Ketukan palu bergema di salah satu ruangan pengadilan agama di kota yang terkenal dengan lagu lautan api itu.
Seorang wanita yang sudah tidak muda lagi itu sudah resmi menyandang status janda.
Amara Larasati dengan tegar menerima takdir yang mengharuskan dirinya menyandang status baru. Namun, semua itu tak menyurutkan wanita cantik itu untuk tetap berjuang melanjutkan hidupnya.
Hari-hari dilalui Amara dengan hati ikhlas. Wanita itu kini kembali ke rumah sang ibu dan menemaninya di hari tuanya. Allah tidak akan menguji hambanya tanpa kemampuannya. Mungkin inilah yang saat ini dijalani Amara.
Selalu ada hikmah dibalik sebuah musibah. Amara mungkin bisa lebih dekat dengan sang ibu yang saat itu juga sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Namun, selain itu Allah juga sedang memberikan kesempatan pada orang lain untuk bisa dekat dengan Amara.
Dua bulan sudah Amara menyandang status single. Tiba-tiba saat wanita itu menunggu warung nasinya, ia iseng membuka sosial media. Ada permintaan pertemanan di akun pribadinya. Amara awalnya tak menanggapi, sampai akhirnya akun facebook milik pria itu memberi pesan pada Amara dengan stiker yang bertuliskan hai.
Saat melihat foto profilnya, Amara ingat salah seorang temannya yang dulu pernah satu pekerjaan dengan dirinya. "Bukannya dia Vito ya?"
Kemudian Amara pun membalas pesan yang sama pada temannya itu.
Waktu terus berlalu, Amara sedang menikmati kesendiriannya. Walaupun sang putri ikut dengan mantan suaminya, tetapi komunikasi mereka tetap lancar.
Amara sekarang sibuk membuka usaha warung nasi di rumah sang ibu.
Ada 3 saudara lainnya, 2 kakak dan satu adik. Namun, mereka semua sama-sama sudah menikah dan memiliki keluarga masing-masing. Dukungan penuh dari keluarga menguatkan Amara untuk tetap menjalani hidupnya.
Tahun telah berganti sudah 2 tahun Amara berstatus single. Tanpa diduga di tahun kedua ini Vito, pria yang dulu teman kerjanya itu kembali menghubunginya. Semuanya berjalan mengalir begitu saja, bahkan samapi suatu hari Vito mengungkapkan isi hatinya. Ternyata pria itu, sudah menyukai Amara sejak mereka bekerja bersama dulu, tetapi Amara sudah memiliki kekasih.
Amara tentu saja tidak dengan mudah menerima begitu saja keinginan pria itu. Kegagalannya dalam membangun rumah tangga cukup membuatnya sedikit trauma. Namun, ternyata komunikasi mereka yang berlanjut membuat keduanya menjadi lebih dekat.
Vito juga ternyata memiliki nasib yang hampir sama bahkan lebih karena Vito 2 kali gagal dalam membina rumah tangganya.
Suatu hari Vito mengajak Amara untuk bertemu. Wanita itu pun mengiyakan karena selain penat dengan aktifitas sehari-hari, ia juga sepertinya butuh liburan. Akhirnya Vito dan Amara bertemu di salah satu warung makan yang ada di kota kembang itu.
Karena Amara memang sudah mengenal Vito sejak mereka sama-sama bekerja di salah satu supermarket, wanita itu tidak merasa canggung. Apalagi sejak dulu Amara sering kali menggoda pria itu karena dikenal sebagai pria yang pemalu.
"Apa kabar?" Senyum mengembang dari wajah pria yang sudah tidak muda lagi itu.
Kini mereka sudah duduk di salah satu meja yang ada di rumah makan itu.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri gimana?" Amara menerima uluran tangan pria di hadapannya dengan senyuman yang sama.
"Lebih baik pesan makanan dulu ya, biar enak ngobrolnya." Pria itu memberikan buku menu pada Amara. Wanita itu hanya mengangguk dan mulai memilih makanan yang ia suka.
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Vito mengajak Amara berbincang ringan sampai akhirnya pria itu kembali mengutarakan isi hatinya.
"Bagaimana tentang pernyataan aku itu, Amara?" Vito sedikit ragu tapi akhirnya tetap mengutarakan isi hatinya.
"Yang mana nih?" Amara pura-pura tak mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh pria di hadapannya.
"Yah, patah hati nih aku." Pria iyu memegang dadanya sambil menampilkan wajah lucu.
"Dih, naon sih?"
