11:30 pm
Pertengahan malam, hujan begitu deras. Suara gemuruh dan petir saling berkesinambungan. Angin-angin meniupkan pepohonan hingga roboh. Suasana rumah begitu gelap, karena pemadaman listrik di seluruh kota. Hidupnya beberapa lilin di setiap penjuru rumah. Terkadang aura ketakutan dalam jiwa, Diam membisu dan membeku oleh raga, Olah taktik dengan logika, serta Nurani mohon pada sang pencipta.
***
7:30 am
Hujan jumat malam membuat sebagian organ tubuhku terasa lebih kedinginan, mulai dari telapak tangan hingga telapak kaki. Butiran-butiran air melekat pada lembaran talas. Bermunculan mentari pagi dari ufuk timur,serta di iringi oleh gumpalan awan-awan. Posisi ku masih berbaring di atas ranjang abu-abu, selimut putih tebal sebagai pelindungku membuat tubuh ku jauh lebih adem dan nyaman. Hari ini, alarm tidak berbunyi, kokokan ayam telah berlalu, dan suasana begitu keheningan.
(Aku berusaha bangkit dari ranjang abu-abu itu, lalu melihat ke arah jendela bertirai putih cukup menyilaukan,bangkit berjalan hentakan kaki secara perlahan, ku buka tirai putih tersebut dengan kedua tangan ku, dan berdiri melihat seisi kota yang penuh dengan orang-orang melakukan aktivitas sesama kerabat dan keluarga).
Namaku Laura Victoria, biasa di panggil Lau. Umur ku 22 tahun. Kesibukan ku ialah membantu kakek dan nenek ku di perkebunan miliki kakek ku. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adik ku bernama Aprilio Dwi Satria ber umur 17. Umurnya masih muda, tapi dia sudah tahu hal-hal seperti misteri-misteri dan berkaitan dengan alam-alam goib. Terkadang dia iseng menjahali teman-temannya dan dia mengakui kepada teman-temannya bahwasanya dia memiliki kekuatan supranatural, yang sebenarnya itu hoax. Sebagian teman-temannya percaya dengan kelebihan yang Lio miliki (nama panggilan aprilio) dan sebagian temannya menganggap bahwa itu hayalan belaka.
Beberapa minggu kemudian, dia ketahuan berbohong. Bahwasanya dia sebenarnya tidak memiliki kekuatan supranatual yang pernah di bicarakan, lalu dia minta maaf ke semua temannya atas perbuatannya. Dirinya sedikit malu dan kecewa atas perbuatannya.
Kedua orang tua ku sudah lama wafat. Ayah wafat ketika aku berumur 18 tahun sedangkan ibu wafat setelah 1 bulan melahirkan Lio. Kini aku dan Lio tinggal di rumah nenek dan kakek yang tidak jauh dari perkotaan. Aku dan Lio hampir putus asa karena dengan siapa kami meminta pertolongan, biaya hidup, dan biaya sekolah. Untungnya ada nenek dan kakek yang memberi sedikit pertolongan jadi kami sangat senang dan berterima kasih kepada mereka berdua.
(Sudah tak terasa waktu menunjukkan jam 8:30 am. Aku pergegas ke kamar mandi, mengenakan pakaian, dan mengikuti kakek, nenek, dan Lio sarapan pagi di dapur).
***
5:20 pm
Dreams Laura.....
Krrrkkk....kreekkk
Hmm.... dimana aku berada. Sepertinya sekeliling ku gelap ya? Apakah di sini lampunya mati? tidak ada orang sekeliling ku kah? – tanya ku dalam hati.
Tubuh ku terasa dingin, di tiupi oleh sepoian angin. Namun aku baru sadari, ternyata aku berada di tengah hutan kegelapan. Aku langkah demi langkah agar menemui pintu keluar. Namun aku tidak bisa menemukannya. Dari kejauhan terdengar empat orang sedang bertengkar, tak menunggu lama aku mengikuti sumber suara tersebut. Beberapa menit kemudian, aku menemukan sumber suara tersebut. Ternyata 4 orang lelaki lagi bertengkar. Aku bersembunyi di balik pohon besar dan sambil menyaksikan pertengkaran tersebut. Ada seorang lelaki culu sedikit kurus dan mengenakan kacamata kantoran dan tiga lelaki lainnya berotot, tinggi, bertubuh kekar.
