Aku mengenalnya saat di SMA,
waktu itu tahun ajaran baru, tak sengaja bertemu dengan teman lama, yaitu teman saat masa SD dulu, temanku itu bernama Nina, sekilas tentangnya.
dulu Nina seorang teman yang cukup berpengaruh, dia adalah gadis pengganggu, aku dan dia juga sempat bertengkar ala anak SD, untungaya saat itu, aku bukan termasuk gadis yang cengeng, jadi Nina sedikit terkesan denganku, sejak itu kami berteman.
bertemu dengannya di SMA yang sama, seakan mengenang masa-masa kecil kami dulu, ya...sesuatu yang menurutku unik dan lucu, sukar di lupakan, contohnya pernah saat malam minggu Nina menjemputku untuk menonton acara konser musik di hajata tetangga sebelah atau biasanya kami menyebut nonton kibotan, seru sih menurutku, tapi kalau di ingat cukup memalukan, sebab di acara itu kami bertemu dengan seorang teman laki-laki yang ternyata Nina sengaja ke sana untuk melihatnya bertjoget di atas panggung.
Nina yang terpesona ikut naik panggung dan berjoget bersamanya sampai panggung mendadak roboh, untung saat itu aku tak ikutan naik, sakitnya tak seberapa tapi malunya seumur hidup.
Nina...Nina...!
Kami mengenang masa-masa itu, sambil sesekali tertawa dengan kelucuan yang kami lakukan dulu.
tak sengaja Nina melirik seorang Pemuda yang sedang berjalan di lorong tempat kami sedang duduk,
"Ran, lihat deh cowok itu, ganteng ya?"
aku penasaran, melirik ke arah Pemuda itu.
ku akui memang lumayan dari pada anak laki-laki yang di taksir Nina waktu SD dulu.
"Ran dari tadi dia lihat ke arah kita, kamu kenal dengan cowok itu?"
"nggak lah, aku aja baru di sekolah ini"
"mungkin dia terpesona dengan kecantikan kita"
aku memandang Nina dengan tatapan tak percaya.
dari dulu ini anak memang terlalu percaya diri.
"ih...lihat deh Tatapan nya bikin jantung berdebar, aku ajak kenalan ah!
Nina ini, kalau soal lawan jenis selalu gercep (gerak cepat)
benar saja Nina mengajak Pemuda itu berkenalan, aku cukup tersenyum aja melihat tingkah Nina.
Pemuda itu kini berdiri di hadapanku bersama Nina, dia tersenyum padaku, dengan sopan aku membalas senyumnya.
aku tak sempat berkenalan dengannya sebab tiba-tiba bel berbunyi, aku menuju kelas bersama Nina, sedangkan Pemuda yang bernama Rian itu pergi entah kemana, aku tau namanya dari Nina.
aku dan Nina memilh duduk di kursi yang sama, suasana saat itu cukup berisik murid-murid lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
beberapa saat kemudian seorang Guru laki-laki bersama seorang murid laki-laki masuk ke kelas kami, pemandangan yang membuat Nina terkejut begitu juga denganku, Pemuda yang tadi ternyata satu kelas dengan kami, tentu saja membuat Nina kegirangan.
Rian duduk di barisan yang sama dengan kami tepatnya duduk di belakang kursi kami.
aku melihat mereka cukup akrab, Nina menyuruhku berkenalan dengannya, ya...kami berkenalan saling menyebutkan nama masing-masing.
"Adrian"
ucapnya.
"Rania"
balas ku.
seseorang yang duduk di sampingnya menatap kami, akhirnya aku juga berkenalan dengannya begitu juga Nina,
nama Pemuda itu adalah Diky.
aku baru tau ternyata Rian ini orangnya sedikit jahil, saat sedang belajar dia sering mengganggu ku, misalnya dia melemparku dengan kertas sehingga mengenai punggungku,
dia ini sedang apa sih, dia pikir aku tong sampah?
saat aku menoleh, bermaksud bertanya ada apa, dia malah menunjuk teman di sebelahnya mengisyaratkan Diky yang melakukannya, aku bertanya pada Diky Pemuda itu malah balik menuduh Rian, kekanak-kanakan sekali mereka kan!
aku menganggap mereka sedang iseng saja dan kembali mengerjakan tugas, beberapa menit aku merasakan ada yang menyentuh bagian belakang tubuhku dengan jari telunjuk, saat aku menoleh terlihat Rian dan Diky sedang sibuk menulis di buku mereka masing-masing, jujur aku sedikit kesal, Nina akhira nya buka suara dan berbisik padaku, orang yang dari tadi menjahiliku adalah Rian,
"sepertinya dia sengaja ingin membuat mu marah dan kesal, soalnya kamu cuek sama dia"
ih...aku sebal dengan orang yang bernama Rian ini, aku nggak suka sama dia.
keesokan harinya....
aku bertemu dengan Rian saat berjalan menuju kelas, terlihat dia cuek padaku, aku pun begitu kami tak saling sapa, meski beberapa kali terlihat Rian sedang melirik kearah ku, sebenarnya aku juga meliriknya.
Nina hadir diantara kami, terlihat Nina sedang ngobrol dengannya, aku curi dengar tentang apa yang mereka bicarakan, Nina ini bertanya alamat rumahnya, dasar Nina!
saat jam istirahat...
seorang kakak kelas mendekati ku,
mengajakku berkenalan, ternyata gadis imut yang mengajakku berkenalan itu disuruh oleh seorang temannya yang katanya sudah beberapa hari ini memperhatikanku, aku jadi penasaran dengan Pemuda yang memperhatikanku, awas aja kalau nggak sesuai dengan kriteria ku.
ternyata kakak kelas yang bernama Fandy ini, seorang Pemuda yang cukup pemalu, senyumnya terjaga, beberapa kali ku perhatikan tak bisa melihat barisan giginya, lumayan manis dan sepertinya memiliki sifat yang lembut dan penyayang, itu sih penuturan dari kak Jihan sepertinya mereka bersahabat.
aku sedikit terkesan dan ada rasa malu-malu, juga.
sebenarnya aku ini memiliki sifat yang tertutup dan jarang dekat dengan orang lain, kecuali teman dekat.
ya, aku sedikit canggung, mau bicara juga bingung. Kak Fandy ini juga sepertinya sama seperti ku, akhirnya kami hanya banyak berdiam diri meski sesekali saling tersenyum.
Di kelas Nina langsung KEPO, penasaran tentang cerita kakak kelas yang katanya naksir sama ku, aku juga bingung mau cerita apa, seperti yang kalian tau, cuma duduk, saling tatap dan tersenyum nggak jelas, aku juga bingung itu apa namanya.
Nina malah memberi saran yang menurutku bodoh.
aku di suruh lebih agresif mendekatinya, kabarnya kakak kelas itu idola, banyak yang naksir sama dia, dan aku gadis satu-satunya yang beruntung karena di perhatikannya.
aku bertanya pada Nina, Rian dan Diky kenapa belum masuk, Nina juga baru menyadari hal itu.
beberapa menit kemudian terlihat Rian dan Dicky berjalan beriringan bersama seorang Guru BP, aku melihat raut wajah yang marah tergambar dari wajah mereka bertiga, entah apa yang telah terjadi, aku menunggu informasi itu.
Guru terlihat marah terdengar dari suaranya yang tinggi, memperingati kami agar jangan sok jago, berkelahi dan saling baku hantam.
"saya peringati kepada kalian semua, saya tidak mau lagi mendengar apalagi melihat ada siswa atau siswi yang adu kuat di sekolah ini, saya tidak segan-segan mengeluarkannya dari sekolah ini"
Nina yang penasaran malah bertanya langsung pada Rian, apa benar mereka tauran, dengan siapa?
