Seperti pada hari biasanya, Ellie duduk di sebuah bangku ditemani sebuah buku yang sudah ada dirumahnya sejak ia lahir kedunia ini dan sekeranjang apel di sampingnya. Tak ada yang spesial hari ini hanya seperti biasa
Anak-anak bermain dengan ceria, berlari dan berteriak meski begitu ia tak merasa terganggu dengan keberisikan mereka. Anak-anak itu juga bermain seolah tak merasakan keberadaan Ellie
Merasa hari akan gelap, Ellie bangkit dan segera membereskan barang-barangnya. Setelah Ellie menjauh dari tempat itu, Ellie menyusuri jalan setapak yang hanya muat untuk lima orang. Pemandangan di sisi jalan sangat menggoda mata. Area pertanian terbentang luas disinari cahaya matahari yang akan tenggelam
Tempat sebelumnya sangat jauh dari letak rumah Ellie, rumah Ellie terletak diatas bukit jauh dari pemukiman warga. Langit sudah gelap, namun Ellie belum sampai rumah. Ia sudah terbiasa, hal ini dilakukan nya tiap hari. Lagi pula tak ada yang bisa menganggu Ellie
Sampai ia melihat seorang pria dengan linglung membawa lentera. Ellie tak pernah melihat pemuda itu di desa sebelumnya jadi ia pikir dia seorang petualang. Ellie memperhatikan pemuda itu sedikit begitu ia lewat
Seketika pemuda itu menoleh, ia tampak sedikit terkejut, lalu memperhatikan wajah Ellie
"Permisi nona, saya Sean seorang petualang. Jika boleh tau dimana tempat penginapan di desa ini?"
Ellie juga terkejut, tanpa sadar ia tersenyum. Namun, ia langsung mendapatkan kembali kesadarannya "Senang bertemu dengan mu tuan Sean. Saya Ellie, tak ada marga. Jika anda mencari penginapan, itu sangat jauh dari sini. Anda akan tiba tengah malam. Tapi saya bisa menawarkan tempat saya"
Sean menunjukan senyumnya sembari berterimakasih, membuat Ellie linglung sejenak
Ellie mempersilahkan tamu nya masuk, lalu menjamunya
"Semoga sesuai dengan seleramu" Sean Tak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum. Lalu menatap makanan di depan nya dengan penuh kasih
"Saya bukan orang yang pemilih. Akan kumakan semua yang dimasak oleh mu" Ellie juga tersenyum lega
"Nona Ellie maaf sebelumnya. Apa disini anda tinggal seorang diri?" Ellie terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba. Namun tetap ia menjawab dengan tulus
"Iya. Saya hidup sendiri, orang tua saya sudah tidak ada. Ingatan saya menghilang di umur enam tahun ke bawah. Jadi saya tak pernah tau wajah orang tua saya" Ellie berkata dengan lembut. Ia bersyukur ada seseorang yang menjadi tempat nya bercerita
"Apa itu agak sensitif? Maaf jika saya menyinggung anda" Sean berkata dengan khawatir
"Oh tidak-tidak. Saya baik-baik saja"
Percakapan malam itu berakhir, Sean tak membuka mulut takut menyinggung perasaan Ellie lagi. Ia masuk ke kamarnya, melepas jubah yang ia kenakan. Lama ia terdiam dan akhirnya tak bisa membendung air mata kebahagiaan
"...akhirnya..." suara nya dalam dan serak karena menahan tangis, dan sedikit bergetar karena perasaan yang meluap-luap.
Jika saja...
