Mata elang itu menatapku begitu tajam. Aku tertunduk. Satu cubitan melayang di pipiku. Aku meringis, menahan sakit. Itu sangat kasar. Sangat keras. Air mata tak lagi bisa terbendung. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu tiri kejam. Aku ini masih kecil, tapi diperlakukan seperti babu di rumah ayahku sendiri.
"Ambil air, kalo mau makan!" bentaknya.
Aku menatap kakakku. Dia mengangguk. Aku mengikuti langkahnya, membawa dua ember berukuran sedang untuk dibawa ke tempat pemandian umum.
Ya, sebagian rumah di desa ini belum memiliki air sendiri, termasuk di rumahku. Setiap rumah harus memiliki alat untuk mengalirkan air ke bak rumah. Tapi sayang, alat itu sangat mahal. Jadi, untuk keluarga sederhana sepertiku ini tidak mampu untuk membelinya.
Setelah aku dan kakakku mengambil air, barulah kami berdua makan. Kuambil nasi yang masih disimpan di atas tungku api yang telah padam. Tidak ada lauk yang ibu sediakan untuk kami berdua, selain minyak jelantah bekas menggoreng ikan asin.
Aku mengambil beberapa sendok minyak kemudian kuadukan agar bercampur dengan nasi hangat. Aku duduk di atas tikar, menyantap makanan dengan lahapnya. Aku lapar.
"Enak, de?" aku mengangguk, mengiyakan pertanyaan kakakku.
Meskipun hanya sepiring nasi dengan minyak jelantah sebagai lauknya, ini sudah cukup enak untuk aku dan kakakku makan. Wajar saja, di umur kami yang belum mencapai belasan, makan apa saja pasti rasanya enak. Kami tidak boleh menuntut di sini, apalagi bermanja-manja.
Setiap menjelang malam bapakku pasti telah pulang dari tempat kerjanya. Seperti biasa, ibu tiriku akan bersikap baik kepada kami berdua jika ada bapak di rumah. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal di sini kami berdua menderita.
Aku yang masih berumur enam tahun, hanya bisa pasrah ibu menyiksa dan menyakiti fisikku. Tapi tidak dengan kakakku. Terkadang dia selalu melawan, bahkan membelaku saat aku disiksa ibu. Aku pernah mengatakan semuanya pada bapak, tapi bapak tidak percaya dan malah memarahiku. Bapak bilang aku anak yang tidak nurut, jadi ibu suka marah padaku.
Malam itu kakakku sedang belajar bersama dengan bapak. Berbagai bentakan terdengar dalam gendang telingaku, saat kakakku tak bisa menjawab soal dari buku pelajaran.
"Belajar yang benar! Kalo guru nerangin tuh, didenger baik-baik."
Kakakku menangis. Sepertinya dia sudah mengantuk dan kelelahan. Karena seharian ini ibu memeperkerjakan kami. Jika kami tidak bekerja, kami tidak akan mendapat makan.
Bapak membopong kakakku masuk ke dalam kamar. Menit berikutnya, aku melihat tubuh kakakku dibanting ke atas kasur.
"Jangan jadi orang pemalas!"
Aku menangis. Bapak jahat! Apa seperti itu cara mendidik anak? Apa harus sekeras itu?
Siang itu perutku begitu lapar. Aku ingin makan sesuatu, tapi jatah makan untukku hanya pagi dan sore. Uang lima ratus saja aku tidak punya. Kulihat di balik jendela ibu tengah menyuapi anak kesayangannya itu. Air liurku mengalir, tangan ini semakin erat memegang perutku yang semakin sakit.
Aku masih terdiam di teras luar. Menunggu kakakku pulang dari sekolah. Aku duduk melamun, rasanya aku ingin pergi dari sini dan tinggal bersama ibu kandungku. Tapi, bapak melarang kami ikut bersama ibu kandung kami.
