Bagaimana perasaanmu mendapatkan suami saat berkunjung ke dunia aneh?
.
.
Maura Bane, wanita berumur 25 tahun yang baru saja mendapatkan pekerjaannya sebagai seorang sekretaris perusahaan V&B, tak tanggung-tanggung dia mendapatkan jabatan sebagai sekretaris CEO. Maura sangat mendedikasikan diri untuk melayani CEO nya dengan baik
"Apa aku punya jadwal malam ini?" tanya Gillard si CEO pada Maura.
"Tidak ada pak, anda bisa pulang setelah bertemu Mr. Willys sore ini" ucap Maura sembari mata memandang kearah note memastikan tidak ada kesalahan membaca jadwal.
"Willys? Untuk apa aku menemuinya?" Willys adalah teman Gillard yang bekerja di perusahaan elektronik. Seingat Gillard tidak ada urusan bisnis bersama temannya itu.
"Anda tidak mengatakannya, kemarin anda mengatakan sore hari ini anda akan menemui Mr Willys" Gillard menghembuskan napasnya kemudian mengangguk pasrah.
"Dia selalu seenaknya. Telpon dia untuk menemui ku sekarang" Maura mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Gillard untuk melaksanakan tugas.
Maura menghembuskan napas lelahnya setelah keluar dari ruangan Gillard, bekerja bersamanya 2 tahun tidak membuat Maura santai disamping pria itu. Menurutnya bos-nya itu memiliki aura yang sangat menyeramkan meskipun ia tidak marah. Bahkan Maura merinding saat pria itu tersenyum.
"Kau tidak menelponnya?" Maura berjingkrak kaget mendengar mendengar suara Gillard, pria itu sudah berada di depan mejanya.
"Saya akan segera menelponnya pak" Maura bergegas mengambil gagang telpon dengan tangan bergetar, jantungnya berdetak kencang.
"Sudahlah biar aku lakukan sendiri. Kau pulanglah dan bersiap ikut denganku untuk menghadiri undangan pesta Pernikahan Mr. Ricky" Maura menatap Gillard sekilas kemudian mengangguk. Bukan hal aneh ia diajak menghadiri pesta seperti itu.
Maura membanggakan dirinya sebagai sekretaris Gillard, terlebih ia bertahan lebih dari setahun. Bukan sebuah rumor kalau Gillard sangat ketat dengan orang-orang disekitarnya, bahkan tidak ada yang bertahan menjadi sekretarisnya lebih dari satu tahun. Maura yang memecahkan rekor itu dan mendapatkan pujian dari banyak pihak, mereka mengatakan kalau hanya Maura yang bisa menangani Gillard.
Maura tidak terlalu setuju dengan hal itu, Gillard bukan orang yang dapat ia tangani. Beberapa kali ia berlutut dan memohon untuk tidak dipecat, kejadian tadi bukan pertama kali Maura lakukan. Ia belum terlalu paham dengan apa yang diinginkan bosnya itu. Seperti permintaannya kali ini yang memintanya menggunakan dress daripada pakaian formal biasa. Biasanya pria itu memintanya untuk menggunakan setelan formal saat bersama Gillard.
"Aku rasa pak Gillard bosan melihatku pakai baju itu-itu saja. Apa aku harus beli kemeja lagi?" Maura bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menatap kaca. Kini ia sudah bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan.
"Aku akan beli banyak baju dan mengubah tatanan rambutku agar dia tidak bosan melihatku" Monolog Maura lagi sembari merapikan rambutnya yang terurai. Biasanya ia mengikat ramput nya rapi kebelakang.
.
Tingtong
.
Maura terkejut yang memencet bel rumahnya bukan supir Gillard yang biasa, dihadapannya seseorang berbadan besar dengan aura gelap menyelimutinya. Maura ketakutan meyakini pria itu memiliki niat tidak baik padanya.
"Tuan Gillard sedang menunggu" ucap pria itu saat Maura hendak menutup pintunya.
Maura dengan ragu mengikuti pria itu, ia bahkan sudah mempersiapkan kontak kantor polisi terdekat.
"Masuklah" Maura tidak langsung masuk begitu saja, ia memastikan dulu bagian dalam mobil itu.
"Masuklah Maura. Kau membuatku menunggu" ucap Gillard yang duduk disamping kursi pengemudi.
"Kenapa anda duduk disana pak?" tanya Maura yang kini sudah duduk seorang diri di kursi belakang.
"Aku tidak ingin menodai bajuku" Ucapan Gillard cukup membuat Maura kesal tapi ia tidak bisa membalasnya.
"Kita berangkat sekarang Raco" Pria yang dipanggil Raco itu dengan segera melajukan mobilnya.