Jika saja... Aishh... Sean ingin sekali memeluknya, menciumnya. Tapi mungkin gadis itu akan menganggapnya orang aneh dan akan menjauh dari nya
Keesokan paginya, mereka harus berpisah. Sean harus ke desa mencari penginapan. Ia enggan tapi ia yakin meski lama mereka pasti akan bertemu lagi
Ellie memberikan sekeranjang apel yang ia petik kemaren kepada Sean. Sean menerimanya dengan senang hati
"Nona Ellie, terimakasih sudah menampung saya. Ini sedikit pemberian dari saya, saya lihat nona Ellie sangat suka membaca" Ellie tersentak, entah bagaimana cara menjelaskan perasaan Ellie saat ini. Ia menerima buku itu seakan telah diberi harta paling berharga di dunia ini
Ellie melambaikan tangan nya sampai punggung Sean sudah tidak bisa di jangkau oleh mata. Ada sedikit kekosongan saat punggung Sean menghilang
"Sayang sekali... Padahal dia yang pertama"
Sean sekarang berdiri di depan sebuah penginapan. Begitu ia masuk, terlihat pelanggan yang asik makan dan pelayan yang sibuk. Tempat ini ramai, sebagian besar pelanggan adalah petualang
"Permisi, saya ingin pesan kamar untuk satu kamar"
"Oh silahkan ikuti saya" ujar sang karyawan tersenyum ramah "Apa anda baru tiba disini?"
"Oh tidak. Saya tiba kemarin malam, saya awalnya menginap di sebuah pondok di bukit itu"
"Oh... Pondok kosong itu? Walaupun sudah lama ditinggalkan tempat itu masih layak"
Sean sedikit mengernyit ada sesuatu yang salah
"Kosong? Bukan nya disitu tinggal seorang gadis?"
"Apa maksud anda? Tak pernah ada seorang gadis yang tinggal disitu jika ada, dia sudah lama dimakan oleh hewan buas"
Sean termenung sebuah pemikiran kasar muncul di benaknya ia berharap pemikiran nya salah sehingga ia tak perlu khawatir. Namun pada akhirnya, pemikiran tersebut malah semakin menjadi masuk akal
"Maaf saya tak jadi memesan kamar" begitu ia mengatakan hal tersebut Sean segera berlari keluar dari tempat itu
"Eh? TUAN!! TAPI ANDA SUDAH MEMBAYAR!!" sudah terlambat Sean telah menghilang
Di pondok milik Ellie. Gadis itu tengah membaca buku pemberian Sean. Ellie mengubah ekspresi nya dengan jalan cerita yang tiba-tiba berubah. Begitu ia menutup buku, mata Ellie seolah kosong. Air mata menitik dari sudut matanya
BRAKK...
Ellie seakan tidak memiliki tenaga untuk melihat siapa yang datang, karena ia tau betul siapa orang tersebut. Sembari tersenyum Ellie menatap orang itu penuh kasih
"Sean..."
Sean yang terengah-engah bergegas menuju Ellie. Begitu ia tepat di depan nya, Sean duduk dan menarik tubuh Ellie, memeluknya. Membenamkan wajah Ellie yang menangis
"Aku minta maaf... Seharusnya aku menemukanmu lebih awal. Jadi kau tak harus menderita" Sean terisak
"Ini bukan salahmu. Syukurnya kau datang menemukanku" Ellie melepas pelukan mereka, menatap wajah sedih bercampur bahagia Sean lalu membelainya dengan lembut
Sean menutup matanya, menggenggam tangan Ellie yang membelai sisi wajahnya. Ia sedikit mencium tangan itu. Begitu ia membuka mata, Sean tersenyum kepada Ellie
Detik itu pula ia menyerang bibir Ellie tanpa peringatan. Ellie tak lagi heran ia hanya menerima ciuman itu
Begitu ciuman itu lepas. Keduanya sama-sama terengah
"Ellie, aku sudah mencari mu selama 16 tahun ayo kita kembali kedunia kita" Sean menatap kekasih nya tanpa berkedip sedikitpun takut ia akan kehilangan gadis lagi
Ellie mengangguk dengan antusias. Ia juga sangat merindukan dunia asalnya. Setidaknya disana ia bisa bersosialisasi dengan manusia lain. Dan terlebih lagi ada orang yang sangat ia cintai bersamanya
Begitulah akhirnya Sean membuka portal kedunia mereka membawa pulang Ellie bersama dengan nya