Aku meraba pipi sebelah kananku. Masih terasa nyeri, bahkan cubitan itu meninggalkan bekas di pipi mulusku ini. Sama sekali tidak ada yang peduli dengan kami di sini.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Aku mulai memasuki sekolah dasar kelas tiga. Siksaan dari ibu tiri juga semakin parah menyiksa fisik kami, terutama aku yang masih takut untuk melawan. Bekas cubitan dimana-mana. Mata yang selalu bengkak karena terus menangis.
Meski aku tidak bisa melawan. Tapi hatiku ini menyimpan kebencian begitu dalam ke pada ibu tiriku. Dia wanita paling jahat di muka bumi ini. Tidak punya hati.
Waktu itu bapakku memergoki aku yang tengah disiksa oleh ibu tiriku. Bapakku melihat pipi dan tanganku yang merah karena ibu tiri baru saja mencubitku. Aku kesal dengan tingkah bapak. Dia diam? Tidak memarahi ibu tiri itu? Kamu tau hatiku saat itu? Remuk. Benar-benar remuk. Aku membenci mereka berdua.
Setelah kejadian itu akhirnya bapak mengijinkan ibu kandung kami untuk membawa kami bersamanya. Aku sangat senang, akhirnya penderitaan itu akan berakhir. Meski akhirnya pengalaman buruk itu berdampak buruk dalam kehidupanku nantinya.
Siang itu ibu menjemput kami di rumah nenek. Ya, seminggu kebelakang kami dititipkan di rumah nenek. Sedangkan bapak dan ibu tiriku pindah ke desa sebrang.
Saat ibu ingin membawa kami berdua, nenek meminta agar kakak tetap di sana bersamanya. Karena kebetulan nenek tidak punya putri, anaknya laki-laki semua. Ibu menolak. Tapi nenek memaksa sampai menitikan air mata.
"Nduk, biarkan Ratna di sini, Dini saja yang kamu bawa, ya."
Bagaimana ibu akan tega melihat nenek menangis di hadapannya. Akhirnya kakak diizinkan tinggal bersama nenek, meski awalnya kakak menangis karena tak ingin ibu dan aku meninggalkannya.
Sekarang aku sudah kembali ke tempat kelahiranku. Ya, alasan kenapa aku dan kakak tinggal bersama ibu tiri, karena bapak merampas kami dari ibu. Bapak membawa kabur kakak sewaktu sekolah dan membawaku pergi dari rumah.
Aku menjalani sekolah di sini, bersama ibu kandungku. Tentunya dengan bapak tiriku. Kupikir bapak tiri akan sama dengan ibu tiri. Tapi, aku benar-benar mendapat kasih sayang dari bapak tiriku. Kasih sayang yang tidak sempat aku rasakan dari bapak kandungku sendiri. Karena bapakku lebih memilih menyayangi anak dari ibu tiriku. Bisa aku bilang, bapakku suami takut dengan istrinya.
Aku di sini di sekolahkan oleh bapak tiriku. Bahkan sampai aku menginjak sekolah SMK. Bapak kandungku? Jangan ditanya! Dia sama sekali tidak peduli denganku. Memberi biaya uang untuk bayar sekolahku saja dia tidak pernah. Alasannya sangat klasik. Uangnya dipegang semua oleh ibu tiriku.
[ Maafin bapak ya, De. Bapak cuma bisa ngedo'ain semoga di sana sehat dan sekokahnya semoga lulus. Bapak gak bisa bantu biaya sekolah kamu, de. ]
Itu pesan terakhir dari bapakku. Tidak masalah bagiku. Di sini aku sudah cukup mendapat kasih sayang. Tidak apa, jika bapak tidak ikut andil membiayaiku. Toh, sudah dari dulu begitu.
Aku tumbuh menjadi gadis yang sangat pendiam. Mungkin karena trauma akan masa lalu yang sangat menyakitkan, sehingga membuatku tumbuh dengan sifat introvert.
Kebencian itu masih ada sampai sekarang. Bahkan terhadap ibu tiriku mungkin tidak pernah hilang. Aku selalu ingat perlakuannya padaku di waktu silam, itu membuatku sulit melupakan dan memaafkannya.