Rian tak menjawab tapi dari raut wajahnya terlihat dia sedang marah, bagaimana tidak kulitnya yang putih itu berubah memerah, di sudut bibirnya juga ada sedikit noda darah.
Nina ini memang tak pernah menyerah tak mendapat jawaban dari Rian, kini dia malah beralih pada Diky, pertanyaan yang sama di lontarkan pada Diky, tapi sama dengan Rian Diky juga diam.
aku sedikit penasaran tentang apa yang terjadi pada Rian dan Diky, aku menoleh kebelakang, ingin mencari sedikit informasi untuk mengobati rasa penasaran ku, sepertinya aku sudah terpengaruh dengan Nina yang selalu ingin tau dengan urusan orang lain.
bukannya mendapat jawaban aku malah mendapat tatapan mematikan dari Rian, dia yang seperti itu membuatku jadi penasaran, aku berbalik tak sempat bertanya sebab jantungku berdebar.
keesokan harinya...
saat menuju sekolah, aku sempat melihat Rian sedang berlari seperti sedang di kejar-kejar seseorang,
Rian sedang di keroyok beberapa orang yang sepertinya kakak kelas, aku sedikit khawatir dengan keadaannya mencoba mendekati dan menolongnya, tapi dia malah mengisyaratkan agar aku pergi dan menjauh saja, saat aku akan mendekat tiba-tiba mereka menghentikan kegiatan mereka yang sedang memegang Rian.
mereka mendadak pergi, mungkin takut aku mengadu ke Guru BP.
Rian ini malah meninggalkanku dengan ekspresi kesal, ada apa dengannya?
aku mendengar berita dari Nina ternyata Rian menusuk seorang kakak kelas dengan sebuah pena, sehingga kakak kelas itu luka ringan.
Rian kembali di panggil Guru BP, sudah dua kali membuat masalah dan dia terancam akan di DO.
jujur aku khawatir dengannya.
saat Rian tak ada aku dan Nina mencari informasi pada Diky, setelah beberapa kali mendesak akhirnya Dicky bercerita.
mereka sedang di kantin, kemudian beberapa orang kakak kelas mendekati dan meminta kami memberikan semua uang kami kepada mereka, Rian tak terima dan mereka mulai memukul kami, kami hanya membalas mereka.
mungkin kakak kelas masih dendam dengan Rian, sebab karena Rian mereka semua akan di keluarkan dari sekolah.
aku jadi mengerti mengapa tadi saat jalan menuju sekolah, Rian di kejar-kejar sama kakak kelas, mereka jahat sekali mengantimidasi kami, sebagai adik kelas seharusnya mereka mengayomi, bukan menindas, apa hal seperti ini juga terjadi di sekolah kalian?
aku jadi kepikiran dengan nasib Rian,
saat jam istirahat kak Fandy mendekati, dia bertanya kenapa aku melamun sendiri, aku jadi ingin bertanya pada kak Fandy apa dia tau tentang geng kakak kelas yang suka mengganggu adik kelas.
dia terlihat khawatir bertanya padaku apa mereka mengganggu ku,
aku cerita padanya tentang teman sekelas yang mereka ganggu.
"maksud kamu Rian?"
"kok kak Fandy tau?"
Kak Fandy malah tersenyum, ih...sok misterius.
"nanti kakak bantu ngomong sama mereka, biar jangan ganggu teman sekelas kamu"
aku kok jadi senang mendengar ucapan kak Fandy, ternyata dia orangnya baik.
saat pulang sekolah kak Fandy menungguku, rencananya mau jalan bareng ke simpang tempat menunggu angkutan umum.
kak Fandy ini, Pemuda yang pemalu, beberapa kali terlihat dia sedang melirik ke arahku, saat aku melihat nya dia tersenyum lembut seperti biasa.
dia malah bertanya apa aku sudah punya pacar, aku jawab aja belum, memang kenyataannya aku jomblo.
saat kami berjalan tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah sepeda motor melaju kencang membuatku hampir tertabrak, untung kak Fandy menarik kedua bahu ku menarik ku ke pelukannya.
"kamu nggak pa-papa kan?"
terlihat sekali dia khawatir padaku.
aku tak menjawab, jujur aku terkejut dan sedikit ketakutan.
kami berpindah posisi, sekarang dia yang berada disisi dekat jalan raya.
aku baru menyadari ternyata orang yang berjalan di belakang kami adalah Rian, dia menyaksikan adegan kak Fandy menarik ku dan memelukku, tapi kenapa aku merasa tak nyaman berada di posisi seperti sekarang ini, aku merasa Rian sedang memperhatikanku, aku jadi canggung dan tak fokus pada kak Fandy.
untung semua segera berlalu aku pamit pulang pada kak Fandy, karena angkutan ku sudah datang, ya, kami berpisah dan aku bisa melihat senyumnya yang mengiringi kepergian ku.
aku sudah duduk, mobil pun mulai melaju, tiba-tiba mobil berhenti sebab di depan ada yang menghentikan, aku sedikit terkejut, saat melihat orang yang menaiki angkutan umum yang sama denganku.
dia Rian!
dia duduk persis di depanku, kami sempat saling bertatapan, meski kemudian aku membuang pandangan ke arah lain, tapi aku dapat merasakan dia terus menatapku, sesuatu yang membuatku salah tingkah.
ada apa dengannya?
Rian ini sombong sekali, sama sekali tak menyapa, aku juga sama.
kami memang tak bicara, tapi aku kok deg degan, saat melihatnya dari jarak sedekat ini.
jujur dia memang tampan, aku paling suka melihat matanya, bulat dan bercahaya seolah aku dapat melihat wajahku di bola matanya yang hitam itu.
ada apa denganku, kenapa aku memperhatikannya?
keesokan harinya....
saat jam istirahat, aku dan Nina sedang berjalan menuju toilet, Nina ini memang selalu minta di temani kalau mau ke toilet, tiba-tiba di perjalanan seseorang menghentikanku.
dia mengatakan aku di panggil ke ruang BP, aku dan Nina terkejut, aku bertanya ada apa, namun jawabnya tak tau.
Nina menyuruhku untuk pergi dan membiarkanya ke toilet sendirian.
jujur aku deg-degan, entah apa yang akan terjadi nanti.
aku masuk keruangan itu, di sana sudah berkumpul beberapa orang yang semuanya adalah laki-laki, kira-kira ada empat orang Pemuda yang wajahnya sedang tertunduk, entah mereka sengaja atau mereka sedang malu aku juga tak tau, yang menjadi pertanyaanku, kenapa aku harus berada di antara mereka?
apa ini sedang syuting film?
empat Pemuda dan satu orang gadis, kalian tau tidak itu film apa?
seorang Guru keluar dari ruangan yang berbeda, dia Guru BP berwajah sangar dan menyeramkan, mungkin wajahnya yang seperti itu cocok dengan perannya sekarang ini, melihatnya saja sudah berhasil membuatku gemetar.
"jadi kamu yang namanya Rania?"
aku mengangguk.
saat itu aku berdiri tepat di hadapan Guru BP.
"kamu kenal dengan mereka?"
sekilas aku memperhatikan wajah-wajah yang tertunduk itu, aku seperti mengenal salah satu dari mereka, jujur aku berdebar, saat melihat Rian yang juga ada di ruangan itu.
sedang apa dia, apa dia membuat masalah lagi dan apa hubungannya denganku?
karena takut aku menggelengkan kepala, aku ingin menghindar dari masalah saja, jujur aku juga belum tau apa yang membuatku harus di panggil di ruangan yang terasa seperti di pengadilan tempat menebus dosa-dosa.
"kamu yakin?"
"i..iya Pak!"
"kamu dengar dia aja tak kenal dengan mu"
kepada siapa Guru itu bicara?
Kepada Rian kah?
Rian menatapku dengan tatapan malu, aku jadi merinding.
Guru itu bertanya padaku.
