Beberapa kali kejadian dalam hidupku yang telah lama kulupakan terkadang muncul kembali dalam ingatanku. Seperti saat ini, terlintas begitu saja sambil lalu, dan aku hanya ingin menuangkannya dalam sekelumit coretan tulisan saat aku mengingatnya.
Dalam ingatanku, hingga saat ini mungkin ada sekitar 4 sampai 5 kali aku hampir bersinggungan dengan maut.
Kejadian pertama saat aku masih SD kelas 1 atau 2 aku lupa. Waktu itu ada isu tentang ditemukannya kadal dengan ekor bercabang yang setelah dijual harganya lumayan tinggi, mungkin untuk koleksi orang-orang dengan hobi tertentu.
Entah ini berita dari mana, tetapi setelah berita itu menyebar ada keinginan dari orang-orang untuk memiliki keberuntungan seperti itu juga,tak terkecuali anak-anak sepertiku.
Banyak anak kecil yang berpikiran sepertiku, berharap menemukan kadal dengan ekor yang bercabang seperti yang diberitakan. Kebetulan dilingkungan kami bermain sering ditemukan banyak kadal berkeliaran.
Saat aku bermain sendirian di samping rumah, tanpa ada siapapun disekitarku, di sela-sela tumpukan batu aku melihat sesosok kepala kadal menyembul keluar dari tumpukan batu.
Ah betapa senangnya hatiku bertemu dengan kadal yang lucu dan pemalu itu. Aku gembira sekaligus penasaran ingin melihat apakah ekornya bercabang atau tidak.
Segera aku mendekat ingin meraih dan menangkapnya. Tetapi, saat tanganku terulur, hanya dalam jarak beberapa centi...kadal itu menggembungkan lehernya dan menegakkan tubuhnya, melihatku waspada.
"Astaga!..Ular Sendok!"
Sebelumnya, karena belum merasa terancam, ular itu tidak menggembungkan lehernya. Dan yang terlihat hanya bagian kepalanya saja yang terlihat sama persis dengan kepala kadal. Jadi aku mengira itu tadi adalah kadal, bukan ular, dan hendak memegang dan menangkapnya.
Beruntung meskipun aku masih kecil, instingku cepat bekerja dan aku tahu itu berbahaya jadi aku menghentikan tanganku dan mundur perlahan. Untungnya aku menghentikannya tepat waktu dan ular itu tidak jadi menggigitku.
Kejadian lain terjadi saat aku tinggal di Kalimantan. Dibelakang komplek Aspol Sei Raya Dalam adalah rawa-rawa. Pagi hari setelah hujan semalaman aku hendak membuka pintu dan mengambil helm yang ditaruh di lantai. Helmnya berbentuk mangkuk dan dalam posisi tengkurap ditaruh dilantai untuk mengganjal pintu agar tidak terbuka didorong angin. Saat aku mengangkat helm dengan tanganku, segera dibawahnya terdengar suara mendesis dan terlihat seekor kobra berdiri sambil menggembungkan lehernya.
Rupanya ular itu ketika hujan semalam bersembunyi dibawah helm mencari tempat yang hangat dan nyaman. Tapi sialnya, kenapa dibawah helmku?..untung saja aku tak menyentuhnya, meski tanganku sempat berjarak beberapa centi saja darinya, meski kami sama-sama kaget, ular itu tak sempat mematuk. Nyaris saja..., jika saja tanganku tadi menyentuhnya sedikit saja...
Kejadian lain mungkin sekitar kelas 3 atau 4 SD. Saat itu belum ada rakit pelampung karet untuk rafting/tubing seperti zaman sekarang.
Saat musim bermain rakit, rakit dibuat dari beberapa buah pohon pisang yang ditebang, dijadikan satu, dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah rakit lalu di paku dengan bambu. Rakit lalu letakkan diatas aliran sungai hingga mengambang. Aku bermain dengan teman-temanku dengan gembira, dengan dua orang mengayuh dayung dari kayu, kami naik rakit mengikuti arah aliran sungai dari hulu hingga hilir. Inilah kesenangan rafting/tubing zaman itu.
Suatu ketika, salah satu teman iseng menjatuhkan dan sengaja menyeretku ke bagian yang sangat dalam. Di dalam air aku yang tak bisa berenang, gelagapan tak bisa bernafas dan menelan begitu banyak air. Beruntungnya, salah seorang temanku segera menarikku ketempat yang lebih dangkal hingga aku bisa menghirup udara lagi.
Jika terlambat beberapa menit kemudian mungkin aku sudah tidak bernyawa, dan akan menjadi kasus pembunuhan yang disengaja meskipun dilakukan oleh anak-anak.
Hal ini mengingatkanku akan pentingnya memantau anak saat bermain dengan teman-temannya. Terkadang hal -hal yang tidak terduga bisa terjadi, bahkan bercandapun bisa menjadi sangat berbahaya.
Kejadian lain saat gempa Jogja 2006.
Saat itu, seperti biasa di pagi hari sebelum mandi dan berangkat kerja, aku duduk bermeditasi.
Tiba-tiba terjadi gempa. Pertama, guncangan masih terasa pelan. Aku beranggapan bahwa mungkin ini adalah gempa seperti gempa-gempa yang biasanya sering terjadi, pelan dan nantinya akan menghilang sendiri. Jadi aku diam dan masih duduk dengan tenang.
Lama-lama getaran semakin kencang. Gunungan atap diatasku ambruk tepat beberapa centimeter didepanku menimpa ranjang besi tempat aku duduk hingga bengkok. Dan bukannya gunungan beton itu, aku hanya tertimpa material yang terbilang ringan dari atas. Jika aku maju sedikit..beberapa centi saja..tak bisa kubayangkan jika itu menimpa kepalaku.
