Sejarah yang tidak dikenal bukan berarti tidak ada. Aku Dewi Murini seorang pelayan di Istana Kerajaan Pekat, Nusa Tenggara Barat. Lebih tepatnya di lereng Gunung Tambora. Kerajaan Pekat adalah kerajaan yang dibentuk atas izin pemerintah Belanda yang menjajah dikala itu. Rakyat Indonesia banyak mengecam Kerajaan Pekat pengkhianat karena selalu membantu Belanda untuk mengambil budak dari Kerajaan Tambora, sebab itu peperangan sering terjadi dan memakan korban termasuk Ayahku yang saat itu menjadi prajurit Kerajaan Pekat. Belasan tahun setelah kehilangan Ayahku, ekonomi keluarga semakin merosot dan untuk mengobati Ibuku yang sudah sakit sejak Ayah tiada membuat aku harus bekerja sebagai pelayan di Istana Kerajaan Pekat karena dibayar lebih mahal daripada pelayan biasa.
Sejak Kedatanganku ke Kerajaan Pekat ini aku merasakan kenyamanan yang jarang kudapatkan setelah kehilangan Ayah. Makan rutin dan enak, tempat tidur yang nyaman, hingga Pangeran muda yang kulayani juga sangat ramah dan tampan hingga disukai banyak pelayan.
“Kak Dewi besok dini hari aku ingin ke Gunung Tambora, tolong persiapkan alat jaga diriku,” ujar Pangeran Aghar yang dari tadi duduk dipinggir ranjangnya.
“Pangeran…ini sudah yang keberapa kali anda kesana, adakah hal yang menarik perhatianmu digunung itu?”
“Ssstt…kak kamu ingat kan ini hanya rahasia kita berdua, kumohon dukunglah aku. Setelah aku memastikan semuanya, kak Dewi pasti akan menjadi orang pertama yang kuberitahu,” Pangeran Aghar menjawabku dengan senyumannya yang manis dan hangat, pelayan manapun tidak akan tahan dengan senyum Pangeran satu ini.
“Baiklah Pangeran, selamat beristirahat.” Aku keluar dari kamar Pangeran Aghar dengan perasaan yang sangat penasaran namun tidak berdaya karena aku cukup tau diri kalau aku hanya seorang pelayan yang melayani seorang pangeran.
Sudah hari ketiga dari perjalanan Pangeran Aghar ke Gunung Tambora, memang biasanya pun perjalanan pangeran sangat lama bahkan hingga sebulan lamanya. Tapi kali ini rasanya aku sangat rindu sosok Pangeran Aghar, tiga hari bahkan terasa bagaikan tiga abad untukku sekarang.
“Kak Dewi…apa yang kau lakukan disini?”
“Aku hanya menanti kepulangan pangeran, wajahnya yang tampan dan sifatnya yang sangat ramah itu pelayan mana yang tidak merindukan sosok dirinya,” jawabku termenung di jendela dengan pemandangan indah Gunung Tambora di siang hari yang hangat ini.
“Benarkah, setampan itukah diriku?” kata yang mendadak membuatku tersadar kalau yang kuajak bicara tadi adalah Pangeran Aghar. Tidak tau apa yang sedang aku pikirkan saat itu saking malunya aku berlari menjauhi pangeran dan meninggalkannya begitu saja.
“Apa yang kupikirkan, aku telah melakukan kesalahan besar,” Dengan nafas yang belum beraturan aku mondar-mandir dilorong Istana, khawatir aku bakal dapat hukuman atau lebih parahnya bakal dipecat.
“Apa yang kamu lakukan disini Dewi? Kau tidak menyambut kepulangan Pangeran?” Kepala Pelayan menatapku dengan tatapan amarah. “I…iyaa kepala, Dewi sedang berpikir teka-teki yang baru saja dikatakan pangeran. Katanya harus segera Dewi jawab agar penyambutannya sempurna.”
“Benarkah, kalau begitu coba beritahu aku. Manatau aku bisa membantu memecahkannya.” Aku panik tidak karuan atas permintaan kepala. Bagaimana aku bisa memberitahunya teka-teki yang tidak ada sama sekali itu, rasanya aku ingin berteriak bahwa itu kebohongan.