"Aku teh udah suka sama kamu dari dulu, sejak kita kerja bareng. Tapi ... waktu itu kamu udah jadian sama mantan kamu."
"Sebenarnya sih, aku tuh masih ragu buat jalanin hubungan lagi, tapi ... ya udah kita coba ajalah," jawab Amara tak terduga dan bersamaan itu pesanan mereka pun datang.
"Hatur nuhun, Teh." Vito berterima kasih pada pelayan yang membawa makanan mereka.
"Kamu serius?" Vito kini kembali pada Amara dengan menatapnya teduh.
Anggukkan dari wanita di hadapannya membuat Vito hampir melompat kegirangan. Namun, ia masih bisa mengendalikan dirinya.
"Semoga kamu yang terakhir buat aku ya, Amara." Pria itu tersenyum.
"Kita jalanin aja dulu." Amara kemudian mengajak Vito untuk makan bersama.
Sekitar lima belas menitan keduanya hanya fokus pada makanan, tidak ada percakapan sampai akhirnya, Vito mengeluarkan lagi suaranya. "Karena kita udah jadian anggap aja gitu ya, kamu harus tahu tentang aku."
Amara menatap pria di hadapannya. "Kok, berasa horor si? Santai aja kali."
"Nggak, ini soal aku, tentang keadaanku dan masa di titik terendahku." Wajah pria itu berubah murung, tetapi Amara mencoba agar pertemuannya kali ini lebih berkesan.
"Boleh, kamu boleh cerita apa saja padaku." Amara kembali mengulas senyum.
"Aku tahu mungkin ini terdengar melankolis, tapi aku hanya ingin jujur pada kamu, Amara."
"Jujur perasaan ini tersimpan begitu apik di hatiku selama 30 tahun. Walaupun aku menikah 2 kali, tetapi nyatanya semuanya tak bisa aku pertahankan." Pria itu menjeda ucapannya sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Di titik terendah dalam hidupku, aku pernah ingin mengakhiri hidup karena cobaan yang terasa bertubi-tubi. Aku nggak sadar 3 hari."
"Kamu make?" Amara sedikit terkejut dengan cerita pria di depannya.
"Bukan, aku minum obat segala dan ternyata semua itu malah jadi racun."
Amara mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku bangun saat seseorang menggedor kaca mobilku. Pas lihat hape ternyata ini udah 3 hari kemudian. Berasa linglung banget kalau ternyata selama 3 hari ini aku berada di dunia lain."
"Astaghfirullah."
"Iya, saking putus asanya aku sama jalan hidup."
"Sebentar, tadi kamu bilang di mobil? Kamu tidur di mobil selama 3 hari?"
"Iya, aku memang tinggal di mobil selama ini. Aku nggak punya rumah. Tapi tenang saja, aku akan berusaha untuk menggapai cita-cita hidup bersamamu, Amara. Ciee!" Pria itu kemudian terkekeh.
"Gombal banget ya Allah. Inget umur, Vit." Amara tergelak.
"Ya nggak tahu juga, kok aku bisa gombal di depan kamu, padahal aku itu cuek banget tahu."
"Alah, cowok mah gitu kalau ada apanya."
Vito kembali terkekeh. Namun, terlihat pancaran bahagia dari matanya. Ketulusan yang selalu ia tampilkan membuat Amara sedikit terbuai.
"Maaf, nih ya. Aku mau nanya kamu kerja apa sekarang?"
"Ya sedapatnya aja sih, sambil lagi ikutan casting-casting biar jadi artis," gelaknya.
"Antar-jemput, antar barang juga aku jabanin yang penting aku kerja dan dapat uang buat hidup."
Amara mengangguk. Setelah pertemuan itu akhirnya mereka jadi lebih sering berkomunikasi baik lewat WhatsApp ataupun Facebook. Karena memang awal pertemuan mereka setelah 30 tahun ini dari Facebook.
Bulan terus berlalu, Amara dan Vito kini kembali bertemu karena pria itu membantu mengirimkan barang ke pelanggan. Sampai saat di warung teman Amara, ada beberapa kostan di sana. Vito pun mencoba menyewa salah satunya dan alhamdulilah pria itu betah. Selain itu antar-antar barang pun lancar dengan mobilnya.
Hingga di beberapa bulan kedekatannya dengan Amara, ada casting sinetron di daerah tempat Vito tinggal. Karena berjiwa seni, dengan semangat pria itu mengikutinya. Memang dari awal Vito seringkali ikut dalam acara syuting seperti itu walaupun sebagai figuran, tetapi pria itu menyukainya.
