Judul : Misteri di Balik Lily
Banyak mitos yang tersembunyi di balik warna-warni bunga lily yang cantik. Itu kenapa lily sering dipakai untuk acara-acara yang penting. Lily putih mendominasi acara pernikahan, lily kuning untuk acara ulang tahun atau lily merah untuk acara peresmian sebuah kantor atau tempat usaha baru.
Aku juga menyukai bunga lily, jadi aku menanamnya di halaman belakang rumah. Lily putih yang mendominasi di sana, tapi itu bukanlah warna lily kesukaanku. Bunga favoritku justru hanya ada serumpun dan kutanam tepat di tengah halaman, lily orange.
Pagi itu aku pulang ke rumah lebih cepat karena kepalaku terasa sangat pusing. Aku berharap istriku yang tercinta, menjadi obat untuk sakit kepalaku.
Sengaja aku menyelinap masuk melalui pintu rahasia yang ada di pagar samping. Pintu yang tidak nampak dari luar karena tertutup rapat tanaman merambat. Aku ingin memberi kejutan pada kekasih hatiku, yang sudah memberi seorang jagoan sesuai idamanku.
Pintu samping itu terhubung dengan halaman belakang. Sejenak aku memandang bunga lily kesayanganku yang sedang mekar dengan sangat cantik.
Aku menyelinap masuk lewat pintu dapur. Sepi sekali rumahku, mungkin istriku sedang menjemput si Kecil di sekolah. Aku bergegas naik ke atas menuju kamar kami di lantai dua. Namun saat melewati ruang perpustakaan, aku mendengar suara aneh. Suara yang biasa terdengar di kamar kami--aku dan istriku--saat malam-malam tertentu.
Aku mengintip dari lubang kunci. Kulihat si Kecil sedang tertidur di sofa yang ada di dalam perpustakaan. Mungkin dia lelah menemani mamanya ... membaca.
Kepalaku yang pusing semakin terasa mau pecah, saat melihat adegan dewasa yang dilakukan istriku dengan Pak Giman, tukang kebun di rumah kami. Aku marah, sangat marah. Aku berbalik keluar dari pintu di mana aku tadi masuk.
*****
Aku mendengar jerit ketakutan mamaku yang membuat aku terbangun dari tidur. Bergegas aku pergi ke kamarnya yang berada tepat di samping kamarku. "Ada apa, Ma?"
"Pa-papa kamu, Ses. Di-dia tidak bernapas," kata Mama dengan tubuh gemetaran.
Aku segera berlari dan memeriksa keadaan Papa. Benar saja, papaku tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya juga dingin dan mulai kaku. Aku menghela napas, papaku memang telah dipanggil Tuhan.
"Papa sudah pergi, Ma."
Mama meraung dan menangis sambil memeluk tubuh papaku. Aku hanya berdiri di belakangnya sambil menyeringai jahat.
Aku terbangun karena suara desahan yang membuat kepalaku seketika terasa panas. Kuhampiri kamar tempat suara itu berasal. Pintu yang tertutup langsung saja kudobrak hingga terbuka. Dua mahluk tak tahu diri itu ada di sana.
Mereka saling berpelukan tanpa ada selembar benang pun menempel pada tubuh. Seketika aku merasa jijik. Jika kemarin kejadian di perpustakaan masih bisa membuatku bersabar, tidak untuk kali ini.
Entah darimana asalnya, di tanganku sudah ada sebilah parang. Bisa jadi aku mengambilnya secara reflek dari bawah bantal. Sejak peristiwa yang kusaksikan di perpustakaan, aku memang menyiapkan benda itu.
"Hahahaha, sekarang kalian bisa saling berpelukan untuk selamanya." Aku tertawa sambil memasukkan potongan tubuh itu ke dalam sebuah karung.
Sambil bersiul riang, aku membawa karung itu ke halaman belakang. Kugali sebuah lubang di tengah halaman, sebelumnya kucabut serumpun tanaman lily berbunga orange.
Masih sambil bersiul, aku memasukkan karung ke lubang yang kubuat, dan menancapkan kembali rumpun lily yang tadi sudah kucabut. Setelah semuanya terlihat rapi, aku kembali ke kamar, membereskan semua sisa huru-hara yang kubuat. Bahkan bekas sepercik darah saja bersih dari sana.
