1: Keluarga Perantauan
Di sebuah perkotaan di Indonesia, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sedang merantau. Keluarga tersebut terdiri dari ayah bernama Joke, ibu bernama Ane, anak perempuan bernama Dine, dan anak laki-laki bernama Sean.
Keluarga ini adalah keluarga yang perfeksionis. Pak Joke dan Bu Ane selalu ingin tampil sempurna, baik dalam penampilan maupun kehidupan sehari-hari.
Mereka bahkan mengatur jadwal pemakaian parfum setiap hari. Senin pakai parfum rasa apel, Selasa pakai parfum rasa melon, Rabu parfum rasa stroberi, Kamis parfum aroma buah jeruk, Jumat parfum aroma buah durian, Jumat parfum aroma buah mangga dan seterusnya. Yang bikin gila lagi ada aroma parfum buah pepaya.
Coba lo bayangin jika tiap jumat keluarga pak joke pakai parfum aroma durian dan tak disangka ada beberapa orang di sekitar keluarga Pak Joke yang sensitif dengan aroma buah berduri ini. Ga kebayang mualnya gimana pas menghirup aroma parfum keluarga Pak Joke.
Tingkah Pak Joke keluarga memang kadang membuat orang-orang di sekitarnya merasa geli, apalagi saat mencium bau parfum mereka di hari Minggu yaitu bau aroma buah pepaya. Lo bisa bayangin sendiri kan gimana rasanya mencium bau aroma pepaya yang yang sudah dikupas, ada aroma bau aneh dan kebanyakan orang menyebutkanya seperti aroma bau kotoran burung. huweeeekzzz auto muntah ga sih....aroma buah ini, mirip kayak orang yang belum mandi 10 tahun.hihihi
Dine, anak perempuan mereka, adalah anak yang cerdas dan kreatif. Ia suka menulis komik aksi, terutama komik aksi kentut. Ia sering menggambar tokoh-tokoh yang sedang menahan kentut di tempat-tempat keramaian.
Sean, anak laki-laki mereka, adalah anak yang imut dan menggemaskan. Ia suka ngigau minta saur di tengah malam.
2: Kebiasaan Pagi Hari
Setiap pagi, keluarga ini selalu bangun pagi. Pak Joke dan Bu Ane selalu bekerjasama menyiapkan kebutuhan pagi hari. Mereka biasa bangun pukul 5 pagi.
Bu Ane meracik masakan dan Pak Joke mencuci piring bekas makan malam yang kadang belum dicuci karena sudah terlalu letih dengan aktivitas seharian.
Dine bangun pagi dan menyiapkan kebutuhan sekolahnya. Berbeda dengan sean yang suka bangun jam 6 pagi karena capek main panjat jendela rumah tiap hari.
3: Kegilaan Pagi Hari di Dapur
Pagi hari adalah waktu yang paling sibuk bagi Bu Ane. Ia harus menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, serta mengurus Sean yang masih balita.
'Kring.... krang..... krung.....alarm HP terus berbunyi'. Sambil mengucek matanya dan menguap Bu ane bergegas mematikan bunyi alarm. Digerakkan pinggang kanan dan kirinya untuk memastikan kesadarannya. Wah Senin Pagi, hari permulaan'weekday'...'Semangat..semangat...semangat...', teriak Bu Ane dalam hati berniat memotivasi dirinya sendiri.
Dapur adalah medan perang bagi Bu Ane. Ia harus berhadapan dengan berbagai macam tantangan, mulai dari peralatan dapur yang belum rapi, bahan makanan yang belum siap.
Klekkkkkkk....Bunyi pintu kulkas dimana Bu Ane memeriksa bahan apa aja yang dia punya untuk menyiapkan menu bekal pagi untuk Dine dan suaminya.
'Aku bikin nasi goreng aja ah, biar cepet dan simpel, pikir Bu Ane sembari memikirkan ide menu tambahan lainnya.
Tiba - tiba terdengar suara brot...pret...preketek..tek...tek....bretttt.....di depan pintu kamar tidur. Dine jam berapa ini? tanya ayah ke Dine. Jam 05.30 yah, jawab Dine. Bun masakin ayah air hangat donk! suruh ayah ke Bu Ane. Bentar ya yah semua kompornya lagi dipakai., sahut Bu Ane.
Kleeeek... Bu Ane menyalakan kompor. Tangannya bergerak cepat untuk meracik bumbu dapur dan sesekali matanya menjurus ke masakan untuk memastikan sudah matang atau belum.
Saat Bu Ane bergerak cepat memastikan semuanya tiba-tiba bunyi 'grompyang' sikut Bu Ane yang tak sengaja menyenggol tutup panci di sebelahnya. Bu Ane yang saat itu kaget. Tak lama kemudian suara Sean merengek terdengar bangun dari tempat tidurnya.
Waduh Sean bangun lagi. 'Dine, mama minta tolong Sean digendong dulu ya', ucap Bu ane ke Dine. Dine yang saat itu masih menyiapkan buku yang akan dibawanya di pagi itu bergegas lari ke arah kamar dan karena masih menahan kantuk, 'bruk..... ' tak sengaja Dine menabrak pintu kamar. 'Waduh mak sakit', ucap Dine. Sambil menahan sakit karena dahinya yang benjol, Dine menggendong Sean dan berusaha menenangkannya.
'Sean, main robot ini dulu ya' bujuk Dine ke Sean. Setelah Sean tampak tenang dan menikmati mainannya. Dine meninggalkan Sean sendiri dan kembali menyiapkan buku yang akan dibawanya.