“Tidak apa-apa kepala, Dewi sudah memecahkannya. Kalau begitu, agar Pangeran Aghar tidak menunggu lama, Dewi pamit duluan kepala.” Aku berlari menuju kamar pangeran, meninggalkan kepala dengan situasi bingung seolah ada kejadian yang aneh dan mencurigakan.
“Selamat sore, Pangeran Aghar. Ma…maaf.” Aku dengan ragu masuk ke kamarnya.
“Kak Dewi, kenapa lama sekali, aku sudah tidak sabar menceritakan penemuanku.” Pangeran Aghar menarikku untuk duduk berhadapan dan mulai bercerita petualangannya selama di Gunung Tambora tiga hari ini.
Sangat lama aku mendengar ceritanya, tidak sadar hari sudah gelap dan sudah masuk waktu makan malam. Dengan sangat tidak enak hati aku memberitahu pangeran. Pangeran Aghar menghentikan ceritanya yang belum selesai dan segera bersiap ke ruang makan. Rasanya hati ini kembali damai melihat punggungnya yang tegap kembali berjalan di lorong Istana Kerajaan Pekat dengan senyum manis nan bahagianya.
Pangeran Aghar melanjutkan ceritanya setelah makan malam, aku mendengarkannya dengan santai sambil membereskan lemari. Ceritanya sangat menarik karena membahas tentang alam yang belum pernah aku rasakan, itu juga menjadi alasanku selalu senang saat mendengarkan cerita pangeran yang baru pulang membawa cerita barunya.
“… Jadi gitu kak. Aku mau Kak Dewi memberikan tanggapan jujur kakak dong. Selama ini kakak hanya mendengarkan atau terpukau dengan ceritaku, apakah kakak tidak ingin bertanya atau yang lain?” tanya Pangeran Aghar setelah menyelesaikan ceritanya.
Aku memang selalu terpukau tapi sedikit kasihan mendengar cerita dari Pangeran Aghar, padahal dia adalah pangeran muda yang bisa saja hanya bersenang-senang menikmati harta dan kenikmatan di Istana tapi dia justru lebih nyaman bersama alam yang berisi hewan dan tumbuhan. Banyak yang ingin kutanyakan tapi aku belum berani mengatakannya.
“Kak Dewi berpikir aku sangat kasihan bukan?” pangeran terlihat sangat sedih. “Ti…tidak pangeran, aku tidak akan berani berpikir seperti itu.”
“Tidak apa-apa kak, tidak hanya kakak yang pernah berpikir begitu. Kakak mau tau rahasia besar yang kutemukan tidak?” Pangeran mendekati ku dan langsung merubah ekspresinya seolah tidak terjadi hal yang tidak menyenangkan baginya
“A…apa itu pangeran?” Jantungku berdetak kencang, pangeran perlahan mendekat dan menyudutkanku ke lemarinya.
“Rahasianya adalah… aku terlalu capek dan ingin istirahat dengan cepat kak,” bisikannya mengagetkanku dan akupun langsung bergegas keluar setelah mengucapkan selamat malam pada pangeran. Akhirnya, akulah orang yang tidak bisa tidur nyenyak.
Dua hari kemudian, Kerajaan Pekat sibuk menyiapkan acara pernikahan pangeran tertua Kerajaan Pekat. Karena mendekati hari istimewa, Raja memberikan liburan ke pelayan yang memiliki keluarga dirumah. Aku sangat bersemangat dan segera berkemas karena sudah lama tidak bertemu dengan ibuku dan adikku.
“Ibu…” teriakku. “Nika…” Aku heran karena tidak ada yang menyaut, kucari di seluruh sudut rumah tapi aku tidak juga menemukan dua sosok yang kurindukan itu.
“Kemana sebenarnya mereka ini, jarang sekali aku pulang tapi mereka tidak dirumah.” Lama sekali aku menunggu kedatangan mereka hingga tertidur dengan keadaan duduk.
“Kak…kak…kak…” Panggilan dan goncangan di tubuhku membangunkanku dari tidur sejenak tadi. “Darimana saja?”
