Namaku Grace, aku berasal dari keluarga yang "Broken Home". Sejak kecil aku hanyalah seorang penyendiri, dan pendiam, 'tak ada anak yang mau berteman denganku karena alasan aku adalah anak yang berasal dari keluarga yang terpecah belah. Menerima berbagai ejekan dari anak-anak seusiaku sudah menjadi makanan sehari-hari.
Tetapi, semua itu telah berakhir ketika aku mengetahui bahwa diriku merupakan seorang indigo.
***
Hari ini aku kembali ke Jakarta setelah pulang dari Surabaya, mengunjungi rumah utama, saat ini usiaku masih 6 tahun.
Tidak ada keanehan saat aku pindah ke Ibukota, suasana disana tetap sama, hanya masih meninggalkan sedikit kenangan tentang Kakak Perempuanku.
Kakakku pegi meninggalkan keluarga kami setelah ia sukses, dengan alasan ingin memilki kehidupan baru yang jauh lebih mandiri, dan tanpa sosok orangtua. Ia memilih hidup bersama pacarnya, entah sudah menikah atau belum--sampai detik ini masih tidak ada kabar.
Dan sekarang aku hanya tinggal bersama Ibuku, karena Ayah tidak pernah kembali dan tidak ada kabar setelah ia pergi ke luar negeri.
Untuk menafkahi aku, ibu menjalankan sebuah bisnis restoran besar satu-satunya yang ada di Ibukota ini.
Soal sekolah ... aku sangat bersyukur karena ibu masih mampu membiayaiku untuk masuk sekolah yang cukup elite.
Kalau, di tempat-tempat yang pernah aku kunjungi memang tidak kutemukan keanehan, tetapi, hal itu berbeda untuk rumah baruku yang ada di kawasan perumahan.
"Ibu, apa kita tidak salah, pindah kerumah semacam ini?" ujarku.
"Memangnya apa yang salah dari rumah ini?" tanya Ibu.
"Uh ... entahlah. Aku hanya merasa ada yang aneh ...." kataku sambil bersembunyi dibelakang tubuh Ibu.
Aku melihat sosok seorang anak remaja yang cukup tinggi, berpakaian serba hitam, dan matanya yang merah menatap tajam ke arahku. Ia sedang berdiri di ujung anak tangga ke-13. Sejak melihatnya aku sudah tidak suka dengan kehadirannya, entah dia itu siapa? Manusia, atau hantu penunggu rumah?
***
Keesokan harinya. Aku sedang duduk dibangku taman, sendirian. Ibu sedang pergi ke restoran, katanya ada hal yang harus ia kerjakan. Aku sudah sempat merengek untuk tidak ditinggal dirumah sendirian, tetapi ibu tidak mau mendengarku, dan hanya menyatakan bahwa aku merupakan anak perempuan yang pemberani.
Aku sangat takut. Ya ... mungkin itu karena aku adalah penghuni baru dirumah ini.
Praang ...!
Seketika aku tersentak, aku langsung berlari menuju ke arah suara, dan kudapati vas bunga diruang utama telah pecah. Sesaat kemudian muncul sosok hitam-tinggi di hadapanku.
"Halo, gadis kecil ...?" kata sosok tersebut.
"Huuaaaa!!!!! I, ibuuu!!! Tolooong!!!" teriakku ketakutan.
Tanpa kusadari sosok tersebut ternyata terkejut mendengar teriakanku, dan langsung menjauh.
Ternyata sosok tersebut adalah anak remaja yang pernah menampakkan dirinya kemarin saat di tangga.
"Ka, ka, ka, kau ...? Kau siapa?!" ujarku dengan nada sedikit tinggi.
"Heh! Kau ini ...! Justru kau yang siapa?! Kenapa kau ada dirumahku?!" ucapnya dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Apa maksudmu?! Rumah ini sudah menjadi milik ibuku tahu?! Sejak ibu membeli rumah ini, aku selalu melihatmu berkeliaran dirumah ini! Sekarang kau mengaku bahwa kau adalah pemilik rumah?" ucapku lantang.