Maura merasa Raco membawa mobil ugal-ugalan bahkan membuatnya ingin muntah, ia tak habis pikir mengapa pria itu membawa mobil dengan kelakuan yang sangat cepat saat hujan lebat seperti ini. Maura lebih dibuat bingung dengan sikap Gillard yang santai tidak merasa terganggu dengan laju mobil.
"Kau wanita yang lemah. Hanya segini saja wajahmu pucat" ejek Raco yang melirik dari kaca depannya. Ia malah mempercepat lajunya.
"Bawalah mobil dengan hati-hati. Kau tidak sedang dikejar-"
"Perhatikan jalannya Raco" ucapan Maura dipotong oleh Gillard. Pria itu terdengar tidak suka dengan percakapan mereka.
"Maaf tuan" Raco kembali fokus dengan jalanan dihadapannya. Ia tidak menanggapi ucapan Maura, ia malah semakin menginjak pedal nya.
.
Maura terus komat-kamit membaca doa apapun agar dirinya selamat, ia tidak ingin mati bahkan sebelum merasakan manisnya pernikahan.
"Kita hampir sampai tuan" ucapan Raco membuat Maura mengangkat kepalanya melihat kearah depan.
Betapa terkejutnya ia melihat cahaya terang dari arah berlawanan. Raco membawa mobil mereka menabrak cahaya itu membuat Maura menutup matanya rapat. Mulutnya semakin kencang membaca doa.
.
Citttt....Brakkk
.
Mulut Maura berhenti merapalkan dia, ia memegang erat sabuk pengamannya saat merasakan mobilnya terlempar. Ia sudah pasrah bertemu Tuhan sebelum bertemu jodohnya.
"Bangunlah Maura!" Teriakan Raco sembari menepuk pipi Maura bergantian.
"Bersiaplah bertemu neraka Raco!" Geram Gillard. Ia tidak menyangka akan mengakhiri nyawa sekretarisnya secepat ini.
Gillard sudah mengeluarkan kuku panjangnya dan berjalan perlahan mendekat kearah Raco. Ia tidak suka dengan orang yang tidak becus melakukan pekerjaannya, terlebih melukai orang lain.
"Tung-tunggu sebentar tuan. saya yakin Maura tidak mati. Sebentar tuan.. Maura pasti akan bangun" Raco yang panik terus menampar pipi Maura dengan keringat yang mengucur deras. Ia bahkan hampir mencium- memberi napas buatan.
"Kau susul dia dan minta maaf padanya secara-"
"Dia bernapas tuan!!!" Teriak Raco saat merasakan napas Maura pelan.
Gillard yang tidak percaya mencoba memeriksanya sendiri, dan benar... Ia merasakan napas wanita itu.
"Carikan aku ranting untuk menyangga tulangnya yang patah" Raco bergegas menuruti ucapan Gillard mencarikan ranting yang bagus untuk wanita itu.
.
.
Maura membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah atap megah bercat putih. Kepalanya tidak bisa ia gerakkan membuatnya panik.
"Apa ini surga?" Maura merasa dirinya tidak akan selamat dari kecelakaan tadi, dan menganggap dirinya pasti sudah mati.
Maura terkejut karena tubuhnya merasa sangat sakit dan tidak bisa digerakkan... Oh... Ada apa dengan tubuhku ini? Apa gara-gara aku banyak dosa jadi di letakkan di surga dengan tubuh yang diikat?!?!😱
"Oh bagaimana ini?! Aku belum sempat membahagiakan orangtuaku... Cicilan mobilku siapa yang akan nanggung... Aku belum merasakan malam pertama setelah menikah!!" Teriak heboh Maura merasa ia belum terima kalau dirinya sudah meninggal.
"Kau berisik Maura!" Teriak seseorang yang membuat panik Maura. Siapa pemilik suara itu?! Apa dia pemilik istana ini?
"Siapa kau? Tolong kembalikan aku ke dunia. Aku belum siap mati... Aku masih punya banyak dosa... Juga... Aku belum punya suami..." Maura dengan heboh memohon pengampunan.
"Kau masih bisa merasakan malam pertamamu dengan calon suamimu, tapi aku merasa kasian dengan pria yang akan menikahi mu... Telinganya akan sobek pada malam pertamanya memperistri dirimu. Oh... Suaramu itu sangat buruk" ucap Raco yang menampakkan diri di depan kepala Maura.
"Oh kau mengagetkanku!!!! Yak kau pria sembrono!!!! Kenapa kau disini?! Ah... Kau juga pasti mati. Kau pantas menerimanya! Kau harusnya mati sendirian jangan ajak-ajak oranglain!" Raco bergegas mundur karena tak tahan mendengar teriakan Maura.
"Siapa yang kau anggap mati manusia?! Oh... Tapi aku rasa akan mati terus berada didekat manusia pemakan toa sepertimu. Suaramu sungguh bisa membunuhku" Raco kembali memperlihatkan diri pada Maura.
"Yak!!! Matilah sekali lagi dengan mendengarkan suaraku! Aku sungguh tidak terima kenapa kau dibiarkan bergerak bebas sedangkan aku harus terikat. Harusnya kau yang diikat karena menyebabkan oranglain mati"
"Kau punya banyak tenaga rupanya" Maura menutup mulutnya rapat mendengar suara yang tidak asing. Sayangnya ia tidak bisa menggerakkan kepalanya untuk melihat pemilik suara itu.
Gillard masuk saat Maura sedang beradu mulut dengan Raco, ia meringis melihat wujud Maura sekarang yang diikat dengan batang kayu di dua sisinya. Maura juga diikat kencang dengan rotan yang mengikat dengan rapi.
"Anda sudah kembali tuan" ucap Raco sembari berlutut. Ia masih merasa bersalah dengan kejadian ini.
"Tolong sembuhkan dia" ucap Gillard pada sesosok peri terbang kecil yang berada disampingnya.
Maura terkejut melihat makhluk kecil seperti serangga terbang di atas tubuhnya, makhluk yang tak asing seperti yang pernah ia lihat di suatu tempat.
"Oh... Disini beneran surga?!?! Aku bisa melihat peri?!" Teriak Maura heboh, sedangkan makhluk itu hanya memutar matanya malas sembari tetap merapalkan sihir penyembuhnya.
"Dasar norak... Dia itu elf... Kau daritadi mengatakan surga surga surga... Disini bukan surga dan aku sangat yakin yang di atas pasti tidak mau menerimamu di surga mereka. Makhluk suci disana pasti kesakitan mendengar suara mu itu" Raco membalas ucapan Maura dengan sinis. Ia sungguh tidak suka dengan pendatang.
"Elf?!?!-"
"Tutup mulutmu Maura. Kau sungguh berisik" Maura merapatkan mulutnya saat mendengar suara familiar itu. Bahkan hanya dengan mendengar suaranya Maura merasakan aura intimidasi mirip bosnya.
"Pak Gillard juga mati?! Apa anda juga terikat pak?" Gillard memutar matanya malas, ia memilih duduk daripada menjawab ucapan Maura.
.
Maura terkejut setelah dua batang disisinya dilepas. Ia berjingkrak senang setelah Raco menjelaskan kalau ia tidak mati.
"Tunggu sebentar... Kalau aku belum mati... Kita dimana?" Tanya Maura sembari menatap peri kecil dengan horor.
"Diam lah Maura. Aku tidak tahu kau suka sekali bicara dan berteriak" Maura langsung menutup mulutnya melihat Gillard duduk di kursi single. Aura intimidasi nya sangat kerasa terlebih saat melihat wajahnya.
"Apa dia sudah baik-baik saja Cecilia?" Tanya Gillard pada peri kecil yang sudah berpindah ke atas bahu Gillard.
"Sudah baik-baik saja tuan. Segera kembalikan dia ke alamnya. Suaranya sangat berisik" Gillard mengangguk setuju.
"Kita ini dimana pak?" Tanya Maura penasaran terlebih setelah mendengar percakapan Gillard.
"Ikut denganku" Maura mengikuti Gillard keluar dari ruangan itu.
Mereka berdua keluar dan Maura dimanjakan dengan pemandangan kastil indah pertengahan abad. Menelusuri lorong dengan banyaknya jendela memperlihatkan bagian luar yang asri dan sejuk.
Maura berpikir mereka berada di tengah hutan karena terlihat banyak pepohonan tinggi yang nampak.
"Di sini adalah tempat tempat tinggal para penghuni neraka"
"Itu berarti-"
"Jangan memotong ku Maura. Sejak kapan kau tidak sopan seperti ini" Maura menangkupkan mulutnya dan menganut paham.
"Selamat datang di dunia perbatasan" Maura terkejut mendengar ucapan Gillard yang sama sekali tidak dapat ia pahami.
Dunia perbatasan adalah tempat dimana para makhluk bukan manusia hidup. Tempat dimana para mereka yang dikatakan mitos belalang buana dengan bebas, hidup dengan damai seperti layaknya manusia.
Makhluk mitos di sana sangat banyak seperti sekarang yang Maura tadi lihat. makhluk kecil dengan sayap yang bisa memancarkan sihir dan penyembuhan yang biasa dikenal dengan para Elf. Makhluk mitos yang diyakini keturunan para malaikat penghuni surga yang ternyata di dunia perbatasan ini adalah makhluk sombong yang hidup menumpang dengan para vampir.
