“AH... AH... AH...”
“You’re good PLAYER honey...”
“HAAH... HAH... HMMM...”
Mata Ilmi langsung menganga. “Ahh, mimpi itu lagi”, gumamnya. Sejak pitutur dari Madame Kee, mimpi itu menggenangi seluruh ingatannya saat matanya mulai terpejam.
Sudah dua tahun Ilmi tersiksa saat cahaya surya tengah berpaling ke sisi lainnya. Kejadian sebelas tahun yang lalu malah membayangi kembangnya dalam mimpi setiap malam.
Entah bagaimana dulu dirinya dapat terdampar di tempat ‘kotor’ ini. Ingatan ketika sebelum umur delapan tahun sama sekali tak dapat diingatnya. Masa itu seakan hanyut diterpa badai kencang, tak menyisakan barang secuil pun.
Saat usianya memasuki delapan tahun, saat itu ia masuk ke lorong neraka pertama kalinya. Anak kecil yang tak tahu menahu arah. Ia tersesat.
Hingga terdengar suara jeritan seorang wanita. Jelas itu adalah suara menjerit, merintih. Tapi, ada yang aneh pada suara yang keluar itu. Seperti amat senang dengan rintihan yang wanita itu keluarkan. Kala itu Ilmi masih tak mengerti arti kata ‘nikmat’.
*********
Dan, tepat dua tahun yang lalu. Ketika usianya memasuki masa era remaja putri. Pembicaraannya dengan Madame Kee yang menjadikan mimpi buruk itu datang tiap malam.
“Ilmi, tahu kah kau nak? Apa arti rumah pelacuran itu?”
Ilmi bukanlah anak bodoh atau berpura-pura bodoh. Bahkan pikirannya lebih dewasa ketimbang usianya saat itu. Menjadi salah satu dari bagian rumah bordir. Tentu saja ia tahu dan paham betul apa dan bagaiman sistem dalam rumah yang telah bertahun-tahun menampungnya menjalankan perannya.
Sejak ia memasuki masa baliqh untuk pertama kalinya. Pikirannya sudah sampai pada hal yang tengan Madame Kee jelaskan padanya. Hanya saja, hatinya tak mampu untuk menyiapkan diri untuk terjun pada pekerjaan ini.
Ia masih memimpikan menjadi manusia normal. Masyarakat yang hidup sesuai norma hukum. Belajar, mencari materi untuk membangun kekayaan, menjadi manusia ‘layak’ yang umum, dan membangun keluarga kecilnya dengan kebahagiaan.
Mungkin impiannya adalah pemikiran orang pada umumnya. Namun, merupakan mimpi besar bagi Ilmi sendiri.
Kata Madame Kee, “Ilmi, saya tahu, kamu adalah gadis penurut dan sopan. Tapi, saat umurmu sudah berada di angka dua puluh, kamu sudah harus dapat menghasilkan uang untuk ‘membalas budi’ pada rumah ‘kotor’ ini”.
Semakin sesak saja dada Ilmi saat itu. Karena hanya mengitung jari saja saat usia yang ditunggu datang. Ilmi tak menempa pendikikan formal. Ia hanya belajar membaca serta menulis.
*******
Hari ini malam menjadi lebih kelam ketimbang biasanya. Dari sore dada Ilmi menggelegar tak ada henti.
Benar, malam ini ia akan membalas budi karena rumah yang ia tinggali sudah menghidupi dirinya. Ia sudah menjalankan ritual yang memakan waktu seharian. Dari spa, mandi air hangat bertabur kelopak bunga mawar, dan dirias dengan make up menawan juga lingeri yang mampu menarik tegukan dama rongga tenggorokan.
Sepuluh menit sudah ia duduk dengan membawa kegundahan ditepi ranjang. Katanya, tamu kali ini amatlah penting. Meski ini adalah pengalaman pertama, para tetua dalam rumah ini sudah mewanti-wanti tiap waktu. “Jangan sampai mengecewakan pelanggan! Jika takut, diam saja! Yang terpenting JANGAN LARI!!! Pejamkan mata jika tak sanggup melihat, pasrah lah! Karena pelanggan sudah mengerti cara ‘memperlakukan’ orang baru”.
Tetap saja. Ujung jari kaki Ilmi sudah seperti menapaki lantai keramik tanpa alas kaki, dingin. Gugup ini tak mampu membuat ia bersikap biasa saja. Ilmi menekuk kedua lututnya, ia meringkuk terduduk.
Sekitar lima menit kemudian, pintu kamar tempat ia menunggu berbunyi. Ilmi tetap diposisi meringkuk nya. Semakin dekat langkah suara sepatu kearahnya, semakin ia tak berani menunjukkan wajah takutnya.