Brrukkk....brukk!!!
Tack....tack!!!
Pria bertubuh kekar memukul pria berkacamata tersebut dengan pukulan yang begitu kuat di perut, lalu di tendang dan akhir nya terjatuh di lantai.
Pria berkacamata tersebut memegang perutnya yang terkena pukulan begitu kuat. Dia merasa semua tubuhnya kesakitan. Pipi nya penuh lebaman di sertai darah yang mengalir begitu deras. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba pria tua menggunakan tongkat dan menghisap cerutu, datang menghampiri mereka berempat, ia bertepuk tangan dan berkata:
“Plak...plak...plak.”
Lelaki tua menyuruh pengawalnya pergi sejenak, dia ingin berbicara dengan lelaki berkacamata tersebut.
“Ini baru seberapa. Saya sudah bilang kepada kamu, jauhi anak saya. Saya tak sudi punya lelaki atau menantu seperti kamu. Kamu adalah anak seorang supir angkot, orang susah, dan tak punya apa-apa. Saya sudah ada jodoh untuk anak saya. Bukan kayak kamu. Kampungan!!! jangan mimpi terlalu tinggi untuk mendapat kan anak saya!”. – tatapan nya begitu tajam, memegang pipi pria tersebut begitu kuat.
“Kalau kamu berani deketin anak saya lagi, saya tak segan-segan memberi pelajaran jauh lebih parah daripada ini. Paham?!” – tambah nya lagi dengan tegas.
“Saya sangat mencintainya dari masa kita sekolah, suka, duka selalu bersama dan berjanji akan bersama selamanya walaupun maut memisah kan kita.” – jawab lelaki ku dengan lantang.
“Omong kosong, bajingan. Cinta? Memang cinta bisa di kasi dengan uang? Bisa di makan seperti layak nya sepiring nasi?. Cinta bagi saya tidak ada, saya butuh nya kekayaan, harta dan benda!! HAHAHAHA!!” – kata lelaki tua itu sambil tertawa lebar.
Lelaki berkacamata itu tiba-tiba berdiri dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya, lalu dia menonjok pipi lelaki tua tersebut dengan sigap dan berkata:
“Separuh jiwa dan raga ku, akan ku pertahankan demi cinta ku pada nya. Walaupun setetes darah mengalir, pertanda sebagai pengorbanan kesetiaan seorang lelaki terhadap seorang perempuan!!” –dengan tersenyum tipis miring.
Lelaki tua tersebut merasa kesakitan dan murka.
“Aaahhhhh”
“B*JINGAN, KAU MEMUKUL KU!!? BERANI-BERANI NYA KAU MEMUKULKU!! TERIMA PEMBALASAN KU!!”
Aku memerhatikan mereka bertengkar begitu lama, tiba-tiba:
“AAKKHHHH”
“BRUKK....BRUKK”
“DOORR...DOORR”
Angin malam tertiup pelan, suara burung gagak membuat jauh lebih menyeramkan, darah keluar setetes demi setetes mengalir dari beberapa bagian tubuh. Runtuh nya sebuah badan ke atas tanah, mata masih bisa melihat sekeliling hutan juga melihat seseorang yang ada di depannya, dan akhirnya menutup mata disertai berhentinya hembusan napas. Di situ aku begitu kaget, ternyata yang mati di tembak ialah lelaki berkacamata. Dia mati begitu sadis.
Tidak menunggu lama, lelaki tua tersebut segera memanggil tiga pengawalnya lagi, dari salah satu pengawal tersebut, di minta membawa sebuah karung besar berwarna hijau kepekatan guna membungkus mayat tersebut. Sebelum mayat tersebut di masukkan ke dalam karung, beberapa bagian organ tubuhnya, di potong dari kepala sampai kaki. Setelah di potong, di masukkan ke dalam karung tanpa ada bagian yang tersisa satu pun. Mereka mencari area mana yang mudah dan tidak di ketahui oleh orang lain.