“Aku dan Ibu pergi kepasar untuk melihat beberapa barang dan obat untuk pekan depan,” jawab Nika sambil menyuguhkan secangkir air.
“Ibu harus banyak istirahat bu, jangan sering-sering keluar.”
“Tenang saja Dewi, Adikmu merawat ibu dengan sangat baik. Kamu sehat nak?” tanya ibu sambil mengusap punggung tanganku dengan sangat lembut. Tangisku pecah tidak terbendung lagi, sudah berapa lama aku tidak merasakan kehangatan tangan Ibu. Bahkan saat aku meninggalkannya tangan ini seperti balok es. Malam itu kuhabiskan dengan menangis dan tertawa bersama mereka. Saat mereka tertidur lelap pun aku tetap terjaga dan menatap mereka berdua yang tidur dengan nyenyak.
“Ibu…Nika…Terimakasih ya sudah jadi keluarga Dewi. Rasanya sangat beruntung diri Dewi ini bisa memiliki kalian yang kuat dan selalu mendukung Dewi. Di dalam istana pun Dewi dikelilingi orang yang baik dan sangat perhatian. Dewi sayang Ibu dan Nika.” Ku kecup kedua dahi Ibu dan Nika lalu menyusul mengistirahatkan diri.
“DEWI MURINI…. SAAT DATARAN HANCUR, HANYA KAU YANG TERSISA. KAU AKAN MERASAKAN KESEPIAN YANG AMAT SEPI HINGGA SEMUA PERKATAANMU AKAN DIJADIKAN LELUCON OLEH ORANG LAIN.”
teriakkan seseorang yang asing itu membangunkanku dengan perasaan aneh, belum pernah kurasakan perasaan ini seolah memang ada kejadian yang sangat buruk akan
terjadi. Rasa ini seperti rasa takut, rasa bersalah, bingung, dan firasat buruk yang dipadukan. Sangat aneh.
“Dewi baik-baik saja kan?” tanya Ibuku. “Bu, tadi ada suara teriakan keras memanggil Dewi,” jawabku panik dan menghampiri Ibu.
“Tidak ada Dewi. Anakku, pasti kamu sangat kelelahan sehingga bisa bermimpi buruk seperti itu.Kemari tidurlah lagi sekarang masih dini hari bahkan matahari saja belum terbit.” Ibu mengelus kepala ku dan mengarahkan ku untuk tidur kembali dengan kepala dipangku kakinya. Seolah sihir, aku melupakan mimpi buruk tadi dan segera tertidur lelap. Ibuku terhebat.
Liburan ku tersisa dua hari lagi, aku menghabiskan waktu itu untuk bermain bersama mereka dan menanam tumbuhan didepan rumah agar rumah ini lebih tampak hidup. Tetapi saat-saat aku sedang sendiri, perasaan aneh saat aku terbangun dari mimpi kemarin masih sangat terasa nyata, bahkan jantungku main berdebar dan aliran darahku seolah dipercepat saat aku mengingat suara teriakan itu. Aku merasa aku harus segera kembali ke istana dan mencari tahu tentang ini, karena itu aku kembali ke Kerajaan Pekat sehari lebih cepat.
“Selamat datang kembali Dewi.” Kepala pelayan menyambut ramah kehadiranku. Koktumben sebaik ini pikirku saat melihat sikapnya. Dengan tenang aku berjalan ke kamar pelayan dan memberesi segala barangku, tak lama aku segera bergegas melaksanakan tugas sebelum selesai liburan yaitu mencari suara yang sama dengan mimpiku.
“Sebenarnya ini adalah hal gila, bagaimana mungkin suara itu ada disini. Sekalipun ada itu kan hanya suara dimimpi memangnya apa hubungannya dengan dunia ini, tidak mungkin aku benar-benar menghancurkan kerajaan ini dengan lava. Memangnya Gunung Tambora yang akan meletus karena aku?” kata-kataku saat itu menjadi penyesalan seumur hidupku.
Sekeras apapun aku mencari, tak kunjung kutemukan suara itu. Akhirnya aku menyerah dan sok mengabaikannya seperti mimpi-mimpi burukku yang lain.