"kamu mau sama Pemuda seperti dia?"
menunjuk ke arah Rian.
mendapat pertanyaan mendadak seperti itu, aku langsung menjawab "nggak"
"kamu dengar kan, nggak ada gadis yang mau sama laki-laki bandal seperti kamu,
tukang berantem, merokok dan bikin onar"
"maaf Pak saya nggak pernah merokok bapak jangan fitnah"
"kamu malu karena ada cewek yang kamu sukai di sini, biar dia tau kamu seperti apa"
"udahlah Pak nggak usah bawa-bawa dia, suruh saja dia pergi"
"kamu lihat betapa kurang ajarnya dia"
aku jadi bingung, mengapa jadi mereka yang bertengkar.
"biar saya kasih tau dia kenapa dia di panggil"
"udahlah Pak, jangan kayak anak-anak, Ran kamu pergi aja, nggak usah dengerin Guru ini"
aku semakin bingung, ada apa sebenarnya.
Guru itu mengambil sesuatu dari saku baju Rian, sebuah kertas yang terlipat kecil.
"kamu tau ini apa? surat cinta!"
terlihat semua senyum-senyum kecuali aku dan Rian.
jujur aku terkejut bercampur deg-degan, kalian tau lah aku, sering kena serangan jantung kalau berhadapan dengan Rian ini.
"mau baca?"
Pak Guru menyodorkan kertas ke arahku, Rian dengan cepat merampas kertas itu, kemudian Pak Guru dengan cepat mengantimidasi nya, jika tak mengembalikan kertas itu dia akan memberitahukan isinya secara langsung, sebab tadi dia sudah membaca surat itu.
"mau saya umumkan dengan pengeras suara biar seluruh siswa mengetahui isi surat cintamu"
Rian mengalah dan mengembalikan surat itu.
Pak Guru memberikannya lagi padaku, dengan gemetar aku membuka kertas itu saat membaca bait pertama, jujur aku ingin tertawa, tapi aku tahan.
isi suratnya lucu, aku yakin kalian juga pasti tertawa.
tapi di akhir kata, ada tulisan yang menggelitikku, sebuah pengakuan tentang perasaan yang tulus, "Aku suka sama Kamu"
aku terdiam, dan menatapnya sejenak, tampak wajahnya menahan rasa marah dan malu, wajahnya berubah memerah.
aku jadi berfikir kenapa jadi seperti ini, situasi yang sangat canggung.
"mana mau dia sama kamu, modal muka ganteng doang"
terlihat Rian hanya tertunduk, sepertinya harga dirinya sudah jatuh di hadapan kami semua.
"jadi benar kamu suka sama Rania ini?"
Guru itu terus mengantimidasi nya dan mempermalukannya.
mungkin Rian marah dan kesal, tapi dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkesan.
"Iya, kenapa! saya memang menyukainya, kenapa Bapak keberatan?"
deg...
Rian berani sekali menyatakan cinta di hadapan Guru, apa dia berani menyatakan cinta di hadapan orang tuaku.
kenapa aku merasa Dia Pemuda yang pemberani.
dia serius suka sama ku, aku kok jadi deg-degan.
sejak kejadian itu, aku dan Rian menjadi bahan ejekan, bukan hanya di kalangan para siswa, Guru-Guru juga sering meledak kami, terutama Rian yang paling sering di ejek.
"Ciyee. ..pacaran ya sama Rian"
Nina ini sama saja, suka meledek ku, aku kan jadi salah tingkah.
tapi Rian ini sejak saat itu, malah terlihat semakin cuek padaku, apa-apaan ini, dia yang bilang suka, kenapa marah sama ku.
Bersambung.....
kalau mau lanjut jangan lupa like dan comentnya ya....
hari itu masih pagi, langkahku di hentikan oleh kak Jihan.
"Dek..."
panggilanya.
aku menoleh menunggunya mendekat.
"kenapa kak?"
Kak Jihan ini bukannya menjawab malah menyodorkan sesuatu padaku.
"apa ini, kak?"
"nggak tau, lihat aja sendiri!"
kemudian dia pergi, meninggalkanku dengan ekspresi penuh tanda tanya.
setelah di perhatikan, ini sebuah amplop, apa isinya uang suap?
ah...pikiranku kadang entah kemana-mana, dari pada penasaran mending di intip sedikit,
yahh. ..ternyata isinya bukan uang suap, di dalam amplop isinya kertas, berarti ini surat, surat apa, dari siapa, jangan bilang ini surat cinta!
kalau benar berarti sudah dua orang yang menyatakan cinta melalui surat, ada apa dengan laki-laki ini, mau sok-sok puitis atau mau terlihat romantis.
mungkin memang zamannya seperti ini, terserahlah...
aku mencari tempat yang nyaman untuk membaca isi surat ini, kelihatannya isinya sangat serius, penuh dengan persiapan, bisa terlihat dari amplop yang berwarna hijau bagaikan taman surga, aroma parfum, menyeruak saat aku membuka lipatan surat ini.
jadi deg-degan...
bait pertama ucapan salam yang santun.
ini surat resmi ya?
aku senyum-senyum sendiri.
bait kedua basa-basi, tanya kabar?
ya, aku baik-baik saja.
bait ketiga...
deg...
inti dari isi surat, pernyataan cinta dibumbui sedikit rayuan gombal, mau aku kasih tau kata-katanya?
"Ran, boleh kakak jujur, sejak pertama melihat Rania, kakak jatuh hati.
jujur dari hati yang paling dalam kakak suka sama Rania,
Rania mau nggak jadi pacar kakak?
beribu bintang di langit
hanya satu yang bercahaya
beribu gadis cantik
hanya Rania yang kakak cinta.
dari kak Fandy❤❤❤
ih...suratnya bikin aku senyum-senyum sendiri.
kalian seperti aku juga kan?
aku simpan kembali surat itu kedalam
amplop dan menyimpan di dalam tas, mau aku jadikan koleksi.
mendapat surat dari kak Fandy aku senang, tapi jujur hatiku biasa saja, tak seperti saat Rian menyatakan cinta, ada perasaan yang berbeda, ada sesuatu yang menggelitik di dalam sini.
apa aku mulai menyukainya?
sikapnya yang cuek membuatku jadi tambah penasaran, apa kalian juga seperti ku?
saat di kelas...
beberapa kali aku mencoba bicara padanya, tapi dia seperti menghindar, aku kesal padanya, tapi ingin bicara padanya.
akhirnya aku hanya bisa diam dan berharap keajaiban datang, ternyata benar dia memberiku secarik kertas di atas meja, sebuah pesan, mengajakku bertemu saat pulang sekolah, hanya berdua saja.
jujur aku dilema, pulang sekolah kak Fandy mengajakku pulang bareng, Rian juga mengajak ketemu, aku harus pilih yang mana?
hatiku berat pada Rian, aku juga penasaran padanya, aku lebih memilih Rian.
benar saja pulang sekolah aku menemui kak Fandy dan minta maaf padanya tak bisa pulang bareng, padahal dia sudah sengaja membawa sepeda motor.
maaf kak, jujur aku merasa bersalah.
aku bertemu Rian di belakang sekolah, jujur hatiku masih memikirkan kak Fandy, takut dia kecewa.
aku ini kenapa sih, plin-plan sekali.
Rian berdiri sambil bersandar di dinding kelas, aku melihatnya, entah kenapa aku merasa Dia keren.
aku berdiri di sampingnya, menunggu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"hmmm..."
aku menoleh, Tatapan nya lurus,
aku menunggu ucapan apa lagi yang keluar dari mulutnya.
"nanti malam kita jalan"
Rian ini unik sekali, memangnya aku setuju?
