(Kisah Nyata/True Story)
Awal kisah bermula saat aku mengikuti kegiatan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Disana ada kak Zafran sebagai salah satu pembina kami di kegiatan tersebut, ia pria yang tampan dan banyak di antara kami yang menyukainya dan berharap bisa dekat dengannya. Namun berbeda dengan aku, meskipun aku juga menilainya pria tampan tapi aku tak memiliki ketertarikan untuk dekat dengannya. Mungkin aku terlambat memasuki masa puber tidak seperti teman-teman ku, bahkan mereka ada yang sudah pacaran sejak kelas 1 SMP.
Awalnya kegiatan Pramuka itu berjalan seperti biasanya, ada kegembiraan, ketegangan, perjuangan dan lainnya. Tapi setelah sebulan berlalu aku mulai jenuh dan enggan untuk hadir karena pria yang bernama Zafran itu selalu saja mengerjai ku dan menghukum ku hanya karena masalah sepele dan yang anehnya semua orang disana tampak menikmati setiap perlakuannya pada ku. Bahkan salah satu dari temanku mengatakan kalau kak Zafran itu romantis dan ia menyukaiku. Entah dari sudut pandang mana ia bisa menarik kesimpulan seperti itu. Kalau bukan karena wajib mengikuti ekstrakurikuler rasanya aku ingin berhenti saja daripada harus bertemu dengan kak Zafran setiap minggunya.
Satu semester sudah berlalu, kali ini aku dan kak Zafran sudah sedikit berdamai, ia tidak lagi suka megerjaiku dan menghukumku tanpa sebab yang jelas malah sekarang ia selalu mengajakku untuk pulang bersamanya. Namun setiap ajakannya selalu ku tolak, karena aku takut ia berbuat macam-macam padaku.
Pada suatu hari, kami melakukan kegiatan di sungai, saat itu aku tidak sengaja menginjak beling karena kami memang tidak diperbolehkan memakai sepatu. Melihat kejadian itu, Kak Zafran tampak begitu khawatir, ia segera mengambil kitak P3K yang memang selalu di bawa setiap kegiatan diluar sekolah. Ia berubah bak sosok malaikat saat itu, ia mengobati kaki ku dengan hati-hati, setelahnya ia menyuruhku untuk beristirahat saja di bawah pohon di tepi sungai itu.
Semenjak hari itu, aku merasakan perasaan aneh setiap kali berdekatan dengan kak Zafran. Aku merasa sesak di dadaku dan jantung ku berdetak lebih cepat. Semenjak itu pula kak Zafran benar-benar berubah dalam memperlakukan aku, dia tidak lagi menjadi pria usil dan kejam, ia berubah menjadi pria yang lembut dan baik.
Di akhir semester, setelah penerimaan raport kami melakukan kegiatan perpisahan dengan kakak-kakak pembina yang sudah tamat termasuk dengan kak Zafran. Rasanya aku tidak mau cepat-cepat berpisah dengannya, kegiatan Pramuka itu tak lagi menyenangkan bagiku.
Entah bagaimana ceritanya, aku dan kak Zafran akhirnya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Hubungan kami sangat baik, tak pernah ada pertengkaran. tak jarang kak Zafran menjemput ku pulang sekolah ketika jadwal pulangku dan jadwal pulang kuliahnya sama.
1 bulan sebelum UAS ku di kelas 2 SMA, kak Zafran mulai jarang menghubungiku apalagi menjemputku. setiap ku tanya ia selalu menjawab sibuk dengan tugas kuliahnya. awalnya ku maklumi saja, tapi semakin lama kami semakin jauh, bahkan 1 minggu sebelum UAS ku sama sekali tak ada kabar dari kak Zafran. Setiap ku hubungi selalu saja tidak ada balasan. Teman-teman ku ada yang mengatakan kalau kak Zafran mungkin saja sudah memiliki pacar baru di kampusnya, ia pria yang tampan dan baik mudah saja jika ia ingin mendapatkan wanita diluar sana. Aku sempat down saat itu, bagaimana tidak, kak Zafran adalah cinta pertamaku dan saat ini ia menghilang dariku.
Di hari pertama ku ujian, aku mendapatkan pesan dari kak Zafran, awalnya aku begitu bahagia melihat notif darinya. Namun, saat ku buka air mataku langsung jatuh, ternyata kak Zafran memutuskan hubungan kami, dadaku begitu sesak saat itu, apa salahku sampai ia memutuskan hubungan denganku. Aku mencoba menelponnya, tapi ternyata nomorku sudah di blokir, ku coba menghubungi nya lewat akun sosmed, tapi sama saja, ia juga sudah memblokir semua akun sosmed ku. tak ada kata yang bisa mewakili perasaan ku saat itu, aku benar-benar sakit hati, kecewa, marah, sedih dan terluka. Tapi aku tak ingin berlarut-larut dalam kesedihanku, aku tak ingin menghancurkan nilaiku hanya karena pria yang kejam itu.
