Saat itu aku datang terlalu pagi. Ya, karena ikut papaku, sih. Kerjaanku di dalam kelas paling menopang dagu, iseng baca mading yang ditempel di belakang kelas, gambar di kertas, mondar mandir, dan sejenisnya. Cukup bosan sejujurnya. Mana bel bunyi 40 menit lagi. Aku pun memutuskan untuk mencari udara segar di luar kelas.
Hhh, sebelumnya aku belum memperkenalkan diri, kan? Namaku Ray Agatha. Stay cool, pendiam, pintar, dan idola kelas maupun seantero sekolah #ciaaaaXD… Tapi meski memiliki wajah ketampanan tingkat paling atas (cielah), aku orangnya nggak sombong dan kurang pintar bergaul. Teman-temanku paling rata-rata FANS berat yang populasinya merata pada kaum hawa.
“Hey, sedang apa kau di sini?”
Lamunanku terbuyar oleh suara lembut itu. Dengan cepat aku menoleh ke belakang. Seorang gadis yang sudah pergi meninggalkanku setelah mengucapkan kalimat itu. Otomatis aku tidak bisa melihat wajahnya.
Siapa dia?” gumamku sambil bertanya-tanya. Suaranya itu memang lembut, namun terdengar seperti menahan penderitaan.
Tadai ma!”, seruku ketika sampai di teras rumah. Sebenarnya aku asli Indonesia, namun karena sering nonton anime, ada beberapa kata bahasa jepang yang aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hitung-hitung sekalian belajar, hehehe.
Ray?”
Aku menoleh ke sumber suara. Ya, yang memanggil rupanya kakakku, Kevin Agatha.
“Ya, kak?” jawabku sambil berjalan mendekati Kak Kevin.
“Gimana sekolah tadi? Masih kesepian nggak?” tanya Kak Kevin. Gini-gini kakakku orangnya perhatian, walau terkadang berlebihan.
“Baik-baik aja kok kak.”
“Lo yakin?”
“Iya kakakku yang paling tampan,” godaku sambil menarik hidungnya yang lumayan mancung.
Keesokan harinya di sekolah, aku kembali mengulang tingkah bodohku. Yeah, aku masuk pagi lagi dan bel bunyi 40 menit lagi. Ya, kembali lagi aku mencari udara segar di luar kelas. Sebenarnya, aku juga berharap bisa bertemu gadis itu.
“Sedang apa kau di sini?”
Yosh! Suara itu terdengar, aku dengan cepat menoleh ke belakang dan menggenggam lengannya ketika ia ingin beranjak pergi. Dia menoleh ke arahku. Saat itu juga, aku mengagumi dirinya. Wajahnya putih bersih, hidungnya agak pesek, poninya yang rata menutupi seluruh bagian dahinya, dan sorot matanya mampu membuat jantungku berdegup kencang.
“Ada apa?” tanyanya, suara lembut yang juga menahan penderitaan.
“A.. aku..,” jawabku yang tiba-tiba saja gugup.
“Kamu Ray Agatha yang gila anime itu kan?”
Woshhh! Sontak aku kaget. Bagaimana ia bisa tahu? Namun, aku mulai berpikir, aku kan idola seantero sekolah, pasti gadis ini tau, lah.
“Iya,” jawabku singkat saking gugupnya.
“Ya udah, berarti kita sama dong!,” katanya girang layaknya anak kecil yang senang mendapat permen.
“Apa? Kamu juga tau anime?” Mataku memembulat begitu tau gadis ini penyuka anime.
Yosh! Akhirnya, aku menemukan teman yang bisa diajak ngobrol seputar anime. Bisa dibilang, aku tidak kesepian lagi sekarang.
Hm, namamu siapa? Dari kelas berapa?” tanyaku kemudian.
“Yui Akane, dari kelas VIII A,” jawab gadis itu disertai dengan senyum khasnya.
“Ng, Akane,” panggilku saat ia beranjak pergi.
Gadis itu menoleh.