"Heh! Kau sudah mulai berani melawan, ya? Sejak kau datang kemari, aku selalu memperhatikanmu. Apa kau orang jahat atau bukan. Dengar, aku adalah penghuni dirumah ini, dan pemilik rumah yang sebelumnya memintaku untuk menjaga rumah ini untuknya. Kau adalah penghuni baru, tapi sudah berani berkata kasar dan berteriak padaku hingga membuatku terkejut. Berani sekali ...." jelasnya.
"Huh ... sudahlah, aku tidak peduli siapa dirimu, dan tidak ingin ada keributan. Sampai nanti ...." kataku dengan sedih.
Aku tahu, sejak kecil banyak yang tidak menyukaiku. Kalau aku berdekatan dengan anak ini, mungkin dia juga akan mencercaku. Lebih baik aku membersihkan serpihan kaca vas bunga yang jatuh tadi.
Saat aku sedang hendak mengambil sapu, tiba-tiba sebuah tangan dingin mengenggamku erat.
"Kau kenapa? Kau menghindariku? Jangan begitu, aku tidak suka!" kata anak itu.
"Apa peduliku? Aku hanya ingin melakukan hal yang aku mau. Pergi, jangan ganggu aku." ucapku padanya.
Setelah mendengar ucapanku dia pergi entah kemana. Sedangkan aku masih sibuk membersihkan serpihan kaca, agar saat ibu pulang nanti, ibu tidak memarahiku.
***
Sampai pukul 10.30 ibu masih belum pulang, aku tidak punya rencana untuk melakukan sesuatu. Jadi aku memilih untuk pergi ke kamarku, dan membaca buku. Lagi pula, besok ibu akan mendaftarkanku ke sekolah.
Saat hendak masuk, anak lelaki itu muncul kembali.
"Hai! Sedang apa? Mau kemana?" tanyanya.
Aku berjalan, mengabaikan pertanyaannya.
"Huh ... aku diabaikan lagi ...." ucapnya sedih.
"Ha? Kenapa dia mengikutiku terus sih?! Aneh!" pikirku.
Aku tidak peduli dan tetap masuk kedalam kamar. Dia tetap menungguku diambang pintu kamarku dan mengawasiku.
"Hei, gadis kecil. Apa kau pikir aku tidak tahu persoalan apa yang kau hadapi? Aku bisa melihat masa lalumu. Aku tahu kau kesepian karena tidak punya teman, aku pun begitu," katanya sambil berjalan menuju kearahku "Jadi, maukah kau menjadi sahabatku, gadis kecil?" Membungkuk, dan menggenggam tanganku dengan lembut.
Hatiku terasa nyeri. Setelah sekian lama tidak ada anak yang mau menjadi temanku, berdekatan denganku saja mereka enggan. Tapi ... mendengar ucapannya barusan, tanpa sadar air mataku mengalir deras, aku pun jatuh kedalam pelukannya dan menangis sekencangnya.
Untuk pertama kalinya ada orang yang mau memberiku penawaran bukan untuk menjadi teman, melainkan seorang "sahabat".
Oh, Tuhan, aku sangat merindukan saat-saat ini, setelah sekian tahun tersiksa karena hinaan dan makian.
***
Setelah menangis cukup lama, ternyata aku tertidur. Ternyata ibu sudah pulang dan ada disisiku.
"Uh ... Ibu? Ini Ibu kan? Ibu, kapan pulang?" tanyaku.
Ternyata dalam kamarku tidak hanya ada aku dan Ibu, namun anak lelaki itu ada disini. Dia berdiri di dekat jendela kamar, melambaikan tangan ke arahku, aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Ibu pulang sejak sore, tapi kamu tidak menyambut Ibu jadi ibu cemas dan langsung masuk ke kamarmu, ternyata kamu sedang terbaring di tempat tidur, sepertinya kamu kelelahan menunggu Ibu pulang, ya? Ibu minta maaf." jelas Ibu.
"Tidak masalah, Ibu pasti telah, ayo kita makan malam lalu tidur!" jawabku dengan ceria.
"Baiklah, ayo!" kata ibu sambil menggendongku.
"Ibu melihatku sedang tidur di tempat tidur? Apa mungkin anak lelaki itu yang menidurkanku? Uh ... aku malu ...." pikirku.