Hari terakhir ujianku, ada salah satu adik kelas yang memberikan ku kado, katanya dari seorang pria tapi ia tidak tahu namanya. Sesampainya dirumah, ku buka kado itu, ternyata isinya adalag sebuah buku judulnya "Fiqh Sunnah Wanita" disana juga ada kertas kecil bertuliskan "baca buku ini dan datanglah ke kajian di masjid Baiturrahman setiap pagi ahad, disana ada penjelasan tentang buku ini jika kau tidak bisa memahaminya sendiri" meskipun tak ada nama di surat itu, tapi aku sangat mengenal tulisan tangan itu, ya itu tulisan tangan kak Zafran. Rasa sakit yang sebelumnya aku rasakan seperti disihir menjadi rasa hangat dan bahagia. Setelah ku buka bolak-balik buku tersebut, aku kesulitan memahami isi buku itu, karena isinya tidak seperti novel, namun seperti buku pelajaran di sekolah. Kalimatnya berat, sulit untuk dipahami sendiri. Aku baru mengerti mengapa kak Zafran menyuruhku untuk ke kajian itu.
Hari minggu pagi, aku bangun lebih awal dari biasanya, aku bersiap-siap untuk pergi ke kajian, tapi niat utamaku bukan untuk memahami isi buku itu tetapi untuk bertemu dengan kak Zafran, berharap bisa bertemu atau sekedar melihat nya dari kejauhan. Tapi yang ku dapati disana hanya wanita saja, tidak ada seorangpun pria disana. Disana ada pemandangan yang tak biasa ku lihat sebelumnya, yaitu hampir semua dari mereka menggunakan pakaian lebar dan jilbab yang panjang, dan sebagian dari mereka juga menggunakan cadar, sangat berbeda denganku, aku hanya menggunakan baju gamis yang bercorak dan berwarna sedikit terang dengan jilbab yang di lilitkan di leher. Mungkin aku menjadi pusat perhatian saat itu, karena berbeda sendiri. Tapi aku memilih untuk tidak menghiraukan mereka.
Mungkin tampak dari wajahku aku tidak memiliki teman disana, salah satu dari mereka menghampiriku dan mengajakku berkenalan dan mengobrol ringan, karena rasa penasaran ku, akhir nya aku bertanya mengapa tidak ada laki-laki di kajian ini. Sambil tersenyum kak Dina yang ku ketahui namanya setelah berkenalan tadi mengatakan bahwa ini adalah kajian khusus muslimah, karena kajiannya pun juga seputar muslimah saja sesuai dengan isi buku yang diberikan oleh kak Zafran padaku. Sempat malu saat itu, mengapa aku tidak sampai kepikiran kesana, bahwa buku itu jelas-jelas membahas tentang wanita tentu saja tidak ada laki-laki yang menghadirinya. Kajian pun berlangsung, aku menyimak dengan seksama setiap penyampaian ustadz tentang pembahasan buku itu, aku juga mencatat poin-poin penting di kertas yang diberikan oleh kak Dina tadi.
tiga bulan berlalu, aku merasa nyaman berada di antara mereka, meskipun mereka semua lebih tua dariku, tapi sama sekali tidak ada sikap sombong yang ditunjukkan oleh mereka padaku, sekarang kenalanku menjadi lebih banyak, dan jilbabku sudah ku turunkan menutupi dada, aku juga mulai mengoleksi gamis-gamis yang simple, tidak bercorak dan berwarna kalem, sedikit demu sedikit penampilanku berubah sampai aku benar-benar menutup auratku dengan sempurna, hanya saja aku belum berani memakai cadar karena belum siap mendengar omongan orang sekitarku tentang penampilan ku, saat aku memakai pakaian syar'i seperti saat ini saja sudah banyak yang mengatakan kalau aku mengikuti aliran sesat, tapi aku berusaha untuk tidak menggubrisnya, aku hanya mendoakan semoga mereka yang mengataiku mendapatkan hidayah dari Allah sama sepertiku.
Tidak terasa aku sudah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA, aku melanjutkan kuliah di Padang. Aku tinggal bersama dengan kakak sepupuku yang sudah berkeluarga. Aku fokus pada kuliahku saat itu dan juga menyempatkan untuk menghadiri kajian di masjid dekat rumahku atau pun kajian muslimah di rumah ustadz yang kebetulan juga dekat dengan rumahku. Pikiran tentang kak Zafran benar-benar sudah hilang saat itu, bahkan aku menyesali hubungan sebagai sepasang kekasih dulu karena tanpa disadari aku telah menabung dosa saat itu, dan aku juga sudah mengetahui alasan kak Zafran memutuskan hubungan kami dulu, ada rasa syukur karena ia memilih jalan yang tepat dan memperkenalkan ku dengan kajian Sunnah ini, kajian tentang bagaimana sebenarnya ajaran-ajaran Islam murni yang di contohkan oleh nabi Muhammad Shalallahu'alahi wassalam.