"jam delapan aku jemput di depan rumah"
aku juga aneh bukannya menolak, malah terpaku memandang wajah tegas yang sama sekali tak menatapku, Rian ini serius atau hanya bercanda, aku sulit menebak jalan pikirannya.
seratus persen aku meyakinkan diri dia pasti cuma bercanda, emang dia tau rumahku dimana, emang dia berani ke rumahku?
saat di rumah...
aku terus memikirkan ucapannya,
tapi tak ada salahnya mempercayainya,
karena penasaran aku sampai memperhatikan jam dinding, tak sabar rasanya waktu berjalan lebih cepat, saat itu masih pukul lima sore.
pukul delapan malam...
terdengar suara ketukan di pintu, aku buru-buru membuka pintu, bagaimana tidak sedari tadi aku sudah berdiri sambil mundar-mandir di depan pintu.
ternyata anak tetangga sebelah yang datang.
"ada apa?"
"Kak ada yang cariin"
"siapa?"
"kakak ikut aku dulu"
"kemana?"
"ikut aja, ayo"
bocah ini malah menarik tanganku.
ternyata Rian berdiri di samping pagar rumah, jujur aku terkejut aku jadi penasaran dia tau alamatku dari mana?
aku mengajaknya masuk, dia pun menurut, kami duduk di teras rumah.
aku bertanya padanya dari mana tau alamat rumahku,
jawabnya singkat.
"dari dukun"
ih...Rian ini ternyata suka bercanda.
aku juga bertanya tujuannya menemuiku.
jawabannya juga singkat.
"mau ngapel"
apaan sih dia ini, emang aku pacarnya, kapan kami jadian?
"hmmm...gitu ya? "
"Iya, takut kecolongan sama yang lain"
"maksudnya?"
"yang mau sama Ran kan banyak, jadi harus gerak cepat"
aku terdiam sejenak, apa dia tau masalah kak Fandy?
Rian ini ternyata diam-diam memperhatikanku.
"kita jalan yok!"
"kemana?"
"adalah, mau ikut kan?"
"aku izin dulu ya,"
"biar aku yang minta izin"
"beneran berani, Mamaku agak cerewet loh"
"nggak masalah, di omelin semalaman aku juga nggak masalah, asal di izinin jalanya sama anaknya"
Rian ini pandai juga bicara.
ajaibnya Mama mengizinkan kami pergi dengan syarat harus pulang sebelum jam sepuluh malam.
jujur aku belum pernah jalan dengan cowok, bingung mau ngapain, aku lebih banyak diam, tapi Rian ini ternyata juga pendiam.
sepanjang jalan dia fokus mengendarai sepeda motor, sedangkan aku hanya diam duduk di boncengan.
aku penasaran kemana Rian mengajakku, ternyata aku di ajak kerumahnya.
jujur aku bingung harus apa, yang ada aku canggung saat di perkenalkan dengan Mamanya, malah Mamanya ramah banget.
aku duduk di ruang tamu di tengah-tengah mereka sekeluarga.
dasar Rian, sengaja menjebak ku.
dia malah pergi ke kamarnya.
Tuhan, tolong aku, kalau tau begini, mending aku tolak ajakannya.
"namanya siapa dek?"
kakak laki-laki nya bertanya.
"Rania kak"
"tinggal dimana dek?"
kali ini kakak perempuan yang bertanya.
"di jalan swadaya, kak"
Mamanya membawakan segelas teh hangat, jujur aku jadi sungkan.
"Rania minum teh nya"
"I...iya, Tante"
aku mencari sosok Papanya, syukurlah, mungkin Papanya belum pulang.
Jujur ini pengalaman yang unik dan sedikit mendebarkan, Rian ini, awas aja pasti aku balas nanti.
"kalian pacaran?"
tanya kakak laki-laki.
jujur aku sedikit canggung dengan Pemuda yang satu ini, dia tampan sekali.
aku jawab dengan senyuman.
sepertinya dia tak puas dengan jawabanku.
ih.. kakaknya Rian ini ternyata KEPO, sama seperti Nina.
"Adam, jangan tanya-tanya terus, kamu ini jahil banget jadi orang"
untung Mama Rian orangnya pengertian.
"bukan gitu, Ma. cuma heran kok ada yang mau sama anak badung itu, malah ceweknya cantik lagi, mata kamu nggak rabun kan dek?"
aku bingung sambil garuk-garuk kepala.
Rian tiba-tiba muncul dan menempeleng kepala kakak laki-laki nya itu.
"sialan, bilang aja iri"
"hei...kalian nggak ada malu-malunya, bertengkar di depan tamu, Adam kamu pergi sana, kamu juga Sasa"
"dasar brengsek"
Rian mengumpat.
"maaf ya Rania, Rian dan Adam memang begitu, mereka cuma bercanda, Rian kamu juga yang sopan sama kakakmu"
aku cuma bisa senyum, seolah percaya dengan semua ucapan Mamanya Rian.
"Tante ke kamar dulu, kalian ngobrol aja"
setelah mereka semua pergi aku baru protes pada Rian.
"kamu sengaja ya, ngajak aku ke sini, aku benar-benar canggung tau"
"kamu nggak percaya diri?"
"bukan gitu, aku belum siap aja, deg-degan tau"
"kencang nggak?"
"apanya?"
"suara detakan jantungnya?"
"Iya, apa lagi saat di tanyain sama kak Adam"
"kok aku nggak dengar?"
"apanya?"
"suaranya jantungnya"
"ya nggak dengarlah kan di dalam suaranya"
"aku juga deg-degan loh, mau dengar suaranya?"
"nggak usah, dah tau"
"sinilah"
Rian meletakkan tanganku di dadanya.
benar aku merasakan detakan jantung nya.
Rian ini membuat ku jadi salah tingkah, tiba-tiba kak Adam keluar dari kamar, aku buru-buru-buru kemabali ke posisi awal.
"udah malam antar anak orang pulang, ntar orang tuanya nyariin!"
Kak Adam ini bisa aja menyindirnya.
tampak Rian kesal mendapat teguran dari kak Adam.
aku segera pamitan dengan kak Adam, Tante dan kak Sasa.
Rian mengantarkan ku kerumah dengan tepat waktu.
aku menceritakan pengalaman ku pada Mama,
respon Mama malah terkejut.
"kamu di ajak ke rumahnya, di kenalkan sama keluarganya?"
"Iya, Ma"
"gawat Ran"
"gawat kenapa Ma?"
"sebentar lagi Mama punya menantu"
"Mama, bercanda aja"
ha...ha...ha...
"temanmu itu aneh ya?"
mungkin benar ucapan Mama, Rian ini sedikit unik.
keesokan harinya....
Rian kok nggak hadir sih, aku kan kangen.
seharian berharap bertemu dengannya, Rian ini selalu membuat ku penasaran,
apa sih yang terjadi padanya?
Kak Fandy menemuiku, jujur aku sedang tak bersemangat.
tapi aku tak enak hati menolaknya, dia malah bertanya soal jawaban dari suratnya,
"kakak di terima atau di tolak?"
perasaanku saat itu kacau, jujur aku tak ada rasa, tapi aku tak tega, inginnya kak Fandy yang menolakku jangan aku,
keputusan yang sangat berat, bahkan aku sempat bergulat dengan hati nurani.
aku kok jahat ya?
Pemuda baik, manis dan lembut sepertinya tak pantas merasakan sakit hati karena gadis biasa sepertiku,
tapi aku sukanya sama Rian, Pemuda itu memang sedikit aneh, tapi bersamanya aku merasakan hal baru.
mungkin karena masih remaja aku lebih suka yang menantang, terasa seru aja gitu.
"Maaf kak,Ran nggak bisa jadi pacar kakak"
"kenapa Ran, Ran udah punya pacar?"
"nggak gitu, kak. Ran mau fokus belajar aja"
aku bingung alasan ini selalu menjadi andalan pada zamannya.