Aku melambaikan tangan pada anak lelaki itu dan berbisik...
"Aku akan kembali. Tunggu aku, ya?" Aku tersenyum.
Dia membalasnya dengan tersenyum, dan menganggukkan kepala.
***
Malam harinya
Saat aku masuk ke kamarku untuk tidur, kudapati anak lelaki itu sedang duduk di jendela kamarku yang terbuka. Aku pun memberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.
"Hai! Kau belum tidur? Kau pasti lelah menungguku. Beristirahatlah, besok kita akan bermain lagi, ya?"
"Tidak, aku tidak butuh tidur seperti manusia, dan aku juga tidak lelah menunggumu disini. Ada hal yang harus kubicarakan denganmu." ujarnya.
"Kalau begitu katakan." jawabku.
"Pertama, kau belum menjawab pertanyaanku tadi siang. Kedua, siapa namamu? Jawablah."
"Oh! Maaf soal tadi siang, aku bukannya menjawab tapi malah menangis dihadapanmu, maaf sudah merepotkan. Dan soal jawaban aku menerimamu atau tidak itu ... aku sangat ingin memiliki teman, jadi aku menerimamu, bukan sebagai teman tetapi sahabat. Lalu, namaku Grace, senang bertemu denganmu!" jawabku panjang-lebar.
"Hmm ... sepertinya kau tidak punya maksud buruk ya. Baiklah, aku juga senang bisa menjadi sahabatmu. Namaku Kevin, senang bisa bertemu denganmu, Grace." ucapnya.
Sejak hari itu, kami selalu bersama. Dan ibu sering heran, karena biasanya jika ibu ingin meninggalkan rumah dan tidak mengajakku, aku sama sekali tidak pernah merengek seperti dulu. Itu karena aku sudah mengetahui bahwa diriku adalah seorang anak indigo.
***
8 tahun kemudian
Sekarang usiaku sudah genap 14 tahun, dan tentang hubunganku dengan Kevin masih tetap berlanjut. Tetapi, beberapa bulan sebelum ulang tahunku dirayakan, Kevin pernah menyatakan perasaannya padaku.
Entah, sejak kapan aku juga mulai memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan pada akhirnya kami pun berpacaran.
Waktu berjalan begitu cepat, sampailah pada hari ulang tahunku, Kevin memberi tahu bahwa selama ini, aku bukan bersahabat dengan sesama manusia, melainkan sesosok Iblis. Ya, dia adalah Iblis yang paling aku cintai. Seiring berjalannya waktu aku mulai merasa aneh,
"Kok bisa aku berpacaran dengan Iblis?" pikirku.
Sejak perasaan demikian muncul dalam benakku, hubungan kami mulai merenggang. Kevin merasakannya, dan ia sering bertanya kenapa aku menjadi acuh tak acuh padanya, tetapi aku hanya mengabaikannya.
***
Tepat sebulan setelah hari ulang tahunku, sesuatu terjadi.
Saat itu aku hanya berdiam diri di kamar, dan hanya sibuk membaca buku. Ditengah keheningan tiba-tiba Kevin muncul mengejutkanku,
"Sedang apa?"
"Huaa!!! Hahh!! Kau ini, tahu tidak barusan jantungku hampir lepas?!" teriakku.
"Bagus! Jika jantungmu betulan lepas, dan kamu kehilangan nyawa, itu akan menjadi sebuah keuntungan. Bukan hanya bagiku, melainkan dirimu juga." celetuknya.
"Maksudmu?! Kau ingin aku cepat mati, begitu?!!" Amarahku mulai memuncak.
"Heh! Memang benar, 'kan? Jika kau mati, maka kita akan terus bersama sepanjang masa~~"
"Huh! Dasar! Bikin kesal saja! Sudahlah, jangan menggangguku!" ucapku ketus.
"Hei~ kenapa ucapanmu begitu ketus, ha?" jawabnya.
"Karenamu aku jadi begini, aku jadi tidak bisa fokus untuk ujian mendatang tahu!" ujarku.
"Hahaha, maaf, maaf. Haah~~ manusia, manusia~" kata Kevin.