Saat ini aku terkagum dengan kemeriahan dan keindahan pesta pernikahan didepan mataku. Pangeran Sulung yang bersanding dengan Puteri Sanggar tampak sangat serasi dan membuatku sedikit iri. Pangeran Anghar yang menjadi pendamping pun tak
kalah tampan dan memukau bahkan setelah acara itu, banyak puteri-puteri yang diundang mengajukan lamaran pernikahan pada Pangeran Anghar. Dan tentu saja ditolak tegas oleh Pangeran Anghar yang hanya cinta alam. Aku senang dengan hal itu.
Saat itu sekitar awal bulan April tahun 1815, Pangeran Anghar terlibat ketidaksepahaman antara Raja dan Jenderal. Saat itu aku yang sedang bertugas diruangan sebelahnya mendengarkan perdebatan mereka.
“Aku Sebagai Raja dari Kerajaan Pekat tidak akan pernah menyerahkan rakyat kerajaanku untuk menjadi budak Belanda!” tegas Raja.
“Tidak bisa Raja Abdul! Kau tidak ingat perjanjian kita saat itu?” Jawab Jenderal dengan nada tinggi. “Biarku ingatkan lagi posisi kau. Kau Raja Abdul, Raja Kerajaan Pekat berada diposisi ini hanya karena kami, Belanda. Aku sudah pernah bilang, serahkan rakyat Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar atau kerajaan lainnya sebagai budak kami. Atau kami akan mengambil rakyatmu sebagai gantinya.” tegas Jenderal perlahan menyudutkan Raja.
“Jenderal tenang dahulu, kita selesaikan masalah ini dengan baik. Silahkan duduk.” Pangeran Anghar dengan tenang berusaha menengahi masalah ini.
“Jenderal, sudah berapa generasi kami mematuhi kalian?”
“Bahkan kami rela di cap pengkhianatan hanya demi ketamakan kalian. Ayahku, Raja Abdul dan Raja-raja terdahulu hanya memiliki satu niat, melindungi rakyat Kerajaan Pekat. Dan walaupun kau hanya mata dan tangan kanan Belanda yang bertugas mengotrol kami, apakah tidak ada sedikit pun hatimu goyah?” ucapan dengan nada tenang namun mendalam dilontarkan oleh Pangeran Anghar
Jenderal tampak ragu untuk menjawab hal tersebut karena pada dasarnya rasa kemanusiaan sudah mengalahkan kekejaman pada dirinya, hal ini karena kedamain dan kebahagiaan yang ditunjukkan para rakyat Kerajaan Pekat yang sudah menerima diri mereka di pandang sebelah mata sebagai pengkhianat dan mensyukuri apa yang telah mereka dapatkan. Sungguh rakyat yang pengertian. Saat itu juga aku baru tau alasan kenapa selama ini Raja Kerajaan Pekat tidak pernah menyanggah semua rumor buruk tentang mereka.
Ditengah itu tanah tiba-tiba bergoyang, semuanya mulai merasa ada yang tidak benar dengan Gunung Tambora. Atas perintah Jenderal, seluruh prajurit membantu mengevakuasi Raja, Pangeran, Pemerintah, Pelayan, dan Rakyat agar lari sejauh mungkin menjauhi Gunung Tambora untuk sementara waktu.
“Mai Tambora! Mai Tambora!” berkali-kali kata itu diteriakkan oleh prajurit dan petua disana dengan arti lari menjauhi Tambora.
“Kerajaan Pekat akan benar-benar hancur.” Aku termenung, aku berpikir kembali tentang mimpiku sebelumnya.
“Kak Dewi apa yang kau lakukan dengan termenung, lari lah sejauh mungkin dari sini.” Pangeran menarik lalu mendorongku. Kakiku seolah bergerak sendiri meninggalkannya.
“Ibu…Nika…” teriakku mencari mereka dirumah namun tidak ada jawaban.
“Mai Tambora! Mai Tambora!” Warga berlari keluar kerajaan. Aku bepikir Nika juga pasti sudah membawa Ibu pergi jauh dan aku teringat kembali pada kata-kata Pangeran Anghar.