Tak lama, mereka menemukan area tersebut lalu menggali lubang dan berakhir di tanam (di samping pohon besar yang tak jauh dari sungai). Lalu mereka pergi begitu saja tanpa meninggalkan benda atau jejak apapun, karena sebelum menanam mayat tersebut, mereka sudah menghilangkan jejak bercak-bercak darah di rumput.
***
12:30 am
Bangkit dari mimpi.....
Lampu kamar belum di nyalakan karena ketiduran dari sore.
Aku terbangun dari mimpi buruk pada tengah malam. Aku masih memikirkan, apa arti yang di mimpikannya itu. Apakah mimpi tersebut akan terjadi di dunia nyata atau hanya efek kecapean karena terfokus pada kerjaan.
(Sambil melihat ke arah jendela samping kamar, terlihat bulan purnama menyinari lantai kamar dan memantulkan cahaya sehingga se isi kamar jauh lebih menderang daripada cahaya bola lampu yang selalu ia gunakan).
Aku bangkit dari kasurnya, menuju ke kamar mandi berniat ingin buang air. Sambil melangkah kakinya menuju ke dapur, namun pikiran ku masih terfokus pada mimpi yang di alami nya tadi sore tersebut. menyalakan lampu dapur, melihat di atas lemari, dan mencari apa yang ia cari. Aku menemukan sebungkus roti jumbo berbentuk bundar dan satu liter susu cair berperisa coklat (rasa kesukaanku). Lalu aku mengambil keduanya, memakan sebungkus roti dan menuangkan susu ke dalam gelas.
Ketika aku meminumkan susu tegukan ke dua kalinya, ada bayangan hitam yang mengawasinya di sebalik jendela dapur tersebut. Aku memerhatikan begitu detail, tak lama bayangan tersebut lenyap begitu aja.
Awal nya aku merasa ketakutan dengan bayangan tersebut, namun lama-kelamaan reflekku biasa aja karena tahu itu hanya halusinasiku saja. Selesai makan dan minum, aku segera ke kamar mandi untuk buang air. Setelah beberapa menit buang air, tak lupa aku mematikan lampu dapur dan segera menuju ke kamar untuk tidur kembali.
***
7:15 am
Aku melakukan aktivitas di pagi hari, membantu nenek dan kakek di kebun yang terletak di belakang rumah. Matahari masih di ufuk timur, burung-burung berkicauan sambil berterbangan mengelilingi seisi dunia. Nenek dan kakek biasanya menanam tanaman berjenis umbi-umbian, biji-bijian, dan sayur-sayuran. Namun hari ini kami memanen jenis umbi-umbian yakni singkong. Kakek yang menebas batang singkongnya, nenek mengambil daun-daun nya dan sedangkan aku hanya memanen dan membawa beberapa ubi tersebut ke dalam dapur. Ketika aku asik membawa beberapa ubi tersebut, tiba-tiba aku terpeleset, kepala kebentur ke atas tanah, dan akhirnya aku pingsan.
Saat pingsan....
Aku berdiri dalam keadaan yang penuh dengan gumpalan asap berwarna kelabu. Tiba-tiba sesosok berwarna putih menghampiriku tanpa ku sadari. Aku begitu kaget melihat sosok tersebut, tak lain tak bukan ialah lelaki yang meninggal secara tragis. Raut wajahnya penuh dengan kesedihan dan penderitaan, tatapan matanya ada rahasia dan teka-teki yang ingin dia ungkapkan, dan begitu juga dengan bibirnya mengeluarkan kata-kata : tolong aku...tolong aku....ttooollloonggg. suaranya perlahan menghilang di sertai bayanngannya.