Sebuah telapak tangan membelai lembut rambut Ilmi. Seseorang itu jelas merasakan badan Ilmi yang bergetar.
.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.
Pria itu tadinya hanya iseng saja menanyakan seorang yang masih belum ‘tersentuh’. Ternyata, dalam tiga bulan ia sudah menerima kabar itu.
Pria kaya yang loyal. Begitu para ‘wanita’ di rumah itu menyebutnya. Selama ini ia hanya mengambil seorang wanita untuk menjadi teman minum saja. Cana namanya. Pria muda tampan dan kaya raya. Masih berumur dua puluh tiga tahun.
Panjang ceritanya bila dijabarkan, mengapa Cana dapat mengenal tempat seperti ini. Intinya, ia pernah menyelamatkan salah wanita dari rumah itu dijalan. Dan sebagai tanda terima kasih, wanita itu ingin ‘melayani’ dan membawa ke rumah Madame Kee. Sayangnya, Cana tak ingin melakukan hal yang tak sesuai dengan nuraninya.
Jadilah ia hanya meminta ditemani untuk sekedar minum. Dan sudah dua tahun ia selalu melakukan hal yang sama jika mampir ke ‘gubuk’ Madame Kee.
Dan entah mengapa, saat Madame Kee menghubungi dirinya mengenai candaannya, Cana malah seperti terdorong oleh rasa penasaran. Ia tak ada aba-aba menolak. Cana malah langsung menuju tempat Madame Kee.
.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.*.
Cana mengusap pucuk kepala Ilmi dengan lembut. Ia mengerti bahwa gadis itu tengah berdiri dipinggir jurang yang dalam. Cana mengelus pipi Ilmi, mengengkat mukanya dengan lembut.
“Kamu cantik”, kata Cana. Dan Ilmi yang mendengar suara lirih Cana membuka matanya perlahan. Dadanya seakan mencair saat melihat sosok Cana. “Ya Tuhan... Tampan sekali pria ini. Apakah semua pelanggan disini seperti sosok di depanku?” Batin Ilmi.
Pipi Ilmi menghangat. Cana yang melihat perubahan warna raut Ilmi tersenyum tipis. Ia duduk disebelah Ilmi lalu menggenggam tangan kecil itu.
Cana menyapu pipi Ilmi yang penuh rona agar bertatapan dengan dirinya. “Ilmi namamu benar?” segera Ilmi mengangguk pelan membalas pernyataan Cana.
“Percayakah kamu, kamu adalah wanita pertama yang aku tiduri selama dua puluh tiga tahun ini?” Cana menegaskan.
Mata Ilmi membulat tak percaya, “Benarkah yang tuan katakan?”
“Ilmi, jangan panggil aku tuan. Aku hanya lebih tua tiga tahun dari kamu. Panggil aku Cana!”
“Tapi, kata Madame, tuan adalah pelanggan. Mana berani saya memanggil tuan layaknya memanggil teman?”
“Anggap saja ini permintaan dari pelanggan mu. Lagipula, aku tak keberatan. Jika kau menjadi temanku. Teman perjalanan hidup. Bagaimana?”
Tahu betul Ilmi arti teman perjalanan hidup itu. Kegemaran membaca buku-buku perumpamaan menjadikan pemikiran Ilmi lebih spesial ketimbang wanita-wanita dalam rumah Madame Kee.
Belum lagi Ilmi menjawab tawaran Cana, tangan Cana memegang tengkuk leher Ilmi. Ia menghujami Ilmi dengan kehangatan bibirnya. Untuk pertama kali, bagi Cana, juga Ilmi.
Intuisi manusia itu tajam untuk makhluk sempurna ciptaan Tuhan. Keduanya merasakan hangatnya hasrat yang kian memanas. Cana seperti telah menemukan perempuan yang tepat untuk ia gandeng. Dimalam pertama kali perjumpaan mereka..
Nafas mereka mulai menggebu-gebu. Dan tanpa terasa, keduanya sudah saling melucuti pakaian satu sama lain. Seperti pasangan kekasih sejati. Tak ada sama sekali penolakan.
Hingga Cana merobek dinding mahkota Ilmi. Sempat air mata Ilmi mengalir pada sebelah ujung matanya, karena sakit yang memang sakit. Tapi tak ada ketakutan di sana. Tak ada gaduh yang melanda relung dadanya.
Hingga hanya hasrat yang membuat keduanya terus saling melekat. Dua jam mereka melusuhi bed cover kamar sederhana itu. Hingga kenikmatan itu tersudahi.
Keduanya dibalut oleh peluh-peluh pergulatan asmara. Dan terbungkus oleh selimut tebal berwarna putih, dengan beberapa percik sisa bekas darah yang tak sempat terbersihkan.