Mata Maura disuguhi banyak hal yang ia yakin tidak ada sebelumnya. makhluk yang hanya dibuat di film atau komik belaka kini nampak di depan matanya. Beberapa kurcaci riwa-riwi sibuk melakukan tugasnya seperti layaknya para pelayan. Ada juga seseorang dengan wajah seperti anjing, seperti serigala. Banyak sekali siluman-siluman yang hanya ada di film bertebaran di sini.
"Selamat datang tuanku. Anda harusnya kemarin datang di pernikahan Willys" ucap sebuah makhluk dengan tubuh separuh kuda separuh manusia.
"Bantu aku memberikan undangan makan malam pada Willys dan istrinya sebagai ucapan permintaan maaf. Raco ceroboh itu membuatku tidak bisa hadir kemarin" Gillard memberikan sebuah saputangan kepada makhluk itu.
Di dunia ini hanya pemilik energi sangat kuat yang dapat dipanggil tuan oleh makhluk lain, layaknya kekuasaan yang membedakan kasta manusia. Sapu tangan hanya dimiliki oleh makhluk berenergi tinggi sebagai tanda kekuasaan dan hanya makhluk berenergi tinggi yang bisa mengubah wujudnya menyerupai manusia sempurna.
"Kau sepertinya sangat terkejut melihat makhluk di dunia ini" Maura mengangguk tidak membantah. Di kepala kecilnya bersarang banyak sekali pertanyaan.
"Kau bisa menuntaskan penasaran mu pada Rose. Bertanyalah pada wanita itu" Wanita tinggi berjalan mendekat dengan sangat anggun. Maura menebak kalau dia itu siluman kucing dilihat dari telinganya.
"Sebelum pergi pak... Bisakah saya bertanya kenapa saya bisa kesini?" Sebenarnya Maura ingin bertanya makhluk seperti apakah bosnya itu. Apakah manusia yang juga masuk ke dunia perbatasan atau sama dengan makhluk yang ada di sini, tapi ia urungkan melihat Gillard sepertinya harus mengerjakan hal lain selain menjadi pemandu tour nya.
"Hanya manusia yang pernah sekarat yang bisa datang ke dunia ini" jawab Gillard sambil melangkah pergi.
.
.
Rose pikir wanita yang dibawa tuannya itu akan ketakutan dengan cerita tentang dunia perbatasan mereka, tapi nyatanya Maura malah kegirangan dan seolah dia sedang berada di dunia Wonderland yang penuh imajinasi kekanakan.
"Apakah benar di sini ada duyung? ada Tinkerbell? apakah ada siluman panda? apakah ada... apakah ada siluman kelinci?!" Maura bertanya dengan heboh sembari membayangkan makhluk-makhluk lucu itu.
"Jangan konyol manusia! Kau pikir kau sedang di mana?! Kau terlalu berpikiran positif tentang dunia ini" Maura cemberut mendengar ucapan Rose.
"aku dulu salah satu anak yang berpikiran imajinatif tentang makhluk-makhluk mitos seperti kalian. Kau tahu... Bagaimana perasaanmu setelah melihat kalian nyata?! it's amazing" Rose menyerah untuk membuat Maura sedikit takut.
"biarkan aku menikmatinya dengan senang sebelum aku pulang ke dunia ku dan menghadapi semua kenyataan. Cicilan mobilku misalnya"
"Nikmatilah karena hari ini kau akan pulang" Rose sungguh berharap Maura segera pergi.
"Oh iya Rose... Apakah Pak Gillard sepertiku? Maksudku apakah dia manusia?" Rose mengehentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Maura.
"Tolong katakan bagian mana dari penjelasan ku yang tidak kau pahami? Apa menurutmu manusia rendahan seperti kalian bisa memiliki energi besar Untuk membuat para makhluk lain disini tunduk?" Maura mengangguk karena berpikir ada kemungkinan untuk itu.
"Kau sepertinya meremehkan manusia. Kau harusnya tahu kalau makhluk seperti kami bisa menghilangkan spesies hewan. Tentu saja manusia seperti ku memiliki energi sangat kuat dibanding kalian" sepenangkapan Maura, siluman disini yang dimaksud adalah hewan bertubuh manusia. Jadi jelmaannya seolah manusia yang sedang cosplay dengan kostum hewan, bahkan makanan mereka sama seperti hewan di dunianya.
Rose menjadi kesal terlebih mengingat spesies hewan yang satu marga dengan nya harus punah.
"Manusia macam kalian benar-benar harus dimusnahkan dari muka bumi ini bahkan tidak hanya di dunia perbatasan" terus sebenarnya ingin menyerang Maura tapi berhubung wanita itu adalah tamu tuannya ia tidak berani melakukannya.