Bukannya lari menjauh, aku justru kembali ke Istana untuk mencari Pangeran Anghar, dengan sifat baiknya itu pasti dia tidak akan pergi sebelum semuanya keluar dari Istana. Aku bertemu Pangeran Anghar didepan pintu gerbang Istana.
“Kenapa kau kembali lagi kak?” Terkejut, baru pertama kali aku dibentak oleh pangeran selama aku melayaninya.
“A…aku hanya ingin memeriksa kondisi pangeran,” jawabku dengan ragu.
“Pergilah sejauh mungkin dari sini dan kembali setelah semuanya membaik. Kak…aku tidak tau kapan bisa bertemu dirimu lagi. Kak Dewi adalah orang paling berharga bagiku, tolong selamatlah demi diriku dan tunggu aku mendatangimu. Aku cinta padamu Dewi” Dengan lembut tangannya mengelus kepalaku dan aku hanya terbeku melihat punggungnya semakin menjauh. Dengan prajurit perintahannya aku dikawal menjauhi Gunung Tambora.
DUARRR…BERRRR….JDERRRR…
Letusan Gunung Tambora mengagetkan kami semua, seolah kaki ini lemas seketika melihat permandangan mengerikan itu. Kami berlari secepat mungkin sebelum lava dan abu vulkanik mencapai kami. Permandangan yang sangat menyayat hati, tidak ada satupun yang berhenti menangis karenan ketakutan. Dengan tekad dan doa yang tak henti beberapa rakyat berhasil selamat dan kami sementara tinggal diperbatasan Kerajaan lain.
Ditempat ini, rakyat kerajaan tambora, pekat, dan sanggar berkumpul dan hidup saling bergantung sama lain. Satu minggu sudah kami masih melawan takut dan tidak berhenti berdoa saat mendengar suara letusan yang berulang setiap 15menit sekali tanpa henti.
Tidak terhitung berapa ribu jiwa yang sudah tiada karena kejadian ini, bahkan kami yang selamat pun masih ada yang tiada karena tidak sanggup menahan udara buruk yang tercampur abu vulkanik.
Hari ke sembilan, Gunung Tambora tampak lebih tenang. Tidak ada tanah bergoyang dan tidak ada lagi suara letusan namun hanya tersisa asap saja yang masih menutupi awan. Kami bisa makan bersama dengan sedikit tawa. Setelahnya kami berkumpul dan membicarakan perjalanan selanjutnya, kembali ke kerajaan atau menjauh dan merelakan kerajaan.
“Kami Kerajaan Sanggar akan pergi menuju Kerajaan Bima saja karena kita tidak ada yang tau kapan Gunung Tambora akan kembali Meletus. Keselamatan rakyat kami lebih penting.”
“Kami Kerajaan Tambora akan kembali ke Kerajaan Tambora, memang keselamatan hidup kami penting tapi kami sebagai suku yang tinggal paling dekat dengan Gunung Tambora tidak hanya bisa diam dan melepas tanggung jawab sebagai penjaga.”
Tempat ini sekarang terasa sepi dan sunyi, suara ranting pohon yang tertiup angin amat jelas terdengar. Kami seharusnya merasa senang karena Gunung Tambora sudah berhenti mengeluarkan amukannya tapi kami justru sedih dan khawatir karena tidak ada satupun kabar dari keluarga kami yang mungkin terpencar ke daerah lain.
“Apakah yang lain selamat? Bukankah seharusnya kita sudah bertemu yang lain? Kenapa tidak ada satupun kabar atau tanda-tanda kedatangan mereka? Bagaimana jika kami yang tersisa dari banyaknya rakyat Kerajaan Pekat? Bagaimana dengan Raja dan
keluarganya? Bagaimana juga dengan keluarga kami?” Banyak pertanyaan tanpa jawaban terus berdatangan. Langit seolah menghukum kami yang sudah menjaga diri dengan merugikan orang lain.
“Pekat…Pekat…Kerajaan Pekat selalu ku jaga. Kami bangkit sendiri…” Lagu Kerajaan Pekat samar-samar terdengar, kami seluruhnya bangkit karena merasakan kehadiran keluarga kami. Bahkan anggota termuda kami yang berumur empat tahun langsung berlari kearah ayahnya setelah ada sekelompok orang yang keluar dari hutan di sebelah timur kami.