Dine yang sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. 'Sambil meremas perutnya Dine cepat berlari menuju kamar mandi'. Karena kebetulan kamar mandi di rumah Bu Ane hanya ada 1, dan saat itu Pak Joke sedang menggunakannya, maka Dine berusaha menahan sakit di perutnya dan sesekali berkata, 'ayah cepat, Dine sudah ga kuat lagi'. Dine pun mencoba berbagai cara agar rasa mules di perutnya itu bisa dikendalikan. Dia mencoba mengambil gelang karet di dapur dan menalikannya di bagian jempol kaki. Konon katanya saat kebelet pipis atau buang air besar cara ini bisa sedikit membantu.
'Yah, sudah belum? tanya Dine ulang kepada ayahnya. Iya ini ayah mau selesai, jawab Pak Joke. Beberapa menit kemudian Pak Joke keluar dari kamar mandi, disusul Dine yang terburu-buru ingin masuk kesana.
Bu Ane yang masih sibuk di dapur dan mengontrol semua aktivitas berusaha mengatur pernafasan. Layaknya senam aerobik Bu Ane berucap inhale exhale... inhale exhale... Sambil sesekali mata Bu Ane melirik ke jam dinding yang terpasang di dinding dapur, Bu Ane tampak menambah kecepatannya dalam menyiapkan bekal yang akan dibawa suaminya dan anak-anaknya.
Bak pahlawan super hero, tangan kanan Bu Ane memegang sutil dan tangan kirinya menuang air panas ke masing-masing gelas yang berisi kopi dan susu. 'Syeng... syeng... syeng... sesekali Bu Ane mengaduk masakannya sambil mengecek apakah sudah matang atau belum. Untuk menambah keyakinan tentang rasa masakan, Bu Ane mencoba mencicipi sedikit masakannya, karena diburu waktu Bu Ane mencicipi masakan tanpa berpikir apakah masakannya itu sudah dingin. Saat Bu Ane mencoba mendekatkannya ke lidah, Bu Ane kaget karena masih sangat panas untuk dicicipi.
'Astaghfirullah panas sekali, lidahku sampai mati rasa', ucap Bu Ane.
'Duh repot banget kalau belum menyiapkan masakan pas malam hari', gerutu Bu Ane.
Pak Joke sesekali ke dapur untuk membantu Bu Ane, seperti mengaduk nasi yang sudah matang, menyiapkan kotak bekal makan yang akan dibawa. Bahkan sesakali mereka bergesekan badan karena ukuran dapur rumahnya yang hanya 1 x 0,5 meter.
'Sudah beres belum Bun? ' tanya pak Joke ke Bu Ane.
'Iya, ini tinggal menunggu 5 menit', jawab Bu Ane.
'Ayah bantu Bunda menyiapkan nasi dimasukkan ke kotak bekal ya', ucap Bu Ane ke Pak Joke.
'Baiklah', jawab Pak Joke.
'Dine semua tugasmu sudah dipastikan semua selesai dan dibawa di tas? , tanya Bu Ane ke Dine.
'Sudah ma, jawab Dine'
'Oke good job, sahut Bu Ane.'
Setelah Pak Joke membantu menyiapkan kotak bekal dengan diisi nasi, kemudian Bu Ane menyiapkan menu tambahan lauk, buah dan lainnya ke kotak bekal. Karena jam dinding sudah menunjuk ke angka 06.30, Bu Ane menyuruh Dine untuk mengisi botol minum yang akan dibawanya.
'Dine, siapkan botol minumanmu, jangan sampai kurang minum di musim kemarau ya biar ga dehidrasi, ucap Bu Ane.
'Siap Mam, jawab Dine ke Bu Ane. '
Jam sudah menunjukkan 06.40, Pak Joke dan Dine bersiap-siap. Pak Joke mulai menyalakan mesin motor, sedangkan Dine sibuk memakai kaos kaki dan sepatu.
Setelah semua beres, Pak Joke dan Dine siap berangkat bersama.
4: Perasaan Bu Ane setelah Pak Joke dan Dine berangkat
Setelah selesai merapikan dapur, Bu Ane merasa lega. Ia merasa lega karena suami dan anaknya sudah berbekal perang melawan musuh-musuh cacing perut yang suka demo di siang hari.
Bu Ane lalu membuat secangkir kopi arabica. Ia menikmati kopinya sambil duduk di teras rumah. Ia merasa bahagia karena bisa menikmati pagi hari yang tenang.
Akhir
Bu Ane tersenyum sambil memandangi matahari pagi yang bersinar cerah. Ia bersyukur karena memiliki keluarga yang lucu dan menggemaskan. Ia juga bersyukur karena bisa menjalani hidup di kota ini.
BAB 6: Kesaksian Dinding Dapur
Dinding dapur rumah Joke menjadi saksi bisu kegilaan yang terjadi setiap pagi. Dinding dapur itu mendengar suara tutup panci yang jatuh, suara potongan bawang merah dan putih, dan suara alat masak yang gemeretak.
Dinding dapur itu juga melihat aksi-aksi heroik Joke dan Dine yang berjuang melawan Mr. Clock.
BAB 7: Kopi Arabica dan Emosi Positif
Setelah membereskan semua kekacauan, Ane duduk di kursi dapur. Dia menikmati segelas kopi arabica.
Ane merasa bahagia. Dia merasa lega karena sudah menyelesaikan semua tugasnya. Dia juga merasa bangga karena suami dan anaknya sudah berangkat pagi-pagi.
Ane yakin bahwa hari ini akan menjadi hari yang baik.
Ane berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan