🌟Sad ending🌟
Kisah ini bermula saat aku pertama kali melihat nya di acara peringatan hari guru, aku tidak pernah memperhatikan ya, bahkan sekarang kami sudah kelas dua SMA.
Dia yang hati itu menampilkan tari tradisional ( adat alas ) bersama teman-teman nya. Entah kenapa aku sangat tertarik melihat nya, cara ya menyanyikan lagu adat daerah, semabri terus menarikan tarian itu sungguh membuat dia menawan di mataku.
Dia adalah laki-laki, yang aku bilang bisa dalam segala hal, dari kesenian, soal agama dan bahkan dia selalu jura kelas dalam hal belajar.
Bahkan dia sering jura saat lomba Tilawatil Qur'an, suara ya yang merdu membuat hati siapapun sejuk saat dia membaca surat Al Qur'an.
Aku sedikit salah tikar saat dia melihat ke arah ku, namun aku tau mungkin bukan aku yang dia lihat, tapi itu membuat ku malu karena merasa terpergok saat memperhatikannya.
" Kamu kenapa asmara?" Tanya temanku yang bernama Lia.
" Tidak papa, lihat mereka begitu pandai dan indah dalam tari itu" ucap ku mengalihkan pembicaraan.
Akhirya, tak berapa lama. Acara itu pun usai, namun aku mencari-cari dia tapi tidak aku menemukanya. Hingga aku melihat dia tengah tertawa bersama teman-teman nya.
Dia adalah sosok yang ceria dan mudah bergaul, sementara aku, pendiam dan teman pun hanya beberapa yang ku miliki.
Dalam hidup ku, aku tidak pernah merasakan perasaan yang aneh itu, namun kali ini aku merasakan rasa itu dimana aku rasa jagung ku seperti berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya, saat melihat nya atau memikirkannya. Dan ada desiran aneh terasa di hatiku.
Dua hari telah berlalu dari acara itu, sekarang kami sudah berlajar normal. Namun tidak dengan hatiku, semenjak hari itu hatiku tidak baik-baik saja.
Cinta dalam diam, ya itulah yang aku rasakan saat itu.
Aku tidak tau cintaku terbalas atau tidak, namun perhatiannya padaku kadang membuat aku merasa kalau dia juga menyukai ku.
Saat kami tengah berlajar, wali kelas datang meng absen kami satu persatu. Hingga setelah itu dia memberikan kami tugas untuk menghias kelas, dan membuat roster serta jadual piket.
O iya, itu adalah awal tahun ajaran baru. Kami juga baru naik kelas dua.
Kami membagi beberapa kelompok, ada kelompok yang membuat roster pelajaran, ada juga yang membuat jadwal piket.
Dan kelompok ketiga membuat hiasan kelas, hingga teman-teman mengusul kan membuat papan nama dengan bentuk hati dan akan di gantung di palpon kelas.
Setelah membuat berbagai bentuk hati , bintang dan bulan dari kertas warna-warni, mereka pun meyerahkan nya pada laki-laki yang ku sukai itu untuk di buatkan ukiran nama.
" Aku akan membuat ukiran nama untuk kalian, tapi tolong tulis di selembar buku nama, tgl lahir, bulan serta nama belakang sesuai keinginan kalian" jelas nya dan dengan semangat semua melakukanya kecuali beberapa siswa laki-laki, dan serta aku yang malas membuat hal-hal seperti itu.
" Asmara, kenapa kamu tidak menulis nama belakang mu?" Tanya nya padaku.
" Kau saja yang buat, teserah padamu" ucap ku dan di anggukin nya.
Tanpa aku tau setelah dua hari, ukiran nama itu pun sudah selesai, dan di bagikan sama kami satu persatu untuk di lihat.
Ada yang dia buat nama tentang cinta di belakang nya sesuai yang dia tulis, ada juga nama orang Korea dan nama orang India.
Sementara aku, itu nama nenek ku? Dari mana dia tau.
Aku lasung menghampiri nya dan bertanya padanya.
" Irwan, kenapa kau buat nama nenek ku jadi nama belakang ku " tanyaku dengan kesal.
" Aku tidak tahu kalau itu nama nenek mu, dan juga itu cocok untuk mu" sahut nya dengan terseyum dan itu sangat meyebal kan untuk ku.
Aku hanya misuh- misuh tidak jelas karena teman-teman ku mulai memanggilku dengan nama itu bahkan tidak ada yang percaya bahkan sepupu ku sendiri.
Sahiba paingil mereka( ini nama samaran ya).
Dan aku lasung mendelik tajam ke arah mereka.
Namun hanya gelak tawa yang aku dapat.
Dan semenjak itu, aku di panggil sahiba ya Irwan dan itu gara-gara dia semua nya, bukanya marah dia malah terseyum menanggapi orang-orang itu.
Jujur aku menyukai nya, namun tidak dengan ini, aku sangat kesal.
Dan seperti itulah, sampai aku naik kelas tiga SMA aku masih memendam rasa itu. Hingga pertengkaran antara aku dan dia pun terjadi.
Entahlah, aku sangat tidak ingat apa yang terjadi hingga kami saling bertengkar. Dan akibat dari pertengkaran itu, benar-benar membuat ku sakit hati.
Hingga saat aku lewat desanya, pulang dari pesantren adek ku mengantarkan baju nya, aku hanya menambah kecepatan motor ku dan mengabaikan nya, berasa kayak rosi aku saat itu. He..he.he..
Aku tidak menyangka, dia orang ya tidak pedendan, dia berusaha mengajak ku bicara, namun aku hanya mengabaikan nya. Hingga guru meyuruh kami satu kelompok, dan itu sangat membuat ku kesal.
Sebenarnya, bisa saja dia menolak satu kelompok denganku, dia kan murid pintar, serta kesayangan guru. Namun dia hanya diam dan saat aku melihat ke arah nya dia malah terseyum lebar, tapi tidak aku tanggapi.
Dan sial nya, hampir setiap kerja kelompok guru selalu membuatku satu kelompok dengan Irwan.
Aku yang murid tidak di anggap hanya bisa diam tanpa protes, karena selain pendiam aku bahkan tidak pernah mau mengajak guru bicara kecuali ada hal penting.dan itu sebab nya guru tidak terlalu mengenal ku.
Satu bulan telah berlalu, dan hubungan kami mulai membaik, namun seperti biasa sikap cuek dan pendiam selalu aku perlihatkan.
Dan paling sial adalah, anak paman ku malah masuk ke sekolah tempat ku. Karena wajah nya yang sedikit Tampan dan lulusan dari pesantren banyak cewek-cewek disana menyukai nya.
Beda dengan ku, yang merasa risih dengan kehadiran nya.
Bahkan tidak sekalipun aku neyapa nya, kecuali ibu menyuruh ku mengatakan kabar paman padanya. Hari itu orang semua salah paham, mereka pikir anak paman ku itu menyukai sepupu ku karena dia selalu agar malu atau takut dengan ya, padahal dia takut nya denganku.
Aku juga heran, semenjak kecil dia selalu takut denganku, entah lah apa lasanya.
Bahkan sampai Irwan pun menjodohkan anak paman ku itu dengan sepupuku.
Jujur tidak ada yang tau kalau aku dan anak baru itu adalah sepupu, karena aku yang cuek tidak pernah menyapa nya di depan umum.
( Aku tidak akan menceritakan tentang kehidupanku dibrumah ya teman-teman, cerita ini hanya pokus tentang kisah ku dan dia yang cinta dalam diam atau cinta tak terbalas🤣)
Oke lanjut.
Hari terus berlalu, Minggu terus berganti, hingga tak terasa sebulan lagi kami tamat.
Namun cinta itu hanya aku pendam tanpa ada niat untuk mengatakan padanya.
Melihat, sikap nya yang begitu dekat dengan wanita itu membuat aku yakin kalau dia memang tidak ada rasa untuk ku.
Aku mencoba melepaskan perasaan ku dan melupakanya, karena aku berpikir kalau kami memang tidak akan bertemu lagi, karena sebentar lagi kamin akan lulus.