Kemudian, entah kenapa meski goncangan besar, aku tak merasa panik saat itu. Dengan tenang kubuka pintu kamar yang aku kunci dari dalam, dan aku melangkah ke ruangan-ruangan yang lain mencari keluargaku.
Semua selamat, tidak ada yang terluka. Aku hanya bilang kepada keluarga bahwa Gunungan atap di atas kamarku roboh dan hampir menimpaku. Lalu aku pergi mandi dan berangkat ke kantor seperti biasa.
Aku beraktifitas seperti biasa, tanpa menyadari betapa parahnya imbas kejadian hari ini. Maklum, waktu kejadian itu di pagi hari, dan aku terburu-buru berangkat kerja, jadi tidak begitu memperhatikan lingkungan tetangga sekitar. Aku menganggap semua masih dalam tahap wajar-wajar saja.
Pukul 8 pagi aku sampai di kantor dan hanya beberapa rekan kerja yang sudah datang. Kami menunggu diluar. Di seberang jalan tampak orang-orang ramai berlalu lalang sambil membunyikan klakson kendaraan mereka.
"Apa yang terjadi?"
Ada orang yang berteriak "Banjirr...banjirr!..wis tekan Prambanan!"
"Apa? Banjir?.."
Tiba-tiba semua orang mulai panik, teringat tentang kejadian Tsunami Aceh, khawatir kalau kejadian itu akan menimpa kami juga. Lalu kami yang hanya beberapa orang dikantor memutuskan pulang kerumah masing-masing.
Baru di kemudian hari aku tahu betapa parahnya akibat yang ditimbulkan dari gempa kali ini. Banyak rumah yang rusak, gedung yang roboh, dan kurang lebih 5000 orang yang meninggal akibat kejadian kali ini. Dan aku hampir menjadi salah satunya.
Segera aku bergabung dengan kelompok relawan gabungan berkeliling memberi bantuan kebeberapa lokasi bencana. Banyak orang yang terluka dan banyak pula mayat-mayat yang tergeletak begitu saja di halaman rumah sakit.
Setelah pengalaman ini, setiap kali ada gempa, meski getarannya hanya kecil, aku menjadi lebih waspada.
Kejadian lain mendekati maut saat bus wisata yang kutumpangi tak kuat menanjak di tanjakan curam dan akhirnya terguling hingga ke pinggir jurang.
Wisata yang akan kami kunjungi adalah wisata kebun buah Mangunan yang untuk mencapai lokasinya melewati tanjakan curam dan terjal.
Jalan ini terbilang sempit, berupa perbukitan menanjak dengan sisi sebelah kiri adalah jurang, tanpa pagar pembatas, dan hanya cukup dilalui 2 kendaraan roda empat saat berpapasan dengan berjalan pelan.
Bus yang kami naiki berukuran kecil. Ada beberapa bus, tetapi hanya satu bus yang mesinnya mati saat menanjak, yaitu bus yang aku tumpangi.
Mengetahui ada yang tidak beres saat mesin bus mati dalam posisi menanjak, kernet bus segera melompat keluar berusaha untuk mengganjal roda.
Akan tetapi karena kejadian terlalu cepat, kernet tak bisa mengejar waktu untuk mengganjal roda bus. Buspun segera meluncur dan dengan cepat mundur kebelakang. Begitu cepatnya, sudah terlambat, kamipun tak sempat melompat keluar.
Saat kejadian posisiku duduk di bagian kursi paling belakang. Dan saat bus tak kuat menanjak dan mundur dengan cepat, aku menengok kebelakang dan berpikir, jika bus ini berbenturan dengan kendaraan-kendaraan lain dibelakangnya, maka yang pertama kali tertabrak adalah aku dan orang-orang yang duduk sederet denganku.
Diantara hidup dan mati akupun pasrah saja. Apapun kejadiannya aku terima.
Tak berapa lama laju buspun menjadi zig-zag dan akhirnya oleng ke samping kiri, menutup akses pintu keluar bus. Kaca-kaca pecah, besi-besi & kursi terlepas diiringi teriakan histeris penumpang di dalamnya. Pemandangan didalam bus gelap seketika akibat debu yang berhamburan.
Dalam kekacauan, dengan beberapa luka dan memar aku berjalan mencari jalan keluar dengan melangkah diantara orang-orang yang terluka dan tergeletak di dalamnya.
Aku keluar melewati jendela kaca yang pecah, berkumpul bersama orang lain yang selamat dan menunggu hingga polisi menjemput dan mengantar kami ke unit kesehatan dan rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut atas luka-luka, baik yang ringan maupun yang serius. Beruntungnya, setelah meluncur dan oleng, bus tidak sampai jatuh ke jurang, masih ada jarak satu meter dari bibir jurang, padahal tepi jurang tidak ada pagar pembatasnya. Nyaris saja...
Kendaraan-kendaraan lain dibelakang bus bergerak cepat. Begitu melihat bus didepan tak kuat menanjak dan segera meluncur ke atah mereka, segera mereka membanting stir ke kanan dan terperosok ke sisi kanan jalan.
Tak berselang lama, kejadian inipun muncul di berita dan surat kabar.
Ah...,jika mengingat cerita ini aku menyadari bahwa jarak antara hidup dan mati saat itu sangatlah tipis. Dan Hidup adalah anugerah dari Yang Maha Hidup yang tidak boleh disia-siakan.
*****