Semua manusia tidak hanya hidup hanya untuk sehari dua hari. Ribuan hari terjadi dalam hidupnya dan di setiap harinya pasti meninggalkan cerita dari alur hidup yang dijalaninya. Ada masa lalu yang telah terlewati, ada masa kini yang harus dijalani, dan masa depan yang masih belum pasti.
Rianti, gadis biasa yang berasal dari desa. Dia mengadu nasib di kota dengan harapan hidup yang lebih baik. Berbekal pengalaman dan segala hal yang ia miliki dari desa, gadis itu bertekad akan memiliki kehidupan yang lebih baik. Bukan untuk dirinya semata, namun lebih tepatnya untuk kehidupan keluarganya yang kurang sejahtera.
Setidaknya dirinya lebih beruntung dengan pekerjaan menjadi pelayan restoran, dari pada menjadi penjaja diri yang tak bermoral. Mungkin pekerjaan kedua memiliki penghasilan yang lebih besar, namun secara agama dan sosial, hal itu tak pernah dibenarkan dan merupakan perbuatan tercela.
“Ri.. kamu bersihkan ruangan atas ya? Aku harus bersihkan kantor manajer dulu.” Santi, teman Rianti yang menjadi sahabatnya memberi arahan untuk mengerjakan apa yang harus dilakukan. Rianti masih tergolong anak baru, karena masih seminggu bekerja di restoran itu.
“Baik, setelah persiapan selesai, aku langsung ke atas.”
“Cepatlah sedikit, hari ini ada kunjungan dari orang penting yang ingin menggunakan jasa restoran kita.”
Tanpa banyak bertanya dan waktu terbuang, Rianti dan Santi langsung pergi mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.
Tak berselang lama setelah seluruh ruangan restoran dibersihkan lebih awal dari jadwal harian biasa, tamu penting yang dimaksud Santi datang, sebanyak lima mobil datang berurutan. Mobil bagus yang menandakan pemiliknya bukanlah orang kaya biasa.
Para pelayan restoran telah menerima briefing selama 5 menit sebelum kedatangan, sehingga saat ini mereka telah berjajar rapi menunggu penghuni mobil dari kendaraan mereka.
Julukan kaum elit jelas tertempel pada setiap orang yang turun dari kendaraan roda empat itu. Pakaian bermerk rancangan desaigner ternama melekat pada setiap orang. Sepertinya mereka adalah orang yang berpengaruh, hingga manajer restoran yang biasa hanya mengunjungi restoran sebulan sekali rela datang dari hari kemarin untuk menyambut kedatangan mereka.
Hari ini, restoran sengaja ditutup untuk umum. Mereka tidak menerima tamu dari luar, kecuali beberapa orang yang memang sudah reservasi tempat beberapa hari sebelumnya. Setelah orang-orang penting itu masuk ke lantai atas yang memang disiapkan untuk acara privat, seluruh karyawan da pelayan kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
“San, yang datang itu siapa sih? Kok kayaknya orang penting ya?” Rianti yang rasa penasarannya sudah di puncak mulai bertanya pada Santi.
“Mereka adalah pemilik restoran cabang ini. Apa kau lihat pria paling tampan yang paling depan tadi?” Santi mulai menanggapi pertanyaan Rianti. Jiwa penggosipnya mulai hidup hanya dengan satu pertanyaan saja.
“Iya.. pria muda yang kelihatan berwibawa tadi?” Gambaran pemuda paling tampan namun hanya terlihat dari samping mulai terngiang berkelebatan dalam otaknya.
“Iya.. aku beri tahu ya. Dia adalah anak satu-satunya pemilik restoran ini. Dia juga yang membangun restoran cabang ini dari nol. Dan kau tahu, katanya restoran ini sebelumnya pernah bangrut dan di ujung kehancuran. Namun dia pula yang membangkitkan hingga bisa sebesar ini.”
“Wow.. sepertinya dia memang orang yang perfect deh.”
“Dia memang perfectionis bahkan seorang workaholic sejati. Bahkan kabarnya, dia tidak punya kekasih, padahal menurutku dia sempurna dalam segala hal.”
Mereka berdua terus saja bergosip sambil bekerja, hingga mendapat teguran langsung dari manajer. Setelah sang manajer pergi, mereka berdua terkikik geli mengingat teguran sang manajer yang memang bisa membuat orang tertawa. Bagaimana tidak tertawa, bila cara menegurnya dengan bernyanyi ala rapper namun nadanya terdengar sumbang. Itulah salah satu keunikan dari sang manajer, meski kocak namun untuk hal pekerjaan dan pengelolaan restoran tidak perlu diragukan lagi.
Pekerjaan di restoran sangat sibuk hingga waktu untuk istirahat agak berkurang. Apalagi kedatangan keluarga pemilik restoran yang sepertinya mengadakan acara keluarga di lantai atas.
