Cerpen Horor Ketiga
****
Namaku Heidi aku janda yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 5 tahun. Awalnya hidup ku baik-baik saja menempati rumah kecil peninggalan suamiku tapi tak selang berapa bulan kemudian beberapa orang datang kerumah dan menyuruh ku harus segera meninggalkan rumah yang kamu tempati karena rumah itu ternyata akan di tarik oleh Bank.
Aku bingung bukan main, tak menyangka suamiku tega menggadaikan rumah kami satu-satunya kepada Bank sebagai jaminan dan akhirnya malah pergi selamanya dan meninggalkan hutang. Dengan hati sedih dan marah terpaksa aku harus meninggalkan rumah itu. Untung nya pihak Bank memberikan aku waktu untuk beres-beres dan mencari tempat baru dalam waktu 3 hari.
"mommy siapa olang itu mommy?!" tanya anak ku dengan cadel nya.
"bukan siapa-siapa sayang, Romi dan mommy akan pindah dari sini, nanti kita akan tinggal di rumah yang lain. Romi gak pa pa kan?"
"gak pa pa mom,, yang penting celalu cama mommy"
Aku memeluk putra kecilku. Kemudian aku pun segera mencari rumah yang bisa aku sewa di mesin pencari. Setelah mencari sekian rumah akhirnya aku menemukan rumah yang dijual dan bisa juga disewakan. Harga jual rumah itu termasuk murah tapi tetap saja aku tidak memiliki cukup uang untuk membeli nya, jadi aku berfikir untuk menyewa saja dan berharap harga sewa nya pun sama ringan.
Dilihat dari mesin pencari rumah itu tidak besar hanya terdapat 1 buah kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur, teras kecil, dan ruang tamu yang los tanpa sekat. Aku tak membuang waktu segera meraih ponsel ku dan menelepon nomor yang tertera disana.
Menunggu dering pertama habis dan akhirnya.
"haloo selamat pagi, saya Heidi. saya melihat rumah yang bapak sewa apakah rumah itu masih ada?" tanya nya
"ya masih, apakah ibu ingin melihatnya?"
"iya pak, saya ingin melihatnya, apa bisa saya lihat hari ini?"
"bisa, kebetulan hari jadwal saya menengok rumah itu. Kita bisa bertemu di rumah itu sekitar jam 10 ya Bu."
"baik pak, saya pasti kesana. terimakasih." jawabku sambil menutup telepon.
Melihat jam di ponsel, menunjukkan pukul 08:25 Aku mencatat alamat rumah yang akan ku datangi, dan mencari anakku yang ternyata sedang bermain dengan temannya. Aku pun keluar dan menemuinya.
"sayang ayo kita siap-siap, Romi mau ikut mommy gak?"
"ikut kemana?"
"Bu Heidi mau kemana?" tanya ibu dari anak yang sedang bermain dengan anakku kepo.
"saya mau lihat rumah Bu. Karena saya akan pindah dari sini, rumah ini sudah disita Bank." jawabku jujur karena menurut ku percuma aku berbohong tetangga dekat pasti akan tau kebenarannya juga.
"waduh, mau pindah kemana Bu?"
"saya baru akan melihat rumah yang disewa di jalan dakuisan Bu."
"Jalan dakuisan, itu dekat dengan rumah saudara sepupu saya Bu. tapi memang ada ya rumah disewa disana?"
"kalau dari gambar nya sih ada Bu bentuk rumahnya dan saya juga sudah menghubungi pemiliknya nanti jam 10 kita bertemu disana."
"coba bentar ya Bu saya telepon saudara sepupu saya itu!" ibu yang bernama Martha itu masuk kedalam.
Tak lama keluar dengan ponselnya yang sudah melakukan percakapan.
"Mit,, didekat rumah mu emang ada rumah di sewa ya?" tanya Bu Martha
"rumah disewa,,? hemm kayanya ada deh kak. terhalang dua rumah dari rumahku. kenapa kak?"
"ini tetangga ku mau lihat rumah itu. bagaimana menurutmu rumah itu, baik-baik aja kan?"