"Kenapa lagi kau ini?!" ucapku yang masih kesal.
"Tidak, bukan apa-ap--- Tunggu!" ucapannya terhenti.
"Hm? Kenapa? Ada yang aneh?" tanya ku.
"Benar! Ini ... aroma paranormal! Bajingan!!!" ketusnya.
Baru kali ini aku menyaksikan Kevin yang kukenal bisa semarah ini. Selama 8 tahun terakhir ini, dia tidak pernah mengangkat nada tinggi di hadapanku, selain saat pertama kali kami bertemu.
"Paranormal? Heh! Kau bercanda? Sudahlah, di rumah ini mana ada---" ucapanku terhenti karena Kevin menyela.
"Tidak! Aku serius! Aromanya semakin kuat. Ahh! Aku benci ini!" ucapnya serius.
Aku hanya bisa terdiam. Namun, tiba-tiba pintu kamarku mulai terbuka, dan muncul sosok seorang pria tua berjanggut, dan Ibuku!
Sontak aku terkejut dan bertanya, apa yang sedang mereka lakukan.
"Salam. Saya seorang paranormal yang dipanggil secara khusus oleh Nyonya. Saya kemari untuk menyingkirkan mahkluk yang ada di samping Nona. Kemarilah cepat Nona, sosok itu berbahaya!" kata paranormal tersebut.
"Ha? Sosok apa yang anda maksud?" tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Jangan berpura-pura lagi, Grace! Ibu sudah mengetahui semuanya! Kamu berteman dengan sosok iblis bukan?!" kata Ibu.
"A, apa maksud Ibu, sa ... saya, tidak mengerti. Iblis apa?" ucapku.
Tiba-tiba, tanpa kusadari, Kevin menyerang paranormal itu hingga terjatuh. Lantas aku bertanya,
"Kevin! Kau kenapa?!"
"Aku, aku benci dia! Ergh!!!" jawabnya.
"Apa---" ucapanku terhenti karena Kevin menarik diriku secara paksa.
"Arggh!! Jika kau berani memisahkan kami, gadis ini akan terluka. Jadi menjauhlah!" teriak Kevin.
"Ke, Kevin ...? Kau ...." ucapku sambil menahan air mata.
"Maafkan aku, mungkin ini sudah saatnya." kata Kevin.
"Hah?! Selama ini, dia tidak tulus?" pikirku.
Padahal aku sangat mencintainya. Tapi, tega-teganya dia menghianatiku. "Kekasih Tercinta", aku benar-benar bodoh memberinya gelar tersebut dalam hatiku.
"Makhluk jahat yang mengganggu manusia, enyahlah!"
Paranormal itu berkata demikian, dan berusaha menyerang Kevin. Semakin paranormal itu berusaha menyerang, maka semakin kuat pula cengkeraman Kevin padaku.
Aku yang tidak berdaya, hanya bisa meneteskan air mata. Sejenak kemudian, tenagaku mulai terkumpul, dan aku berhasil lepas dari cengkeraman Kevin.
"Kurang ajar! Kau berani melawan padaku?!" ucap Kevin ketus padaku.
Kevin berusaha mengejarku, namun tidak berhasil karena paranormal itu menahannya dengan kekuatan sihirnya. Aku melihat seperti ada rantai goib yang melilit pada sekujur tubuh Kevin.
Mataku tak sanggup melihat semua itu. Akhirnya aku hanya memberi isyarat pada paranormal tersebut untuk menyerahkan semuanya padaku.
"Kevin, aku tidak suka melihatmu dalam kondisi begini, aku ingin semuanya normal." kataku.
"Heh! Lalu ...?" ucapnya lirih menahan rasa sakit.
"Kita putus, dan tolong kembalilah ke alammu. Karena tempatmu, bukan disini. Kumohon ...."
"Tidak! Tidak bisa ...! Aku tidak mau pergi! Jika kau mau aku pergi dengan tenang, maka ikutlah bersamaku!" Seketika rantai goib tersebut terlepas dari tubuh Kevin.