“Mulai sekarang, kita temenan ya!”
Meski gugup, aku tetap mengatakan kalimat itu. Jujur, dia juga suka anime, sama sepertiku, jadi ada topik yang bisa kami bahas bersama-sama.
15 Desember 2016
“Kamu pernah nonton Naruto juga?” Mataku terbelalak mendengar Akane yang tau film Naruto.
“Ahahahaha, gak juga, sih.”
“Kamu punya temen deket di kelas kamu?”
“Nggak ada. Di kelasku suka sinetron sama drama. Aku hanya bisa diam, hehe.”
“Hhh, mirip film Isshukan Friend gitu ya?”
“Nggak lah! Kalo Isshukan Friend itu tokoh utamanya nggak punya temen karena ingatannya cuma tahan seminggu doang,” jawabnya dan mulai tertawa.
Kami berdua saling tertawa.
20 Desember 2016
Hari berganti hari. Oh, ya! Hari ini adalah hari dimana kakakku, Kevin, ulang tahun yang ke 16. Malam itu kami merayakannya bersama dan aku bisa merasakan keluarga kami yang harmonis.
Sedangkan di rumah Akane.
Akane sedang sibuk menggambar di kamarnya. Lebih tepatnya membuat OC kedua yang telah lama lengket di pikirannya. Ya, kalau kalian gak tau cari aja di mbah google, keluar kok.
Uhuk! Uhuk!
Tiba-tiba saja, Akane terbatuk kencang. Semakin ia batuk, batuk yang dikeluarkannya semakin parah.
“Ma! Uhuk! Uhuk… Uhuk!” teriak Akane dan mulai terjatuh dari kursinya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja.
BRAK!
Pintu kamar Akane terbuka, terlihat sekali Mamanya yang sedang panik dan berteriak memanggil suaminya.
“Daejobu desu? Akane! (Apa kau baik-baik saja? Akane!)” Mamanya terus membantu Akane berdiri, namun itu sia-sia.
Tak berapa lama, Akane pingsan dengan darah yang mengucur deras dari hidungnya.
22 Desember 2016
Sudah dua hari Akane tidak terlihat olehku. Handphonenya juga tidak aktif. Ke mana dia? Di perpustakaan tidak ada, di kantin apalagi. Apa sekarang dia lebih memilih diam di kelas. Hanya ada satu cara, ya, tanya ke temen sekelasnya.
Aku tidak sengaja bertemu dengan Naomi, sepupu Akane. Aku memutuskan untuk menanyakan di mana Akane berada padanya.
“Emm, kamu Naomi, kan?”
“Iya, ada perlu apa?”
“Dua hari ini, apakah Akane tidak masuk sekolah?”
Tiba-tiba saja, Naomi mengambil sesuatu dari tasnya. Wah, gambar anime karya Akane, dia lebih mastah dariku.
“Ini OC keduanya, Aoi Sakura. Aku menemukannya saat mampir belajar kelompok ke rumahnya kemarin,” kata Naomi dengan senyum sedihnya.
“Ini apa?” tanyaku lagi saat melihat beberapa bercak darah di kertas itu. Mendadak, perasaanku tidak enak.
“Akane… masuk rumah sakit dua hari yang lalu.”
Deg!
Aku menanyakan nama ruangan di mana Akane dirawat. Tapi, Naomi hanya diam.
“Cepat beritahu aku, Naomi!” seruku sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Aku ingin melihatnya sekarang!”
“Dame yo! (jangan!)” Teriak Naomi sambil menggeleng-geleng kepalanya.
Aku langsung diam dan menatapnya lurus. “Nande? (kenapa?)”
“Kondisinya kritis. Ia sudah memasuki leukimia limfositik akut, Ray. Dia kesepian dan aku juga merasa bersalah karena selama ini kurang Peduli padanya! Padahal yang dia inginkan hanyalah melihat orang-orang tersenyum,” terang Naomi yang kemudian menangis.
Tunggu, tunggu. Leukimia?