Yang Tenggelam Bersama Kapal
“Ada hal-hal yang tidak ditulis sejarah, tapi tetap ada.”
Catatan Penulis: Flor do Mar adalah kapal Portugis nyata yang tenggelam di Selat Malaka pada malam 20 November 1511, membawa harta rampasan dari penaklukan Malaka—bangkainya belum pernah ditemukan hingga kini. Peta pilot Jawa, Kasimir, Wren, dan Causality Integrity Bureau adalah fiksi yang ditambatkan pada peristiwa nyata itu.
Satu—Dua Lewat Empat Belas Menit
Air sudah setinggi lutut dan terus naik.
Kasimir berpegangan pada tiang geladak bawah dengan satu tangan, tangan yang lain menekan harness di dadanya supaya tidak menghantam lambung kapal setiap kali ombak mengangkat seluruh badan kapal seperti mainan yang dilempar anak kecil. Di atasnya, kayu berderak—bukan patah, belum, tapi mengeluh—seperti tulang tua yang dipaksa menanggung beban terlalu lama. Di luar, angin bukan lagi bersiul. Angin menjerit, dan di antara jeritannya terdengar suara yang lebih buruk: suara air yang tidak lagi memukul lambung tapi mengalir masuk, terus-menerus, tanpa jeda, seperti napas yang tidak akan pernah selesai.
Dua lewat empat belas menit. Dia sudah menghitungnya. Itu waktu ketika dia mulai menghitung sisa waktu sebelum titik lenyap. Bukan dari jam—jam di pergelangan tangannya mati sejak tiga menit lalu, layarnya berkedip sekali lalu gelap, seperti mata yang menyerah. Dia menghitung dari suara. Dari ritme ombak yang menghantam lambung kiri. Dari interval antara derak kayu dan derak berikutnya. Dari cara air naik: pertama sebatas pergelangan kaki, lalu betis, dan lalu lutut. Setiap naik satu jengkal butuh waktu yang lebih pendek dari jengkal sebelumnya.
Dia punya empat menit. Mungkin lima. Setelah itu, geladak bawah akan sepenuhnya tenggelam dan tekanan air akan membuat pintu palka tidak bisa dibuka dari dalam.
Kasimir melepas pegangan dari tiang. Kakinya tergelincir di lantai yang sudah licin oleh air laut dan minyak lampu yang tumpah. Dia jatuh berlutut, tangan kirinya menghantam peti kayu di sebelahnya. Sakit. Tidak penting.
Dia merangkak ke sudut palka. Di sana, di antara tumpukan karung rempah yang sudah mengembang karena basah dan kendi-kendi tanah liat yang saling beradu pelan setiap kali kapal miring, ada sebuah tabung. Bukan logam. Kayu jati yang dilapisi damar, diikat dengan tali serat yang sudah menghitam karena usia dan garam. Panjangnya sekitar dua jengkal lebih sedikit dari lengannya. Tidak berat. Mungkin tiga kilogram. Tapi rapuh—kalau tali pengikatnya putus dan isinya terpapar air laut, semua selesai.
Tabung itu milik sang juru mudi. Pilot Jawa yang namanya tidak tercatat di mana pun. Yang tahu cara membaca arus Selat Malaka bukan dari bintang saja tapi dari rasa air di lambung kapal, warna buih, dan cara ikan terbang melompat di haluan. Dan di dalam tabung itu, digulung dalam lapisan kulit kambing yang sudah diawetkan dengan getah, ada peta. Bukan peta Portugis. Bukan peta yang digambar dari atas, dari menara, atau dari kapal besar dengan meriam di geladaknya. Peta ini digambar dari dalam air. Dari pengalaman. Dari generasi pelaut yang tidak pernah menuliskan nama mereka tapi mewariskan garis pantai lewat ingatan dan tangan.
Kasimir meraih tabung itu. Jari-jarinya gemetar—bukan karena takut, tapi karena dingin. Air laut di bulan November tidak mengenal ampun. Dia menyelipkan tabung ke dalam harness di dadanya, mengikatnya rapat dengan dua simpul yang sudah dia latih sebelas kali di cermin apartemennya tiga minggu lalu.