Kami berlari kencang dan saling memanggil satu sama lain, waktu dua minggu sangat lama bagi kami karena terpisah dari keluar tersayang. “Ibu… Nika…” Aku berteriak mencari namun tidak ada balasan. Kelompok mereka semakin ramai berdatangan hingga sampai ke akhir kelompok, ada beberapa tandu untuk membawa rakyat yang sakit lalu paling belakang terdapat keluarga Raja.
Dalam keadaan yang sangat kacau aku terus memastikan kalau Ibu dan Adikku berada di kelompok orang yang baik-baik saja. Tapi aku tidak menemukan tanda-tanda dari mereka. Satu per satu banyak keluarga yang sudah berkumpul dan ada juga yang menangis karena keluarga mereka tidak mereka temukan.
Aku berpikir bahwa Ibu dan Adikku tidak selamat. Tidak kuat rasanya jika aku menangis diantara mereka. Aku sangat menyesal karena terlambat membawa mereka, aku tidak akan sanggup jika aku hidup tanya mereka. Selama ini aku hanya berjuang demi mereka, tujuan hidupku hanya untuk mereka. Aku merasa hidupkku tidak berguna lagi. Pikiran ku yang pendek membawaku ke dalam jurang kematian.
“Ternyata begini rasanya mati, Ibu dan Nika juga ada disini jadi cepat atau lambat kami pasti akan berkumpul kembali. Tidak masalah semua akan baik-baik saja.” Aku berjalan di ruang hampa yang semuanya merah dan hitam, tidak ada hal yang mengerikan hanya suasananya saja yang sangat suram.
“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? KEMBALILAH!” Suara yang keras
dan tidak asing itu, membuat ku terdorong jatuh. Kaget, aku terduduk dan melihat disekililingku ada banyak orang.
“Kak Dewi….” Nika tiba-tiba memelukku. Pundakku sudah basah dengan air matanya. Tubuhku terasa sakit dimana-mana tapi aku juga tidak ingin melepas pelukan ini karena aku bersyukur Nika selamat.
“Ibu dimana?” Nika melepas pelukannya dan menatap dalam mataku.
“Ibu masih istirahat karena beberapa hari lalu penyakitnya kumat karena udara yang sangat buruk.” Aku langsung berlari mencari Ibu, kurasakan badanku lemas tak berdaya melihat Ibu terbaring. Kutatap wajah ibuku dan tidak sadar air mata ini mengalir dipipi. Namun bersyukur karena Ibu selamat dan masih hidup.
“Kak Dewi,” Suara yang sangat aku ingin dengar selain suara Ibu dan Nika. Aku tidak sadar tubuh ini bergerak langsung mendekapnya “Pangeran…kau selamat, terimakasih karena kau baik-baik saja.” Pangeran Aghar terdiam melihat reaksiku begitu pula keluarga Raja yang lain dan juga Adikku.
“Kak…sudah. Berhentilah menangis.” Pangeran mendorong lembut tubuhku dan menghapus air mata ini.
“Mari kita makan dulu, kau juga perlu penyembuhan karena kecelakaan itu.”
“Maaf Pangeran Aghar, aku bersikap tidak sopan. Pangeran Aghar silahkan makan duluan, aku akan merawat ibu saja disini,” jawabku kembali duduk disamping Ibu.
“Kakak Tenang saja Ibu dirawat oleh yang ahli. Pangeran Aghar yang membantu Nika merawat Ibu selama ini jadi mari kita makan dulu kak,” Nika menatapku dan aku mengalah lalu mengikutinya.
Disini kami makan bersama mulai dari Raja, Pangeran dan Rakyat bergabung makan bersama. Ada banyak tawa yang menjadi topeng kesedihan kami, “Kembali atau pergi?” tanya Raja setelah makan.
