This is just my cerpen for my homework. Jangan dibawa serius~
Hidup dengan Ibu yang tak pernah merasa puas pada anaknya. Sang anak sudah berusaha keras mencoba berbagai hal untuk meningkatkan prestasinya baik dalam bidang akademik maupun non akademik, tetapi ibunya tak pernah merasa bangga padanya.
Aku adalah Shouyo. Berbagai prestasi telah ku raih. Berbagai medali, piagam penghargaan, trophy, piala, bahkan berbagai buku mulai dari buku pelajaran, novel, komik pun terpampang jelas di setiap sudut kamar ku. Tidak hanya di kamar, di berbagai sudut rumah pun tertata rapi benda-benda itu. Tidak hanya itu, berbagai boneka dan figure action pun juga tertata rapi. Tetapi bukan di seluruh rumah ku, melainkan hanya di kamar ku saja.
Aku memiliki berbagai macam hobby yang menarik. Tentunya mulai dari belajar, olahraga seperti basket dan sejenis atletik, bermain game online, menggambar, membaca novel, membaca komik, bahkan menonton anime. Tetapi, sebagian hobby ku tidak didukung oleh ibu ku. Dan bahkan, hobby dan prestasi ku sama sekali tidak membuat ibu ku bangga sama sekali.
Aku adalah anak tunggal di keluargaku. Aku adalah anak yang lahir di luar nikah, jadi di dalam kartu keluargaku hanya ada aku dan ibuku. Seharusnya, anak yang lahir diluar nikah sepertiku tidak akan bisa mempunyai akte kelahiran. Tetapi untungnya, saat aku lahir pemerintah sedang mengadakan sosialisasi bantuan untuk anak sepertiku.
Ibuku tidak pernah setuju dengan hobbyku bermain basket, menonton anime, dan membaca komik. Padahal, aku merasa aku bisa menghasilkan lebih banyak prestasi di bidang non akademik. Aku juga suka menggambar hal-hal fiksi seperti yang terdapat di komik dan anime. Aku juga sering mengikuti perlombaan-perlombaan menggambar dan selalu mendapatkan juara. Tetapi tetap saja, ibuku tidak menyetujui hobiku menonton anime dan membaca komik. Selain itu, aku juga telah menghasilkan banyak prestasi pada perlombaan bola basket. Bahkan kini sekolahku telah menjadi juara 1 dalam pertandingan basket tingkat kabupaten.
1 Minggu lagi, aku dan tim ku akan bertanding basket di tingkat provinsi mewakili kabupaten ku. Pertandingan ini akan dilangsungkan di Gedung olahraga provinsi. Untuk dapat melihat pertandingan ini, harus terlebih dahulu membeli tiket yang harganya lumayan mahal.
Aku sangat berharap, ibuku mau menonton pertandingan ini agar aku bisa membuktikan bahwa hobby ku bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan. Aku membelikan ibuku sebuah tiket untuk masuk ke dalam Gedung untuk melihat pertandinganku. Aku memberikannya pada ibuku, tetapi aku malah mendapat jawaban yang tidak kuduga.
“Bu, aku membelikanmu tiket untuk pertandingan basket ku 1 minggu lagi. Kuharap ibu bisa datang dan melihatku bertanding besok” kataku sambil menyerahkan tiket itu pada ibuku yang sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya.
“Apa? Kau masih bermain basket? Bukankan sudah kubilang hentikan saja hobby tak bergunamu itu?! Lebih baik kau gunakan waktu luang mu untuk belajar. Apakah kau ingin menjadi seperti pria sialan itu?!” bentaknya padaku lalu pergi meninggalkanku menuju kamarnya.
Aku hanya diam terpaku disana. Aku tidak menyangka ibuku akan mengatakan hal seperti itu. Bukan tentang menyuruhku untuk menghentikan bermain basket, tetapi aku terkejut tentang perkataannnya yang menyebutkan kata ‘pria sialan itu’. Aku tahu, sangat tahu siapa ‘pria sialan’ yang dimaksud ibu. Aku hanya tidak menyangka saja ibu akan mengungkitnya lagi dihadapanku dengan kata ‘sialan’. Aku mencoba untuk tidak menghiraukan perkataan itu, tetapi mustahil. Aku melemparkan tiket yang hendak kuberikan padanya di lantai dan berlari masuk kedalam kamarku dengan dada yang sesak. Aku menutup pintu kamarku cukup kencang dan menangis sejadi-jadinya hingga aku tertidur dalam tangisku.