"beneran mau fokus belajar, bukan karena suka sama cowok lain?"
"beneran, kak, kita berteman aja ya"
"oh...gitu ya"
"Kak, nggak marah sama Ran kan?"
"nggak kok Ran, kakak tunggu Ran sampai siap ya"
aduh, kak! Ran jadi tambah merasa bersalah, kok kak Fandy baik banget jadi orang.
benar nggak sih keputusanku, Rian kamu di mana sih, jangan buat aku goyah, bisa-bisa aku terima kak Fandy, habis kamunya PHP in aku sih,
secara setatus hubungan kita juga nggak jelas.
kamu, belum pernah bilang secara langsung kalau kamu suka sama aku, dasar cowok nggak peka.
aku lebih aneh, bisa-bisanya menganggap kami sudah jadian,
kalau menurut kalian kami sudah jadian atau belum?
entah kenapa nggak ada Rian, suasana di sekolah tak menyenangkan, mungkin perasaanku aja, habis aku kangen sama dia.
"Ran!"
"hmmm..."
"ada berita heboh"
Nina ini, kalau ngomong suka buat aku jadi penasaran.
"berita apa?"
"pasti kamu terkejut, Ran! seratus persen"
"ih....lama, langsung kasih tau aku, apa sih ceritanya"
"aku dengar dari kelas sebelah, kata mereka di sekolah ada sayembara,
kakak kelas pilih salah satu adik kelas yang mereka suka untuk di jadiin pacar satu minggu, kalau berhasil hadiahnya duit sebesar 10 juta, dengan syarat gadis yang menjadi pacar mereka harus di beri cap stempel sebagai tanda bukti"
"ih...kok ngeri banget, kurang ajar banget kakak kelas itu, emang ada korbannya?"
"ya jelas ada, kalau nggak dari mana berita ini menyebar"
"siapa...siapa, aku jadi penasaran?"
"Raisa, kelas di sebelah kita"
"Raisa yang cantik itu, benaran dia, kok dia mau sih?"
"yang paling bikin heboh, mau tau nggak?"
"apa lagi?"
"kakak kelasnya itu loh, kak Fandy"
"ih...nggak mungkin, kak Fandy yang aku kenalkan"
"emang kak Fandy itu"
"serius?"
"Iya, beritanya heboh tau, Raisa itu lagi nangis-nangis karena di putusin sama kak Fandy"
"kok aku masih belum percaya, nanti Raisa itu yang fitnah kak Fandy"
"kamu kok belain kak Fandy sih, pasti kamu juga tertipu dengan dia"
"nggak, kak Fandy biasa aja, nggak pernah aneh-aneh"
"kamu suka sama kak Fandy, atau jangan-jangan kamu di jadiin target juga sama kak Fandy, kamu kan lumayan"
"nggak kok, kami cuma berteman"
jujur aku terkejut, tapi belum sepenuhnya percaya, aku mau tanya langsung sama kak Fandy, nanti saat pulang sekolah.
tapi gimana kalau cerita Nina benar?
aku kecewa, nggak nyangka kak Fandy orangnya seperti itu.
saat pulang sekolah...
kak Fandy sedang ngobrol dengan teman sekelas nya, terlihat obrolan mereka serius, aku berdiri di depan pintu kelasnya, curi dengar sedikit mungkin nggak masalah.
"Fan, udah putusin Raisa?"
"Iya"
deg...
cukup membuatku percaya dengan cerita Nina, kak Fandy ini bisa-bisanya bilang suka sama ku, saat masih jadian sama Raisa, dasar penipu!
kak Fandy melihatku, dia mendekati ku, jujur aku jadi malas bertemu, tapi terlanjur, ya sudahlah.
"Ran!"
panggilnya.
"hmmm..."
"kok gitu, ada apa?"
"nggak ada, Ran mau pulang kebetulan lewat kelas kakak"
"mau pulang bareng?"
"nggak, Ran pulang sendiri aja"
"kok gitu!"
"Iya, Ran nggak suka sama kak Fandy, ternyata kakak orangnya nggak seperti yang Ran pikirkan"
"maksud Ran apa?, jangan buat kakak penasaran, ngomong aja yang jujur"
"kakak bohong kan?, pura-pura suka sama Ran, kakak ikut taruhan itu, tradisi aneh yang kalian buat, apa sih manfaatnya itu"
"Ran tau dari siapa?"
"ada aja, tapi benar kan?"
"Ran, jangan percaya gosip, banyak bohongnya"
"Ran dengar kok, tadi pembicaraan kakak, kakak putusin Raisa kan?"
"Ran...Ran...kamu itu salah paham, Putusin disini bukan berarti Raisa pacarnya kakak, maksudnya kakak mutusin Raisa di keluarkan dari anggota organisasi sekolah"
"kakak ini, pintar ngeles ya?, jadi soal sayembara itu gimana?"
"kakak nggak ikut-ikut, itu kan, kelas lain"
"kenapa Raisa ceritanya gitu ke semua orang"
"mana kakak tau, tanya Raisa nya dong,
yang jelas kakak nggak ada hubungan sama yang namanya Raisa itu"
"oh...gitu!"
"kenapa, Ran cemburu kalau kakak pacaran sama Raisa?"
"ih...nggak gitu, Ran cuma nggak suka ada yang jelek-jelek in kakak"
"beneran, cuma itu, bukan yang lain?"
"Iya, Ran udah anggap kak Fandy kayak kakak sendiri"
"Ran gitu, mau jadiin kakak saudara, bukan nya pacar"
"he...hehehe..."
Kak Fandy ini tau aja rencanaku, dia malah acak-acak rambutku, katanya gemes.
"jadi mau pulang bareng?"
"hmmm...boleh deh!"
"nggak takut pacarnya marah?"
deg..
kak Fandy ngomongnya kok gitu, dia tau tentang Rian?
kak Fandy ini misterius juga, jadi bingung.
yang satu unik, satunya lagi misterius.
kalau kalian jadi aku pilih yang mana?
keesokan harinya....
sudah dua hari Rian tak hadir, jujur aku khawatir, apa yang terjadi padanya.
pulang sekolah aku berniat menjenguk ke rumahnya, jangan-jangan anak itu sakit.
aku sudah hampir sampai di depan rumahnya, tiba-tiba tanganku di tarik seseorang.
ternyata Rian.
aku terkejut, Pemuda itu terlihat baik-baik saja.
"kamu?"
dia menatapku.
"mau apa datang?"
ih...dia kok gitu sih, nggak senang aku datang!
"nggak ada, cuma mau jenguk, soalnya dua hari nggak hadir, kan khawatir"
"jangan kasih tau sama orang rumah, mereka taunya aku sekolah"
"kamu bolos?"
"iya"
"kenapa?"
"lagi pusing"
"pusing kenapa?"
"pusing mikirin pacar"
"pacar, yang mana?"
"yang tukang selingkuh"
"oh...jadi pacar kamu selingkuh, jadi kamu patah hati"
"Iya, kok kamu tau?"
"ya udah deh kalau aku ganggu, aku pulang aja, nanti pacar kamu marah, di pikir kamu selingkuhin dia juga sama aku, aku kan jadi nggak enak"
ih...Rian ini nyebelin, ternyata udah punya pacar, ngapain dia PHP in aku, malu-malu in aja aku ini.
beneran dia nggak ngejar aku, padahal aku berharap loh!
ih...jahat, awas ya!
"Ran.....!!!"
ngapain sih dia panggil-panggil aku, nggak tau aku lagi marah.
aku jalan aja terus pura-pura nggak dengar.
"Ran....!!!"
dia ngejar aku?
dia tarik tangan ku.
"ada apa?"
"kok pulang?"
"jadi aku mau kemana lagi?"
"temani aku dong, kan lagi patah hati"
"enak aja, kamu pikir aku cewek penghibur"
"ngambek ya?"