Terbagun dari pingsan
Tersadar dari pingsan selama 2 jam. Setelah kejadian aku terpeset, kakek, nenek, dan juga lio (baru bangun tidur, di suruh kakek mengangkatkan ku ke dalam rumah) begitu kawatir dengan ku, untung saja hanya luka lecet di bagian lutut kanan dan bagian dahi ku saja (karena posisi ku waktu itu tengkurap). Aku dikasi segelas air putih hangat oleh nenek ku, dan menyuruhku untuk istirahat cukup. Hampir semua badan ku sakit semua. Namun aku sesempat mungkin memikirkan: apa maksud dia menemui ku? Apakah ia tahu bahwa aku pernah melihat kejadian ia dibunuh beberapa hari yang lalu? dan apakah aku memiliki kekuatan supranatural?
***
Beberapa hari kemudian
8:15 am
Hari ini, aku berencana pergi ke minimarket terdekat karena stok makanan dan alat-alat kecantikan ku sudah hampr habis, dan sekalian membeli bumbu masak titipan dari nenek ku. singkat cerita, aku selesai membeli semua bahan dan alat yang di butuhkan, ku letakkan barang-barang tersebut. Di saat aku ke minimarket muka lelaki berkacamata tertempel dimana-mana dan di bawah nya tertulis “ Telah Hilang Seorang Lelaki Bernama Dimas Dirgantara, Umur 24 Tahun. Jika Bertemu Hub. 0821********”. Disitulah aku berfikir mencari tentang lelaki tersebut, baru juga di bilangin lelaki tersebut muncul di sampingku. Untung saja aku tidak terlalu kaget kedatangan dia, jadi aku menanggapi dengan santai. Alasan dia menemuiku ialah menceritakan asal usul dia dan perempuan yang dia sayangi bernama Sekarsari umurnya sebaya dengan ku. Setelah bercerita, ia berniat untuk membantuku memecahkan masalah pada dirinya dan juga mendampingiku dalam wujud makhluk halus.
***
2:30 pm
Rencana ku ingin ke rumah Sekarsari sore ini, ingin melihat kondisi nya bagaimana. Jarak rumah nya sedikit jauh dari rumah nenek ku kemungkinan sekitar 30-35 menitan lah. Aku pergi kesana tak sendirian melainkan dengan Dimas. Sambil berjalan menuju rumah Sekarsari, aku dan Dimas berkomunikasi lewat batin supaya perjalanan kami tak begitu terasa jauh dan juga tak di curigai oleh orang sekitar.
“Aku boleh tanya ga?”
“Boleh, tanya apa”
“Dari mana kamu kenal dengan Sekarsari?”
“Aku kenal dia sudah lama dari bangku sekolah atas (SMA).........”
Dia bercerita panjang lebar, aku menyimak dengan seksama. Terkadang aku ketawa kecil mendengar hal-hal lucu dari cerita nya tersebut dan aku kaget setelah mendengar dia tak disukai oleh keluarga Sekarsari yakni Agus Santoso, ayah nya Sekarsari.
***
3:10 pm
Akhirnya kami sampai di rumah Sekarsari. Aku tak sengaja melihat dia berada di taman belakang rumah nya sambil duduk melihat cuaca yang begitu tak mendukung. Raut wajah nya begitu murung seperti cuaca hari itu mendung dengan gumpalan awan-awan, memakai pakaian berwarna abu-abu, rambut lurusnya di kuncir satu, dan angin sepoi-sepoi membuat dia sedikit kedinginan.
Aku menghampiri nya dengan sapa dan senyuman, dia pun membalas dengan sapa dan senyuman pula. Lalu aku duduk di samping nya, memberi dia semangat agar sedihnya tidak berkelanjutan. Sebenarnya dia sudah tahu aku cucu dari Sri yana (nama nenek ku), namun aku tidak terlalu mengenalinya, karena waktu itu aku masih tinggal di rumah orang tua ku. Tiba saat nya aku menjalankan aksi ku.
“Sekar.”
“Iya kenapa Lau?.”
“Hmm... kedatangan aku kemari tak hanya melihat kondisi kamu, melainkan ada sesuatu yang aku bicarakan penting kepada kamu.”
“Apakah gerangan?”
“Sebenarnya aku mengetahui dimana Dimas berada.”
Dia membulatkan kedua matanya terhadap ku, aku yakin dia begitu kaget.
