"Pak paham posisi kamu Nayara, semangat ya. Gaada perjuangan yang sia-sia oke. Saya tutup dulu. Assalamu'alaikum" Pak Ily mengakhiri telpon setelah gue menjawab salamnya.
Keesokan harinya, gue datang kesekolah dengan perasaan yang sedikit lebih baik dari semalam.
Saat istirahat, gue memilih untuk tetap berada di kelas, sedangkan Dhifa pergi ke kantin.
Gue gak cerita kalau gue salah telpon, karena gue belum mau menceritakannya.
"Yang namanya Nayara di panggil pak Wily. Temui dia di kantor" Seorang kakak kelas berdiri di depan kelasku.
"Iya. Makasih infonya" Sahut gue.
Gue beranjak ke kantor. Apa yang ingin dia bicarakan?
Sesampainya di kantor, terlihat tak ada siapapun di sana.
Gue masuk sambil mengucapkan salam, dan berjalan ke ruang pak Ily.
Terlihat dirinya sedang berkutat dengan komputernya.
"Assalamu'alaikum pak. Ada apa manggil saya? " Tanya gue to do point.
"Waalaikumsalam. Bentar dulu. Ada yang mau ketemu kamu. Saya gak tahu ada urusan apa, kamu tunggu aja" Jelasnya.
Pak Ily kembali memfokuskan dirinya dengan komputer dihadapannya.
"Nayara! " Suara seseorang mengejutkan gue.
Gue menoleh, dia kak Arsyah. Mau apa dia?
Gue hanya mengerutkan dahi, tak mau terlalu banyak berbicara dengannya.
"Kakak mau bicara" Celetuknya sambil mengambil kursi guru dan meletakkannya di dekat pak Ily.
"Ada apa? " Gue bertanya sambil sekilas melihat dirinya.
"Pak Wily izin ya? " Ucap kak Arsyah.
Pak Ily hanya mengangguk pelan.
"Nayara, kamu tahu, kakak sudah lama meletakkan namamu di dalam do'a kakak. Karena kakak sudah lama menyukaimu. Kakak berharap kakak bisa menyempurnakan separuh agamamu. Mau jadi bidadari kakak di dunia dan akhirat? " Ungkapnya. Terlihat sangat tulus memang.
Gue tersenyum hambar. Rasa sakitnya kembali lagi.
"Kalau itu untuk gadis lain. Jangan pernah katakan padaku" Cetusku.
"Maksudnya? " Kak Arsyah tak mengerti.
"Jangan permainkan perasaan perempuan. Kalau udah ada seseorang yang disukai, jangan kasih harapan ke orang lain. Dan juga jangan sakiti Nayara. " Pak Ily membalikkan badannya dan mulai fokus ke pembahasan kak Arsyah dan gue.
"Saya memang menyukai Nayara pak. Saya tidak menyukai orang lain" Kak Arsyah bergeming.
"Terus Syifa siapa kak? Katanya calon? " Gue masih belum percaya dengan ucapan kak Arsyah.
"Syifa itu Calon kakak. Calon ipar. Bukan calon istri kakak. Semalam itu kakak pergi ke supermarket sama abang kakak dan calon istrinya. Kebetulan abang kakak lagi ada urusan. Makanya dia nyamperin kakak duluan". Kak Arsyah terkekeh di akhir kalimatnya.
" Kamu cemburu ya? " Goda kak Arsyah.
Jadi gue salah paham?
Gue menggeleng, malu banget kalau gue ngaku cemburu.
"Bohong. Dia itu cemburu sama kecewa banget sama kamu Gama. Sampai salah telpon. Apalagi telpon saya" Pak Ily tertawa puas melihat gue yang tertunduk malu.
"Pak Ily udah. Jangan di bocorin" Kesal gue.
"Jadi gimana? Lulus sekolah mau nikah sama kakak? " Pertanyaan itu terlontar lagi dari kak Arsyah.
"Kakak serius mau nikah sama aku? " Dengan sedikit ragu gue bertanya.
"Kalau kakak serius. Insyaallah aku terima" Lanjut gue.
Kak Arsyah tersenyum.
"Mau bukti ya? " Tanyanya. Dan gue hanya mengangguk.
"ASSALAMU'ALAIKUM. SAYA GAMA ARKARSYAH SUDAH MELAMAR NAYARA SYANAYA. DAN LAMARAN SAYA DI TERIMA. JADI JANGAN ADA SESEORANG YANG BERANI MENGGANGGUNYA ATAUPUN MENDEKATINYA.TERIMAKASIH" Ungkap kak Arsyah.
Gue tertegun. Antara kesal, salting, dan juga malu. Bercampur aduk rasanya.
"Pak Ily, kak Gama ngeselin" Gue menunduk sangking malunya.
Sedangkan mereka berdua? Mereka berdua malah tertawa melihat gue yang malu.
"Kalian berdua ngeselin" Umpat gue dalam hati.
End!!!
Jangan lupa follow and vote!!