Aku terbangun keesokan paginya. Aku bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan dan mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan itu. Tidak ada ibu di ruangan itu. Di meja makan, hanya terdapat sepiring nasi dan beberapa lauk dengan kertas kecil berisi tulisan di bawah piring nasi.
‘Makan sarapanmu dan berangkatlah ke sekolah sendiri menggunakan bus. Ibu akan melakukan perjalanan bisnis selama 1 minggu. Uang bulanan mu sudah ku tambah. Jika bisa, masaklah sendiri di rumah agar nutrisi di otakmu terpenuhi. Selalu belajar, bersihkan rumah setiap hari’
Aku hanya tersenyum simpul setelah membaca tulisan itu. Ku makan sarapanku dan langsung bergegas menuju halte agar tidak tertinggal bus.
1 Minggu telah berlalu sejak hari itu. Hari pertandinganku sudah di depan mata. Ibuku belum juga pulang dari perjalanan bisnisnya. Aku hanya bisa memaklumi itu karena bagaimanapun, ibuku bekerja juga untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Setelah hari itu, aku telah berlatih dengan keras untuk meningkatkan skill ku dalam bermain basket. Walaupun ibu tidak akan melihatku di pertandinganku kali ini, aku akan tetap memenangkan pertandingan ini dengan semangat agar dapat menuju basket tingkat nasional. Meski begitu, saat pertandinganku berlangsung, aku tetap berdoa agar ibuku berada di salah satu bangku penonton.
Selama waktu pertandinganku, aku selalu membelikan ibuku tiket walaupun aku tahu ia tidak akan datang menonton. Pertandingan ini berlangsung selama 2 minggu. Aku bertanding 2 kali di minggu pertama dan 2 kali di minggu kedua. Pada minggu pertama, aku telah berhasil memenangkan kedua pertandingan itu. Aku juga telah memenangkan pertandingan pertama pada minggu kedua. Kini adalah hari penentuan kalah atau menangnya tim ku di pertandingan ini. Ini adalah pertandingan final yang menegangkan. Tim ku akan melawan juara bertahan tingkat provinsi selama bertahun-tahun. Tim ku tertinggal pada quarter pertama dengan score 9-5. Pada quarter kedua, tim ku berhasil menyusul dengan score 17-17. Pada quarter ketiga dan ke empat, tim ku dan tim lawan sama sama bermain menyerang, jadi pertandingan berlangsung dengan sangat sengit. Kedua tim tidak ada yang ingin menyerah, mereka terus saja menyerang dan menyerang.
Hingga waktu quarter 4 berakhir, kedua tim seri dengan score 37-37. Karena itu, diberikan waktu tambahan atau biasa disebut dengan over time. Waktu tambahan yang diberikan hanyalah 5 menit. Selama 5 menit itu, kedua tim terus menyerang hingga waktu berakhir dengan keadaan terjadi pelanggaran (foul) padaku. Aku diberi kesempatan untuk melakukan tembakan bebas(free throw) seanyak 2 kali. Ini menjadi penentuan kalah atau menangnya tim ku. Pada tembakan pertama, aku malah mendapatkan air ball karena aku gemetar dan kurang membberikan kekuatan pada tembakan itu. Aku sudah hampir menangis, tetapi teman-teman satu tim ku terus memberikan semangat dan kata penenang padaku. Setelah tenang, aku kembali fokus untuk menembakkan bola dan keberuntungan memihak padaku. Bolanya masuk dan pertandingan berakhir dengan score 45-46 dengan kemenangan milik tim ku.
Semua teman-teman tim ku langsung berlari ke arahku yang kini sudah terduduk sambil menatap dengan tatapan kosong di tengah lapangan. Mereka memelukku, bersorak dan menangis gembira. Aku pun ikut menangis kala mereka mulai memelukku.Tetapi dalam tangisan kebahagiaanku, tersirat pula kesedihan karena selama pertandinganku pada 2 minggu ini, ibuku tidak pernah datang sekali pun.
Kami pulang setelah acara penerimaan penghargaan. Setelah bus yang kami naiki pergi, terlihat sesosok wanita paruh baya terengah engah di depan Gedung olahraga itu dengan tangan yang menggenggam erat sebuah tiket.