“Ha??! Kamu tahu Dimas dimana? Aku tidak yakin kepada mu, sedangkan kamu kan tidak tahu siapa Dimas.”-sedikit ragu terhadapku.
“Siapa bilang aku tak kenal dengan Dimas, aku kenal dia. Soalnya poster dan browser nya di mana-mana dari situ aku kenal dia.” –meyakinkan Sekarsari agar percaya kepada ku. Untungnya sedikit percaya walaupun tak sepenuhnya. Aku melanjutkan cerita ku kepada Sekarsari yang hampir terpotong.
Aku lanjut ya. Dia sekarang ada bersama kita loh, tepatnya di samping aku. Dia kangen kamu kar, setiap saat dia menceritakan hal-hal menarik tentang kamu kepada ku.
“Ha?!! Kamu bisa melihat dia? Jangan-jangan kamu punya kekuatan supranatural?. Kok aku tidak bisa sosok dia.” –lagi-lagi dia kaget mendengar ucapan aku, penuh keraguan pada dirinya kepadaku. Perlahan air mata menetes demi netes di kedua kelopak matanya, turun membasahi pipinya yang seharusnya ia tak inginkan.
“Iya, aku punya kekuatan supranatural.”–dia tak hiraukan jawaban dari ku, dia tetap menangis. Disamping itu, Dimas mendekat Sekar lalu mengusap pipi nya yang basah oleh derasan air mata, tak berselang lama dia memeluk Sekar di belakang.
Aku merasa kan kehangatan yang dirasakan oleh mereka berdua. Mereka menyayangi satu sama lain dengan setulus hati. Namun takdir berkata lain maut memisahkan mereka berdua. (Agus Santoso memerhatikan kami bertiga dari disebalik pintu belakang, kemungkinan dia ada rencana untuk menghancurkan aku).
***
4:35 pm
(Gerakan demi gerakan yang aku lakukan pasti ada yang memata-matai dari sudut manapun. Terkadang aku merasa firasat aneh sekali-kali mendatangiku dan akhirnya menjadi firasat tersebut menjadi kenyataan. Aku tiba-tiba berada di sebuah hutan rimba. Kepala ku masih pusing, badan ku diikat dipohon besar yang begitu kencang, sampai-sampai aku merasa kesakitan dan keasulitan untuk melarikan diri, dan juga mulut ku di Sumpali oleh kain).
Terdengar hentakan kaki dari arah kejauhan, tak lain tak bukan ialah Agus Santoso ayah Sekarsari. Dia adalah biang dari penculikan aku. Dengan menyuruh pengawalnya menyamar menjadi penjual makanan. Didalam makanan tersebut sudah dicampuri obat tidur yang diberikan kepadaku.
“Laura Victoria, cucu dari Sri yana. Urusan apa kau mengetahui hubungan Dimas dan Sekar? Hak apa kau? Sampai-sampai kau mencampuri hubungan mereka? Dan kau mengakui mempunyai kekuatan supranatural, mata batin atau apalah itu?” –ia tersenyum tipis dan akhirnya tertawa.
“HAHAHA. Kau fikir Sekar akan percaya kepada kau? TAK AKAN PERNAH DAN MUSTAHIL BAGIKU”.
“KAU HANYA BOCAH INGUSAN YANG TAHU DUNIA HALUSINASI SAJA, KAU SEPERTI DIMAS SI B*J*NGAN ITU!!! MENHANCUR KEBAHAGIAAN AKU DAN SEKAR”. –dengan lantang dan tegasnya dia berbicara kepadaku.
Untung nya aku bisa mengeluarkan gumpalan kain di mulutku.
“INI TERMASUK URUSAN KU!!! KARENA PESAN YANG DI AMANAHKAN UNTUK KU. YANG SEHARUSNYA SEKAR TAHU KEBERADAAN DIMAS BERADA!!! DAN AKU TAHU JUGA KAU YANG MEMBUNUH DIMAS DENGAN MEMPOTONG SEMUA ANGGOTA TUBUH NYA DI HUTAN INI!!!”. –lantang ku berbicara kepadanya karena emosi aku tak bisa tertahankan.
