Memang sulit, berpisah dengan seseorang yang berharga bagi kita. Apalagi dia adalah seseorang yang pernah membawa mu keluar dari derita masa lalu. Dia adalah sesosok yang tak akan di relakan untuk pergi.
Suatu ketika, di awal bulan Mei, tampak di lapangan sekolah 3 orang siswa tengah bermain sepak bola. Tampak keceriaan di sana. Namun setelah permainan itu usai, seseorang dari mereka tampak murung.
"De, kenapa mei kok tiba-tiba murung sih" Ujar rafi yang merangkul ode melihat mei meninggalkan mereka secara tiba-tiba.
"Apa sekarang udah masuk bulan Mei" Jawab ode dengan muka agak murung.
"Jangan-jangan.... Kejadian itu kan" Rafi tampak agak terkejut.
Pulang sekolah, mei pulang sendiri dan saat disapa temannya ia tak menghiraukan itu.
"Woi mei mau pulang bersama ku" Ujar april namun mei melewatinya begitu saja.
"Kenapa dia" April menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Biasah.ini udah masuk bulan mei" Jawab ode yang datang menghampiri april bersama rafi.
"Begitu ya. Kasian dia" Gauman april merasa bersalah.
Lantas saat perjalanan pulang, mei mendengar alunan biola. Ia mengikuti alunan itu, hingga ia menemukan sumber suara yang berada di pinggir sungai. Ia mendapati seorang lelaki yang sebaya dengannya tengah menikmati alunan yang ia mainkan. Tanpa sadar, mei terbawa oleh alunan itu. Hingga lelaki itu berhenti memainkan musiknya.
"Terimakasih sudah mendengarkan" Ujar lelaki itu dengan sopan. Yang membuat mei tersadar dari lamunannya.
"Maaf" Lantas mei beranjak pergi. Namun lelaki itu mencegahnya.
"Kau menikmati musikku"
"Tidak"
"Kau itu kenapa"
"Aku hanya menganggap, jika musik membawa petaka"
"Apa yang kau maksud, musik itu membawa kebahagiaan bagi pendengar nya. Musik itu, menghibur seseorang orang yang sedang bersedih. Mau ku mainkan satu lagu untuk mu"
"Tidak terimakasih." Lantas mei pergi meninggalkan lelaki itu.
Keesokan harinya, lekaki itu menunggu mei di depan gerbang. Menyapanya namun tidak mei hiraukan. Hingga ode dan rafi datang.
"Yo.lama tidak berjumpa revan" Sapa ode.
"Oh.ode, rafi. Lama tidak berjumpa kawan" Mereka saling berjabat tangan sembari berpelukan karena lama tak berjumpa.
"Kau kenapa tidak masuk gerbang." Tanya rafi.
"Begini.tadi itu aku bertemu cewek. Tapi saat ku sapa dia tidak menghiraukan ku" Jelasnya.
"Memang siapa"
"Tuh" Revan menunjuk kearah gadis yang ia maksud.
"Oh dia" Gauman rafi.
"Dia Mei" Jawab ode.
"Mei" Ulang Revan.
"Lebih baik kau jangan mengganggu nya di bulan ini." Jelas ode.
"Kenapa.apa karena bulan ini ulang tahunnya dan tidak ada yang peka untuk merayakannya" Revan bertanya dengan polos nya.
"Tidak dia lahir di bulan April." Jelas ode lagi.
"Ku kira dia dipanggil mei karena lahir di bulan Mei" Jawab Revan dengan sikap polos nya.
"Mei itu berasal dari meisya. Karena meisya kepanjangan, jadi kami memanggilnya Mei"jelas rafi.
" Alasan bulan mei dia jadi begitu adalah...... Kesedihan selalu datang di bulan Mei. Adik laki-laki nya meninggal di bulan ini. Begitu juga ibunya "jelas ode.
" Penyebabnya "
"09 Mei 2017 adiknya meninggal karena hanyut dibawa derasnya arus sungai. Saat itu, ia tengah asyik mendengarkan musik dengan earphones yang terpasang di telinganya. Tanpa sadar ia berjalan di jembatan rusak dan hanyut ke dalam sungai. Lalu ibunya, tanggal 17 mei 2019 saat itu, ibunya benci sekali dengan musik karena kematian adik Mei. Padahal saat itu, mei baru mendapatkan sebuah biola dan bercita-cita ingin menjadi seorang violin. Namun ibunya melarang keras, apa yang mei inginkan. Pada hari itu, ibu mei berniat membuang biola milik mei. Hari itu dalam keadaan hujan. Ibu mei tergelincir saat menyebrang jalan. Biola mei terlempar ke pinggir jalan. Dan saat itu, sebua truck menabrak ibu mei yang hendak berdiri.biola nya selamat. Tapi tidak dengan ibu mei "jelas ode panjang lebar.
" Tapi, bukankah setelah ibu mei meninggal, mei bisa bebas bermain musik tanpa ada yang melarangnya "tanya Revan.
" Awalnya begitu. Tapi, saat mei bermain musik, bayangan ibunya selalu ada dalam setiap alunan. Itu yang ia katakan. Lalu ia membuang biola itu"jelas ode lagi.
"Jadi, biolanya hilang" Tanya Revan agak terkejut.
"Tidak, aku memungutnya dan menyimpannya di gudang rumah ku" Jelas ode dengan santai.
"Bisa aku melihatnya." Revan tampak antusias.
"Baiklah... Pulang sekolah nanti." Mereka pun berjalan memasuki gerbang.
"Rasanya lama sekali ya kau liburnya. Jalan-jalan di luar negeri menikmati indahnya kota" Ujar rafi dengan nada iri.
"Tapi di luar negeri aku tidak berniat liburan kan, sekolah memberi ku keringanan untuk masuk satu bulan sekali. Dan sisanya untuk sekolah musik di luar negri" Jelas Revan.
"Tapi kenapa kau pulang lebih awal sekarang" Tanya rafi.
"Ujian kelulusan kan sebentar lagi. Aku harus menyusul banyak hal. Jadi sampai lulus nanti, aku akan tetap di sini." Jawab Revan sembari berangan-angan.
Kemudian, saat jam istirahat, ia menemui april.
"Hai pril" Sapanya.
"Hai van" Balas april.
"Aku butuh bantuan mu"
"Ya"
"Apa, semudah itu, padahal aku belum menjelaskan apa yang aku minta"
"Apa pun untuk sepupuku. Ya"
Kemudian ia beranjak mencari Mei. Namun ia selalu saja menghindar. Hingga ia bisa bertemu mei, di sebuah taman belakang sekolah.
"Mei. Aku minta tolong pada mu. Penting" Ujar Revan.
"Apa"
"Ini tentang april. Bisa kau dekat kan aku dengan dia. Ode bilang, dia teman dekat mu kan" Revan tampak memohon.
"Iya sih tapi, "
"Terimakasih" Lantas Revan meninggalkan mei dengan ekspresi senang.
Sepulang sekolah, revan bersama rafi, datang ke rumah ode yang bersebelahan dengan rumah mei. Revan melihat biola lama milik mei. Ia merasakan kesedihan pada biola itu. Kemudian Revan memainkan biola itu, dengan alunan sendu. Suara biola itu, sampai pada mei yang berada dikamarnya. Tanpa sadar, air mata mei menetes karena alunan yang Revan mainkan.
Minggu kedua di bulan Mei. Revan meminta mei mengajak april untuk datang ke sebuah mall bersama ode dan rafi. Namun tanpa mei ketahui, tempat yang revan maksud adalah tempat perlombaan Colaborasi antara violin dengan pianis.
Kemudian saat permainan revan tiba, mei langsung memasang earphones di telinganya. Namun ode cegah dengan merampas alat itu.
"De" Bentak mei.
"Dengerin dulu." Terpaksa mei melakukan apa yang ode katakan.
Hingga di ahir permainan, mei tidak kuasa mendengar musik lagi. Ia berlari keluar mall. Melihat itu, Revan berlari mengejarnya. Hingga mereka bertemu pada sebuah taman bermain.
"Kenapa kau lari, mei" Ujar Revan yang membawa biola milik mei.
"Dari mana kau mendapatkan itu" Ujar mei dingin.
"Itu tidak penting. Mau bermain bersama ku" Ujar Revan sembari menyerah kan biola milik mei.
"Jangan ragu" Revan menyerahkan biola itu secara paksa. Yang membuat mei mau tidak mau harus menerimanya.
"Ayo kita bermain bersama" Revan mengeluarkan biola miliknya yang ia simpan pada tas biola yang ia bawa.
Revan mengawali memainkan sebuah lagu. Namun, mei masih terdiam. Padahal itu lagu kesukaannya. Mei ragu-ragu memainkan biola itu. Namun entah dorongan dari mana, mei mengikuti nada yang Revan mainkan. Seketika bayangan ibunya muncul saat itu menghantui mei, yang membuat ragu lagi. Namun, Revan mendorongnya untuk terus bermain. Perlahan, ketakutan mei menghilang. Dalam alunan itu, mei mendengar revan berkata pada nya.