Dua semester berlalu, kini aku memasuki semester tiga, kuliahku berjalan dengan lancar. Pada suatu hari, saat aku pulang dari kuliah, istri kakak sepupuku menanyakan padaku, apakah aku sudah memiliki keinginan untuk menikah, aku menganggap itu hanya candaan dan aku mengiyakannya. Lalu istri kakak sepupuku itu menawariku untuk ta'aruf dengan kenalan bang Zul (kakak sepupuku), akupun menerima tawarannya.
Seminggu setelah obrolan itu, bang Zul meminta biodataku untuk diserahkan ke lelaki kenalan bang Zul itu, Aku menyerahkan biodataku keesokan harinya, tak disangka malam harinya bang Zul memberikan biodata lelaki itu padaku. Aku sedikit tak percaya dengan yang ku alami saat itu, awalnya aku menganggap itu candaan ternyata sekarang aku benar-benar menjalani proses ta'aruf itu. Aku buka dengan tangan gemetar biodata itu, entah kenapa rasanya seperti membuka raport setelah ujian akhir selesai dulu. Saat ku baca namanya, 'Deg' jantungku terasa berhenti sebentar, namanya mirip dengan nama pria yang ada di masa lalu ku itu. Aku masih menenangkan hatiku dengan menganggap tidak cuma dia satu-satunya yang memiliki nama itu. Aku terus membaca sampai ke bawah, kertas itu sudah basah dengan air mataku yang tak bisa berhenti jatuh, ternyata pria itu memanglah kak Zafran yang ku kenal.
Aku melakukan shalat istikharah setelah membaca biodata itu karena aku takut salah mengambil keputusan hanya karena nafsuku saja.
2 hari semenjak itu, tidurku tidak lagi nyenyak karena aku hanya diberikan waktu 2 hari untuk menjawab apakah proses ta'aruf nya akan dilanjutkan atau tidak. Saat harinya tiba, aku menjawab akan melanjutkan proses nya, tapi aku meminta bang Zul untuk tidak mengatakan jawaban ku dulu ke Kak Zafran, aku minta agar bang Zul memberikan jawabanku jika kak Zafran memilih untuk melanjutkan proses nya.
Ternyata kak Zafran memilih untuk melanjutkan proses ta'aruf ini, aku semakin bimbang, apakah keputusanku benar-benar sudah tepat atau memang hanya dipengaruhi oleh nafsu saja. Aku kembali shalat istikharah, namun hatiku tetap terasa condong untuk melanjutkan proses ta'aruf itu. Akhirnya, tibalah di tahap Nadzor (proses melihat wajah calon suami/istri) tapi saat itu, kak Zafran memilih untuk melihat ku dari kejauhan saja, saat kajian usai, kak Zafran sudah berdiri dengan bang Zul di pintu masuk ikhwan, sedangkan aku baru saja keluar dari pintu masuk akhwat dan aku tidak menyadari jika ada 4 pasang mata yang sedang memperhatikanku. Saat sedang menunggu mengambil sendal, istri kakak sepupuku pun meminta aku untuk melihat ke arah bang Zul, dan ku dapati bang Zul sedang berbincang dengan Kak Zafran. Istri kakak sepupuku pun mengatakan padaku bahwa lelaki yang sedang mengobrol dengan bang Zul itu adalah kak Zafran pria yang sedang menjalani ta'aruf denganku. Aku berpura-pura tidak pernah mengenal kak Zafran sebelumnya, aku hanya mengangguk ketika istri kakak sepupuku itu selesai memberitahu aku.
Saat tiba di rumah, bang Zul pun bertanya padaku "Kamu kenal sama si Zafran sebelumnya?" aku hanya mengangguk dan mengatakan kalau dia adalah kakak tingkat ku di masa SMA dulu, aku tidak mengatakan bagaimana kedekatan kami dulu. Untungnya bang Zul tidak lanjut bertanya, aku pun segera ke kamar mandi untuk berwudhu dan kembali melakukan shalat istikharah, karena rasanya hatiku benar-benar sudah mantap untuk menikah dengan kak Zafran. Aku takut masih terperdaya oleh bisikan setan, tapi tetap saja hatiku tidak berubah, hatiku masih saja yakin untuk terus melanjutkan proses ta'aruf ini. Begitu pula dengan kak Zafran, ia juga selalu memilih untuk melanjutkan ta'aruf ini.
Sampai lah pada hari penentuan tanggal pernikahan kami, aku masih tak percaya akan menikah dengan cinta pertamaku dulu yang mungkin saat itu hanya cinta monyet kata orang-orang. Tak ada hambatan yang berarti sampai pada hari pernikahan kami, seolah-olah semua orang dan semesta merestui hubungan kami.
Hari itu adalah momen paling sakral dalam kehidupan ku, ketika proses ijab qobul, aku tak kuasa membendung tangisku, aku masih tak percaya jika kak Zafran akan menjadi suamiku. Begitupun dengan orang-orang yang mengetahui hubungan kami dulu, mereka juga tampak haru menyaksikan momen itu.
Pada akhirnya, kami bersatu dengan cara yang yang baik-baik dan bersama dalam ikatan yang suci.
-------|||||------- --------|||||--------