Dipondok, ada beberapa tempat hang out favorit anak-anak santri , buat ngobrol sampai berbusa-busa. Salah satunya adalah dapur mini yang berisi kompor gas, panci butut , dan kulkas umum. Anak anak sering ngerumpi heboh sambil antri bikin indomie telur di situ. Tentu gak semua, ada juga yang cuman modal wajah melas , terus minta jatah. Wkwk,,, ngak apa-apa, namanya juga seatap harus tetap solid walau sulit. Adasih tempat hangout lainya , seperti kandang sapi, walau sapinya ngak ada, katanya sih dulu sering ada penampakan, *Ih serem..., Ada juga kebon belakang pondok , atau kursi disamping kamar mandi, tempat nongkrong rame-rame.
Nggak kalah asyik, di ruang tengah tentunya, dimana ada kamar tempat ku berada dengan karpet berbau apek tapi nyamaan banget ditiduri, hehehe ..., apalagi pas aku diberi kesempatan buat pegang hp sebagai portal dunia luar. Temen-temen juga kadang komen, katanya kalau aku gak pernah bantuin Ghani, temanku sekamar , buat bersihin karpet, fitnah banget kan? Tapi kenyataan aku emang gak pernah bantuin dia. Dasar pemalas.
Suatu malam kami berkumpul. seperti biasa, kita sebenarnya jarang ngumpul bareng. Kecuali ada santri dermawan yang berbaik hati berbagi , entah itu jajanan atau lainya, intinya yang bisa dimakan. Aku juga ikut, disana telah ada sekardus susu ultra milk ukuran jumbo untuk kami nikmati bersama. Hening. Rian, salah satu santri membuka percakapan mengejutkan. Dia akan resign dari pondok , Aku kurang tahu alasannya kenapa, yang jelas sepertinya belum langkah 4 bulan dia di pondok. Akhirnya anak yang terkenal kalem , formalitas dan peduli lingkungan itu, oh, iya, satu lagi, dia sangat peduli teman, meski akhirnya dia melangkahkan kaki juga. Kami memberikan kesan maaf satu sama lain , takutnya jika ada prilaku diantara kami yang buat dia nggak berkenan.
"Aku cuma nitip, tolong lebih peka lagi terhadap lingkungan, peduli sama kucing yang ada dipondok. Jangan dikasi minyak angin kaya kemaren", kata rian mengingatkan. Memang ada kejadian konyol , dimana salah satu teman dengan tanpa dosa mengolesi minyak angin ke ibu meong berikut anak-anaknya , wah, efeknya bukan main , si meong mengeliat-geliat seperti cacing kepanasan, kan kasian.
"Cie, yang ngikutin jejaknya adam," kataku membual. Kebetulan dia berkunjung keasramaku pagi itu.
Dia hanya tersenyum canggung, "hehe pengen cari pengalaman baru aja,"
"Jam berapa kamu dijemput," tanyaku kemudian.
"Enggak tahu, mungkin ba'da Dzuhur. Oh iya, kalau kamu mau nomor wa aku, kayaknya ada pada Zaky, kamu bisa tanya. Emm, tapi mungkin aku jarang aktif . Kalau mau berbalas kabar, lewat email ku aja, ya," Katanya sambil tersenyum.
"Ok, aku masih belum nyangka kalau bakal secepat ini, tau-tau, kamu mutusin buat keluar. Bisa nonton piala dunia dong, hahah... Kan udah nggak di pondok." Kataku sedikit bercanda. Santri yang baru menyelesaikan hafalan 3 juz nya itu hanya membalas senyum.
Sebenarnya beberapa hari ini dia memang sering meminjam hp ku, kebetulan karna aku yang lagi sakit, jadi diperbolehkan untuk memegang hp untuk berkabar ke orang tua.
Aku juga cukup sedih, meski kami memang gak terlalu akrab, dan dia yang terlalu banyak privasi, tapi kami masih sering ngobrol dengan tema umum. Walau kadang ngak nyambung, Karna emang ngak sefrekuensi , dia yang bercita cita membuat bom nuklir, dan aku yang bercita cita jadi pebisnis, kan bisa berabe kalau digabungin, bisa-bisa aku nya malah jadi pebisnis bom atom lagi, hadehh!.
Tapi meski begitu , dia itu tipe anak yang peduli banget, udah kaya dokter atau aktifis lingkungan deh pokoknya. pernah aku iseng ngerusak daun pohon Karna gabut.
" Mis, jangan dirusak daunya , daun itu pemasok oksingen , bayangin kalau kita hidup tanpa oksigen," kata rian mengingatkan.
Ngak cukup sampai disitu, pernah juga aku nyalain kipas angin terus aku tinggal .