"Kau pasti sangat bangga karena kalian berhasil membunuh makhluk lain. Kalian pasti merasa duduk di kasta paling tinggi karena hal itu" Rose keluar dengan membanting pintu membuat Maura berjingkrak kebelakang.
.
"kau apakan Rose sampai dia sangat marah seperti itu Maura? Kau sangat pandai membuat orang yang baru kenal kesal padamu" Raco membuka pintunya lebar dan berjalan masuk dengan santai.
"Aku merasa tidak berbuat salah tuh padanya. Dianya saja yang sensi" Raco tidak memberikan tanggapannya. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan dua wanita itu.
"Image mu sungguh buruk dimata ku. Bersiaplah malam ini kamu akan pulang" Raco hanya ingin mengatakan itu, ia berbalik untuk keluar dari ruangan Maura.
"Apa Pak Gillard akan ikut pulang denganku?" Maura penasaran dengan bosnya itu.
"Aku juga berharap dia bisa ikut denganmu" Raco berjalan keluar meninggalkan Maura sendirian disana.
.
Entah berapa jam Maura sendirian di ruangan itu, yang ia tahu hanya sekarang malam di dunia ini begitu gelap.
"Apa tidak ada yang memberiku makanan?" Maura melangkah keluar dari tempat itu mencari makanan, ia belum memasukkan apapun kedalam perutnya.
.
.
Semua makhluk penghuni kastil bergerumun menyambut pemimpin mereka.
"Apa yang terjadi pada anda tuan?" Tanya Ares, si manusia serigala sembari menopang tubuh Gillard yang limbung.
"Pria tua bangka itu memaksaku mengikuti keinginannya" Semua makhluk saling berpandangan, si tua bangka yang di maksud adalah Vin.. Orang tua Gillard.
"Anda jangan terlalu sering mencari masalah dengannya tuan. Anda selalu kalah jika melawannya" Gillard mendengus mendengar nasehat Ares.
"Kali ini perintah apa yang anda tolak tuan?" Tanya Rose yang sudah membantu membuka kemeja tuannya. Kini ia duduk di kursi.
"Menikahi Milky" ucapan Gillard sukses membuat semuanya terkejut. Milky adalah putri duyung cantik penguasa perairan Hanga.
"Kenapa menolaknya!!! Kau beruntung diminta menikahi betina, mana dia juga penguasa" Gillard melotot kearah Raco yang asal bicara itu.
"Memang benar ucapannya tuan. Jika kalian benar jodoh yang ditentukan langit, kalian akan menjadi pasangan yang abadi seperti Vin... Dan area kekuasaan kalian tidak akan diusik oleh makhluk lain" ucap Ares disetujui yang lain.
"Tidak berjodoh pun kalian tetap saling menguntungkan. Dengan kekuatan darat dan air, kalian bisa merebut kekuasaan milik yang lain. Kalian sudah menjadi pasangan sempurna walaupun tidak berjodoh" ucap Raco menambahkan.
"Permisi" Gillard tidak jadi membuka mulutnya karena ucapan Maura.
Para kurcaci membuka jalan untuk Maura agar mendekat kearah Gillard.
"Kau masih disini Maura?" Tanya Gillard sembari melirik kearah Raco.
"Oh pak... Apa yang terjadi pada anda?" Maura tidak menjawab malah panik melihat tubuh Gillard yang penuh luka.
"Dari kalian tidak ada yang memanggil peri kecil untuk mengobati pak Gillard?" Maura memarahi orang disana membuat Gillard menikmati pemandangan didepannya. Untuk pertama kalinya, seorang manusia peduli dengannya.
"Yak... Kalian tidak menjawabku? Pak Gillard pasti kesakitan dengan lukanya" Maura panik sendiri mereka hanya memperhatikan Maura.
"Kau memang berisik ya... Aku daritadi disini. Tuan ku tidak akan mati karena lukanya melainkan pendarahan telinga karena mendengar suaramu itu" Cecilia menampakan dirinya di balik leher sang tuan.
"Hehe... Aku tidak melihatmu karena kau terlalu kecil. Apa telinga pak Gillard baik-baik saja?" Maura malu terlebih semua makhluk disana menahan tawa karena sikapnya.
"Sudahlah Maura... Aku baik-baik saja. Bukankah kau harus pulang malam ini?" Maura menyudahi memeriksa telinga Gillard berganti menatap pria itu.
"Anda ingin saya kembali sendirian pak?" Gillard hanya mengangguk santai tapi mendapatkan gelengan kepala heboh dari Maura yang menampakkan ketidaksetujuannya.
"Kalau pak Gillard tidak kembali bersama saya hari ini berarti besok anda tidak kerja? Terus siapa yang akan menemui para klien yang sudah dijadwalkan untuk besok? Anda tidak akan membiarkan saya menemuinya sendiri kan?" Maura sudah panik walau hanya membayangkannya.