"nggak, ngapain ngambek emang aku bocah"
"kok cemberut, duduk dulu deh"
dia ajak aku ke warung di pinggir jalan.
"maaf deh, tadi cuma bercanda"
"kenapa nggak sekolah?"
"ada urusan sama teman-teman"
"urusan apa, sampai bolos sekolah?"
"urusan laki-laki, besok janji deh sekolah"
"beneran nggak bohong kan"
"oh...iya pacar kamu nggak marah kalau tau kita lagi ngomong berdua"
"pacar aku memang pemarah, tukang ngambek juga"
"ih...ya udah deh aku pulang aja, nanti aku di labrak sama pacar kamu"
"ini pacar aku lagi marah, dari tadi mau pulang, katanya khawatir,tapi akunya mau di tinggal"
"ih...kamu ini, apaan sih, aku nggak suka loh becanda"
"siapa yang bercanda, Ran kan pacar aku"
"kata siapa?"
"kata ku"
"emangnya aku setuju!"
"pasti setuju, kalau nggak setuju, kok mau ketemu sama keluarga aku, kok khawatir sama aku, tapi Ran suka selingkuh"
"selingkuh apaan sih, kapan Ran selingkuh?"
"semalam pulangnya sama cowok lain, kakak kelas kan?"
"Kak Fandy"
"ih...nyebut namanya semangat banget"
"bukan gitu, sama kak Fandy cuma teman"
"teman tapi mesra gitu"
"siapa yang mesra, biasa aja"
"tapi yang di sini cemburu loh!"
deg....
Rian ini benaran cemburu kah?
"Kamu tau dari mana aku di antar sama kak Fandy?"
"tau dari dukun"
"dukunnya siapa sih, jadi penasaran, kok dukunnya tau semua tentang aku"
"beneran mau aku kenalin?"
"Iya, penasaran soalnya"
"biayanya mahal loh, soalnya dukunnya sakti"
"emangnya berapa?"
"nggak pake duit"
"jadi pake apa?"
"dukunnya kalau sama perempuan suka cabul"
"ih...u...nggak jadi deh"
"bayarnya cuma minta di cium satu kali pertemuan"
"nggak deh, udah nggak penasaran lagi"
"tapi dukunnya ganteng loh"
"ganteng mana sama kamu?"
"sebelas dua belas lah"
"nggak deh, nanti kamu bilang aku selingkuh sama dukunnya"
"kalau sama dukun ini aku nggak marah, malah senang"
"beneran boleh?"
"Iya, boleh"
"di mana rumah dukunnya?"
"dukunnya ada di sini"
"dimana?"
eh...dia malah cium pipiku.
aku jadi deg- degan kan, kok dia gitu serangan mendadak.
ih...dia kok lihatin aku, aku kan jadi malu.
aku pamit pulang, sebenarnya masih rindu tapi malu lihat wajahnya.
kok aku membayangkan dia terus, rekaman saat dia cium aku bagian yang paling aku suka, rasanya bikin hati nyut-nyutan.
ih....aku jadi senyum-senyum sendiri.
Rian ini bikin kangen.
keesokan harinya....
benaran, Rian datang, aku jadi semangat lagi.
ditengah jam pelajaran, tiba-tiba seorang Guru wanita memasuki kelas, dia bersama seorang Gadis, kelihatannya kami kedatangan siswi baru.
Guru itu pamit dan meninggalkan Gadis itu di tengah-tengah kami.
jadi penasaran siapa Gadis ini?
"hai perkenalkan nama aku Anisa, pindahan dari SMA Putri bangsa"
serasa dapat saingan baru, soalnya Anisa ini cukup menarik, parasnya cantik, kulitnya putih dan memiliki tinggi yang proporsional.
jadi iri, semua mata memandang ke arah Gadis ini.
Rian juga, ih...jadi sebel deh.
aku ngambek, nggak mau bicara sama Rian, habis dia genit, lirik-lirik Anisa.
jam istirahat...
Anisa ini malah menghampiri Rian, ternyata mereka saling kenal, aku curi dengar, apa sih yang mereka bicarakan!
"Hei...nggak nyangka ketemu di sini"
"hmmm"
"ih...sombong, ketemu teman lama kok malah di cuekin"
"apa kabar?"
"baik, kamu sendiri gimana?"
"baik juga"
"masih sama seperti dulu ya, cuek"
ih...Anisa ini, genit banget sih, Rian cuek gitu masih aja di ajak ngobrol, aku jadi kesel.
mending aku keluar aja, soalnya di dalam gerah, bikin hati panas.
eh...tiba-tiba kak Fandy muncul di hadapanku, kak Fandy ini bikin kaget aja.
"hai...Ran, sendiri aja, mau di temenin nggak?"
"nggak!"
"ih...kok jutek, tapi lucu liat bibir kamu yang maju lima inci"
ih...aku jadi memperbaiki bibirku yang tadinya cemberut, jadi tersenyum meskipun terpaksa.
"gitu kan jadi cantik lagi, tapi masih kurang, soalnya senyumnya terpaksa"
"apaan sih, kak Fandy gangguin aja"
"ada apa sih, adik tersayang ku, apa yang membuat senyummu menghilang, cerita sama kakak"
"lagi lapar, pengen makan orang"
"mau dong di makan sama kamu"
"benar, mau aku makan?"
"Iya, tapi syaratnya harus bagian wajah dulu, yang paling utama bagian mulut"
"ih...kak Fandy jorok"
"kok jorok, makan orang emangnya nggak jorok?"
"kan cuma bercanda"
"sama dong, kan cuma bercanda"
"Raisa gimana kak?"
"Raisa mana lagi?"
"ih...sok nggak tau, mantan pacar kakak lah"
"nggak percaya sama kakak, di bilang nggak ada hubungan"
"kenapa nggak suka sama Raisa, dia kan cantik?"
"tapi cantik kan kamu"
"ih...gombal"
"nggak kasihan sama Raisa, dia cinta mati sama kakak"
"nggak perduli, maunya sama Ran"
aku melirik Pemuda yang ada di sampingku, lucu juga dia ini.
"masih suka sama dia?"
"maksudnya?"
"dia yang udah buat kamu kesal"
"ih...kakak sok tau"
"ya taulah"
"tau dari siapa?"
"mau tau aja, atau mau tau banget?"
mereka berdua ini kok jadi mencurigakan.
"mau tau banget!"
"yakin?"
"iya"
"ada syaratnya"
"apa?"
"jadi pacar kakak, mau?"
"ih...nggak deh, biar aja aku mati penasaran"
"jangan mati dong, susah banguninnya"
"emang nggak bisa bangun lagi"
"bisa, kalau di cium pangeran, tapi harus pangeran yang asli jangan yang palsu"
"emangnya yang asli siapa?"
"cari tau sendiri dong, kan princes, atau mau di coba?"
"apaan sih, kak"
"Iya deh, kan cuma bercanda"
ngobrol sama kak Fandy kok jadi seru, jadi lupa sama Rian, sedang apa dia, pasti lagi di goda sama Anisa.
ih...malas mikirnya.
aku kembali ke kelas, soalnya udah waktunya masuk.
baru duduk, Nina langsung cerita.
"Ran, tau nggak?"
"ya nggak lah, apaan sih?
"Rian cariin kamu dari tadi"
"ngapain cariin, bukannya lagi sibuk ya, sama Anisa"
aku sengaja membesarkan suara, biar Rian dengar sekalian.
"kamu sih, Rian, Ran jadi marah kan"
ledek Nina.
eh...dianya cuek aja, jelas aku sedang marah.
awas aja aku nggak mau ngomong sama dia lagi.
hati lagi gundah gini mana bisa fokus belajar, dianya kok cuek sih, aku ini kenapa sih, kok mikirin dia terus.
pulang sekolah...
benaran nggak ngomong sama aku, ih...menyebalkan.
jadi sedih, pengen nangis, kok dia jahat banget sih?