Sesaat setelah acara casting itu, Amara menemuinya karena ada barang yang harus diantar. Pria itu dengan senang hati membantunya. "Aku denger kamu mau bikin cemilan baru ya?"
"Iya, kacang mayo. Kenapa emang?"
"Biar viral nih, kenapa nggak dikasih nama Kacang Pektay aja sih?" celetuk pria itu yang membuat Amara melongo.
"Ish, jangan gila deh. Masa nama itu?"
"Lah, mayo kan putih."
"Iya, tapi nggak deh aurat banget Ya Allah, Vito!" Amara gemas sendiri dengan celetukan yang dilontarkan kekasihnya itu.
"Lagian heran aku nemu aja gitu."
Vito hanya tertawa mendengar gerutuan Amara. "Iya deh nggak gitu lagi Teteh Sayang." Kalimat itu selalu keluar dari bibir Vito tiap kali melihat Amara marah.
Hari terus berganti minggu dan minggu berganti bulan. Amara tetap sibuk dengan usaha kateringnya, dan Vito kini sudah diterima menjadi salah satu figuran di sebuah sinetron. Walaupun keduanya sibuk tapi mereka masih tetap berkomunikasi.
Namun, di akhir bulan Mei, Amara merasa dunianya kembali runtuh karena syurganya telah pulang menghadap sang illahi. Sang ibu pergi meninggalkan anak dan cucunya. Mendung melingkupi kediaman Amara hari ini karena ibunda tercinta telah pergi untuk selamanya.
Amara tak bisa menyembunyikan kesedihannya, tetapi Vito dengan sabar menyemangatinya. Karena setiap yang bernyawa akan merasakan mati, kita hanya tinggal menunggu waktu saja.
Amara mencoba untuk tetap tegar dan kembali menjalani hidupnya seperi biasa, walau kadang saat pulang ke rumah ia merasa sangat kesepian dan rindu tak terbalas pada kedua orang tuanya.
Bulan telah berganti tak terasa kedekatan Amara dan Vito semakin erat. Mereka berencana untuk menyambut masa depan mereka dengan begitu bahagia. Tidak ada lagi rasa canggung diantara keduanya sampai akhirnya, Vito mengubah nama panggilannya dengan Sayang pada Amara dan Papap untuk Vito.
Mau bagaimana pun keduanya bukan lagi anak remaja yang pacaran dan happy-happy tanpa rencana. Usia keduanya sudahlah tidak muda. Mereka pasti akan menuju ke arah yang lebih serius untuk semuany. Kebahagian selalu terpancar dari keduanya.
Vito bahkan tak percaya kalau dirinya bisa begitu dekat dengan wanita idamannya selama ini. "Padahal kamu tuh dulu jinak-jinak merpati, tapi galak juga." Pria itu berucap sambil menampilkan senyum kocaknya yang selalu membuat Amara tergelak.
"Padahal aku baik tahu, galak dari mananya?"
"Lihat kamu tuh dulu, cantik banget kaya wayang Srikandi. Cuma aku selalu kalah kalau kamu mulai menatap aku."
"Dih, aku dulu kan langsing banget ya." Amara tertawa.
"Ah, cantik pokoknya mah."
Percakapan random itu sering terjadi jika mereka bertemu. Menjadi sebuah kehangatan juga di hati Amara yang sepi.
Di sekitar bulan September-Oktober, Vito mulai kembali sibuk dengan syutingnya. Kadang ia pulang larut malam ke kostan. Namun, ada yang berbeda dari pria itu, setiap kali bertemu dengan Amara, ia lebih pendiam dan tidak seceria bulan-bulan sebelumnya.
Tentu saja ada banyak pertanyaan di benak Amara. Bahkan pikiran jelek pun tak luput dari otaknya. Namun, pada suatu saat Amara menemui Vito di kostannya untuk memberikan sarapan pada pria itu. Terlihat wajahnya pucat.
"Kamu sakit, Pap?" Raut khawatir tercetak jelas di wajah wanita cantik itu.
"Ah, nggak ini cuma kecapean aja kayanya." Vito menjawab sambil tersenyum ke arah Amara.
"Ya udah kamu istirahat ya, kayanya karena sibuk syuting kamu jadi lupa makan deh, jadi nggak teratur gitu makannya ya?"
"Udah aku nggak apa-apa kok. Aku baik-baik aja." Pria itu kembali mengulas senyumnya di wajahnya yang pucat.
"Ya udah kamu sarapan dulu ya, aku harus kembali kerja." Amara pun meninggalkan sang kekasih sendirian di kostannya.