"Kenapa anda diam saja pak?! Anda tidak berpikir demikian kan?! Saya baru jadi sekretaris 2 tahun pak... Bagaimana kalau mereka malah mencabut kerjasama dan perusahaan nanti bangkrut" Maura kembali heboh karena Gillard tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Kalau bangkrut maka kau tidak bekerja. Dan perusahaan lain tidak akan mempekerjakan mu karena pasti banyak berita tentang penyebab bangkrutnya perusahaanku" Entah mengapa Gillard terhibur dengan wajah panik Maura.
"Wah gawat-"
"Berhenti mengoceh betina! Tuanku perlu istirahat. Kau pulanglah sendiri, dan Raco akan ikut bersamamu" ucap Ares memotong rengekan Maura.
Raco ingin sekali protes tapi ia urungkan karena melihat mood Ares sepertinya buruk karena Maura. Ia hanya mengangguk pasrah.
"Tidak bisa begitu. Aku datang dengannya maka akan kembali dengannya juga" Maura tidak yakin dengan kemampuan Raco menangani para klien. Iya tidak ingin memasrahkan masa depannya kepada siluman gagak yang membuatnya kecelakaan.
"Betina ini berisik sekali-"
"Hentikan Ares! Apa yang akan kau lakukan?!" Gillard menghentikan Ares mengeluarkan kuku tajamnya untuk menyerang Maura.
"Kalian bubarlah. Biarkan aku bersama Maura" Ares sebenarnya ingin protes tapi tak jadi karena nada bicara Gillard yang tegas seolah tidak ingin dibantah.
.
Kruyuk
.
Maura segera memegang perutnya dan menahan malu karena perut kelaparan nya membuat suasana suram disana menjadi cerah seketika... Karena Gillard dengan laknatnya ketawa keras.
"Tertawanya puas amat pak, nih pegawainya kelaparan loh" Maura bertambah kesal karena perutnya terus berbunyi.
"Itu lapar apa kebelet... Gitu amat bunyinya... Hahaha" Maura akan memukul kepala Gillard jika lupa kalau pria itu atasannya.
"Apa anda tidak memiliki makanan?" Sejauh mana memandang Maura belum melihat area dapur juga ruang makan di kastil ini.
"Tidak ada makanan untuk manusia di tempat ini. Kau harus mencarinya diluar" mendengar ucapan Gilar, Maura menatap kearah jendela. Diluar terlihat sangat gelap juga menakutkan.
"Pasti hanya sisi sana saja yang hutan. Yang lainnya pasti tidak" Mata Maura mengedar mencari jendela disisi lain kastil.
"Kastil ini dikelilingi hutan. Paling dekat dengan pemukiman di sebelah selatan berjarak 500 km" Maura syok mendengar penjelasan Gillard.
"Ini kastil atau penjara?!" Gillard tersenyum maklum melihat reaksi Maura.
"Lagian jika kau berhasil keluar dari hutan tidak ada yang jualan makanan manusia disini, yang ada kau malah diincar sebagai bahan dagangan mereka" Bulu kuduk Maura merinding membayangkan ia menjadi santapan para makhluk di dunia ini.
"itu artinya aku mati disini, entah mati disantap makhluk atau mati karena kelaparan" ucap Maura lemas.
"Kau sungguh merepotkan" ucap Gillard sembari berdiri dari duduknya.
Maura memekik saat Gillard mengangkat tubuhnya, harusnya juga ia segera memberontak bukan malah memandangi wajahnya. Dari dekat pak Gillard terlihat 100 kali lebih tampan.
"Pejamkan matamu. Aku tidak ingin kau mengotori bajuku" untuk pertama kalinya Maura tidak merasa terintimidasi dengan ucapan Gillard. Aku tidak rela mengakhiri pemandangan indah ini.
"Tutup matamu Maura!" Gillard tersenyum melihat Maura langsung menutup matanya.
.
Wush
.
Maura seperti terkena terpaan angin berembus kencang, tapi itu hanya sesaat.
"Ku rasa disini kita bisa mendapatkan rusa. Buka matamu Maura" Maura membuka matanya, bukannya menatap sekeliling ia malah menatap wajah Gillard.
"Berhenti mengagumi wajahku! Kau seperti ingin menyantap ku saja. Makananmu ada didepan sana" Gillard menurunkan Maura, lebih tepatnya mendudukkannya di kursi depan gubuk tua.
"Mata anda indah" Gillard terkejut mendengar ucapan Maura, biasanya manusia akan ketakutan melihat matanya.
"Berhenti memandangiku" Gillard mengalihkan pandangannya kearah depan mencari mangsa.