Sudah beberapa hari, aku selalu menghindari nya, namun hari itu entah setan apa yang merasukinya, hingga saat aku aku lagi meyapu kelas, dia datang dan merampas sapu itu dari genggaman ku, saat aku coba mengambil sapu itu, dia malah mengangkat nya tinggi-tinggi, hingga aku kesusahan menggapai nya karena tubuh ku yang pendek yang tinggiku hanya sampai sedada nya.
" Siniin sapu nya cepat" ketus ku padanya. Namun dia malah mengangkat nya tinggi hingga aku harus melompat -lompat menggapai nya.
" Ayok ambil asmara, ini loh" ucap nya dan dia dengan sengaja membuang sapu itu dari jendela kelas.
Aku segera berlari keluar untuk mengambil nya, Tampa ku sangka dia juga berlari di belakang ku . Tah lah, aku sangat kesal dengan sikap nya.
Sesampai nya di sana, dia mendapat kan sapu itu lagi, namun tanpa aku sadari anak paman ku itu teryata ada di situ juga lagi kumpul sama teman-teman nya. Dan dia lasung saja mengejek ku.
" Asmar, lihat saja, aku akan laporkan sama bibik kalau kau di sini pacaran" ucap nya dengan tertawa renyah.
" Laporkan saja, sekalian bawa kampil ucap ku padanya".( Kampil, dalam bahasa kami adalah alat yang dibawa ketika kita mengundang orang ke acara hajatan. Dan isi dari kampil adalah daun sirih dan pinang).
Aku sebenarnya kesal dengan Irwan, kenapa dia melakukan itu cobak, hingga membuat aku harus meyapu besok lagi karena itu adalah giliran ku.
Semenjak, ayah ku telah tiada. Anak dari Abang ayah ku tinggal bersama kami. Kami seumuran dia sekolah dintempat lain, sementara ayah nya entah kemana tak pernah pulang dan ibunya Telang meninggal.
Hingga sekarang dialah yang mengantar aku sekolah, dan tidak ada yang tau kalau itu adalah sepupuku.
Hingga suatu hari, aku berjalan kesekolah. Karena dia bawa motor ku kerumah neneknya dari ibunya. Teryata dia sudah mencari ku, namun kami tidak bertemu, hingga dia datang kesekolah ku dan bertanya pada teman-teman ku apakah aku sudah datang atau tidak.
Dan sial nya, saat sampai di sekolah, Irwan datang dan mengatakan kalau aku di cari pacar ku kemari dan aku benar-benar tidak mengerti apa maksud nyA.
Dan setelah kutaya yang lain, teryata yang nencariku dalah sepupu ku itu.
Dari semenjak itulah dia tidak lagi mau bicara dan menghindar dariku.
Aku yang Paham posisiku, yang cinta sepihak. Tidak terlalu peduli akan sikap nya. Hingga hari kelulusan aku dan dia seperti orang asing.
Satu tahun setelah kelulusan, aku memutuskan merantau keluar negeri, mencari nafkah. Dan selama itu pula kami tidak pernah bertemu, entah lah. Kekosongan hatiku ini makin menjadi karena aku tidak bisa buka hati sampai sekarang. Aku pernah membuka sosial media nya, dan aku dapati banyak status nya tentang perempuan lain. Hingga aku putuskan benar-benar melupakanya.
Hingga aku bertemu dengan seorang pria di perantauan. Kami berteman baik dan aku Yaman dengan ya. Tapi aneh nya tidak ada desiran seperti aku bersama dengan Irwan.
Hanya rasa nyaman, dan aku malah menganggap kalau itu cinta. Karena selain aku butuh teman curhat, aku malah menerimanya menjadi pacar ku dan itu teryata pelampiasan ku karena sakit hati ku pada Irwan.
Hingga pria itu mengajak ku menikah, dan aku lasung iyain. Dengan sederhana, kami menikah di perantauan dengan restu dari ibuku.
Tapi kenapa? Setelah menikah pun. Aku selalu bermimpi tentang Irwan, dia selalu hadir dalam mimpiku. Aku kesal karena aku merasa berdosa memimpikan laki-laki lain selain suamiku.
Sealam di negeri orang, suamiku sangat meyanyangiku dan tidak membiarkan ku bekerja, hingga saat aku hamil, kami memutus kan agar aku pulang kampung duluan.