Bruuk ...
Tragedi kecil terjadi di dekat belokan dari arah toilet. Korbannya adalah segelas jus jeruk yang siap antar pecah tak berbentuk dan juga nampan sebagai alasnya. Sedangkan manusia yang bertabrakan jatuh dalam posisi bertindihan. Dua orang beda jenis dengan pakaian yang mencerminkan pekerjaan mereka.
Kedua insan yang bertindihan itu masih terdiam dengan posisi lelaki diatas. Sang wanita masih memjamkan matanya, tubuhnya seakan mati rasa karena beban yang tak sedikit menimpa tubuhnya.
Menggeser tubuhnya sambil menyibak sedikit rambut yang menutup wajah orang yang ada di bawahnya, mata pria itu terkesiap kala melihat wajah cantik itu masih mengernyit dengan mata terpejam rapat. Sambil tersenyum penuh arti, pria itu berdehem sambil menyadarkan sang wanita yang masih betah dalam posisi diam.
“Ehem... bangunlah, jangan tiduran di lantai terus.” Si pria mulai bersuara dan segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar kala mata indah itu mulai terbuka dengan hati-hati.
“eh.. mafkan saya.” Wanita itu langsung tertunduk kala melirik sedikit siap yang telah menabraknya. Badannya masih terasa remuk, namun sikap profesional harus dia tunjukkan.
“Tidak. Bukan kamu yang salah, sayalah yang tidak memperhatikan jalan hingga menabrakmu.”
“Iya Tuan, tidak apa-apa. Saya juga kurang hati-hati. Tapi mohon jangan adukan saya pada manajer, saya masih sangat butuh pekerjaan ini. Bisakah kita berdamai?”
“Tentu saja bisa, Rianti”
Mendengar namanya disebut, sang wanita langsung mendongakkan kepalanya. Pandangannya tertuju pada wajah seorang pria dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
Rianti hanya terdiam. Pria di depannya adlah pria yang pernah ada di masa lalunya. Masa lalu yang ingin dilupakan karena impian untuk mewujudkan massa depan mereka yang tak akan pernah bisa terwujud.
“Halo sayang.. apa kau masih mengingatku. Padahal aku selalu merindukanmu setiap detiknya, dan kini kita bisa bertemu lagi.” Itulah kalimat yang hanya bisa didengar batin si pria.
Rianti menjadi salah tingkah melihat pria di depannya. Dia hanya menggumamkan kata maaf sambil memunguti pecahan kaca di bawah kakinya. Sang pria tak ingin melihat wanita yang sudah dia klaim miliknya berjongkok dihadapannya. Tangannya refleks menarik tangan si wanita sebelum berhasil mengambil pecahan kaca tak bersalah itu.
“Sudah cukup kau menghindariku. Apakah kau tak ingin kita bersama untuk selamanya?” pria itu menahan diri agar tak memeluk gadis yang berdiri menunduk di hadapannya.
“Lepaskan tanganku, Mas. Tidak sepantasnya kau lakukan ini. Aku takut terjadi keslahpahaman yang lebih parah dari yang pernah terjadi di masa lalu.” Rianti berusaha melepaskan tangannya yang tercengkram kuat.
“Kembalilah, Nak. Maafkan kami yang dulu sempat egois tak memikirkan perasaanmu dan anak kami, hingga membuat anak kami depresi erat setelah kepergian keluargamu.” Sepasang suami istri berdiri tak jauh dari Rianti dan pemuda itu. Mereka adalah orang tua si pria.
“Kami terlalu bodoh karena dulu terlalu memikirkan status sosial. Kami harap kamu mau kembali lagi.” Kedua orang itu mendekat, si wanita meraih tangan Rianti dan memeluknya dengan erat.
Rianti tak menyangka bila pemilik tempatnya bekerja saat ini adalah keluarga majikan yang dulu mempekerjakan keluarganya dulu. Karena mencintai anak majikan dan status sosiallah yang menyebabkan Rianti dan keluarga memilih pergi dari rumah besar itu dulu.
Namun saat ini, takdir berkata lain. Dia kembali bertemu dengan cintanya dan keluarganya pun mengharapkan kehadirannya kembali. Rianti hanya bisa tersenyum dalam pelukan mantan majikannya dengan setetes air mata mengalir dari tempatnya.
Rianti tak menyangka bila hari ini akan menjadi awal yang baru untuk kisah hidupnya. Bersama cinta yang berdiri di hadapannya dan kedua orang tuanya yang telah merestui hubungan mereka. Namun satu hal yang pasti, Rianti ingin menjalani semuanya dengan saantai, namun dia tidak ingin hubungannya diatas namakan dengan pacaran.