“Kembali!” Seluruh rakyat serentak menjawab. Kami tau tidak aka nada yang tersisa dari Kerajaan Pekat tetapi hanya disana kami bisa diri kami sendiri dan hidup nyaman. Gunung Tambora sudah tenang jadi kami hanya perlu sedikit sabar untuk membersihkan dan membangun kembali Kerajaan Pekat.
“Baik, kita akan kembali besok dini hari. Bereskanlah barang kalian dan jenderal akan memimpin pasukan mengkawal kita kembali.” Raja bangkit dan kembali ketempat istirahatnya.
“Kak Dewi, bisa bicara sebentar?”
“Tentu saja pangeran.” Aku dan Pangeran Aghar berjalan bersama. Beberapa saat kami merasa canggung. Pangeran menarik tanganku dengan lembut dan menggenggamnya seolah takut akan menjauh.
“Kak Dewi, setelah kita selesai membangun kembali Kerajaan Pekat aku akan melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku. Bisakah kau menunggu sampai saat itu? Jika kemudian hari aku menghilang aku berjanji akan kembali untukmu. Jadi bertahanlah demi diriku.” Pangeran mendekap ku dalam pelukannya, hal ini dilihat oleh rakyat sekitar. Aku merasakan ada tatapan mendukung dan tatapan membenci dari mereka.
Aku membalas pelukannya. Sekali ini aku ingin egois dan membuat diriku lebih bahagia, aku akan mempercayai kata-katanya dan menunggunya selama apapun itu. Tujuan hidupku bertambah.
Tidak tau ini sudah siang atau belum, asap vulkanik yang menutupi awan tidak kunjung pudar. Perjalanan kami masih sangat jauh. Dan beberapa orang tidak lagi sanggup berjalan. Aku tertidur saat sedang istirahat, “KALIAN KEMBALI UNTUK MEMBERIKAN NYAWA? AKU SUDAH MEMBERIKAN PETUNJUK TAPI KAU
TIDAK MEMAHAMINYA. MANUSIA BODOH,” teriakkan itu kembali lagi dan lagi membangunkan ku, kali ini aku merasa keputusan untuk kembali sangatlah buruk. Aku bergegas menemui Raja dan memberitahunya tentang mimpiku, beliau tidak percaya dan tetap ingin kembali. Tidak putus asa, aku membujuk para warga untuk meminta Raja agar tidak kembali tapi tidak ada satupun yang setuju karena mereka menganggap aku gila dengan mempercayai mimpi.
“Semuanya, kita akan melanjutkan perjalanan. Berdiri dan berbarislah seperti diawal.” Jenderal bergerak memimpin di depan kelompok.
Aku resah, Ibu dan Nika juga tidak ingin mengikutiku. Pangeran Aghar juga tidak ingin meninggalkan kelompok karena rasa tanggung jawabnya. Disaat ini aku hanya bisa mengikuti mereka karena tidak ada gunanya aku selamat jika sendirian. Beberapa rakyat tiada namun kami tetap melanjutkan perjalanan.
Tanah kembali bergoyang, semua panik karena sepertinya akan ada ledakan kembali. Jenderal berkata ini hanya efek belakangan dari beberapa hari lalu dan memaksakan perjalanan tetap dilanjutkan. Aku sekarang benar-benar takut hal buruk itu benar-benar terjadi tapi aku juga tidak berdaya. Bayangkan saja kalian berada di gurun gelap karena hutan yang sudah habis terbakar.
Tanah bergoyang untuk kedua kalinya, jenderal tidak lagi bisa menahan rakyat. Demi keselamatan Pemerintah Belanda yang ada dikelompok kami Jenderal memutuskan untuk menjauh dan merelakan Kerajaan Pekat yang sudah hancur.
“Dengan kecepatan berjalan seperti ini aku takut kita tetap tidak akan selamat jika ada ledakan lagi.” Pangeran Aghar juga ikut merasakan ledakan yang akan terjadi akan lebih besar. Jenderal mengambil tindakan untuk mempercepat jalan, meninggalkan semua barang kecuali bahan makanan. Saat kami mau sampai ke titik awal mulainya perjalananan suara ledakan terdengar.