2 Bulan kemudian, sekolahku kembali mendapatkan undangan terkait dengan pertandingan basket. Bukan pertandingan sparing atau event kecil-kecilan, tetapi adalah pertandingan basket tingkat nasional. Seluruh anggota tim pastinya sangat terkejut. Pasalnya, ini adalah tingkat nasional, dan bukan kita yang mendaftar tetapi kita di undang untuk mengikuti pertandingan itu. Jika sudah begitu, pastinya tim ku termasuk dan dipandang sebagai salah satu ‘lawan terkuat’.
Kami telah berlatih dengan keras untuk pertandingan itu. Selain itu, aku juga mengikuti berbagai perlombaan dalam bidang akademik supaya ibuku tidak memarahiku karena hanya bermain basket. Dalam 2 bulan ini, aku juga terus berusaha membujuk ibuku agar dia mau menonton pertandinganku kali ini. Ayolahh, ini adalah pertandingan tingkat nasional! Orang tua mana yang tidak bangga pada anaknya jika anaknya mengikuti pertandingan tingkat nasional. Tetapi, orang tua itu adalah ibuku. Ia tetap tidak mau menonton pertandinganku, bahkan ketika aku memintanya sambil menangis.
Hari demi hari berlalu. Kini adalah waktu pertandingan yang telah dinanti-nantikan selama ini. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk menyelipkan tiket untuk menonton pertandinganku di tas milik ibu. Kali ini, kami akan mengikuti 10 kali pertandingan yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 bulan. Pertandingan ini dilangsungkan di Gedung olahraga nasional yang ada di Ibu Kota. Kebetulan, Provinsi tempat ku tinggal cukup dekat dengan Ibu Kota. Jadi, kami tidak terlalu kerepotan untuk pergi kesana.
Pertandingan demi pertandingan sudah ku lakukan, tetapi ibuku juga tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ya, kini aku sudah melewati 8 pertandingan dengan cukup ‘mudah’. Entahlah, mungkin level kami sudah di atas mereka, begitulah pikirku. Kini adalah pertandingan ke-9 ku dan aku sangat berharap ibuku datang melihatku kesini. Lagipula, tempat ini sangat dekat dengan kantor ibuku. Dan bahkan, aku sudah menghabiskan tabunganku untuk membelikan tiket masuk agar ibuku tidak perlu lagi membelinya, karena bisa dibilang tiket itu sangat mahal. Bahkan lebih mahal dari tiket masuk pertandingan tingkat Provinsi kemarin.
Selama pertandingan berlangsung, aku selalu mencari keberadaan ibuku di kursi penonton. Heii, aku selalu membelikannya tiket dengan kursi yang berada di barisan paling depan, tidak mungkin jika ibuku malah duduk di kursi belakang kan??. Tetapi, selama ada kemungkinan aku terus saja mencari sosok ibuku yang tak kunjung terlihat. Tetapi, pada pertandingan ke-9 ini, ibuku juga tak terlihat oleh mataku.
3 Hari lagi adalah pertandinganku yang ke-10. Itu adalah pertandingan penentuan tim mana yang akan menduduki tim basket nomor 1 tingkat nasional. Sore setelah pulang sekolah, aku segera menuju Gedung olahraga nasional untuk membeli tiket final pertandingan ini. Setelah pulang, aku langsung menuju ke kamarku dan bergegas mengganti pakaian ku dengan pakaian rumah. Saat makan malam, aku memberanikan diriku untuk memberikan tiket yang telah ku beli secara langsung kepada ibu.
“Bu, a-aku membeli tiket final pertandinganku untuk ibu. Kuharap besok ibu akan datang dan melihatnya” Kataku dengan gugup sambil menyerahkan sebuah tiket padanya.
“Oh, jadi kau sudah final? Jangan sia-siakan uangmu untuk membeli tiket tak berguna ini lagi. Bukankan lebih baik jika uangmu kau gunakan untuk membeli buku atau membantu orang lain? Aku bisa membeli tiket sendiri jika aku mau” Ucap ibu acuh tak acuh.
“Dan, besok aku akan pergi melakukan perjalanan bisnis. Jadi, aku tidak akan menonton pertandinganmu” Sambung ibu.
“T-tapi bu, aku sudah membelikannya untuk ibu. Dan setidaknya lihatlah pertandinganku sekali saja. Aku mohon, bu” Mohonku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Oh ayolah Shouyo! Sudah berapa kali kubilang jangan buang-buang uangmu untuk hal yang tidak berguna! Dan aku tidak akan pernah menonton pertandingan basket tak bergunamu itu!” Bentak ibu sambil merebut tiket ditanganku dan membuangnya di tempat sampah.