Lalu dia membuka tasnya. Di dalamnya, sudah terlipat rapi: replika. Tabung kayu jati yang dibuat semirip mungkin, damar yang sama, tali serat yang sama. Di dalamnya, gulungan kulit kambing kosong—tidak ada peta, tidak ada garis pantai, dan tidak ada ingatan. Secara fisik nyaris identik. Secara sejarah, kosong. Dan justru karena kosong, waktu tidak akan memperhatikannya. Waktu tidak peduli pada benda tanpa masa lalu.
Dia meletakkan replika di tempat tabung asli tadi. Mengikatnya ke tali pengikat di dinding palka. Memastikan posisinya persis—sudutnya, kemiringannya, dan cara tali mengikatnya. Kalau seseorang datang ke palka ini tiga menit lagi dan melihat tabung itu di sana, mereka tidak akan curiga. Mereka akan mengira itu tabung yang sama. Dan ketika air naik, kapal tenggelam, dan tabung itu ikut tenggelam—catatan sejarah tetap utuh. Hilang. Tidak pernah ditemukan.
Kasimir merogoh saku dalam jaketnya. Mengeluarkan plakat kecil. Tembaga, seukuran ibu jari, permukaannya sudah diberi patina mikroskopis sehingga terlihat seperti sudah berusia ratusan tahun. Di satu sisinya, terukir dua kata dalam huruf kapital yang nyaris tak terlihat kalau tidak tahu di mana mencarinya:
SALVA AB IGNE.
Dia menyelipkan plakat itu di celah antara tabung replika dan dinding palka. Bukan untuk ditemukan sekarang. Untuk ditemukan nanti. Lima ratus tahun lagi, kalau ada yang cukup teliti untuk mencari.
Air sudah setinggi pinggang. Kapal miring. Kali ini tidak kembali. Di atas, terdengar teriakan. Bukan kata-kata. Hanya suara. Suara orang yang tahu.
Kasimir menekan panel di pergelangan tangannya. Layar yang tadi mati menyala sekali—redup, berkedip—lalu menampilkan dua angka: 02:17. Tiga menit sejak hitungannya dimulai. Jarak ke titik lenyap: 2:43. Dia menarik napas. Menahan.
Dan dunia di sekelilingnya melipat.
Bukan gelap. Bukan terang. Seperti seseorang menutup kelopak matamu dari luar—kau tahu ada cahaya di balik kelopak itu, tapi cahayanya bukan untukmu. Bukan untuk sekarang. Lalu: udara yang berbeda. Kering. Hangat. Bau ozon dan logam yang sudah terlalu lama tidak disentuh air.
Kasimir jatuh berlutut di lantai beton. Di suatu tempat yang bukan laut. Bukan 1511.
Di belakangnya, di titik yang baru saja dia tinggalkan, kapal itu tenggelam. Air menutup geladak. Air menutup palka. Air menutup tabung replika yang bukan apa-apa. Catatan sejarah tetap utuh.
Kasimir melepas harness. Jari-jarinya putih, kaku. Dia menyentuh tabung di dadanya—tabung yang asli, yang benar—dan merasakan beratnya. Bukan berat fisik. Berat pernah-ada. Berat tangan yang menggulung peta itu. Berat mata yang membaca arusnya. Berat generasi yang tidak pernah menuliskan nama mereka.
Dia menelan ludah. Menyimpan tabung ke dalam case isolasi di punggungnya. Di kejauhan, di suatu tempat yang bukan laut, terdengar suara yang bukan ombak. Dengung mesin. Udara yang diproses. Kehidupan yang tidak tahu apa itu garam.
Kasimir berdiri. Menggosok wajahnya dengan punggung tangan.
“Selamat,” bisiknya. Bukan untuk siapa-siapa. Untuk peta itu. Untuk pilot yang tidak pernah tercatat namanya. Untuk garis pantai yang sekarang hidup di luar waktu.
Dia tidak tersenyum. Tidak perlu. Tangannya cukup. Tangannya yang gemetar, yang basah, dan yang masih bau damar serta air laut. Tangannya cukup.