Dan aku setuju dengannya, tanpa ada kecurigaan apapun tentang nya, aku pulang kampung saat kandugan ku masuk usia tujuh bulan.
Dua bulan sebelumya kami baik-baik saja, dia selalu kirim nafkah untuk ku, dan selalu mengabariku serta perhatian kepadaku.
Dan saat aku tanya kapan pulang, dia selalu jawab agar aku sabar menunggu nya, kareana dia lagi mengumpulkan uwang untuk kehidupan anak kami kelak, begitu lah alasannya selalu.
Namun, saat anak kami lahir, perhatian itu mulai pudar, bahkan jarang dia menghubungiku, bahkan gaji bulanan nya pun jarang dia kirim dengan alasan kalau di potong bos nya atau dia akan bilang lagi nabung buat ongkos pulang.
Saat tiga Minggu aku lepas melahirkan, aku ingin menelpon nya, namun aku malah dapat kejutan dengan propil wa nya wanita lain.
Hati ku Ter iris melihat nya, istri mana cobak yang gak sakit hati, melihat suaminya menjadikan wanita lain sebagai propil wa nya.
Dan saat aku tayak, dia menjawab kalau itu hanya teman nya, dan dia juga bilang kalau wa nya di bajak.
Kami bertengkar, namun dia tak pernah bertanya apakah aku sakit hati atau tidak. Sikap nya yang
Peyayang hilang, dia menjadi laki-laki egois dan menang sendiri.
Aku masih bertahan demi anak ku, tiga bulan berlalu, namun hubungan kami tidak ada lagi harmonis, suatu hari anak kami demam, dan saat itu aku menelponnya dan dia bilang kalau dia gak ada paket buat terima tlpn ku lewat chat.
Namun saat aku buak akun sosial media nya, dia malah posting Poto nya dan wanita itu lagi vc.
Dan aku juga dapat telpon dari sahabat nya kalau dia sudah menikah lama, setelah aku pulang, dan sekarang istri kedua nya lagi mengandung.
Bahkan aku dikirim sebuah video acara dia lagi kecan bersama istrinya itu dan miris nya mereka telah tinggal bersama sebelum menikah.
Bagai tersambar petir hatiku saat itu, bahkan udah hampir berbualan- bulan dia tak pernah kirim nafkah untuk dan anak ku.
Hingga setelah memiliki bukti, aku meminta cerai padanya, dan dia tidak bisa mengelak lagi.
Dan aku bersyukur sudah bisa lepas dari laki-laki itu. Dan aneh nya rasa sakit hati itu cuman karena penghianatannya tapi bukan karena dia menghianati cintaku, karena aku sadar ku tidak pernah mencintainya, hanya rasa Yaman tangung jawab sebagai istri yang aku rasakan selama ini.
Dan dengan mudah itu juga aku melupakanya, bahkan gak yampek tiga bulan aku sudah melupakan nya dan melanjut kan hidup ku dengan anak ku.
Tapi tidak dengan Irwan, sudah tujuh tahun berlalu, aku belum melupakanya, apa lagi saat dia tahu aku sudah menikah, dia menyebarkan semua tentang pernikahan ku pada teman-teman sekelas ku dulu, dan mereka semua mengucapkan selamat untuk ku.
Saat aku tanya dari siapa? mereka menjawab dari Irwan, tapi dia bahkan tidak mengucapkan apapun untuk ku. Bahkan sekedar kata selamat.
***Apapun itu, aku berdoa semoga kau mendapat jodoh yang baik, dan aku dapat melupakan mu.
Tujuh tahun, bukan waktu yang singkat jika seseorang mengatakan cinta ku itu cinta sesaat.
Bahkan aku tidak pernah lagi bertemu denganmu, namun bagaimana hati ini begitu bodoh malah meyimpanmu dalam lubuk paling dalam, hingga di alam mimpi aku selalu melihat mu.***
By : pena biru123
Inilah kisah ku, tidak aku tulis semuanya, hanya ingin meringankan gerumuh hati ini dengan menuliskannya menjadi sebuah cerita singkat, maaf kalau banyak Tepo😁