Aku terkejut dengan apa yang ibu katakana. Aku kecewa, sangat kecewa pada ibuku. Aku tidak percaya ia akan mengatakan itu. Aku berlari menuju kamar dan menutupnya dengan kasar.
“Hei Shouyo! Kau sudah berani kepada ibumu?!” Teriak ibu dari luar.
Hari pertandingan akhirnya tiba. Aku sudah melupakan kejadian 3 hari yang lalu. Malah, aku berharap itu hanya kemarahan sesaat ibuku dan ia akan datang ke tempat pertandinganku. 3 Quarter sudah berlalu, tetapi aku tak kunjung menemukan keberadaan ibuku di kursi penonton. 1 kursi penonton yang ada di kursi VIP nomor 10 kosong. Jelas sekali, itu adalah kursi yang aku berikan untuk ibuku. Aku hanya bisa menghela napas saat melihat kursi itu masih kosong sedari tadi.
Waktu pertandingan telah berakhir dengan score seri 54-54. Seperti dejavu, kini terjadi over time lagi. Masih sama, over time dengan waktu 5 menit. Tidak ada yang mau mengalah dari kedua tim. Akhirnya, waktu over time berakhir dengan score 61-57. Kemenangan dalam genggamanku. Kami bersorak ria dan menangis di tengah lapangan. Seluruh lapangan bergema kala semua penonton juga ikut bersorak untuk kami.
Waktu penyerahan penghargaan dilaksanakan 2 jam setelah pertandingan berakhir. Kini aku dan tim ku sedang keluar untuk mencari makanan selagi menunggu waktu penyerahan penghargaan. Kebetulan aku membawa sketch book ku dalam tas, jadi aku menyempatkan diri untuk menggambar selagi menunggu makanan tiba.
Penyerahan penghargaan sudah selesai, kini aku dan teman-temanku berjalan santai menuju bus yang berada di tempat parker khusus peserta pertandingan. Di luar ternyata sedang gerimis, padahal sebelumnya masih sangat cerah. Aku berjalan sambil meneruskan gambar ku yang tadi belum sempat ku selesaikan. Tetapi tiba-tiba…
“BRAKK!!!!!”
Suara yang sangat keras mengalihkan atensiku dan semua orang yang berada di sekitar situ. Karena penasaran dengan suara itu, aku pun berlari mendekati asal suara yang sudah dikerumuni oleh banyak orang. Beruntung badanku kecil, jadi aku bisa menyelipkan diriku di antara kerumunan orang itu. Aku berhasil menyelip dan melihat apa yang terjadi. Terlihat seorang wanita tengah terbaring tak berdaya dengan dada yang tertancap oleh payung. Pemandangan yang sangat mengerikan, pikirku.
Aku melihat sekeliling, ternyata wanita itu tertabrak oleh mobil yang berkecepatan tinggi. Bagaimana aku bisa tahu? Yang pasti jika mobil itu berkecepatan rendah, pasti mobilnya tidak akan hancur,haha. Saat aku mengedarkan pandanganku lagi, aku tercengang dengan apa yang ku lihat. Sebuah tiket berwarna biru bernomor 10 dan bergambar bola. Sama dengan tiket yang kuberikan pada ibu 3 hari lalu. Dengan gemetar, aku berjalan mendekati wanita yang masih terbaring di aspal. Aku mengangkat kepalanya ke pangkuanku dan melihat wajahnya yang penuh darah. Aku langsung menangis histeris saat melihat wajahnya. Ya, wanita itu adalah ibuku.
Ditemani oleh teman-teman tim basketku, kini aku berada di rumah sakit dengan kondisi yang berantakan. Tatapan kosong, mata berair dan membengkak, seluruh tubuh yang berlumuran darah, dan rambut yang berantakan. Kini ibuku telah masuk ke ruang UGD dan aku yang menunggu di depan pintu ruangan itu dengan posisi berdiri. Dokter keluar dan mencari keluarga pasien. Aku digiring menuju ruang dokter itu dan diberitahu tentang keadaan ibuku. Ternyata, payungnya tertancap tepat di jantung ibuku, dan harus segera mendapatkan donor jantung dalam waktu kurang dari seminggu.