Dia tiba-tiba menyergapku, dan aku pun terjatuh ke lantai. Kevin yang sedang aku lihat saat ini, bukanlah Kevin yang kulihat beberapa menit yang lalu. Sosok Kevin yang ada di hadapanku sekarang adalah sosok yang sangat menyeramkan, yang seperti hendak membunuh dan memakanku. Aku takut!
Tanpa kusadari, paranormal tersebut baraksi, menancapkan sebuah keris pada tubuh Kevin. Kevin pun jatuh tak berdaya.
Pada saat bersamaan aku mendapatkan sebuah pengelihatan, tentang masa lalu dari Kevin.
Ia hanya seorang anak yatim-piatu yang di besarkan secara tidak adil oleh keluarga angkatnya. Sejak kecil ia tidak memiliki teman sama sekali, dan kehilangan kasih sayang keluarga. Lalu, pada suatu ketika, terjadi perampokan pada rumah yang aku tempati sekarang ini. Kevin mati terbunuh oleh para perampok tersebut. Jiwa Kevin tidak pernah bisa tenang, karena dia tidak bisa mendapatkan cinta kasih dari keluarganya.
Oleh karenanya, ia ingin membawaku bersamanya, karena pikirnya aku adalah orang yang bisa memberinya kebahagiaan yang selama ini dia nantikan. Begitu pula denganku, aku berpikir bahwa dia adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi teman hidupku.
Tetapi, ternyata selama ini aku telah salah menilai. Sekarang aku sadar, dan aku harus menyadarkan Kevin dari jebakan ilusi ini, mengembalikan jiwanya yang terhilang, dan menuntunnya ke alam baka.
Itu tugasku.
***
Lama setelahnya, aku telah siuman, ternyata selama mengalami penglihatan aku pingsan. Saat aku bangun, Kevin berada di sisiku. Ia sudah sepenuhnya pulih, dan aku telah berhasil menyelami masa lalunya, serta mengembalikan jiwanya.
Aku tidak ingin dia menjadi iblis, sahabatku dan sekaligus pacarku. Aku hanya menginginkan yang terbaik baginya. Walau kami harus terpisah dengan keadaan demikian, aku harus ikhlas menerimanya.
"Grace, mungkinkah ini sudah saatnya bagiku 'tuk kembali?" tanya Kevin.
"Hem, mungkin begitu?" kataku.
"Anak muda, aku tahu kenapa kau bisa menjadi sosok iblis. Kau masih memiliki rasa kebencian terhadap keluarga lamamu, kemudian kau ingin mendapatkan sosok yang bisa membuatmu merasa bahagia, dan kau juga menginginkan jiwanya. Tahukah kau, jika Nona Grace sangatlah tersiksa dengan perlakuanmu? Semua berawal dari keegoisanmu semata." ucap Paranormal itu.
"Iya, anda benar. Selama ini saya terlalu egois. Terima kasih, telah datang dan menyelamatkan orang yang sangat aku kasihi ini." ujar Kevin.
"Ah, aku tidak melakukan apa pun, semua ini berkat Nyonya." kata Paranormal itu pada Ibuku.
"Ibu, terima kasih ...!" ujarku pada Ibu.
Dan kemudian Ibu dan aku berpelukan, tanpa sadar aku menitihkan air mata bahagia. Dan berpikir bahwa semua ini akan segera berakhir.
"Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan Kevin lagi nanti ...?" pikirku.
Tidak, tidak! Aku harus melepas Kevin sepenuhnya, jika tidak dia tidak akan pernah bisa bahagia.
Tiba-tiba, jiwa Kevin perlahan mulai terlihat samar-samar, yang berarti ia harus segera kembali.
"Mari kita akhiri ini, Kevin ...." ucapku lirih sembari menahan air mata.
"Ya ..." jawab Kevin.
Aku hanya tersenyum dan menggenggam tangannya, tetapi aku tidak sanggup menahan air mata, dan akhirnya aku menangis sejadi-jadinya layaknya anak kecil yang akan kehilangan teman untuk selamanya. Kevin memelukku, baru kali ini pelukannya terasa hangat.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu, Grace. Aku mencintaimu, "Kekasih Tercinta" -ku."
Itu merupakan ucapan terakhir Kevin padaku.
Selamat Jalan Kevin.
- Tamat -