"Apa yang akan aku makan di tengah hutan seperti ini pak?! Disini sangat gelap" Maura panik karena ia tidak bisa melihat apapun, satu-satunya sumber cahaya adalah mata Gillard. Mata pria itu menyala di tengah kegelapan.
"Kau membuat mangsaku kabur Maura! Diam lah dan kau akan mendapatkan makananmu" Maura menutup mulutnya dan ia tiba-tiba merasakan angin kencang dari sampingnya.
"Ada ap-dimana dia?!Pak Gillard?!?!? pak Gillard dimana pak?!?!" Maura panik melihat disampingnya sudah tidak ada orang.
"Aku penasaran kenapa suaramu tidak habis walaupun daritadi sering berteriak" ucap Gillard yang keluar dari semak-semak depan gubuk sembari membawa seekor rusa besar di tangan kanannya.
"Bagaimana bisa kau dari sana?! Apa yang kau bawa?!" Dari kejauhan terlihat seperti membawa hewan kecil karena Gillard hanya menggunakan satu tangannya. Tapi setelah Maura berlari mendekat, ia terkejut melihat rusa besar yang masih membuka matanya ditenteng Gillard dengan sangat ringan.
"Rusa. Aku rasa ini cukup mengenyangkan untuk kita berdua" Maura hanya diam tidak menjawab. Bukannya cukup lagi pak... Buat seminggu juga cukup itu mah.
.
Gillard dengan telaten membersihkan daging rusa dengan cepat. Ia memberikan potongan rapi kepada Maura agar dibakar.
"Segitu saja cukup?" Maura hanya meminta beberapa potongan bahkan tidak ada seperempat bagian. Potongan daging itu kini berada diatas bara api.
"Ini sangat cukup untuk ku. Sisanya- apa yang kau minum?!" Maura terkejut dengan isi gelas yang sedang diminum Gillard. Warna merah gelap yang sangat tidak asing.
Ngomong-ngomong tentang gelas... Gubuk disana tersedia berbagai alat makan. Gubuk itu tempat biasa Gillard berburu.
"Darah rusa. Kau mau?" Gillard dengan santainya mengulurkan gelasnya dan membuat Maura langsung mual karena bau amis yang menyengat.
"Kau itu bukan manusia?" Seketika Maura merasa bulu kuduknya berdiri.
"Tentu saja. bukankah itu sudah jelas?!" Banyak hal yang berbeda dari manusia yang ditunjukkan Gillard.
"Kau tidak memakan manusia?!" Maura masih menjaga jaraknya.
"Aku pemangsa kalian. Tapi tenanglah Maura... Aku membutuhkanmu" ucap Gillard yang berjalan menjauh dari Maura. Ia duduk di kursi depan gubuk sembari menenggak habis darah rusa. Gillard membiarkan wanita itu menjernihkan Pikirannya.
"Kau vampir?" Gillard menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Maura.
"Kenapa kau baru terlihat ketakutan seperti itu?! Saat kau dikelilingi para siluman kau terlihat biasa saja" Maura mengangguk setuju, hanya saja ia tak menyangka bos nya itu bukan manusia.
"Aku hanya terkejut. Apa-apaan wajah sedih mu itu?! Kau tidak membiarkanku menikmati surprise yang kau berikan" ucap Maura sembari melangkah mendekat kearah perapian untuk membalik dagingnya.
"Kau manusia yang unik Maura. Bagaimana bisa kau tidak takut dengan kami. Padahal kau berada ditempat yang sangat berbahaya" Naura menaikkan satu alisnya saat mendengar ucapan Gillard.
Dunia perbatasan diciptakan bukan untuk manusia tapi bukan berarti manusia tidak bisa masuk kesana. Manusia bagi makhluk dunia perbatasan adalah santapan istimewa.
"Kalian baik padaku. jika kalian memang makhluk pemakan manusia bukankah sejak awal kalian tidak akan menyelamatkanku?" Raco sudah mengatakan posisi manusia di dunia ini, dan ia merasa aneh pada orang-orang disekitarnya yang tidak menganggapnya mangsa.
"Kau wanita yang cerdas. Bagi seorang penguasa sepertiku darah manusia tidak lagi hal yang penting. aku bebas membawa keluar masuk manusia dari dunia ini dan tentu saja para bawahan ku tidak bisa begitu saja memangsa manusia yang aku bawa"
"itu berarti jika aku pergi sendirian bertemu siluman lain mereka akan menyantap ku?" Gillard mengangguk membuat Maura melebarkan matanya.
"Kalau begitu kau harus selalu disampingku" ucap Maura sembari membawa daging yang sudah makan, ia menyodorkannya kearah Gillard. Anggap saja itu sogokan.