"Ran!"
itu Rian kan?
"Ran!"
kejar aku dong, jangan manggil doang.
eh...beneran di samperin,
"Ran, budek ya? dari tadi di panggil nggak dengar"
aku pasang wajah jutek ah, biar tau kalau aku lagi ngambek.
"kok diam aja, nggak mau pulang?"
ih...nyebelin... nyebelin...
dasar nggak peka.
"happy ya, jumpa teman lama"
"biasa aja"
aku jadi penasaran Rian ini ada hubungan apa sama kak Fandy, kok mereka sering saling serang, aku tanya Rian aja deh mana tau dapat informasi.
"Rian, kenal ya sama kak Fandy?"
"Fandy yang mana?"
"kakak kelas tiga"
"emangnya dia bilang apa?"
"kok malah tanya balik, kan Ran yang nanya"
"tanya aja sama dia"
"ih...bikin pusing, tinggal jawab aja"
"Iya, kenal, emangnya kenapa?"
"kalian teman dekat?"
"nggak juga, cuma kenal aja"
"oh...gitu"
"jangan dekat-dekat sama dia"
"kenapa?"
"ada yang cemburu"
"siapa?"
"pikir aja sendiri"
"kalau ada yang dekat sama Anisa boleh?"
"Anisa yang mana?"
"yang cantik, putih dan sexi"
"oh...itu, emang ada yang cemburu, kalau aku dekat dengan Anisa?"
"nggak ada yang cemburu"
"oh...gitu, berarti boleh dong dekat sama Anisa"
"boleh, kok"
ih...kesel...dasar jahat.
beneran ni dia nggak ngerti maksud ku.
ngobrol sama Rian nggak terasa udah sampai di depan rumah,
kami tadi ngobrol di atas motor.
"Ran, boleh singgah?"
"boleh"
aku masuk ternyata pintu rumah terkunci, sepertinya Mama sedang keluar, untung bawa kunci cadangan.
"nggak ada orang ya Ran?"
"Iya, mungkin Mama lagi ke supermarket"
"kita ngobrol di teras aja, sekalian nungguin Mama kamu pulang"
"Iya deh"
aku nggak jadi masuk rumah.
"Rian, Ran ambil minum dulu ya?"
"ok"
saat aku balik dengan dua gelas teh, eh...Rian kok sedang memegangi dadanya, dia terlihat sedang menahan sakit.
"Rian kenapa?"
"ng...nggak....
kok Rian seperti sesak nafas, aduh...
aku bingung.
"Ran..."
"Rian, Rian kenapa?"
sumpah aku panik, Rian pucat sekali.
aku membopongnya masuk ke rumah, membaringkannya di sofa ruang tamu.
"Rian, Rian kenapa?"
aku menepuk-nepuk wajahnya, dia hampir tak sadarkan diri.
aku takut sekali.
hiks....hiks....hiks...
"Rian sadar, Rian sakitnya dimana?"
Rian terlihat sulit bernafas, aduh gimana ini, aku harus ngapain.
nggak tau lagi mau ngapain, yang terpikir cuma bagaimana caranya menolong Rian, aku malah mau buat nafas buatan buat Rian.
meski sedikit ragu, aku menempelkan bibir ku ke bibirnya dan mulai menghembuskan nafas, berharap dia bisa sadar.
tapi belum ada reaksi, aku tekan-tekan dadanya, aku goncang-goncangkan tubuhnya, matanya masih tertutup.
"Rian, jangan gini, plis! aku takut"
aku coba berkali-kali memberikan nafas buatan, sampai mulutku terasa kebas, untung akhirnya Rian sadar.
kalian tau bagai mana paniknya aku?
berlahan akhirnya Rian sadar, aku memberikan air minum untuk menenangkan nya,
entah apa yang sudah aku lakukan padanya, membuka bajunya, memberi nafas buatan, dia berantakan sekali, aku merapikannya yang masih setengah sadar, mudah-mudahan dia nggak menyadari apa yang aku lakukan padanya.
"aku kenapa, Ran?"
"kamu buat aku takut, udah kamu istirahat aja dulu, nanti kita kerumah sakit"
"nggak usah, ini sudah biasa"
"maksudnya?"
"nanti aja ceritanya, aku lemas banget"
"ya udah istirahat aja, biar aku tungguin kamu di sini sampai Mama pulang"
sudah satu jam menunggu Mama nggak pulang juga, akhirnya aku berinisiatif membawa pulang Rian dengan taksi.
benar aja, saat melihat aku membopong Rian semua keluarganya heboh.
bertanya apa yang terjadi pada Rian, aku menceritakan kejadiannya, tapi saat aku buat nafas buatan aku nggak ceritakan, apa kata mereka kalau tau aku melakukan hal yang tak senonoh.
"Makasih ya Ran udah bantuin Rian"
"sama-sama Tante"
tiba-tiba kak Adam muncul.
"Ma, bibir Rian kok berdarah, apa dia sempat terjatuh?"
deg....
gimana ini, jangan sampai aku ketahuan, bisa malu tujuh turunan.
"mungkin aja, Ran emangnya tadi Rian sempat terjatuh?
"i..iya Tante, tadi Ran lagi di dapur ambil air minum, mungkin saat itu Rian ada terjatuh"
pandai juga aku ngeles nya.
"maaf ya Ran udah ngerepotin"
"nggak repot kok Tan"
"Ran, pamit dulu ya, Tante, soalnya taksi nya udah nungguin dari tadi"
Kak Adam mendekati taksi dan memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi.
"Ran, ongkosnya udah di bayar ya!"
"iya, kak makasih"
hari yang menegangkan, ada apa dengan Rian, dia sakit apa?
Bersambung....
beberapa hari kemudian....
Rian sudah terlihat sehat kembali, setiap aku bertanya dia sakit apa, jawabnya cuma sakit biasa.
hari ini kebetulan kami pulang lebih awal, teman-teman berencana mengajak jalan-jalan ke pantai yang dekat-dekat aja, biar pulangnya nggak kemalaman.
ada sekitar dua belas orang yang ikut, termasuk aku, Nina, Rian, Diky, Anisa dan beberapa orang kakak kelas diantaranya kak Jihan, ada Raisa juga dari kelas sebelah, kak Fandy juga ikut, yang lain aku nggak tau namanya.
perjalanan satu jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan, informasi aja, tadi kami naik dua mobil, mobilnya kak Jihan sama mobilnya Diky.
aku, Nina, Rian, Anisa dan Raisa di mobilnya Diky, sedangkan yang lain di mobilnya kak Jihan.
suasananya sangat indah, angin bertiup kencang,
aku senang berada di sini.
kami mencari tempat untuk beristirahat, sebuah pondok yang cukup luas untuk kami tempati sudah kami temukan.
aku dan Nina istirahat sebentar, sedangkan yang lain sudah menghilang, mungkin mereka nggak sabar bermain air di pantai.
mungkin karena lelah, aku jadi ketiduran, soalnya angin di sini bikin mata ngantuk.
tak sadar Nina sudah pergi entah kemana, aku di tinggal sendirian.
aku berjalan di sekitaran pantai mencari keberadaan mereka, karena tempatnya cukup ramai jadi sedikit kesulitan menemukan mereka.
di ujung jalan aku melihat ada kerumunan orang, jadi penasaran ada apa?
aku mendekat, agar bisa melihat lebih jelas,
ternyata ada orang yang hampir saja tenggelam.
Anisa!
terlihat semua orang panik, diantara mereka ada yang menekan-nekan perut Anisa, namun gadis itu belum juga sadarkan diri.