Memang membenci dan menyimpan dendam pada seseorang itu bukan sikap yang baik. Tapi, hatiku sudah benar-benar merasakan rasa sakit yang mereka torehkan. Sehingga membuat aku seperti ini.
"Lebaran di sana ya, Din," ajak kak Ratna. Setiap libur kerja kak Ratna pasti ke sini dan berangkat lagi ke desa tempat tinggal nenek dan bapak.
"Enggak ah, lebaran di sini aja."
"Ehh, gak rindu sama bapak?" tanya kak Ratna.
Aku hanya diam, memasang ekspresi malas. Entahlah, moodku selalu buruk jika membahas bapak. Apalagi akhirnya pasti menyangkut wanita kejam itu.
Memang, aku sudah dua tahun tidak mengunjungi desa itu dan bertemu dengan bapak. Aku rindu bertemu dengan bapak. Tapi jika aku pergi ke sana, yang aku dapat hanyalah rasa sesak. Karena aku harus melihat kasih sayang bapak yang diberikan untuk anak dari wanita itu.
"Jangan begitu, de. Biar bagaimanapun bapak teh, bapak kandung kita."
Aku tidak membenci sosok bapak. Sungguh. Aku tidak pernah membenci bapakku. Aku hanya benci dengan sikapnya yang tidak tegas terhadap istrinya itu. Bapak terlalu sayang. Sampai-sampai rela hidup menderita hanya karena untuk menenuhi kemauan wanita iblis itu.
Terakhir aku bertemu dengan bapak, kulihat tubuhnya sangat kurus. Kulitnya juga menjadi hitam. Bapak seperti tak diurus oleh wanita itu. Rasanya aku ingin berteriak. Menyadarkan bapak untuk tidak terlalu mengasihani wanita sepertinya.
Beberapa bulan ke belakang, aku juga mendapat kabar anak tiri bapak mengalami kecelakaan. Sampai pada akhirnya bapak harus banting tulang, menjual apapun untuk bisa merayakan pesta pernikahan yang cukup meriah. Padahal kesalahannya begitu fatal.
Lagi-lagi aku iri. Kenapa? dia bukan anak kandung. Sedangkan aku yang anak kandung, tak pernah diperlakukan seperti itu. Rasanya, seperti aku yang anak tiri di sini.
Tahun ini aku sudah beranjak dewasa. Aku sudah harus siap menghadapi setiap masalah dan pahitnya kehidupan dunia luar. Dunia yang penuh dengan persaingan dan permasalahan yang bertubi-tubi.
Aku hanya berharap, ada sosok bapak yang selalu menyemangati dan membangkitkanku. Meskipun aku sudah merasakan kasih sayang dari seorang bapak. Mendapat support dari bapak tiriku. Tetap saja, yang aku butuhkan seorang bapak kandung. Ya, meski sampai saat ini aku belum bisa melupakan kejadian di masa kecil.
Tapi bapak, tetaplah bapak kandungku. Sebagai manapun buruk perilakunya. Aku sebagai anak harus berbakti.
Aku rindu sosokmu, pak. Aku ingin mendapatkan kasih sayang darimu. Aku ingin bapak menyisakan waktu untuk bersama putrimu ini. Aku ingin mendapat nasehat darimu saat aku lengah. Aku ingin bapak yang menguatkan aku di saat aku jatuh. Aku ingin bapak yang menghapus air mataku saat aku terluka.
'Kapan, pak?'
Aku sangat merindukan sosok bapak kandung dalam hidupku.
Bapakku yang sudah direnggut mereka.
Bandung, 18 September 2019
( Note : 1. Tidak ada yang namanya mantan anak. Meskipun keutuhan keluarga sudah tak lagi menyatu. Ibu dan Ayah tidak akan lepas dari tanggung jawabnya mengurus anak. Karena seorang anak adalah anugerah dari Tuhan yang harus dijaga.
2. Sebesar apapun seseorang menyakiti kita. Kita tidak berhak menyimpan dendam dan benci. Karena semuanya sudah Tuhan urus untuk balasannya. Dan jangan sesekali kita membenci orang tua kita. )
SELESAI ....