*****
Bangun tidur aku mencari mamaku. Di seluruh rumah sudah kucari, tapi Mama seperti menghilang ditelan bumi, tidak ada di mana-mana. Kupanggil-panggil namanya, tapi tetap tidak ada sahutan.
Begitu juga dengan Pak Giman tukang kebun di rumahku, dia juga tiba-tiba menghilang. "Haduh, kemana sih dua orang itu? Padahal aku sedang buru-buru nih. Aku cuma mau pamit saja ke Mama, eh dia sudah menghilang."
Aku masih menggerutu karena hilangnya Mama dan Pak Giman dari rumah, ketika mobil sport hitam yang dikendarai masuk ke halaman tempat kos Renata, pacarku.
Sambil bersiul aku menghampiri pintu kos gadisku itu. Suara yang sangat familiar terdengar di telingaku. Desah napas dan cekikikan khas Renata ketika bercinta. Tentu saja kepalaku tiba-tiba merasa pusing.
Pintu kamar kos yang tidak sekuat pintu di rumahku, seketika roboh ketika kutendang.
Renata dan seorang cowok yang kukenal sebagai teman sekelas. Mereka berdua sedang bugil dan saling berpelukan, sama seperti mereka malam itu.
Dengan napas memburu, aku kembali ke mobil. Ku ambil parang yang kusimpan di bagasi sejak peristiwa berdarah kemarin. Sekarang rasa haus parang itu terpuaskan, ketika aku mulai memasukkan potongan tubuh ke karung seperti malam itu.
Siang ini aku jadi sekuat hulk, bisa mengangkat karung berisi dua potongan tubuh sendirian saja. Sambil bersenandung gembira, aku melempar karung ke bagasi mobil.
"Udah beres," kataku sambil menanam kembali rumpung lily orange.
Suara sirene mobil polosi terdengar sangat nyaring. Suara itu seperti berasal dari depan rumah. Aku bergegas membereskan peralatan berkebun dan mencucinya di kran air dekat pintu dapur.
"Angkat tangan, Anda kami tangkap dengan tuduhan pembunuhan, Saudara Moses!" kata seorang petugas polisi sambil menodongkan pistol.
"Moses? Saya bukan Moses, Pak. Saya ini papanya, nama saya Pak Tirto. Kalau Moses itu, anak saya. Sepertinya dia masih di sekolah deh," kataku.
Ngawur banget polisi ini, masa Moses yang masih TK mau ditangkap karena membunuh, sungguh tidak masuk akal.
"Gak usah pura-pura gila, Saudara Moses! Anda hendak mempersulit kerja kami, para polisi."
"Ya Bapak itu yang gila, masa anak saya masih kecil kok mau ditangkap karena membunuh? Saya sebagai bapaknya, bisa loh menuntut balik Anda," ancamku emosi.
"Sepertinya Saudara Moses ini gila, Ndan. Masa dia ngaku jadi bapaknya seorang pemuda yang seumuran sama dia sih?" bisik seorang petugas yang masih bisa kudengar.
"Udah, borgol saja. Nanti dokter yang akan menentukan dia gila atau tidak!"
"Oke siap, Ndan."
Dia orang petugas memasang borgol di tanganku tanpa bisa kulawan. Mereka kemudian menyeretku ke dalam mobil patroli mereka.
Dua petugas mengapitku di kiri dan kanan, mereka mengobrolkan sesuatu tapi aku malas untuk mendengarnya. Kepalaku rasanya sangat pusing, dan semua terasa gelap.
Aku bangun di dalam sebuah sel dengan jeruji besi yang rapat. Ada dua orang petugas mengobrol di dekat selku.
"Dia gila ya, Bro?"
"Entahlah, kata dokter sih dia menderita alter ego, atau kepribadian ganda. Kadang dia merasa sebagai Moses, kadang merasa sebagai papanya."
"Hem, kita harus jaga jarak dengan dia, Bro! Di bawah rumpun lily orange yang dia tanam di halaman belakang rumahnya, ditemukan empat jasad. Entah sebagai siapa dia waktu membunuh mereka."
"Hmm, menurut mitos lily orange itu lambang balas dendam."
"Bisa jadi dia dendam pada wanita yang bernama Renata itu, yang tubuhnya ditemukan sebagai salah satu korban."
Selesai.