DUARRR…BERRRR…JDERRRR…
Kami terlambat tidak akan ada yang selamat karena ledakann ini benar-benar lebih besar dari yang kemarin. Tidak ada lagi yang peduli satu sama lain semua berlari menyelamatkan diri sendiri. Aku tidak melihat pangeran sejak terakhir suara Gunung Tambora terdengar. Dengan kondisi Ibu, kami tidak bisa lari terlalu jauh.
“Dewi…Nika… larilah duluan. Ibu sudah tidak sanggup, Ibu sudah tua dan sakit. Tidak apa-apa jika akhir hidup Ibu disini. Tapi ibu tidak ingin melihat kalian ikut bersama Ibu.” Ibu menggenggam tangan kami berdua. Dengan kondisi kacau orang berlari-lari dan berteriak. Aku dan Nika menangis mendengar perkataan Ibu
“Tidak bu, aku tidak akan meninggalkan Ibu. Kita akan terus bersama,” jawab Nika. “Selamatlah, hidup sehat dan bebahagialah demi Ibu. Hanya ini satu-satunya permintaan Ibu kepada kalian. Ibu ingin melihat kalian Bahagia walau tanpa Ibu.” Ibu tersenyum sambil mengelus pipi kami.
“Larilah!” Tatapan ibu seolah memohon agar aku tidak menolak pemintaan pertama dan terakhirnya ini. Aku memahami perasaan ibu, jika aku jadi ibu aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku menarik Adikku yang menangis dan berteriak menolak meninggalkan Ibu, kami meninggalkan Ibu dan masuk ke krumunan. Tangisan dan ketakutan kembali kami rasakan.
Semua sia-sia tidak ada yang selamat diantara kami. Kami hangus terbakar dipanggang api dan dilahap oleh lava. Gunung Tambora benar-benar memusnahkan kami. Pertengahan bulan April tahun 1815, Kerajaan Pekat yang terletak di lereng Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat hilang.
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Kerajaan Pekat itu pernah ada kecuali aku yang secara Ajaib masih hidup dan menjadi saksi semua ini. Tubuhku tidak terluka terkena abu, bahkan lava itu ini terasa seperti air bagiku. Ini seperti neraka dunia, menyaksikan orang-orang berteriak, menangis hingga mereka tiada dilahap api.
Berhari-hari aku berjalan tanpa arah akhirnya aku menemukan pemukiman desa kecil dan semua penglihatanku tiba-tiba hitam. Saat aku terbangun aku melihat seorang ibu yang sedang meletakkan tumbuhan tumbuk di keningku.
“Uhhh…ini dimana Bu?” tanyaku dengan suara yang masih sangat lemah dan berusaha untuk bangun.
“Tidur saja nak! Ini rumah Ibu, kamu pingsan di pintu masuk desa tadi jadi dibawa suami Ibu kemari,” jawab Ibu itu yang masih sibuk meracik obat.
Aku merasa sangat terimakasih atas kebaikan mereka namun tubuh lemah ini tidak sanggup lagi untuk berbicara, perlahan penglihatanku kembali menghitam.
Beberapa setelah bertemu mereka, aku yang sudah sembuh membalas budi kebaikan mereka dengan membantu pekerjaan mereka menjual baju rajut dan sepatu rajut buatan tangan mereka di pasar. Hal itu aku tepat sebelum pasukan Kerajaan Sanggar datang menemuiku dan menanyai asal dan alasan kedatangan aku ke Kerajaan mereka dengan penampilan lusuh.
Aku bingung dengan situasi saat itu, tidak tau ingin berbicara dari mana. Saat aku menceritakan tentang Kerajaan Pekat, tidak ada satupun dari mereka yang percaya. Mereka mengira semua ceritaku hanya khayalan semata. Bahkan mereka mengira aku berasal dari pasukan bersenjata yang sedang membuat bom dan berusaha menggali informasi. Mereka sempat membawaku kehadapan Raja yang akhirnya situasi itu menyudutkanku dan membuatku berbohong bahwa aku adalah seorang istri yang ditelantarkan suaminya di tengah hutan. Aku bertahan hidup dengan misteri sambil menunggu seseorang yang menjanjikan kebahagiaanku. Tidak tau kapan dia akan datang tapi aku akan selalu menunggunya.