PLAKK!!! –sebuah tangan melayang mengenai pipi kananku hingga memarah meninggalkan bekas.
“KURANG AJAR KAU!!! BERANI-BERANINYA KAU TERHADAP KU!! KAU NGOMONG LANTANG KEPADA KU, KAU HEBAT, KAU BERKUASA DAN KAU BISA MENGALAHKAN KU. HAHAHAHAHA. CUIIHH TAK AKAN”. –sambil mencekeram kedua pipi ku begitu erat, dan berbicara begitu kencang, sehingga seisi hutan ikut bergema.
5:21 pm
Tak lama, kami sudah sampai di sebuah danau tenang yang tak asing bagiku, dan tangan aku masih di ikat kebelakang, beserta tubuhku di pegangi oleh pengawalnya. Tiba-tiba Sekarsari datang menghampiri kami. Tak hanya sendiri, dia dibarengi oleh kakek, nenek, dan Lio.
Sekar kaget dengan perilaku ayah nya selama ini. Karena ayah nya itu, pujaan hatinya terbunuh. Perasaan yang timbul dari diri sekar ialah ada rasa sedih yang mendalam serta marah bercampur dendam kepada ayahnya itu. Ketika Sekar dan keluarga aku ingin mendekat, tiba-tiba lelaki tua mengeluarkan sebuah pistol yang arahnya tepat dikepalaku dan berkata:
“JANGAN MENDEKAT!!! KALAU KALIAN MENDEKAT NYAWA ANAK INI MELAYANG!!!”
Mereka begitu histeri dan takut dengan ucapan lelaki tua tersebut. Agus menyuruh menangkap mereka, namun Lio menghajar serta memukul mereka dengan begitu gesit, kakek memukul pengawal tersebut menggunakan benda-benda yang ada disekitar danau tersebut. Sedangkan Sekar dan nenek memikirkan bagaimana aku bisa di bebaskan. Disebalik belakang aku dan lelaki tua, ada lelaki muda menghampiri kami berdua dan menargetkan kepada lelaki tua tersebut.
“BBRRUUKK!!!” –tersungkur lah lelaki tua tersebut atas tanah karena sebuah pukulan melayang kepadanya.
Tak tinggal diam, Sekar dan nenek segera menuju ku dan melepaskan ikatan nya, sedangkan lelaki muda tersebut lagi bertarung dengan lelaki tua tersebut. Pada saat lelaki tua tersebut mengelak dari serangan lelaki muda, tiba saat nya dia mengeluarkan pistolnya lagi dan mengarahkannya ke lelaki muda tersebut.
“DOORRR!!!”
Burung-burung di hutan berterbangan secara bersamaan. Suasana hening sangat lama seolah-olah waktu berhenti tanpa detakkan. Kejadian tak terduga telah terjadi. Menembus baju hingga organ seketika darah menetes demi setetes keluar dari dada bagian atas. Sasaran pistol bukan terarah oleh lelaki muda tersebut, melainkan peluru meleset ke dada Sekarsari. Kami semua histeris melihat kejadian tersebut. Tak lama Sekar jatuh ke tanah dengan nafas yang terengah-engah. Aku dan nenek segera menolongnya dengan menghubungi pihak rumah sakit dan polisi. Hanya sepatah dua patah dia bicara.
“Terima kasih, atas semua nya. Sekarang aku bisa hidup bersama dengan Dimas selamanya tanpa ada gangguan apapun. Selamat tinggal.....” –aku melihat roh Dimas datang menghampiri kami, lalu dia mengajak Sekar untuk bersamanya dan akhirnya roh Sekar dan roh Dimas pergi bersama selamanya yang pantas untuk mereka berdua.
Agus Santoso di tangkap beserta pengawalnya oleh kepolisian dan di penjara, mayat Sekar dan juga mayat Dimas juga di periksa, dbersihkan, juga di kuburkan bersebelahan. Kami berempat selamat dalam kejadian terjadian tersebut walaupun Lio dan lelaki muda terkena lecetan luka di beberapa bagian dan Akhirnya hidup bahagia selamanya.
~Sekian~