"Mis-mis, kamu tuh ngak peka lingkungan ya?!jangan dinyalain kalau ngak dipakai , bisa menyebabkan pemanasan global tau." Aku cuma mengangguk mengiyakan , walau hati kadang dongkol. Ih, emang aku salah sih tapi. Jadi dia itu emang teman tipe langka, seumur-umur belum pernah aku nemu manusia setipe dia.
Tapi pas aku lagi sakit, dia selalu siap sedia diasramaku , katanya kalau ada butuh apa-apa bilang kedia aja, jadi kadang dia ngaji juga di ruanganku yang bersekat 8 almari , sambil mantengin aku yang sibuk sama hp.
"Mis kamu nggak ngaji ya , berubah banget kamu pas lagi sakit" katanya mengingatkan
Srukkk..., seperti ada pisau yang nikam di ulu hatiku, Aku diam, nyengir kuda, meski rasanya pait, tapi aku senang ternyata ada juga teman yang masih peduli soal agamaku, saling mengingatkan.
"Iya nanti aku ngaji" jawabku tersenyum. Sekilas dia terlihat terlalu formal memang. Tapi dia peduli. Dia juga meminjami koleksi buku-bukunya, agar aku ngak bosan. Ada novel dan buku buku motivasi yang berkisah, bahwa banyak orang yang lebih menderita dari pada musibah yang menimpaku, bahkan ngak ada seujung jarum kalau dibandingkan dengan penderitaan mereka, seperti dalam buku Tatto Chan yang menceritakan anak anak diseluruh dunia yang terkena krisis air dan penyakit menular, buku itu ditulis oleh duta Unicef asal Jepang . Ada juga novel guru Aini karya Andrea Hirata , yang bercerita tentang seorang perempuan bebal matematika yang bercita-cita menjadi dokter untuk mengobati ayahnya yang sakit. Sehingga ia belajar mati Matian agar bisa menggapai cita citanya.
Rian itu emang baik, meski kalem tapi enak diajak ngobrol , walau bercandaanya kadang garing , aku tetap coba tertawa. Memamerkan deretan gigiku yang gak rata .
Kalau gabut dipondok kadang kita juga main tebak tebakan.
"Negara-negara apa yang punya bulan?" Kata gugat memberi tebakan.
"Negara China," tebakku.
"Salah"
"Loh kan emang negara China yang buat bulan buatan," belaku.
"Sayangya salah," katanya dengan wajah datar.
Teman teman lain ikut menebak
"Korea"
"Eropa"
"Brazil"
"Jepang"
"Selat panjang"
Setelah beberapa sesi menjawab akhirnya kami mengalah barulah dia memberi tahu kalau jawabanya adalah bulanda (Belanda) Entah apa yang lucu, tiba tiba dia terkekeh bangga. Huh.
Beranjak dari tebak-tebakan, kadang-kadang temanku yang lain berkomentar, apalagi setelah rian nggak lagi dipondok.
"Haha... Kasian deh mislah, dah nggak ada yang beliin paket internet," cetus salah seorang teman.
"Emang aku pernah minta dibeliin?!" Kataku jengah.
"Tapi ngarep kan ?" Katanya lagi.
Aku memutar bola mata , kalau dilanjutin bisa nggak selesai selesai nanti.
"Pantes aja sedih, ternyata udah nggak ada lagi yang beliin kuota," kata yang lainnya.
Emang nya hidup gue cuman soal kuota apa , dari tadi bahasnya kuota Mulu. Walaupun benar sih tuh si Rian , yang selama ini ngisiin paket pas aku sakit.
Lebih parah lagi, ketika mereka baca puisi yang aku pos diinstagram, bahkan ada santri junior yang membacanya dengan lantang , kebetulan dia lagi diasrama sebelah. Otomatis suaranya kedengeran , sambil cengengesan, huh bikin malu aja.
"Puisi nya seakan dekat aja, padahal nggak Deket"
"Mis, Kayak mau ditinngal mati aja," kata yang lainya.
Jadi dipondoku yang bertipe rumah joglo dengan filosopinya itu memang banyak memngandung cerita, ada sitokoh utama yang selalu punya cerita dan situkang kritikus, ada juga situkang debat, tapi ada juga si masa bodoh dengan semuanya, mending baca novel, hehehe.
Ada beragam kisah, mulai kisah jenaka, kisah horor yang turun temurun , sampai kisah gak jelas , tapi dominan kisah religius. Apapun itu , pondok itu adalah tempat yang sakral, tempat belajar agama , kami rukun satu sama lain meski kadang juga sering bercanda , hidup itu indah kalau beretika dan punya estetika.