Nafas Cana masih terengah-engah, "Hanya aku yang boleh meniduri mu. Karena segera aku akan mengeluarkan mu dari tempat ini!"
"Sebaiknya urungkan saja niat mu, Cana. Jika bukan karena Madame Kee menyelamatkan dan memberiku makan, mungkin tak akan ada hari dimana kita dapat saling menyentuh. Memang berapa harga nyawaku jika anda beli?"
Cana membisu rapat. Benar, pantaskah seluruh hartanya jika ia gunakan untuk menebus nyawa wanitanya? Cana hanya ingin menjadi orang yang paling bahagia, karena bertemu tambatan hati.
Sisi lain dari Ilmi, ia merasa sangat tak pantas dari segi manapun atas pandangan kaum elit seperti Cana. Jelas ia akan menyebabkan beban semata, jika menjadi pasangan hidup Cana.
Lagipula, bukankah ini kali pertama pertemuan mereka. Layak kah jika Cana menyebut telah menemukan dirinya sebagai pendamping hidup?
Mungkin takdir Tuhan memang membatasi angan seseorang. "Aku akan menjadi 'wanita anda' ketika anda berkunjung kemari, Cana".
"Aku akan merunding Madame Kee untuk tak seorang pun kecuali aku yang bisa menyentuhmu, Ilmi. Percayalah, jika Tuhan merestui kita, akan ada cara aku membawamu ke tempat yang lebih layak!"
********
Minggu-minggu berikutnya, Bulan-bulan berikutnya, dan tahun berikutnya, Ilmi hanya menjadi wanita yang melayani Cana. Tiap kali ia mengunjungi gubuk Madame Kee, ia selalu memberi nominal yang tak masuk akal.
Sayangnya, keinginan Cana mungkin tak akan terwujud untuk membawa keluar Ilmi. Meski Cana sudah sangat berupaya. Ada hal yang tak bisa Madame Kee lakukan, jika melepaskan Ilmi.
Tiga tahun terus mereka jalani seperti kekasih yang terbatas tempat, bukan waktu. Hingga satu tahun kemudian, Cana samasekali tak lagi bertandang mengunjungi Ilmi.
Tak tau alamat rumah Cana untuk mengirim sebuah surat. Bahkan nomor ponsel Cana juga tak ia kantongi. Padahal tahun itu ada kabar yang mesti Cana dengar, dan putuskan.
Disaat yang sama, terdengar kabar bahwa Cana sudah beristri resmi karena perjodohan bisnis keluarga. Saat itu, Ilmi memutuskan hal yang bahkan bisa merenggut nyawanya.
*.*.*.*.*.*.*.*.*.
Dua tahun kemudian, Cana menginjakkan langkahnya ke gubuk Madame Kee kembali. Ia bercerita bahwa tiga tahun harus mengurus projects bisnisnya di Amerika.
Saat ia ingin masuk ke kamar Ilmi, Madame Kee berkali-kali melarangnya. Bukan karena Madame Kee tak menepati janji, bahwa Ilmi tak boleh menerima tamu selain dirinya. Akan tetapi, karena memang kondisi Ilmi yang tak lagi dapat menerim 'tamu'.
Jantung Cana begitu sesak diremas cemas. Ia pun memaksa masuk. Ada seorang yang duduk dikursi roda menghadap jendela. Disampingnya ada anak laki-laki kecil berumur dua tahunan tengah lelap terlentang di kasur.
Dengan meremas dadanya, Cana masuk dengan suara jantung yang mampu terdengar telinga. "Ilmi..."
Cana tersungkur di depan sosok yang masih dalam kursi rodanya. Ternyata inilah maksud Madame Kee, Ilmi tak lagi menerima tamu.
"Cana, itu kah anda? Apakah benar anda mengunjungi ku?" Ilmi meraba sosok didepannya dengan berlinang air mata kerinduan.
Madame Kee yang mengikuti Cana sedari tadi tengah bercerita. Tentang Ilmi yang mengandung saat mendengar berita pernikahan Cana. Sampai kejadian yang merenggut pencahayaan mata dan melumpuhkan kakinya.
Cana mengerang dengan tangis menjadi-jadi. Betapa munafik kata manis yag ia sematkan dulu tiap menemui Ilmi. Bahkan ia tak bisa menjaga cinta dan buah kasihnya.
"Jangan bersedih, Cana. Ini semua bukan kesalahan siapapun. Ini sudah digariskan dalam hidup saya. Kedatangan anda kembali juga merupakan takdir dari Tuhan bukan.." Ilmi tersenyum dengan bijaknya.
Cana mengecupi seluruh wajah Ilmi. Juga balita yang tengah tertidur dengan pulas nya.
TAMAT