Sebuah pesawat jurusan jakarta meluncur tenang di atas udara, setelah beberapa jam menunggu Karna pesawat mengalami keterlambatan, juga cuaca yang kebetulan sedang gerimis. Di dalam pesawat itu, seorang cowok berumur tujuh belas tahun tertidur dengan mulut separuh terbuka. Suara dentum dentum keras terdengar dari headphone besar yang merosot dari telinganya dan malah melingkari lehernya.
Seorang anak perempuan menatap wajah cowok di depannya itu dengan cermat. Ibu dari anak perempuan itu juga sedang terkantuk-kantuk.
Anak perempuan itu bangkit dan mendekati cowok di depannya. Dia memperhatikan iPod yang ada di tangan cowok itu, lalu menjulurkan tangan, bermaksud menyentuhnya.
"Jangan!" seru cowok itu, membuat anak perempuan itu tersentak kaget. Namun, mata cowok itu masih terpejam. Rupanya, dia hanya mengigau. Anak perempuan itu menghela napas lega, lalu kembali menjulurkan tangannya.
Tiba-tiba, cowok iti bergerak gelisah.
"Jangan! Lepasin gue!! JANGAN!!!" seru cowok itu. Si anak perempuan terlonjak kaget dan akhirnya jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa?" kata ibu dari anak itu.
Rupanya ibu itu terbangun karena teriakan keras si cowok.
"Ada apa, Lani?" Anak perempuan bernama Lani itu dengan segera menangis, lebih karena kaget. Ibu si anak menenangkannya, lalu melirik tajam ke arah cowok tadi. Gugat , si cowok tadi, masih terlalu kaget dengan mimpinya.
Tiba tiba seorang pramugari dengan lagak berjalan ke arah anak tadi sambil bergumam "hussttt... Kenapa nangis, main ini aja," guraunya pada anak perempuan tersebut sambil memberikan sebuah mainan, berharap agar anak itu tidak menangis lagi. Gugat malah bertingkah lucu menirukan gaya bicara pramugari itu. Mimpi buruk yang mungkin menghampirinya ,seperti tak dihiraukannya.
Aku menatap kearah gugat, aku melihat gugat menyeka keringat dingin yang mengalir deras di wajahnya, lalu menatap si ibu yang juga menatapnya tajam.
"Oh. Maaf, Bu," kata Gugat setelah melihat Lani masih terisak meski sebenarnya dia tak tahu persis apa kesalahannuya. Si ibu tidak begitu peduli dengan permintaan maaf gugat, bahkan membuang muka. Gugat menggigit bibirnya merasa bersalah, lalu membetulkan duduknya. Setelah memastikan si ibu tidak kembali menatapnya, Gugat memasang kembali headphone nya. Aku justru bingung harus menanggapi bagaimana, kebetulan aku duduk disampingnya. Aku dan teman baruku itu baru berkenalan ketika berada dikapal jelatik, itupun ala kadar Karna dia yang lebih sering tidur daripada ngobrol.
Aku menghela napas berat Karna capek. Kini kami sudah sampai di bandara Soekarno hatta. Saat itu, ustadz Hasan, yang mendampingi kami, memberi tahu kalau kami akan lanjut dengan menaiki bis kemudian menaiki travel , melewati indahnya malam di beberapa kota hingga sampai ketempat tujuan. Aku, gugat dan juga jaya berjalan ke luar bandara, lalu menatap ke sekeliling.
Sekitar dua hari lalu, aku sengaja me searching tentang profinsi Jawa tengah juga kota solo raya tempat yang akan menjadi ruang untuk kami tholibul ilmi, diantara aku ,gugat dan jaya tak ada satupun yang pernah terfikir kalau kami akan pergi ke sana. Selain itu, kami juga sama sekali tak tahu menahu tentang kota itu. Nekat. Itulah modalnya datang ke kota ini. Sekarang, kami tak bisa mundur lagi. Meski kami punya latar belakang dan alasan yang berbeda tapi kami punya satu niat , kami sudah mantap akan belajar di sini, di ponpes.
Sebuah teriakan cempreng terdengar dari dalam kamar nomor sepuluh. Penghuninya aku dan beberapa teman, aku sedang tergeletak di lantai sambil menjambaki rambutku frustasi. Tak lama, aku bangun dan menatap buku tulis yang ada di depannku. Di kertas bergaris itu, terdapat tulisan yang masih menunggu untuk diselesaikan. Aku memelototi tulisan itu, berharap dengan begitu aku akan mendapatkan inspirasi untuk meneruskannya.
"Oh, inspirasi!! Datanglah!!" seruku lagi. Aku mengatupkan kedua tangan dan mengarahkannya ke langit-langit seperti sedang menjampi-jampi orang. Aku kembali menatap buku catatanku tetapi tak ada inspirasi apa pun yang datang. Aku menghela npas, meraih gelas di sebelahku, dan meminum isinya, kopi. Cairan hitam yang akhir-akhir ini selalu jadi favoritku. Aku melirik papan target yang ada di sebelah lemari, Di sana tertulis: Menjadi Penulis Best Seller. Aku mendesah. Jangankan best seller, jadi penulis aja belum tentu.
"AAAHHH! KEZZEELLL!!" seruku kemudian , membuat temanku yang terlelap disampingku terganggu.
"Ada apa, sih?" gumam gugat. Dia bergerak mengambil sebuah buku tulis disampingku. Gugat menengadah untuk melihat tulisan di sampul buku yang ditempeli hiasan bertuliskan nama pemiliknya: misla calon penulis best seller.
"Ngak mungkin," seru gugat dengan wajah bantalnya.
"Lah, kenapa," tanyaku tak terima.
"Kamu aneh!," Jawabnya enteng.
Aku semakin kesal, ini anak omonganya sama teman baru gak ada manis-manisnya.
"Pertama, kamu emang aneh dari awal, yang lain dari Riau semua bawa koper penuh , kamu cuman bawa tas ransel, emang kamu kira mau nginep rumah nenekmu apa? bawa baju cuman 2 helai!" kata gugat sambil menguap lalu kembali keposisi tidurnya. Aku terkesiap, Selama beberapa hari mengenalnya, sepertinya itu adalah kalimat terpanjang yang dia ucapkan. Aku cuma nyengir, emang benar adanya , aku jauh-jauh dari Riau ke Jawa tengah cuman bawa bekal dua helai baju kaos,dua sarung , satu baju kurung melayu dan uang jajan 300 ribu , apakah aku emang aneh?
Aku mengambil buku tulis ku dari tangannya tak semangat, kemudian Aku keluar kamar dengan menguap lebar sambil melakukan gerakan-gerakan kecil untuk melemaskan ototku, juga otak, memang selain sibuk dengan kegiatan ponpes aku juga menyempatkan diri untuk menulis ala kadar , sekedar meluangkan hobby. Namun akhirnya aku urungkan kegiatan menulis ku Karna takut menganggu fokusku dalam menghafal. Teringat kembali saat-saat dimana aku memutuskan untuk mondok, aku tersenyum sekilas , aku juga ingat bagaimana teman teman menyumbangkan beberapa pakaian untukku , yang tiba tiba sudah tertata rapi dilemari. Aku bersukur dalam hati. ternyata teman yang baik tidak hanya ada dicerita fiksi tapi didunia nyata.