Rian mendekati Anisa berusaha memberi pertolongan, saat melihat Rian memberikan nafas buatan, jujur aku kaget, dunia terasa runtuh.
aku kok sedih ya, kenapa aku jadi nangis.
aku kenapa sih?
beberapa menit kemudian akhirnya Anisa sadar, gadis itu langsung memeluk Rian, terlihat Rian menenangkan Anisa, mengajaknya ke pondok tanpa menghiraukan aku yang dari tadi berada di sampingnya.
kok rasanya sakit banget,
pengen teriak, tapi malu.
aku duduk memandangi laut, mencoba menenangkan hati.
Rian, apa selama ini kamu bohong?
yang kamu sukai itu Anisa bukan Aku,
ada apa dengan ku, kenapa aku bersedih?
sudahlah Ran, lupakan dia.
tapi bagaimana caranya?
jujur aku malu pada diri sendiri, pasti aku jelek saat menangis, pantas Rian nggak suka sama aku.
hiks...hiks....hiks...
sudah satu jam aku menangis, tapi tak ada yang mencariku, mereka hanya perduli sama Anisa.
jahat sekali, Nina juga kemana gadis itu, pasti lagi asyik-asyikan pacaran sama Diky.
"Ran,!"
aku menoleh.
Rian!
ngapain dia cari aku.
aku buru-buru hapus air mata, malu-maluin kalau dia tau aku sedang nangis.
dia duduk di sebelahku, aku mau pergi aja, udah malas lihat wajahnya, terlanjur sakit hati.
dia malah tarik tanganku.
"maaf ya?"
aku malas aja dengar alasannya, aku tau pasti dia mau bilang cuma mau bantuin Anisa.
"Ran, marah ya?"
"nggak"
"syukurlah, aku pikir marah"
ya...Tuhan...dosa apa aku, kenapa mencintai orang seperti dia.
"Rian, Ran mau sendiri aja dulu, mending Rian tinggalin Ran"
"Ran masih marah?"
"nggak, Ran cuma mau sendiri"
"benaran Ran nggak pa-pa sendiri"
"Iya, Rian, Rian jagain aja Anisa takutnya ada apa-apa sama Anisa"
beneran Rian pergi ninggalin aku sendirian, jahat banget sih dia.
aku jadi nangis lagi kan.
hiks...hiks...hiks...
tiba-tiba ada yang peluk aku dari samping.
"kak Fandy"
"nggak usah ngomong, kalau mau nangis, nangis aja"
makasih kak udah nenangin aku.
sedikit lega rasanya, meski hati masih sakit.
"kita kembali ke pondok yuk"
"Iya, kak"
"udah jangan nangis lagi, jelek tau"
"benaran jelek ya, kak!"
"Iya, jelek banget, matanya bengkak gitu, hidungnya merah kayak badut"
"ih...kakak jangan gitu, nanti Ran jadi sedih lagi"
"Iya deh, maaf bohong kok, Ran tetap cantik walaupun matanya bengkak, mau kakak pinjamkan kaca mata hitam?"
"mau, biar terlihat bergaya"
eh...kak Fandy malah pakai kan langsung kacamata nya.
"kamu keren loh"
"beneran keren, kak?"
"Iya, kakak aja terpesona"
"ih...kakak gombal, ntar Raisa cemburu loh"
"Raisa lagi, Raisa lagi, bosan ah dengar namanya"
"aku di labrak loh sama Raisa, katanya gini
eh...Ran jangan dekat-dekat sama kak Fandy, dia pacar aku, gitu katanya"
"nggak usah di dengerin, tu anak memang ngeyel"
kami sampai di pondok, Rian juga ada di sana bersama Anisa, dia menatapku terus, aku cuek aja, sengaja ajak kak Fandy ngobrol.
ada apa denganku, untuk menutupi kesedihan malah terlihat seperti ke kanak-kanak an.
maaf kak, buat kamu jadi pelampiasan.
aku tertawa meski tak ada yang lucu, kak Fandy mungkin khawatir dengan keadaan mentalku yang tak stabil ini.
tolong bantu aku kak.
Rian terlihat kesal, dia menarik tanganku, mengajakku menjauh dari semua orang, semua mata pasti tertuju pada kami, meski aku tak bisa melihat dengan jelas karena memakai kacamata hitam.
"Ran, kamu kenapa sih?"
aku diam, benar-benar malas bicara padanya.
"ini apaan sih?"
dia menarik kacamata dan membuangnya.
aku menunduk, benar-benar malu, kalau dia sadar aku habis nangis.
"Ran, nangis?"
"nggak, tadi kemasukan pasir"
pasti dia percaya, dasar cowok bodoh.
"kok bisa sih?"
benar kan dia percaya, percuma, aku capek sama dia, lebih baik akhiri sampai disini.
"Rian, nggak usah lagi perduli sama Ran"
"maksud Ran apa?"
"Ran nggak mau ada hubungan apa-apa lagi sama Rian"
"Ran, mau putus?"
Rian, kenapa sih, kalau yang beginian kamu langsung tau.
"terserah Rian aja?"
"tapi kenapa, Ran udah nggak suka sama aku?"
"nggak tau, pokoknya Ran nggak mau punya hubungan sama Rian"
"Ran, bahagia kalau nggak ada Rian?
"iya"
kesel...dasar Rian jahat.
"kalau Ran bahagia, Rian juga bahagia, maafin Rian ya, kalau ada salah sama Ran"
"Iya, Ran juga minta maaf kalau ada salah sama Rian"
jujur ini perpisahan yang sangat menyedihkan, berat rasanya melepaskan genggaman tangannya, apa Rian juga seperti ku?
sejak saat itu, Rian jarang masuk sekolah, kami benar-benar tak berkomunikasi lagi, sampai pada suatu hari aku dengar dia pindah sekolah.
jujur aku sedih, rasanya hidupku sepi sejak kepergiannya.
beberapa tahun kemudian....
aku sudah bersama kak Fandy, kami akan melangsungkan pernikahan tiga bulan lagi.
jujur aku bahagia, benar-benar nyaman saat bersamanya.
tiba-tiba aku mendapat panggilan dari nomor tak di kenal, karena penasaran aku telepon balik.
"halo, ini siapa?"
"hai, Ran"
deg...
aku mengenal suara itu.
Rian!
aku buru-buru menutup panggilan telepon.
itu suara Rian kan?
beberapa menit kemudian hp ku berdering lagi,
"ya, ini siapa?"
"Ran, ini Rian, Ran apa kabar?"
"baik, ada apa Rian hubungi Ran, Rian tau nomor Ran dari siapa?"
"dari dukun"
"ya, Ran tau pasti itu jawabannya, ada perlu apa Rian hubungi Ran?"
"cuma mau ngucapin selamat, semoga Ran bahagia"
"Rian tau dari mana?"
"dari dukun"
"ya, terserah Rian aja deh!"
"Ran, Rian minta maaf ya, Ran pantas bahagia sama orang yang tepat"
"maksih, Rian juga semoga dapat jodoh yang sesuai dengan Rian, hubungan Rian sama Anisa baik-baik aja kan?"
"Ran, Rian nggak ada hubungan sama Anisa, dia cuma teman"
"Iya, deh, Ran doain semoga Rian cepat dapat jodoh"
"maksih Ran, semoga aja"
"Ran kirim salam sama keluarga Rian, mereka sehat kan?"
"Iya, mereka kangen sama Ran"
"Ran juga kangen, nanti kalau Ran ada waktu pasti datang ke tempat Rian, sekalian silaturahmi"
"Iya, Rian tunggu ya"
"udah dulu ya, Rian, Ran mau istirahat dulu"
"Iya, selamat istirahat"
"bye "
itu adalah komunikasi terakhir bersama Rian.
Rian semoga kamu bahagia.
kapan kita bisa bertemu lagi,
jujur dari hati yang paling dalam aku masih merindukanmu.