"bentuknya sih baik-baik aja kak karena selalu di cek oleh pemiliknya walaupun sebulan sekali sih. Tapi kak menurut cerita orang-orang banyak yang merinding kalau melewati depan rumah itu kak. Katanya hawa nya berbeda."
"ya mungkin karena rumah itu kosong, jadi hawa nya dingin."
"terus kata orang-orang juga dulu sebelum rumah itu kosong, rumah itu ditinggali oleh sepasang suami-istri dengan seorang anak laki-laki mereka usianya sekitar 6 tahun dan seorang pembantu mereka. Karena orang tuanya sibuk kerja, si anak selalu bermain dengan pembantunya. Sampai pada suatu hari yang Naas itu, ketika orang tuanya pulang kerja mereka menemukan anak mereka sudah meninggal dengan mulut berbusa sendirian di kamarnya, sementara pembantu mereka hilang entah kemana. Sejak saat itu suami istri itu pergi meninggalkan rumah itu dan tak ada lagi kabar tentang mereka."
Bu Martha menatap kearah ku yang juga mendengar cerita dari sepupunya itu dengan ponsel yang di lowspeaker.
"Ya udah deh Mit makasih infonya nya. dah!"
"oke,, main sini ya kak."
"oke bye."
"bagaimana Bu Heidi apakah masih berminat menyewa rumah itu?"
"heee,, akan saya putuskan nanti setelah saya melihat sendiri Bu. kalau begitu terimakasih saya mau bersiap." ucapku sambil menggendong Romi.
***
Kini aku sudah ada di perjalanan dengan motor matic menuju rumah itu. Sebenarnya di perjalanan aku masih terngiang cerita sepupu Martha, bagaimana kalau ternyata pembantu itu yang sudah meracuni anak majikannya dan bagaimana kalau dia kembali. Heidi menggelengkan kepalanya mengusir isi hayalannya barusan.
Sampai di rumah itu sudah ada dua orang yang berdiri didepan pintu. Menyandarkan motor ku dan berjalan masuk kedalam teras rumah. "permisi saya Heidi yang ingin melihat rumah."
"oiya mari silahkan, rumah ini milik adik saya dan di titipkan kepada saya untuk di jaga dan di rawat jika ada yang ingin membeli atau menyewa."
Kami masuk bersama, dengan menuntut Romi aku mendengar kedua orang itu menceritakan bagian rumah. Aku melirik Romi dia terlihat melambaikan tangannya ke arah kamar seperti ada orang yang sedang melambaikan tangan padanya.
Sesuai gambar menurutku, dan ketika aku tanya berapa harga sewa nya aku kaget "hah yang benar pak sewanya hanya tiga juta lima ratus setahun? tapi kalau saya ambil bulanan bisa gak pak, saya janda saya harus membayar sewa angkut barang juga pak nanti.!" ucapku
Mereka terlihat berdiskusi "bisa Bu, dibayar bulanan itu tiga ratus ribu saja perbulannya. bagaimana bu?"
"baik pak, saya sewa rumah ini, terimakasih ya pak. dan ini saya bayar untuk dua bulan kedepan pak." Heidi mengambil enam lembar uang seratus ribuan dan memberikan pada si bapak.
"terimakasih, kalau ada kebocoran genteng atau yang lain hubungi saja ya. Dan ini kuncinya."
Aku menerima kunci dan mengangguk lalu mengantarkan kedua orang itu keluar. Aku mulai menyapu ruangan dan mengepelnya sebentar lalu aku baru sadar kalau sejak melambaikan tangan anakku Romi tidak bersama ku lagi. "Romi,,!!" panggil ku yang membahana.
Aku mencari ke kamar segera karena tadi aku melihat matanya menatap ke sana dan benar saja anakku duduk bersila dengan mulut yang sepertinya sedang ngobrol dengan tembok didepannya. "sayang,, ayo kita pulang dulu untuk mengemasi barang-barang kita!" ucap ku
"gak mau mommy, Lomi mau dicini aja sama Piter. mommy kenalin dong ini temen aku namanya Piter!" jawab nya.