"Makanlah. Aku lebih suka daging mentah" Gillard menunjuk kearah piring yang berisi daging rusa mentah yang sudah dipotong dadu besar.
"Makanlah. Kalau kurang katakan padaku, aku akan memotongnya untuk anda" Maura membawa piring itu mendekat pada Gillard.
.
"Ini sangat indah" ucap Maura yang berbaring diatas rumput memandangi keindahan langit malam. Ribuan bintang terlihat meramaikan langit malam.
"Bangunlah Maura. Kau harus mulai berjalan agar segera sampai ke kastil" ucap Gillard yang baru saja keluar di gubuk.
"Kau tidak akan menggendongku lagi?! Anda harus bertanggung jawab membawaku kembali ke kastil" Maura bergegas bangun mendekat kearah Gillard.
"Tidak mau. Kau berat ditambah kau kini sudah kenyang beratmu pasti bertambah" mendengar ucapan Gillard, Maura merasa tersinggung. Bukankah artinya pria itu mengatainya gemuk?
"Aku tidak mau jalan. Aku bahkan tidak tahu dimana letak kastil mu. Aku tidak tidak jauh beda dari rusa yang tadi kau bawa" Maura memohon. Ayolah... Ia tidak ingin ambil resiko bertemu siluman dalam perjalanan mencari kastil.
"Kau sungguh sangat merepotkan Maura. Harusnya kau pulang saja" Meski mengeluh, Gillard tetap mengangkat Maura. Membawa wanita itu dengan bridal style.
"Saat kita kembali ke dunia manusia, saya akan bekerja keras membantu anda hingga anda tidak perlu bekerja keras" Maura tersenyum melihat wajah Gillard dari dekat lagi.
.
.
Maura merasa ketakutan karena semua mata menatapnya lapar. Kini Maura dan Raco berjalan ditengah pemukiman untuk bertemu Gillard yang entah kapan sudah meninggalkan kastil menuju hulu sungai Mapta.
"Kau tidak akan menjadi pusat perhatian jika tidak menolak tawaran untuk menggendongmu" ucap Raco yang bersiap dengan pedangnya jika salah satu siluman tidak tahan untuk menyerang.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh tubuhku" selain masih kesal dengan ulah Raco kemarin, ia juga tidak ingin sentuhan Gillard ternodai. Maura langsung menggeleng mengusir pemikiran anehnya.
"Ayo cepatlah berjalan. Mereka terlihat sangat sulit menahan bau wangi tubuhmu" Maura mengangguk setuju dan mulai berlari agar segera keluar dari pemukiman.
.
.
Gillard sedang mengamati mata air yang mengalir di daerah kekuasaannya. Ia mendapatkan laporan bahwa air yang mengalir kini tercemari dengan sesuatu yang buat para makhluk lemas.
"Aku tidak tahu apa ini tapi kurasa ini sangat sulit untuk dinetralkan" ucap ares Setelah mencicipi air itu. Racun yang mengalir dari sumber mata air itu kecil, hingga tidak membuat Ares lemas tapi ia masih tetap bisa merasakan perbedaannya.
"aku melihat para muon kecil ber berkeliaran di sumber air kalian, itulah yang membuat sumber air kalian yang tercemar dengan racun dari tubuh mereka" ucap seorang wanita cantik yang keluar dari mata air. Wanita cantik nan anggun dengan kaki duyung.
"Kau berenang terlalu jauh Milky" ucap Gillard yang memperlihatkan ketidaksukaannya pada wanita itu.
"Aku datang setelah mendengar kabar sumber mata airmu tercemar. Aku datang untuk membantu"
"Untuk masalah seperti ini hanya akan menyia-nyiakan energi mu, bahkan Ares saja bisa mengusir para moun. Bantuan yang bisa kau berikan pada ku yaitu mengatakan pada Vin untuk membatalkan perjodohan konyol kita" Milky terlihat santai mendengar penolakan langsung Gillard, itu bukan hal yang aneh bagi Milky.
"Aku tidak bisa Gillard. Membiarkanmu sendirian hal yang sia-sia bagiku. Kau terlalu tampan untuk dibiarkan menjalani hidup seorang diri"
"Kurasa kau terlalu mengkhawatirkan ku, Milky. Tapi kalau tidak perlu lagi merasa khawatir, karena aku sudah memiliki seseorang yang yang mendampingi ku menjalani itu hidup" Milky tertawa saat mendengar ucapan Gillard. Pasalnya penguasa tampan itu sudah ratusan tahun memilih menyendiri, bahkan ia terlalu kasar dengan betina.
"Aku sudah memilikinya sebagai istriku" tunjuk Gillard kearah Maura menampakkan diri sendirian.
.
.
End