Keesokan harinya, Amara kembali membawa sarapan untuk Vito. Kali ini pria itu lebih memprihatinkan. Akhirnya, Amara memaksa Vito untuk diperiksa karena pria itu awalnya selalu menolak. Wanita itu membawa Vito ke rumah sakit terdekat, ternyata Vito memiliki penyakit diabetes, harusnya Vito dirawat di sana. Namun, pria itu menolak dan Amara juga saat itu sedang tidak memegang uang yang cukup.
Akhirnya, Vito hanya diberi obat dan vitami. Amara mengantar pria itu kembali ke kostannya, wanita itu juga bertanya tentang saudara atau kerabat yang bisa dihubungi untuk menemaninya di kostan. Bagaimana pun hubungan Amara dan Vito masih belum sah, apalagi status Amara masih digantung karena berkas perceraiannya juga belum selesai entah karena apa.
Amara bahkan ingat saat Vito ingin segera menikahinya dengan cara yang sah di mata hukum dan agama. Pria itu tak menginginkan pernikahan siri karena dianggap merugikan pihak perempuan.
Kini Amara sudah mengantar Vito ke kamar kost nya. Pria itu disuapi oleh Amara untuk segera meminum obatnya.
"Papap cepet sembuh ya, sehat lagi, becanda lagi." Amara mengusap lengan pria itu. Namun, hanya anggukan saja yang bisa pria itu berikan.
Karena hari sudah menjelang malam, akhirnya Amara pun pamit pulang dan ia berjanji besok akan kembali. Vito mengangguk dan berterima kasih.
Keesokan harinya, Amara benar-benar datang setelah pulang dari pasar, ia juga membeli lontong sayur untuk Vito. Seperti biasa ia mengucap salam saat berada di depan kamar kost Vito. Namun, tidak ada jawaban dari sana, dengan ragu wanita itu membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci, tidak ada Vito di sana.
Rasa takut mulai menyergap Amara pagi itu, ia pun mencari ke arah lain, dan terakhir tertuju pada toilet yang ada di sana. Ada 3 toilet di sana, tetapi yang selalu digunakan hanya 1, karena yang 2 dikunci oleh pemiliknya mungkin rusak.
Saat melihat pintu toilet yang biasa digunakan tertutup rapat dan terkunci, akhirnya Amara mencoba menggedor pintu itu dan memanggil nama Vito. Tidak ada sahutan dari sana. Akhirnya Amara menarik salah satu meja yang ada di sana, karena tembok kamar mandinya tidak sampai atas, sehingga Amara bisa mengintip dari atas.
Saat berhasil menarik meja dan menaikinya, ia melihat Vito terduduk di lantai kamar mandi. Amara panik dan kembali memanggil nama pria itu. Namun, nihil tidak ada sahutan dari sana. Dengan gegas wanita itu turun dan berlari menuju ke pemilik kost untuk membuka pintu kamar mandinya.
Karena terkunci dari dalam, akhirnya mau tidak mau pintu itu didobrak, Amara langsung masuk dan melihat Vito yang terduduk dengan mata terpejam. Dengan segera wanita itu memegang nadi di pergelangan tangannya, Amara tidak merasakan detak di nadinya, tapi wanita itu tak mau menyerah, ia mencoba membuka kedua mata pria itu satu per satu, cahaya kehidupannya seolah sirna.
Amara menangis saat itu juga, tetapi ia harus bisa mengeluarkan Vito dari sana. Setelah dibantu beberapa warga di sana akhirnya, Vito bisa dikeluarkan dari kamar mandi.
Bagai petir di hari yang panas, Amara harus kembali menelan pil pahit dengan kehilangan orang yang dia sayang. Vito dinyatakan telah meninggal dunia. Tubuh wanita itu ambruk, kini cita-cita yang akan mereka gapai pupus sudah bersama kepergian Vito untuk selamanya.
"Aku mencintaimu sejak 30 tahun lalu dan tak akan berubah. Terima kasih telah menemaniku di akhir hidupku. Kamu adalah wanita terindah yang pernah aku miliki. Aku menyayangimu Amara."
Kalimat terkahir yang diucapkan Vito sebelum kepergiannya menjadi kenangan indah bagi Amara dan akan selalu ia simpan di hatinya yang paling dalam.
******
Cerpen ini aku hadiah Tahun Baru untuk Tetehku. Happy New Year 2024. Semoga tahun baru ini kalian semua bahagia dengan hidup kalian.