Aku bingung tak melihat siapapun selain anakku dan aku dikamar itu. "iya sayang nanti setelah beres-beres barang kita kesini lagi."
"bener ya mommy, kita kesini lagi.!"
"iya bener."
"aku pergi dulu ya, nanti aku kesini lagi dah Piter."
Aku terus menatap hanya ada tembok dan keluar setelah mengunci pintu kembali menuju motor ku dan pulang. Diperjalanan otakku masih heran dengan tingkah laku anakku "masa sih anakku bisa melihat makhluk gaib, siapa tadi namanya Piter." ku membuang nya dengan menggelengkan kepalaku lagi.
Aku mengemasi barang-barang penting dirumah, menyewa truk kecil untuk membawa barang secukupnya. Setelah dipisahkan mana yang akan dibawa dan mana yang tidak aku memanggil tetangga sekiranya ada yang mau mengadopsi barang-barang ku.
Truk datang barang diangkut dan aku pun berpamitan. Disinilah awal ketakutan ku dimulai bersama anak dan rumah yang baru ku sewa.
Begitu kami tiba di rumah barang segera diturunkan diletakkan sesuai arahan ku. Sekitar pukul 3 sore keadaan sudah kembali normal. Rumah yang kosong kini sudah terlihat rumah berpenghuni meski sebelumnya juga sempat berpenghuni tak terlihat.
**
Hari berganti hari anakku tak pernah keluar rumah meski aku sudah menyuruhnya bermain dengan beberapa anak seusianya dia tetap tidak mau jawabnya malah "mommy untuk apa aku pergi keluar kalau disini saja aku sudah punya teman."
Aku masih mengabaikan apa yang selalu saja di ucapkan oleh anakku tentang teman tak terlihat nya. Sampai pada suatu ketika di malam hari cuaca sungguh tidak bersahabat hujan turun dengan derasnya bahkan sesekali di iringi oleh Guntur yang bersahutan.
Aku telah siap dengan makan malam yang baru saja selesai ku masak dan ku tata di meja makan. Sejak pagi Romi selalu berlarian seperti sedang mengejar sesuatu sambil berteriak Peter tunggu aku. Sebenarnya aku agak bergidik jika mendengar Romi menyebut nama itu, nama yang membuat bulu kudukku meremang.
Aku mencari nya untuk mengajaknya makan "Romi,,where are you..?" panggil ku.
Hening tak ada jawaban.
Ku coba memanggilnya lebih kencang karena mungkin suaraku tertutup oleh derasnya hujan.
"Romi,, sayang kamu dimana nak. ayo kita makan malam.!!" teriakku lagi sambil mencari.
Masih tak ada jawaban.
Karena penasaran aku membuka pintu kamar. Ku lihat anakku sedang tidur diatas kasur memunggungi ku diam.
"ya ampun Romi ko malah tidur sih? makan malam dulu sayang nanti baru tidur dengan mommy!" ucap ku mendekati kasur dan berjongkok disana.
Aku mencoba membangunkan anakku berulang kali dengan lembut sampai akhirnya aku mendengar suara dari kolong kasur memanggil ku.
"mommy,,,ssttt mommy." ucapnya lirih
Sontak aku kaget dan diam tangan ku yang satu masih memegang bokong anakku diatas kasur, sementara dari kolong kasur suara anakku memanggilku. Segera ku tengok ke kolong dan benar anakku sedang tengkurap disana.
"mommy jangan berisik, aku lagi main petak umpet nih. jangan kasih tau Peter ya kalau aku disini. soalnya dia sedang tidur heee!" ucap nya pelan.
Aku takut dan merinding bukan main, pelan-pelan ku angkat kepalaku memberanikan diri menatap keatas kasur dimana tangan ku satunya masih menempel di bokongnya. Tepat ketika kepalaku melihatnya dengan cepat wajah pucat anak itu menatap ku dengan senyum yang mengerikan dan mulut berbusa serta mata yang menangis darah.
"Aaaaaaaaaaaa.....!!!!!"
TAMAT
***____***
Terimakasih sudah membaca