"Bayangan ibu mu itu, kau yang menciptakan nya sendiri karena kau merasa ketakutan. Kau tidak perlu takut lagi. Aku akan menemani mu bermain di sini"
Terdengar suara tepuk tangan yang datang ke arah mereka. Itu berasal dari ode, rafi, april yang datang ke arah mereka.
"Wah permainan yang indah" Ujar rafi.
"Terimakasih" Jawab Revan.
"Kau hebat Revan" Puji april.
Seketika, jantung mei berdebar tak karuan. Ia tidak tau perasaan apa yang melintas di hatinya. Ia mulai bisa tersenyum bulan ini. Namun, tiba-tiba ia melihat, Revan meraih tangan april sembari mengatakan.
"April, ini sudah lama ingin ku katakan. Aku suka pada mu. Apakah kau mau menjalin hubungan dengan ku" Ujar Revan. Dan dibalas anggukan oleh april.
Saat itu, mei tersadar. Jika Revan dekat dengan mei selama ini hanya untuk april. Dia sadar jika Revan bukan untuk nya. Revan menyukai april tidak dengan mei. Seketika mei meremas biola di tangannya menahan rasa cemburu yang bercampur aduk. Melihat itu, ode meraih tangan mei menenangkan nya.
Suatu sore, di atas jembatan. Tampak dua orang pemuda yang sedang membawa sekaleng kopi. Mereka menampakkan muka yang serius.
"Kamu serius van. Lakuin ini semua" Ujar april yang memandang luasnya sungai.
"Ya mau gimana lagi. Aku gak mau dia suka sama aku. Karena aku gak bisa terus ada buat dia.kalo boleh jujur,aku juga suka sama dia" Jawab Revan.
"Terserah kamu deh. Yang pasti jangan buat mei nangis lagi. Jangan biarin dia memiliki trauma pada musik"
"Gak akan. Gini-gini aku di suruh jendral fuhul. Ayahnya mei teman dekat ayah ku. Katanya bulan mei taun depan, dia akan ambil cuti untuk menemani putri nya" Jelas Revan.
"Paman fuhul ya. Udah lama beliau gak pulang. Eh van. Ingat lo awas aja kamu buat mei nangis lagi" Ancam april.
Kedekatan antara mei dengan Revan sangat erat. Kini bulan sudah berganti. Musim pun juga ikut berganti. Banyak kenangan yang mereka buat di setiap bulannya. Apalagi setiap pulang sekolah, Revan sering bermain biola di pinggir sungai bersama mei.
Tanpa terasa, bulan Desember telah datang tanpa aba-aba.
"Oi ahir tahun ini, ada perlombaan violin kau mau ikut mei," Ujar Revan sembari menunjukkan sebuah poster.
"Tapi aku tidak punya teman pengiring" Jawab mei.
"Hoi.... Rafi kan ada" Revan merangkul rafi.
"Apa... Tapi aku tidak sehebat dirimu. Kenapa tidak kau saja" Bantah rafi.
"Agar kau punya pengalaman" Jawab Revan.
"Tapi"
"Baiklah sudah di putuskan. Kalian berdua akan tampil. Dan memainkan lagu, rifer flows in you." Ujar Revan antusias.
"Apa kenapa kau seenaknya memutuskan"bantah mei.
" Tenang saja, aku, akan melatih kalian dengan sangat keras.
Namun, perlombaan pertama mereka gagal, karena salah not. Tapi mereka tidak menyerah dan menunggu lomba berikutnya, di ahir bulan April. Sembari menunggu mereka terus berlatih dengan keras.
Suatu sore, sebelum lomba di bulan April...
"Oi.tahun depan kalian mau lanjutkan kemana. Sebentar lagi kita SMA kan" Ujar rafi tiba-tiba.
"Tentu saja aku akan melanjutkan sekolah musikku di luar negeri" Jawab Revan dengan antusias.
"Aku akan melanjutkan ke sekolah khusus wanita" Jawab april.
"Aku mungkin akan meneruskan menjadi atlet beladiri" Jawab ode.
"Kau mei" Tanya Revan.
"Tidak tahu" Mei tampak putus asa. Ia berpikir tidak ingin berpisah dengan teman-temannya. Dan tetap seperti ini.
"Jika aku menang di kompetisi ini, aku akan melanjutkan di sekolah musik di pusat kota" Jawab rafi.
"Kau harus segera memikirkan nya Mei, sebentar lagi, kita kan lulus" Jelas Revan.
"Ya aku tahu itu"
Keesokan harinya, Revan tidak ada kabar. Saat tampil, ia mencari keberadaan Revan di kursi penonton namun tidak terlihat wujud nya. Terpaksa ia bermain tanpa kehadiran Revan. Kemudian setelah selesai bermain.