Teman-temanku sudah pulang sedari tadi. Kini, aku di dalam ruang rawat ibuku dan melanjutkan gambaranku tadi. Aku menggambar wajah ibuku yang tersenyum bahagia. ‘Sangat cantik’ pikirku. Kemudian aku menulis 2 buah surat untuk ibuku, dan untuk teman-temanku. Setelah selesai, aku meletakkan surat dan gambar yang telah aku gambar di tas dan bergegas pulang. Sampai di rumah, aku menata kembali surat untuk ibu dan gambar itu di atas kasur kamarku. Lalu aku mengirimkan surat untuk teman-temanku ke alamat pelatih basket ku. Kemudian aku membersihkan diriku dan tidur di kamar milik ibu.
Keesokan paginya, aku langsung menuju rumah sakit dan pergi menemui dokter yang kemarin menangani ibuku. Aku berbincang-bincang padanya dan kemudian aku digiring untuk melakukan tes kesehatan. Setelah selesai, aku pergi ke ruang rawat ibuku untuk sekedar melihatnya. Keadaannya masih sama seperti sebelumnya. Alat- alat medis terpasang di tubuhnya untuk menopang hidupnya. Seakan jika alat itu dilepas, hidupnya akan berakhir begitu saja. Aku menatapnya cukup lama dengan tatapan sendu, kemudian aku tersenyum dan mulai menangis. Sekitar 1 jam aku berada disitu, aku dipanggil kembali oleh dokter itu.
“ Nona, persiapannya sudah selesai. Mari ikuti saya untuk bersiap-siap” Ucap dokter ber-name tag Shinsuke.
“ Baik, Dokter Shin” Kataku sambil tersenyum.
Aku mengikuti Dokter Shinsuke ke sebuah ruangan di sebelah ruangan ibuku. Aku mengganti pakaian ku disana, dan berbaring di sebuah ranjang yang kemudian di dorong masuk ke ruangan ibuku. Aku disuntik menggunakan obat bius oleh dokter, sebelum mataku benar-benar tertutup, aku tersenyum dan mengatakan
“ Selamat tinggal dunia, selamat tinggal teman-teman, selamat tinggal..Ibu”
‘tiitttt’
Suara nyaring itu menggema di seluruh ruangan. Itu adalah suara yang paling tidak ingin di dengar oleh orang-orang di seluruh dunia.
Tubuh seorang anak berusia 17 tahun tertutup oleh kain putih di sebuah ruangan di dalam rumah sakit, tepat berada di sebelah ranjang seorang wanita yang kini juga belum sadar dari tidur panjangnya. Di luar ruangan, terdapat orang-orang yang tengah menangis yang merupakan teman dari anak yang tengah terbaring tak bernyawa di dalam ruangan itu.
Surat untuk Ibu
Senin, 21 Juni 2021
Untuk Ibuku tercinta.
Mungkin saat ibu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku tidak ada lagi di sisi ibu dan tak bisa lagi membanggakan ibu. Pertama, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, karena selama ini telah bersedia melahirkanku, merawatku dan membesarkanku. Kedua, aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas semua kesalahan yang telah ku perbuat selama ini mulai dari hal-hal kecil maupun hal yang besar. Aku juga minta maaf karena aku tidak mau menuruti kemauan ibu tentang basket ku, dan malah melanggarnya.
Mungkin agak kurang ajar mengatakan ini, tetapi aku mohon maafkanlah ayah. Aku tahu ini akan sangat menyakiti hati ibu, tetapi jika ibu memaafkannya aku akan merasa sangat senang.
Selanjutnya, aku mempunyai beberapa permohonan kepada ibu. Yang pertama, datanglah mengunjungi makamku 2 kali dalam sebulan agar aku tidak kesepian,hehe. Yang kedua, saat mengunjungi makamku, kuharap tidak ada tangisan darimu. Yang ketiga, jaga diri ibu baik-baik. Meskipun ibu terlihat baik-baik saja, tetapi aku tahu jika ibu selalu minum obat setiap hari. Aku tidak tahu itu obat untuk apa, tetapi semoga bukan untuk penyakit yang serius. Yang terakhir, bawalah ayah ke makamku sekali saja agar dia tahu keberadaanku. Sampaikan salamku padanya dan sampaikan terima kasih serta maaf ku kepadanya.
Hiduplah dengan bebas. Tak seorangpun akan mengekangmu,bu. Selamat tinggal. Aku mencintaimu.
Dari yang mencintaimu, Shouyo.