"Pril dimana Revan" Tanya mei pada april saat di belakang panggung.
"Katanya dia ada urusan keluarga mendadak jadi dia tidak bisa hadir"
"Oh begitu"
"Kau tidak perlu memikirkan nya. Dia kan pacar ku. Kau cukup berlatih dengan giat. Aku dengar kau masuk final ya. Selamat ya mei" Ujar april dengan penuh senyuman tapi tidak dengan mei yang terpaksa tersenyum.
Tanggal 03 mei. Ayah mei datang menghadiri final lomba mei. Ia tampak senang ayahnya pulang dan tambah semangat untuk lomba.
Tepat saat sebelum mei di panggil, di belakang panggung, tampak ode, rafi, april sedang membicarakan tentang Revan.
"Kalian sedang bicara tentang Revan kan. Dimana dia" Mei menghampiri mereka.
"Tidak kau salah dengar" Elak april.
"Jangan bohong" Suara mei tampak meninggi.
"Mei kita tampil dulu. Nanti kita akan cerita kan semuanya" Ujar rafi yang mengalihkan pembicaraan.
"Kalo kalian gak cerita yang sesungguhnya, aku gak bakal tampil." Ujar mei dengan nada dingin.
April menghembuskan nafas panjang karena terpaksa becerita tentang Revan. Saat ini, Revan sedang di oprasi karena jatung lemah. Mei tampak syok. Tapi sesuai janjinya pada april, ia harus tampil dengan sepenuh hati, dan menjiwai musik yang ia mainkan.
Awalnya permainan musik mei tampak normal dan sesuai dengan partitur nya. Namun, tiba-tiba di ahir permainan, ia melihat bayangan Revan di kursi penonton. Tampak Revan tersenyum pada mei sembari melambaikan tangan tanda perpisahan. Selain mei, ode, rafi, dan april juga melihat bayangan Revan yang melambaikan tangan pada mereka. Di ahir musik, bayangan Revan menghilang, bersamaan dengan musik yang mei mainkan.
Kemudian setelah mereka usai tampil, mereka langsung menuju rumah sakit dimana Revan di rawat, tanpa peduli hasil lomabnya. Dan benar saja. Revan pergi mendahului mereka. Tangis mereka tak lagi bisa di bendung. Revan pergi untuk selamanya.
Suatu ketika, di hari ahir ujian, mei menemukan surat di loker mejanya. Kemudian ia membaca surat itu di pinggir sungai dimana Revan dan mei sering bermain biola di sana. Surat itu dari Revan. Isinya,
Untuk Mei.
Selamat atas kemenangannya tempo hari. Jujur sih. Aku dengan april hubungan nya cuma Pura-pura. Aku gak ingin kamu suka sama aku. Karena aku gak bisa ada selamanya buat kamu. Maaf ya. Secepat apa pun musim berlalu, jangan pernah jadikan bulan mei ini bulan kesedihan buat kamu. Kamu jangan sedih terus di bulan ini. Kamu harus ingat kalo kita pernah bertemu di bulan Mei. Kita sering menghabiskan waktu bersama di bulan mei, dan berpisah juga di bulan Mei. Sangat indah ya kenangan dibulan Mei. Kalau boleh jujur sih. Aku mencintaimu Mei. Sejak awal kita bertemu, kau tampak memunculkan aura yang berbeda dari wanita lain. Kamu penuh misteri Mei. Mangkanya aku pingin deket sama kamu dengan cara ingin dekat dengan april. Soalnya, mustahil saja jika aku bilang aku suka kamu. Pasti kamu bakalan mukul aku. Yah cukup segini aja ya pesan nya. Kamu boleh lupain aku kok lalu mengejar lelaki lain yang lebih sempurna dari aku. Bukannya merendah sih aku tipe laki-laki yang tidak peka, sering membuat mu marah, sering memukul ku. Tapi aku suka kok tawa mu yang menular. Jadi jangan sedih lagi ya Mei. Aku selalu ada di dekat mu. Aku selalu ada dalam alunan musik mu. Satu hal yang harus kau ingat. Aku menyayangimu.
Revan......
Yah tidak terasa sudah bulan mei lagi. Ini waktunya mei kembali ke negara asalnya. Seperti biasa ia dan teman-temannya berkumpul di makam Revan. Saling berbincang bertukar keadaan. Dan saat ini, mei tengah mengejar mimpinya. Melanjutkan mimpi Revan yang belum terwujud kan. Ia menganggap jika Revan selalu bersamanya dan membimbing jalannya.